Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 72


__ADS_3

Xiao Bao pun mengangguk. "Iya, Sayang. Sudah ya jangan menangis," ucap Xiao Bao sembari mengusap air mata yang menetes di pipi Tere. Dave pun tersenyum tipis walaupun sudut bibirnya tadi berdarah. Tere langsung menoleh ke arah suaminya.


Tere menggandeng tangan Dave. "Opa, Oma, jadi Tere sudah boleh sama Dave lagi?" tanya Tere seperti anak TK saja. Mereka pun mengangguk. "Boleh, tapi dengan syarat," tukas Li Xie Cu menatap Dave. "Apa Oma?" tanya Tere. Li Xie Cu menatap Dave dengan tatapan intens. "Ini untuk Dave. Tolong kamu jangan menyakiti Tere lagi. Kami kasih kamu kesempatan kedua. Jangan pernah kecewakan kami lagi, terutama istri kamu."


Dave mengangguk. "Baik Nyonya Li Xie Cu. Saya akan menjaga Tere dengan segenap kekuatan saya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Bagi saya Tere adalah segalanya," tukas Dave sambil merengkuh pinggang Tere.


Li Xie Cu mengangguk. "Bagus! Dan untuk ke depannya jangan panggil saya seperti itu. Panggil saya dan suami saya dengan panggilan Opa Oma. Mengerti?" Dave menjawab, "Baik Oma."


*****


Di kamar Tere, mereka sedang berduaan. Tere harus mengobati luka di sudut bibir Dave. "Ae sakit, Sayang." Dave meringis saat diobati oleh Tere. "Ih kamu cemen banget sih." tukas Tere sambil meledek. Dave menahan senyumnya. "Kan pengen manja-manjaan sama istri tercinta," goda Dave. Tere mendengkus. "Kamu tuh sakit tapi masih bisa menggombal. Duh!" Tere menggelengkan kepalanya.


Setelah mengobati luka di sudut bibir Dave, mereka pun hendak kembali ke ruang tengah. Tapi Dave buru-buru mencegah Tere beranjak dari ranjang. "Kenapa sih buru-buru mau keluar?" goda Dave mencekal tangan Tere sambil mengerlingkan matanya. Tere ingin melepas tapi tenaga tidak sebesar Dave. Akhirnya ia pasrah.


"Terus mau ngapain di kam-"


Ehmmpp


Belum selesai berbicara, bibir Tere ditempel dengan bibir Dave. Dave menahan tengkuk Tere. Mereka sudah lama tidak berc*uman seperti ini. Terakhir melakukan aktivitas itu mungkin hampir satu tahun lamanya.


Tere seperti kaku saat berpang*tan kembali dengan suaminya. Dave tidak masalah. Ia yang akan terus mengajari Tere.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Tere kembali rileks dan mengikuti dan membalas ci*man itu. Mereka saling berpang*tan cukup lama. Sampai akhirnya mereka sama-sama kehabisan nafas.


Dave dan Tere mengurai cium*n itu. "Gimana? Mau lagi?" tanya Dave terlihat menggoda. Belum juga Tere menimpali, Dave kembali menempelkan alat bicaranya ke alat bicara Tere. Mereka sama-sama menikmati momen itu. Sebelum akhirnya aktivitas itu harus usai karena kehabisan nafas rasanya.


"Gila kamu, Dave!" Tere menjauhkan tubuh Dave dari hadapannya sebelum suaminya itu menerkam dia lagi. Dave malah terkekeh.


"Maaf ya, Sayang. Sudah lama tidak dapat jatah," ucap Dave memelas. Tere tidak menggubris diri Dave. Ia lebih memilih keluar dari kamarnya. "Dasar malu-malu kucing," batin Dave sambil tersenyum.


Tere turun ke bawah dan menemui Opa dan Oma. "Lho mana suamimu?" tanya Xiao Bao menelisik ke arah lift. Tere menggeleng. "Masih ada di kamar, mungkin sebentar lagi menyusul, Opa," ucap Tere sambil mendaratkan tubuhnya ke sofa empuk yang ada di ruang tengah. Mereka pun manggut-manggut.


"Ya sudah kalau begitu. Oh iya, rencanamu setelah ini apa, Sayang?" tanya Li Xie Cu. Ia bertanya karena hubungan Dave dan Tere sudah membaik, pastinya mereka akan tinggal serumah berdua lagi.


"Aku sih ngikut kamu, Dave. Tapi Oma dan Opa gimana?" tanya Tere ke Xiao Bao dan Li Xie Cu. "Kami tidak apa-apa, Sayang. Pokoknya kamu harus bahagia itu saja," ucap Xiao Bao dan Li Xie Cu.


*****


Tiga hari kemudian...


Setelah bermalam di mansion Oma dan Opa, akhirnya Tere dan Dave menempati rumah barunya. Suasana haru sangat terasa mengisi rongga dada Tere. Dia tidak pernah menyangka akan berada dalam titik ini.


Titik dimana dia dan Dave akhirnya dipersatukan kembali. Bahkan dulu ia berpikiran akan bercerai dan tidak mau menikah kembali. Tapi takdir Tuhan berkata lain. Dan sekarang, Dave tetap menjadi suami Tere Sanjaya.

__ADS_1


"Mas, ini rumah kamu?" tanya Tere sambil memeluk lengan Dave. Dave mengangguk. "Ini rumah kita, Sayang. Rumah kita sampai tua," ucap tulus Dave sambil memandang wajah cantik Tere. Mereka pun masuk dan beberes.


Hari ini Dave dan Tere masih libur cuti. Mereka akan masuk lagi besok. Sekarang ini Dave dan Tere sudah menjalani aktivitas seperti biasanya.


Hingga malam telah tiba, mereka tidur bersama kembali. Dave juga menghadiahkan Tere beberapa lingerie dengan berbagai warna. Tentu wajah Tere bersemu merah.


Artinya ia berutinitas kembali sebagai seorang istri yang menunaikan kewajiban. Malam itu ia menggunakan lingerie berwarna merah menyala. Perasaannya campur aduk. Antara bahagia dan malu karena berpenampilan seperti itu. Tidak lupa juga Tere juga berdandan tipis. "Oke, sudah selesai. Aduh kok deg-degan gini ya?" ucap Tere sambil memegangi dadanya yang berdegub kencang. Ia memberanikan diri untuk keluar dari walk in closet.


Dave tidak tahu soal ini, dia malah sibuk dengan tabletnya. Ia mengecek email yang masuk. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebenarnya.


Begitu Tere keluar, ia malah memandangi Dave yang tengah sibuk. Inginnya langsung menyapa tapi kok malu. Tere ambil nafas dulu dan seperti biasa dia memberanikan diri.


"Dave," ucap Tere lirih. Dave mungkin tidak mendengar. Ia ulangi lagi, dan Dave hanya menjawab dengan deheman. Suaminya belum juga fokus ke dirinya.


Mungkin karena terlalu sibuk jadi Tere dianggurin. Tere berinisiatif untuk mendekat ke arah Dave. Mungkin itu akan manjur. "Dave," ucap Tere dengan nada mendayu. Sontak saja Dave langsung mendongakkan kepalanya. Ia begitu terpaku melihat penampilan istrinya yang nampak seksi dan cantik.


"Hei?" tanya Tere sambil menyadarkan lamunan Dave mungkin karena saking terpesonanya. Tidak lama dari itu..


Grep!


Dave langsung menarik Tere dan posisinya sekarag Tere berpangku pada paha Dave. "Aku menginginkan hakku malam ini, Sayang," bisik Dave di telinga Tere.

__ADS_1


__ADS_2