
Hmmm... Pakai kalung itu, dan lepas kalung yang ada di lehermu saat ini juga". Perintah Dave tentu dengan wajah datar.
Sontak Tere langsung menatap Dave dengan tatapan penuh makna. Kenapa sikapnya seperti cuaca?! Sedikit sedikit ngambekan, sedikit sedikit dingin, sedikit sedikit perhatian. Membuat Tere kebingungan
Melihat Tere yang masih memandangnya dengan tatapan penuh arti, membuat Dave jengah. "Pakai saja. Dan ingat! Hanya kalung pemberian dari gue yang boleh bertengger di leher lu". Dave berbicara tanpa ada romantis romantisnya sama sekali.
Bukan Tere orangnya jika tidak memancing emosi Dave. " Kenapa harus kalung kamu mas, ini juga bagus pemberian dari kak Athur. Apalagi ini kembaran sama Amelys. Enggak ah, aku gak mau lepas kalungnya ". Tere berbicara dengan nada centilnya itu membuat Dave jengah.
" Lu berani sama suami lu sendiri?! Mau jadi istri pembangkang lu?!". Dave menatap Tere dengan tatapan tajam. Lantas ia memalingkan mukanya.
"Yah, gitu saja marah sih mas, kan aku cuma becanda. Iya oke, aku bakal pakai pemberian dari mas lah. Sekarang aku minta tolong sama mas buat copotin kalung ini dan pasangin kalung pemberian dari mas".
Tere berucap lembut akan tetapi Dave keburu mengambil dahulu. Sungguh seperti anak TK saja. Dirasa tidak segera menimpali perkataannya, Tere memukul lengan Dave.
"Apa apaan lu pakai pukul pukul segala. Sana copot sama pasang saja sendiri. Ngapain nyuruh gue". Dave bersedekap dada sambil memalingkan muka masamnya.
" Dih, ngambekan kamu mas. Ayo lah, katanya istri sendiri ". Rayu Tere sambil mendayu dayu membuat Dave makin jengah. Mendengar obrolan Tere dan Dave yang layaknya di pasar, mama Anita pun membuka netra coklatnya pelan pelan.
Seakan ingin tahu, ada keributan apa di ruangan itu. " Sayang ". Mama Anita memanggil Tere dengan lirih. Tubuhnya memang sudah berangsur membaik tetapi perlu pemulihan lebih lanjut.
" Iya ma, ada apa?". Tere bangkit dari sofa yang ia duduki dan menghampiri sang mama.
"Kok kaya nya kamu dan Dave lagi ribut, ngeributin apa?". Mama Anita mengernyitkan dahinya, ia penasaran dengan keributan yang diciptakan putra dan menantunya
" Oh itu, mas Dave ma. Dia ---". Tere mengadu dengan sang mama mertua membuat Dave langsung bangkit dari sofa dan menghampiri Tere.
__ADS_1
"Ini loh ma, Tere gak mau lepas kalung yang kembaran sama sahabatnya. Padahal kan niat Dave bagus ngasih kalung buat Tere". Sudah kedahuluan! Dave malah ngadu yang tidak tidak dengan mamanya. Sontak Tere langsung melotot ke arah Dave dan mengangkat dagunya.
" Eh, bukan gitu ma. Mas Dave juga gak mau bantuin buat copot dan pasangkan kalung pemberiannya. Jadi aku di suruh sendiri. Mana aku bisa ma". Tere memanyunkan bibirnya dan dibalas senyuman dari mama Anita.
"Kalian berdua ini ya, perkara kalung saja ribut. Untuk kamu sayang, lebih baik pakai yang diberikan suamimu sebagai tanda cinta darinya. Dan untuk kamu Dave, masa kamu gak mau masangin kalung sama istri sendiri. Lagian kan ini pemberianmu".
Mama Anita lebih memilih bersikap bijak saja, menasehati pengantin baru yang suka ribut ribut itu.
" Tuh mas, dengar kan? Ayo copot ini, dan pasangin kalung pemberianmu". Tere menyibak rambutnya yang digerai dan memperlihatkan jenjang leher yang mulus.
Ya mau tidak mau akhirnya Dave meng-iyakan permintaan Tere. Pertama tama ia copot dulu kalung pemberian Athur, dan memasangkan kalung pemberiannya.
Saat sudah terpasang, kalung itu sungguh sangat indah. Membuat mata Tere berbinar binar. Ia memegangi kalung itu. "Wah, bagus banget mas. Makasih".
Tere yang refleks, langsung memeluk Dave dengan eratnya. Ia membenamkan kepalanya ke dada bidang Dave. Tidak ada pilihan lain selain Dave mengelus punggung Tere karena ada mama Anita yang memandangi mereka berdua.
Entah itu hanya kepalsuan, tetapi hati Tere menghangat. Ia menantikan momen ini. Dan tibalah momen dimana ia dicium keningnya oleh Dave.
Setelah berdrama ria, akhirnya mereka kembali canggung. Malam hari giliran papa Surya yang menjaga mama Anita. Dave juga Tere kembali ke rumah barunya itu.
****
Sesampainya di rumah baru. Tere menarik kopernya. Ia bawa ke kamarnya sendiri. Tetapi saat akan membuka pintu kamarnya Dave malah kembali berulah.
"Kalau gak karena mama anfal, mungkin lu gak kembali lagi". Dave malah memperkeruh suasana. Membuat Tere mendelikkan matanya. " Jadi mas gak suka kalau aku tinggal disini?!". Tere mulai sewot dengan pernyataan Dave yang membuat telinganya panas.
__ADS_1
Tidak ada sahutan yang berarti dari mulut Dave. Ia malah diam terpaku. "Mas, aku boleh minta sesuatu ke kamu?". Tere yang tidak kunjung mendapat jawaban dari Dave pun malah bertanya hal lain.
" Apa?". Dave menatap nyalang ke arah Tere. "Mas, ingat kan. Perjanjian kontrak kita berjalan satu tahun. Aku mau minta sesuatu sama mas". Tere ingin mengungkapkan uneg uneg nya selama ini.
" Kenapa? Mau apa lu?". Dave tetap ketus. Tetapi Tere mulai mendekat ke arah Dave.
"Boleh kok gak harus satu tahun mas, kita bikin 6 bulan saja kontrak itu. Dengan catatan, jika aku berhasil membuat kamu jatuh cinta, maka kamu harus meniadakan kontrak itu. Jika aku gagal, maka kamu bisa menceraikan aku". Tere mengucapkan dengan tatapan sendu. Sebenarnya ia juga takut jika ia gagal. Tapi apa salahnya mencoba. Ia akan berusaha lebih keras lagi.
"Oke, gue setuju". Dave berlalu begitu saja. Sontak Tere langsung mencekal lengan kekar Dave yang masih berbalut jas kantor.
" Mas, ada syaratnya tapi". Tere mengatakan dengan lirih dan ragu ragu. Dave mengernyitkan dahinya. Syarat apa lagi maksudnya?!
"Apa syaratnya?".
" Itu aku mau kita jadi suami istri yang sebenarnya. Jadi kita menjalaninya secara normal". Ucapan Tere seakan ambigu bagi Dave.
"Contoh?". Daripada salah arti, Dave meminta contoh suami istri yang sebenarnya gimana. Agak aneh ya, harusnya Dave lebih paham soal ini.
" Ya... itu. Anu mas, itu.. kita yang tidur bareng. Terus kamu juga harus beri nafkah batin. U know kan? Itu mas, emm yang itu loh". Pernyataan itu makin ambigu.
"Maksud lu, lu itu mau gue memberikan nafkah batin itu? Hum?". Dave mendekat ke arah Tere. Semakin dekat semakin dekat. Ia memangkas jarak di antara mereka berdua.
Tere jadi deg degan, jantungnya saat ini tidak aman. Karena Dave sangatlah dekat dengannya. Tere memejamkan matanya. What!? Emang kenapa Re? Hahaha
" As wish you baby". Dave mengucapkan itu di telinga Tere, terdengar sangat menggoda. Tere menelan salivanya dengan susah.
__ADS_1
...Menurut kalian apa yang akan dilakukan Dave setelah ini???hehehe ...
...Jangan lupa follow IG cemaraseribu_author untuk melihat visual tokoh...