
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB. Itu adalah prediksi waktu yang meleset. Seharusnya Tere bangun jam 4 untuk mandi junub. Tapi dengan mata mengerjab, ia merasakan dadanya masih ditempeli oleh suaminya.
Wajah damai Dave membuat hati Tere menghangat. Pahatan wajah Dave seakan membius mata Tere. Ia bahkan memuji ketampanan suaminya yang tertidur pulas itu. Menandakan dada Tere adalah tempat ternyaman bagi Dave.
Mereka masih polosan, tidak memakai sebenang helain pun hanya ditutupi dengan selimut tebal saja. Tere mengusap kepala Dave.
"Ganteng banget kamu mas, makasih ya mas. Kamu sudah mau menjalankan kewajiban kamu menafkahi aku. Aku adalah wanita beruntung bisa memiliki kamu". Tere mengatakannya dengan lirih
Tanpa ia sadari, Dave ternyata sudah bangun karena belaian lembut sang istri. " Aku juga harus berterima kasih padamu karena sudah diberi jatah".
Tiba tiba saja Dave menimpali perkataan Tere. Tere pun membelalakkan matanya. "Mas, kamu sudah bangun? Sejak kapan?". Sekarang wajah Tere bersemu merah. Ia sangat malu mengatakan itu, rasanya masih sungkan saja.
" Sejak kamu mengusap kepalaku. Kamu kok udah bangun jam segini juga? Ada apa?". Suara habis bangun tidur Dave, benar benar membuat Tere terbuai, begitu sensual.
"A-aku mau mandi mas. Mau salat shubuh juga". Tere segera beranjak dari ranjangnya. Tapi saat ia mengindahkan tubuhnya, tubuhnya serasa remuk redam. Bahkan bagian intinya juga sakit karena diterobos oleh juniornya Dave hahaha.
Tere tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Ia meringis kesakitan. " Aww sakit". Tere jelas mengeluhkan kondisinya saat ini.
"Kenapa hum? Sakit ya? Kita mandi bareng saja ya?". Dave menawarkan untuk mandi bareng. Apakah benar benar mandi, tapi rasanya tidak. Hahaha
" A-aku... Aaaaaaaa". Belum juga kelar bicara, Tere sudah digendong oleh Dave menuju ke kamar mandi. Mereka mandi beneran di dalam sana.
Bukan karena apa, memang waktunya salat shubuh, jadi mereka harus salat terlebih dahulu. Mereka nampak asyik dalam mandi bersama. Rasanya tidak ingin menyudahinya.
"Sudah yuk mas, keburu nanti waktu salat shubuhnya habis". Tere mengakhiri aktivitas mandi bersama itu. Keduanya tampak sumringah dan segar.
Aktivitas yang terjadi dini hari itu membuat mood keduanya membaik. Bahkan Dave menjadi sayang pada Tere. Bukan karena apa apa, Dave memang takut kehilangan Tere karena dokter sok tampan itu.
****
__ADS_1
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". Dave untuk pertama kalinya mengimami Tere. Mereka salat berjamaah. Setelah selesai pun kemudian Tere mencium punggung tangan Dave.
Dave juga mengecup kening Tere. Dave menunjukkan perubahan yang amat besar. Mama Anita mungkin akan bahagia mendengar kabar bahwa putranya mencintai mennatunya sepenuh hati
Dada Tere menghangat. Bahkan matanya kian memerah, menahan haru. Buliran bening di pelupuk matanya kian menggenang. Dan pada akhirnya tumpah begitu saja saking bahagianya.
"Kenapa nangis hum?". Dave menghapus bulir bening yang lolos di pipi Tere. Ia menjelma menjadi orang yang sangat sabar saat ini. Begitu lembut dan penuh kesabaran.
" Aku terharu mas, Allah kasih aku hadiah yang luar biasa. Kamu tahu hadiahnya itu kamu mas. Kamu mau menerima aku dengan sangat baik".
Dave memeluk Tere yang masih mengenakan mukena saat ini. Diusapnya pucuk kepala Tere dengan lembut.
"Iya, maafin aku ya. Selama ini aku emang suka mengumpat ke kamu". Dave akhirnya mengakui itu. Beribu kata jelek keluar dari mulut Dave kala itu membuat hati Tere sakit.
Tetapi bukan Tere namanya jika tidak memaafkan suaminya. Ia pasti akan memaafkan. Bahkan ia akan melupakan kejadian yang telah berlalu itu.
Setelah salat, Tere tidak tidur lagi. Ia langsung bergegas ke dapur untuk membuat sarapan untuk Dave. Hari ini agendanya hanya di rumah saja sebenarnya. Tere mungkin akan membersihkan taman, membersihkan kolam
Dave sekarang juga berada di dapur dan pastinya sedang memeluk Tere dari belakang. Ia tidak ingin jauh jauh dari Tere hahaha. Terkesan lebay ya si kutub utara ini hahaha. Tere tersenyum dan membalikkan badannya menghadap Dave. Ia menangkup wajah Dave dengan kedua tangannya.
"Kamu serius mas? Kamu bakalan cari pembantu gitu? Gapapa emang? Gimana sama perjanjian kontrak kita?". Lagi lagi Tere masih mengkhawatirkan soal perjanjian itu.
" Lupakan itu, kita mulai dari awal lagi". Jawaban Dave yang sangat dinanti oleh Tere selama ini. Ia langsung memeluk suaminya dengan erat. Air matanya berlinang saat itu juga.
"Ya Allah terimakasih Engkau telah mengabulkan do'a hambamu ini". Tentunya itu dalam hati.
Kebahagiaan kian lengkap saat Dave mempunyai niatan untuk mengumumkan pernikahannya ke publik terutama di kantornya.
" Aku akan umumin nanti kalau kamu emang istriku. Dan kamu wajib ikut ya. Aku mau beritahukan kabar bahagia ini termasuk pada mama". Dave mengecup pucuk kepala Tere. Tere pun mengangguk.
__ADS_1
****
"Ada apa tuh pak Dave menyuruh kita menghentikan pekerjaannya sekarang? Emang ada masalah apa ya?".
Ucap beberapa karyawan yang bekerja di kantor itu. Tidak biasanya Dave bersikap seperti ini.
Setelah semua karyawan berkumpul, atensi mereka teralihkan dengan sosok cantik di sebelah Dave. Benar benar cantik, senyumnya mengalihkan dunia para kaum adam di kantor itu.
"Perhatian! Saya ingin mengumumkan bahwa perempuan di sebelah saya ini adalah istri saya, belahan jiwa saya. Saya sengaja mengumumkan ini agar kalian semua tahu. Jadi, tolong hormati dia. Saya tidak menginginkan kejadian tempo lalu karena sikap karyawan terlalu judes pada istri saya. Apakah bisa dimengerti?".
"Mengerti Pak". Semua karyawan menjawab kompak pernyataan Dave. Mereka ikut bahagia akhirnya bos kutub utara itu menikah juga. Hahaha
Tere menjadi pusat atensi para kaum adam di kantor itu. Seketika Dave langsung menatap karyawannya. " Kalau memandang tidak boleh lebih dari beberapa detik bagi karyawan laki laki".
Pernyataan Dave sontak menyadarkan karyawan laki laki di kantor itu. Mereka kian memalingkan muka bahkan menunduk. Mungkin takut dipecat?! Hahaha
****
"Mas, aku bantuin kamu apa?". Terlihat Tere sedang bosan karena hanya duduk dan scroll media sosial. Ia sekarang berada di ruangan Dave, sementara Dave sendiri masih berkutat pada pekerjaannya.
Dave menarik atensinya saat ini. Ia memandang Tere sambil tersenyum. " Sini duduk dipangkuanku".
Benar benar pernyataan di luar dugaan. Dave mau memangku Tere?! Padahal ia masih sibuk, mana bisa fokus.
"Gak ah mas. Kamu kan sibuk, aku malah ganggu tahu". Tere mencebikkan bibirnya.
" Sini!". Seru Dave sambil melambaikan tangannya. Tere bisa apa? Ia langsung saja menuju ke arah Dave. Dan akhirnya ia dipangku oleh Dave. Dienduslah leher Tere membuatnya meremang.
"Mas, jangan dong. Kan ini di kantor". Tere berusaha menormalkan rasa gugupnya.
__ADS_1
" Kalau kita mencoba sensasi bercinta di kantor gimana?". Bisik Dave di telinga Tere terdengar mendamba.