Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 75


__ADS_3

3 bulan kemudian...


Hoek


Hoek


Hoek


Dave mengeluhkan mual, pusing, dan sensitif aroma. Wajahnya pun kian pucat. Tere yang mengetahui hal itu pun turut bingung apa yang terjadi padanya.


"Kenapa Dave? Masih mual saja? Ke rumah sakit yuk," ajak Tere sembari membantu Dave mengeluarkan cairan beningnya di wastafel.


Dave pun menggeleng. "Tidak usah, Sayang. Dan kamu juga jangan mendekat. Nanti kamu jijik lho," ungkap Dave merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, kok. Aku heran kenapa kamu bisa seperti ini," ujar Tere kebingungan juga. Ia tidak tahu kenapa suaminya terus-terusan mengeluhkan tentang hal ini.


"Pokoknya kita ke dokter ya?" tanya Tere sedikit memaksa Dave. Dave pun akhirnya menurut. "Ya sudah kalau kamu memaksa. Kita ke rumah sakit saja. Oh iya, kamu bukannya mau ke kantor ya?" tanya Dave.


Tere mengangguk. "Iya aku mau ke kantor, Dave. Mau cek apa yang sekiranya masih belum pas dan memantau semua pekerjaan yang Mei kerjakan," ucap Tere.


******


"Jadi, sekarang kamu dan Athur sudah jadian?" tanya Tere seakan tidak percaya. Ternyata Athur mau membuka hati untuk orang lain. Karena Tere tahu persis bahwa Athur itu orangnya selektif.


Mei pun dengan mata berbinar lantas mengangguk antusias. "Iya, Re. Aku gak nyangka hubunganku dengannya bisa berjalan sejauh ini. Aku juga hanya berjuang sewajarku. Ternyata dia suka dengan wanita yang tidak terlalu mengejar dirinya," ungkap Mei. Ia terlalu bahagia minggu ini.


"Syukurlah aku juga ikut senang kalau kamu dan Athur itu sudah menikah. Aku berdoa deh semua kamu segera dilamar oleh Athur," ujar Tere sembari tersenyum.

__ADS_1


"Semoga ya Re. Aku berharapnya juga seperti itu." Mei sedang berbunga-bunga saat ini. Beda halnya dengan Tere. Ia kepikiran Dave yang kondisinya makin memburuk.


"Kamu kenapa sih kok kayanya suntuk gitu?" tanya Mei. Ia bisa melihat raut wajah dari Tere akhir-akhir ini memang tidak menunjukkan raut wajah yang bahagia. Justru sebaliknya.


"Suamiku, Mei. Dave itu mual-mual terus setiap hari. Belum lagi kalau dia tiba-tiba pusing. Belum lagi kalau dia tiba-tiba sensitif aroma bawang-bawangan. Duh pusing aku," keluh Tere sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Kok tumben gitu, ya? Kamu sudah cek ke dokter belum?" tanya Mei juga khawatir. Ia tidak bisa melihat jika sahabatnya sedih.


"Belum sih, mangkanya aku nanti mau antar dia cek ke dokter. Awalnya aja dia gak mau. Aku paksa lah. Kasian juga ngelihatnya," ujar Tere.


Setelah berbincang itu, Tere kemudian langsung mengerjakan apa yang belum ia kerjakan. Setelah semua selesai, ia kembali ke rumah lagi.


Hari ini dia sudah ada janji dengan dokter Athur. Ya! Mei yang menyarankan lebih baik ke Athur saja. Jadi, Tere menurut.


*****


Tere tidak akan membiarkan Dave sendiri yang menyetir dengan kondisi yang lah seperti itu. Bisa-bisa nanti ada apa-apa saat berkendara.


"Biar aku saja ya yang nyetir," tawar Tere sembari menaiki mobil mewah mereka. Dave menurut saja, ia sadar bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuk menyetir.


Dari rumah sampai ke rumah sakit butuh waktu sekitar 20 menit. Mereka pun berangkat pukul 9 pagi. Setelah sampai di rumah sakit, mereka pun langsung mendapat giliran masuk.


"Hai, kak," sapa Tere. Athur pun tersenyum. "Hai Re, Tuan Dave silakan duduk." Athur mempersilakan mereka menyampaikan keluhannya terlebih dahulu. "Jadi bagaimana? Siapa yang sakit?" tanya Athur ramah.


"Ini, suamiku, Kak. Dia tuh mual-mual, pusing, kadang sensitif aroma. Entah kenapa baru akhir-akhir ini, sih," keluh Tere. Athur pun paham. Ia langsung memeriksa Dave.


Setelah diperiksa, Dave kembali lagi ke samping Tere.

__ADS_1


"Jadi gimana, Kak? Suamiku ini sakit apa?" tanya Tere khawatir. Dave sudah pucat seperti itu. Athur tersenyum.


"Kayanya suami kamu mengalami kehamilan simpatik, Re. Oh iya aku tanya sama kamu. Apa bulan ini kamu sudah haid?"


Tere menggeleng. "Aku belum haid, Kak. Sebentar aku cek dulu di kalender menstruasiku." Tere mengambil ponselnya dan melihat kalender masa haid nya.


Ternyata benar, Tere terakhir haid bulan lalu. Ia tidak menyadari hal itu. "Oh iya, Kak. Aku haid terakhir itu bulan lalu. Mungkin sekitar tanggal 3 Juli. Aduh baru ngeh aku," Terr menepuk jidatnya.


Dave yang disebelahnya menjadi sumringah juga. Kemungkinan memang Tere hamil. "Sebaiknya kamu juga cek kandungan, Re. Aku saranin kamu ke dokter Li Zuang," ucap Athur. Tere pun manggut-manggut. "Dan untuk Tuan Dave, saya tuliskan resep nanti silakan ditebus di bagian farmasi ya. Ini obat anti mual diminum 2 kali sehari. Dan juga ini untuk obat pusingnya juga 2 kali sehari. Di minumnya bisa pagi-sore, atau siang-malam," ujar Athur.


"Terimakasih Dok, jadi kita langsung ke Dokter Li Zuang ya? Untuk memeriksakan keadaan Tere apakah hamil atau tidaknya?" tanya Dave. Athur mengangguk.


******


"Halo, Dok. Kebetulan tadi saya sudah memeriksakan suami saya ke Dokter Athur. Kata beliau menyarankan ke Dokter karena sepertinya suami saya mengalami kehamilan simpatik," ujar Tere.


Dokter Li Zuang pun kemudian langsung memeriksa Tere. Berdasarkan USG yang ia lakukan ternyata memang benar. Tere hamil. "Jadi, itu janinnya, Nyonya. Usianya sekitar 5 mingguan. Selamat ya Tuan, Nyonya." Dokter Li Zuang pun menggerakkan alat itu ke perut Tere menggunakan gel.


Mata Dave berbinar. Ia tidak menyangka bahwa Tere hamil. Dan dia mengalami kehamilan simpatik. "Alhamdulillah, Sayang. Akhirnya kita jadi orang tua," ucap antusias Dave. Tere mengangguk, matanya juga berbinar ketika melihat ada gumpalan kecil di rahimnya.


Tere terharu ternyata dia tengah mengandung. Pantas saja perasaannya kina hari kian sensitif. Ia senang akan menjadi seorang ibu. Menjadi seorang ibu adalah impian yang ia ingin wujudkan.


Setelah selesai memeriksakan kandungan, Tere dan Dave pun berkonsultasi. "Oh iya Nyonya, ini kandungannya masih di tru semester pertama jadi mohon jangan melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Dan juga saya berikan vitamin dan penguat kandungan agar janin lebih kuat," ucap dokter Li Zuang.


Tere mengangguk. Sekarang giliran Dave yang berkonsultasi. "Dok, kenapa kehamilan simpatik itu bisa terjadi ya. Kan biasanya kalau hamil pasti perempuan yang mengalami hal itu," ungkap Dave.


"Kehamilan simpatik bisa terjadi karena empati yang cukup besar dari suami dan mungkin calon bayinya ingin mengerjai calon ayahnya," canda dokter Li Zuang. Ketiganya tergelak tawa. "Kalau hubungan suami-istri apakah boleh ya, Dok?" tanya random Dave.

__ADS_1


"Dave! Malu tahu!" seru Tere mencubit pinggang suaminya


__ADS_2