
"Belum, aku belum menikah." Ucap Tere dengan tegas. Ia memalingkan mukanya, entah rasa cintanya ke Dave tidak lagi muncul di hatinya.
Terlalu banyak luka yang tergores akibat tingkah Dave sendiri. Mei yang mendengar hal itu hanya manggut manggut saja. Ia percaya begitu saja.
Mereka berbincang ringan saat makan siang itu. Terjalin keakraban yang begitu kental antara Tere dan Mei.
"Setelah ini kita langsung ke kantor lagi, ada banyak tugas yang harus aku selesaikan." Tere berbicara sambil mengelap mulutnya yang terkena makanan itu.
"Oke, Re."
****
Dave yang mencari keberadaan Tere tidak kunjung mendapatkan informasi apa apa. Ya! Xiao Bao dan Li Xie Cu sudah menghilangkan jejak kepergian Tere.
"Gimana? Ada perkembangan informasi atau tidak?" Dave sedang berada di restoran bersama Ares.
Ares yang sedang memotong steak pun mendongak ke arah Dave. Ia tersenyum miring. "Belum, jadi lu masih mengharapkan Tere setelah lu ngelukai perasaannya?"
Kata kata Ares membuat Dave seperti terpukul mundur. Ia tidak marah karena Ares berbicara seperti itu karena memang kenyataannya Tere pergi karena Dave sendiri.
"Ayolah, lu jangan gitu terus. Dukung sahabat lu ini. Gue cinta ke Tere dan bahkan sampai saat ini gue sudah berusaha menghilangkan Clara dari hati gue."
Dave mendengkus kesal. Steak di depannya seakan dicueki olehnya. Akhir lahir ini pikirannya kacau dan makan tidak teratur.
"Harusnya lu sadar sejak dulu, Dave. Maaf bukan gue tidak mau membantu. Tapi lu yakin jika lu menemukan Tere dan ia masih mau sama lu?"
Benar! Perkataan Ares memang ada benarnya. Tapi apa salahnya Dave terus berusaha memperjuangkan cintanya itu.
"Diterima atau tidaknya itu akan jadi urusan gue sama Tere. Yang terpenting gue mau memperbaiki kesalahan gue."
Ares manggut-manggut, "Kalau lu mau memperbaiki kesalahan lu, gue akan bantu. Dan ingat, gue tidak menjamin kalau Tere bisa langsung ditemukan keberadaannya. Karena anak buah gue sudah gue sebar ke seluruh daerah tapi hasilnya nihil."
Ares memang sudah membantu Dave, tapi memang jejak Tere sudah hilang begitu saja. "Lu harus sabar, jika lu mau perjuangin cinta lu ya memang harus berkorban." Entah, Ares menjadi orang yang bijak saat menasehati Dave. Padahal biasanya ia slengekan.
*****
Dua bulan kemudian
__ADS_1
Dave menjalani aktivitas seperti biasa. Gairahnya dalam bekerja sangat rendah. Tidak hanya performa kerjanya, pola tidur, pola makan tidak diaturnya dengan baik. Ditambah lagi mama Anita yang belum mau bicara dengannya.
Keadaan makin sulit saat perusahaan mengalami kebocoran data. Hal itu mengakibatkan perusahaan Dave rugi besar. Ares sendiri membantu memulihkan stabilitas perusahaan dan hasilnya perusahaan Dave berangsur pulih.
Dave berjanji untuk menjaga perusahaan itu juga karena ia sudah diamanahi oleh Papa Surya, ia tidak boleh mengecewakan.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, dan Dave masih sibuk menyibak dokumen yang harus ia tandatangani.
Tiba-tiba saja ada ketukan pintu dari luar. Dave mempersilakan untuk masuk.
"Masuk!" Seru Dave dalam ruangan. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen itu.
"Dave, Sayang." Ya! Itu suara Clara. Clara dengan percaya diri yang tinggi berjalan ke arah Dave.
Dave yang mengenal suara tersebut ia mendongakkan kepalanya. "Mau apa kamu kesini!" Dave langsung membentak Clara.
Apa dia tidak puas karena sudah menghancurkan hidup Dave untuk yang kedua kalinya.
Clara hanya tersenyum miring. "Sayang, kok marah marah sih. Aku datang kesini karena ingin menyampaikan kabar menggembirakan untuk kita." Clara mengerlingkan satu matanya.
Dave sudah muak dengannya. Hatinya sudah mati untuk Clara. Hanya Tere yang mengisi singgasana hatinya saat ini.
"Sayang, aku hamil anakmu." Sebelum diusir, Clara sudah mengutarakan niatnya terlebih dahulu.
Dave hanya tersenyum menyeringai. Ia menatap nyalang ke arah Clara. "Hamil? Bukan urusanku!"
Dave tidak habis pikir, setelah apa yang dilakukan Clara padanya seolah tidak ada habisnya membuat Dave menderita.
"Ini anakmu, Dave! Kamu harus tanggung jawab!" Clara yang kehilangan kesabaran pun meninggikan suaranya di hadapan Dave. Tetapi nampaknya Dave tidak terpancing.
Ia justru begitu santai. "Cla, aku bukan orang bodoh. Aku tidak akan mempercayai sesuatu yang keluar dari mulut busukmu itu. Mulai saat ini, berhenti menemuiku. Dan aku tekankan, aku tidak pernah menyentuh batasanku denganmu. Jadi jangan harap kalau aku akan mengakuinya sebagai anak."
Dave menekankan kalimat itu di hadapan wajah Clara. Ia langsung menelepon satpam dan mengusir Clara dari hadapannya.
Tidak berselang lama, satpam itu datang. Ia menyeret Clara untuk keluar. "Awas kamu Dave, kamu akan menyesal karena telah membuatku seperti ini." Pekik Clara saat diusir oleh satpam itu.
Dave tidak ambil pusing. Ia akan menyuruh detektif untuk menyelidiki kasus Clara. Enak saja ia harus bertanggung jawab padahal ia tidak melakukannya.
__ADS_1
Ia lantas menelpon Ares. Ia akan berkunjung ke kantor Ares. Giliran dia yang berkunjung. Selama ini Ares yang selalu mengunjungi Dave, sekarang sebaliknya.
****
"Tumben lu kesini, gabut lu?" Ares menumpuk berkas yang sudah ia tandatangani. Ia berjalan ke arah Dave di sofa ruangan Ares.
"Clara datang ke gue." Dave langsung to the point pada masalah yang ia hadapi.
Ares mengerutkan dahinya. Untuk apa nenek lampir itu mengunjungi Dave. Bukankah dulu Dave sudah mengancam Clara?
"Ngapain?"
"Dia meminta pertanggungjawaban gue, katanya dia hamil." Dave meneguk soft drink yang disediakan oleh Ares.
"Gila lu?! Masa anak orang juga lu hamili?" Ares menepuk bahu Dave kencang, sampai Dave harus tersedak saat meminum soft drink itu.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
"B*ngs*t lu, gue jadi kesedak nih." Dave menatap tajam temannya itu.
Ares bukannya minta maaf malah tertawa jahat. "Lu gila sih."
"Gue tidak semudah itu percaya. Gue sudah suruh detektif untuk menyelidiki ini. Gimana menurut lu?" Dave meminta pendapat dari Ares. Barangkali ia mendapatkan solusi lain yang lebih bagus.
"Gue setuju. Dan lu harus tetap jaga jarak dengannya. Kalau sudah mengetahui perkembangan itu, lu harus selidiki soal lain tentang Clara. Mana tahu bisa menjerat dia ke jeruji besi. Lumayan kan?"
Ares memberi saran yang cukup ekstrem hahaha tetapi tidak apa apa. Dave menyetujuinya.
Saat berbincang ringan seperti ini. Ares dikagetkan oleh dorongan pintu yang begitu keras. Ya! Itu Kirani.
Kirani yang datang tanpa mengetuk pintu malah langsung menunjukkan ekspresi cemberutnya. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Mas Ares!" Suara lantang Kirani membuat Dave menahan tawa. Lucu juga karena Ares terlihat lembut seperti marmut ketika berhadapan dengan istrinya.
__ADS_1
"Ada apa Sayang?Kok teriak teriak sih? Ada tamu loh, tidak malu?" Ares bertanya lembut.
Entah kenapa Kirani semenjak hamil jadi sensitif begini. Ia langsung memeluk Ares. "Aku mau liburan ke Beijing, China. " ucap Kirani sambil nangis sesenggukan.