Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 45


__ADS_3

Clara melancarkan aksinya itu. Ia sengaja menyuruh bartender lain untuk menyerahkan orange juice itu untuk Dave.


Tanpa curiga apa apa bartender itu pun langsung mengiyakan perintah Clara. Clara hanya menunggu reaksi obat itu berjalan.


"Dave, Sayang. Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku lakukan." Clara menanti reaksi Dave. Ia tersenyum miring. Rencananya ia akan menjebak Dave.


Padahal sebelumnya Dave sudah bertekad keras untuk menjauhi Clara. Tapi apa? Clara terus menjadi duri dalam daging di rumah tangganya.


****


"Permisi, ini minumannya." Bartender itu menyerahkan orange juice itu ke Dave. Dan Dave pun mengangguk mengucapkan terimakasih.


Dave memang sejak tadi haus. Ia langsung meminumnya hingga tandas. Tidak berselang lama kepalanya pening. Ia bahkan tidak bisa membuka matanya seperti sedia kala. Rasanya saat ini ia mengantuk berat.


Li Chang Wo yang berbincang ringan dengan Baron itu langsung menarik atensi kepada Dave.


"Apakah Tuan Dave ada masalah?"


"Iya Tuan Li, saya pusing saat ini. Saya izin pulang terlebih dahulu." Dengan langkah yang agak semponyan Dave pun akhirnya terjatuh.


"Tuan Dave!"


"Pak Dave!"


Baron dan Li Chang Wo pun berinisiatif untuk membawa Tuannya pulang tapi si nenek lampir Clara buru buru mencegahnya.


"Paman, mau dibawa kemana Dave?" Clara pura pura panik.


"Iya akan aku bawa ke kamar saja. Disini kan ada penginapannya juga. Jadi biar Tuan Dave istirahat. Dia terlihat capek."


" Biar aku saja yang menemani, Paman. Aku kekasihnya." Li Chang Wo yang tidak mengetahui bahwa Dave sudah menikah hanya manggut manggut.


Ia percayakan pada Clara. Dan bagi yang bertanya posisi Baron? Iya! Dia masih di ruang private tadi karena harus membereskan berkas penting.


"Oke Cla."


****


"Dave, so sorry aku harus menjebakmu. Kamu milikku Dave, akan selalu jadi milikku." Clara melucuti pakaian Dave saat ini, ia membiarkan dirinya dan Dave tidur bersama tanpa menggunakan busana.


Ia tidak lupa mengabadikan momen ini. Ia tersenyum miring, "Begitu indah."


Setelah hal itu mereka tidur bersama tanpa Dave ketahui.


*****


Di rumah, Tere belum tidur. Ia malah sibuk mendialkan nomor Dave tetapi ponsel suaminya tidak aktif.

__ADS_1


"Kemana mas Dave ini? Aku jadi khawatir. Aku sudah menghubungi berkali-kali tapi ia tidak mengangkat bahkan nomornya tidak aktif."


Ia masih setia menunggu Dave padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia baru kepikiran kalau Dave bersama Baron.


Ia tidak sungkan lagi menghubungi Baron yang sudah terlelap tidur.


Tring


Tring


Tring


Bunyi dering panggilan itu terus menganggu telinganya. Baron yang sudah tidur itu pun langsung mengambil ponselnya di nakas.


Ia melihat siapa yang memanggil. Tidak ada namanya, tapi Baron tetap mengangkatnya.


"Halo, siapa ini? Ganggu orang tidur saja!" Baron mendengkus kesal sambil meluapkan rasa kesalnya.


"Ini saya Tere. Istrinya Mas Dave, Baron." Mendengar suara itu dan pengakuannya, Baron langsung terlonjak. Ia merasa tidak enak hati.


"Maafkan saya, ada yang bisa saya bantu?" Baron menjelma menjadi sekretaris lagi hahaha.


"Saya mau tanya, mas Dave masih meeting kah? Kok jam segini belum pulang ya?"


Baron langsung mengernyitkan dahinya. "Loh, bukannya tadi Pak Dave sudah dibawa pulang ya Bu? Soalnya tadi beliau pingsan. Kayanya kepalanya pening."


"Dimana kamu meeting tadi Ron? Katakan!" Tere agak meninggikan intonasinya tanpa sengaja. Ia begitu cemas dengan keadaan Dave.


"Di Club Fantasy"


Tanpa terimakasih dan apa, Tere langsung menutup panggilan telepon itu. Ia seperti kehilangan akal pikirannya. Saat ini pikirannya pun hanya Dave. Begitu besar rasa cintanya itu.


"Sebaiknya aku langsung ke sana." Tere mengambil tasnya dan bergegas ke sana. Tiba tiba saja ada notifikasi bahwa ia di suruh ke ruang VVIP Astore


"Siapa yang mengirim ini? Apa mas Dave disitu?" Tanpa pikir panjang, Tere langsung menuju ke Club Fantasy.


****


Ia langsung menuju ke resepsionis, disana ia langsung diarahkan ke ruang VVIP Astore. Dan anehnya tidak dikunci.


Tubuh Tere membeku. Lagi lagi ia harus menyaksikan hal yang tidak mengenakkan.


Ia mengepalkan tangannya. Emosinya sudah berada di ubun ubun.


Ia langsung menghampiri Clara yang tertidur memeluk Dave dengan mesra. Seperti sudah direncanakan.


Ia langsung menarik kasar rambut Clara sampai orang itu terbangun dan mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Tere sudah kehilangan kesabaran. Ia menarik rambut iti bagaikan menarik tali tambang.


"PELAKOR! Heh wanita busuk, j*l*ng sepertimu tidak pantas berada di samping mas Dave. Bangun kamu."


Clara yang syok dan kesakitan pun duduk dan menutupi tubuhnya.


"Aw sakit lepaskan!" Clara terus merengek kesakitan. Siapa suruh cari masalah sama Tere.


"Busuk! J*L*NG! Kamu pantas mendapat dapatkan ini."


Plak


Tamparan yang begitu keras itu membuat membekas di pipi Clara. Sekarang Tere bagaikan iblis yang siap mengeksekusi korbannya. Ia berubah menjadi sadis.


"Ingat! Kau adalah orang yang paling hina disini. Kau merebut mas Dave dariku. Kau menghancurkan kami!" Tere masih berapi api. Ia tahan air mata itu supaya tidak keluar.


"Aku senang sekarang Dave milikku!" Clara masih menanggapi perkataan Tere. Tidak ada bosannya ia.


Plak


Plak


Dua tamparan berhasil Tere sematkan di pipi Clara hingga bekasnya pun terlihat. Clara langsung menampar balik tapi di tahan Tere.


Tere langsung memutar tangan itu sampai terasa sakit bagi Clara.


Ia juga menyaksikan miris, Dave masih terlelap karena obat tidur itu terlalu kuat. Ia langsung pergi begitu saja.


Keputusan untuk meninggalkan Dave sudah ia pikirkan matang matang. Ia berusaha percaya tapi nyatanya ditampar oleh kenyataan pahit itu.


Ia bergegas pulang dan mengemasi semua barang barangnya. Ia juga bertekad untuk tidak goyah dengan pendiriannya itu


Soal mama Anita, bisa Tere selesaikan dengan baik baik. Ia tidak kuat jika harus diperlakukan seperti ini oleh Dave.


Tere melajukan mobilnya ke bandara. Ia langsung memesan tiket untuk terbang di waktu pagi hari.


Ia teringat pesan orang tuanya yang tidak disetujui oleh keluarga si Ibu. Bahwa ia memiliki kakek dan nenek di negara China.


Ia cukup menujukkan kalung pemberian Ibunya itu maka kakeknya akan percaya. Karena sebelumnya mereka pernah bertemu tapi hanya singkat.


Tere terus menangis di bandara. Kenangan bersama Dave sangat mengakar dalam hatinya. Ia akan membuang itu! Ia harus bangkit menjadi wanita yang kuat. Wanita yang tidak akan mau ditindas!


****


Pukul lima pagi hari, pesawat dengan penerbangan ke Beijing pun sudah menanti. Tere kembali meneteskan air matanya. "Selamat tinggal mas Dave. Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal untuk semua, aku tidak akan kem-ba-li" Tere pun menaiki pesawat itu.


...Maaf ya Readers jika harus bikin kalian emosi, ikuti terus alur ceritanya ya. Insha Allah Thor tidak akan mengecewakan kalian. Terimakasih. Jangan lupa vote cerita ini supaya Thor lebih semangat double update!...

__ADS_1


__ADS_2