
"Re" Ares menyapa Tere yang masih sibuk itu. Lantas Tere mendongakkan kepalanya.
"A-Ares?" Tere tertegun karena berjumpa dengannya. Tere mati matian untuk menghindari semua yang berkaitan dengan Dave, siapapun itu. Tapi Ares malah menemukannya.
Tere kembali ke mode dinginnya. Ia bahkan tidak tersenyum ke arah Kirani yang melemparkan senyum ke Tere.
"Ada apa kamu kesini bersama istrimu?" Tere menatap lekat Ares dan Kirani. Ia bahkan belum mempersilakan duduk bagi keduanya.
"Biarkan kami duduk dulu Re." Ares malah menawarkan dirinya untuk duduk. Tere hanya mengangguk.
Rasanya tidak baik jika belum mendengarkan apa maksud tujuannya kesini dan Ares juga membawa Kirani.
"Baik, silakan." Tere mempersilakan mereka untuk duduk di sofa. Demikian Tere juga bangkit dari kursinya dan menuju sofa.
Sorot mata Tere tajam, ia bukan lagi Tere yang dulu. Tere yang selalu mau diinjak-injak oleh Dave.
"Ada apa kedatanganmu kemari?" Tere kembali mempertegas maksud dari Ares dan Kirani.
"Re, aku dan istri sedang liburan ke Beijing. Tanpa sengaja saat aku berbincang dengan sesama rekan bisnisku yang ada di Beijing ini, ia menyinggung tentang perusahaan milik Tuan Xiao Bao. Dan ternyata posisi CEO saat ini dipegang olehmu. Jadi aku kesini untuk memastikan."
Ares tidak langsung bicara tujuan awalnya karena ini cukup berat. Mengingat Tere memberi respon yang tidak terlalu ramah untuknya.
"Tidak perlu kamu memastikan aku baik baik saja atau tidak. Itu tidak akan berguna." Tere menjawabnya dengan penuh penekanan. Hatinya masih terasa sakit jika mengingat semua yang dilakukan Dave terhadapnya. Terlebih, Ares adalah sahabat Dave.
"Ini penting Re, sangatlah penting. Aku bukan bermaksud untuk mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi ini menyangkut Dave. Dave sangat..."
Ares belum bicara soal Dave lebih lanjut Tere sudah menyela. "Jangan sebut nama Dave di depanku!"
Tampaknya Tere dalam mode menahan amarah. Ia tidak suka harus membahas masa lalu. Untuk apa? Apakah berguna?
"Dave sudah berubah Re. Dave mencarimu saat ini. Ia merasakan sakit yang begitu dalam karena kepergianmu. Ia juga sudah mengerahkan semua tenaganya untuk mencarimu. Tapi nyatanya zonk."
__ADS_1
Ares pasti akan mengusahakan di pihak Dave. Tapi sebelum itu, ia sudah memastikan terlebih dahulu Dave berubah atau belum. Dan memang, Dave yang sekarang sudah sangat berubah.
Tere malah menyeringai. Ares tidak paham sama sekali luka yang digoreskan Dave padanya.
"Jangan pernah mengajariku apa arti sakit yang begitu dalam! Aku mengalaminya juga! Jika tujuanmu hanya untuk membela orang itu. Lebih baik kamu dan istrimu ini keluar saja. Aku tidak punya banyak waktu."
Tere menatap tajam ke arah Ares. Kilat kemarahan kian terpancar.
"Aku hanya kasian kepada kalian berdua. Tapi jika kamu tidak menghendaki untuk kembali ke Dave. Itu keputusanmu, Re. Aku hanya menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan."
Ares terus menatap Tere walaupun sorot mata tajam Tere begitu menghujam penglihatannya.
"Jangan pernah ikut campur apapun tentang aku dan Dave. Lebih baik sekarang kamu keluar. Dan ingat, satu hal yang harus kamu tahu, jangan pernah memberitahukan keberadaanku pada siapapun itu termasuk Dave."
Ares mengangguk, ia setuju akan hal itu. Ia merasakan apa yang Tere rasakan. Ares juga pernah di masa ia disakiti berulang kali sebelum ia menemukan cintanya bersama Kirani.
"Baiklah. Aku tidak akan menunjukkan keberadaanmu pada siapapun termasuk Dave. Aku menghargai keputusanmu."
"Oke, terimakasih. Aku minta maaf atas perlakuanku yang tidak ramah pada kalian. Aku tidak ingin menjadi Tere yang dulu. Sekarang kehidupanku baru dimulai saat ini. Aku ingin menempuh kebahagiaanku sendiri."
Kirani manggut-manggut. "Iya Re, aku pun mendukungmu, apapun itu keputusanmu. Jadilah dirimu sendiri."
Kirani yang awalnya duduk di sebelah Ares beranjak dan menghampiri Tere. Ia memeluk Tere dengan tulus.
Tere pun tertegun dengan perlakuan Kirani. "Aku paham akan keadaanmu. Ini memang tidak mudah, aku tahu itu. Aku memakluminya. Aku dan Mas Ares, mendukungmu. Jangan pernah merasa sendiri."
Kirani memeluk Tere dan Tere pun terhenyak. Ia mencoba tegar tapi nyatanya pertahanannya jebol saat Kirani memeluknya.
"Menangislah Re, luapkan semua yang kamu rasakan saat ini." Kirani mengusap bahu Tere sambil memeluknya.
Ares yang melihat pemandangan itu pun ikut tersenyum. Setidaknya ada Kirani yang agak menetralisir rasa kemaraha Tere kepadanya.
__ADS_1
"Makasih mbak Kirani. Aku begitu rapuh saat ini. Aku kehilangan banyak kepercayaan dari Dave dan aku juga kehilangan janinku."
Tere menangis terisak di pelukan Kirani. Kirani yang mendengar kata 'janin' pun langsung melonggarkan pelukan itu.
Ares juga tidak kalah terkejutnya. Ia tidak menyangka bahwa kepergian Terenjyga dalam keadaan hamil.
Sebagai sahabat Dave, ia merasa sangatlah terlambat menasehati sahabatnya itu. Bahkan sampai berakibat fatal.
Bukan hanya hati dan kepercayaan yang terluka dan hilang. Tapi juga buah hati yang Tere kandung.
Pernyataan Tere begitu menyayat hati Ares dan Kirani. Mereka turut merasakan kesedihan itu. Karena Kirani sendiri juga dalam masa kehamilan.
"Janin? Jadi kamu mengandung saat memutuskan pergi?" Kirani yang berbicara itu. Ares belakangan saja.
Tere mengangguk, ia menyeka air matanya. "Kenapa kamu merahasiakan itu dari Dave?" Ares memberanikan bertanya pada Tere. Sangat rentan juga kalau Tere sedang dilanda stres dan harus pergi jauh.
"Aku sudah tidak kuat dengan perlakuan Dave. Terakhir aku memergokinya di club Fantasy. Ia tidur bersama Clara."
Ares tahu soal itu. "Bukannya aku membela Dave atau apapun itu. Tapi ini berdasarkan penyelidikan dari detektifku. Ia menemukan minuman yang diberikan Clara mengandung obat tidur. Dave dijebak, dan ternyata rekan bisnis itu paman dari Clara. Jadi Clara bisa leluasa membawa Dave."
Bagaimana pun respon Tere, Ares wajib menjelaskan semua pada Tere. Ini juga penting karena Dave tidak sepenuhnya salah.
Tere hanya tersenyum sumbang. "Dan aku sudah tidak peduli lagi. Dia sudah menorehkan luka yang begitu dalam. Dan jika aku pergi pun dia tidak akan peduli."
Mereka semua terdiam, hening. Tere melanjutkan pembicaraannya.
"Malam itu, adalah malam yang begitu bahagia dan menyedihkan bagiku. Satu sisi bahagia karena ternyata aku positif hamil. Dan menyedihkannya aku memergokinya bersama cewek lain apapun itu alasannya. Tadinya aku ingin memberikan kabar bahagia ini. Tapi nyatanya.. aku menyimpannya sendiri dan pergi dari kehidupannya."
Mendengar penjelasan miris dari Tere, Kirani maupun Ares hanya menghela nafas panjang. Penderitaan Tere memang begitu berat.
"Kami minta maaf karena sudah membahas ini Re. Kami menghargai keputusanmu. Kami akan merahasiakan keberadaanmu. Kamu berhak bahagia." Ucap Kirani
__ADS_1
...Hai Hai readers! Gimana part ini? Komen dong hehehe ...