
"Ya diembat lah. Lu tahu kan, posisi lu bakal kegeser sama Athur dokter tampan itu! Masih saja tidak peka! Ingat ya, Tere cantik dan Athur cinta. Gue paham gerak geriknya, jika lu sekali bikin ulah. Siap siap dah jadi duda!"
Ares malah cengar cengir me-roasting Dave.
"Mulut lu emang perlu gue cabein. Berani banget ngatain gue duda. Gue jelas tidak akan melepas Tere lah. Dibanding Clara gue bakal milih Tere. Secara dia unggul segalanya."
Dave pun menonyor kening Ares membuat sahabatnya ia tergelak tawa sambil memegangi keningnya itu.
"Dih, ngapain lu nonyor gue! Emang lu agak lain ya Dave. Dulu saja nolak Tere bilang dia tengil, jelek, murahan, kegatelan. Nah sekarang makan tuh bucin."
Ares tetap meledek temannya itu. Ia sangat puas melihat ekspresi Dave yang tertekuk seperti itu.
"Lu ngapain kesini? Ada masalah proyek?" Dave langsung to the point saja karena Ares terus meledeknya membuat ia ingin membuang sahabatnya itu hahaha.
"Gue disini murni karena gue peduli sama lu. Ntar kalau lu duda gue juga yang repot. Ntar bini gue lu embat."
Dave menggelengkan kepalanya. "Unfaedah banget gue punya lu. Beban banget. Masa ngatain gue duda terus sih!"
"Hahaha supaya lu sadar saja sih. Kasian Tere itu cantik, baik, seksi, senyumnya juga..."
Ares belum selesai bicara mulutnya sudah disumpal kertas yang sudah diremas Dave
"Makan tuh kertas! Enak saja lu muji bini gue. Gue laporin lu ke bini lu supaya tidak dapat jatah ntar malam!"
Giliran Dave yang mengancam Ares. Ares yang masih tersumpal kertas pun sibuk mengeluarkan kertas itu dari mulutnya.
"B*ngk* lu! Masa pagi pagi lu suguhin kertas sih! Oiya jangan macam macam ngadu ke bini. Kasian, dia lagi hamil muda."
Ares membersihkan mulutnya itu dari kertas dan membuang kertas itu ke tong sampah.
Mendengar kata 'hamil muda' hati Dave berdesir. Apa ia juga ingin kalau Tere juga segera hamil.
"Lah? Bini lu hamil lagi?! Jadi anak lu bakal tiga biji?" Dave mengatakan anak dalam ukuran biji, emang dia sendiri teman yang unfaedah.
"Enak saja ngatain biji. Itu kecebong gue tokcer, mana nih lu? sudah gempur apa belum? Ditunggu lah kabar bahagianya."
Emang mulut Ares ini tidak ada filternya. Masa iya harus menanyakan hal seperti itu hahaha.
__ADS_1
"On process. Sabar dong, nanti gue bakal gempur lagi." Dave tergelak tawa dengan Ares. Mereka berbincang ringan seputar istri mereka masing-masing.
Dan sudah satu jam Ares di kantor Dave, akhirnya ia pamit pulang karena sudah puas menyadarkan sahabatnya itu.
*****
"Wah, gara gara Ares nih, kerjaanku jadi numpuk banyak!" Dave mulai menyibak dokumen yang wajib ia baca dan pahami sebelum ia tandatangani.
Diperlukan fokus yang tinggi agar tidak salah bertindak. Karena salah membubuhkan tanda tangan saja bisa raib ratusan juta bahkan miliar rupiah.
Setelah tiga jam mengecek beberapa dokumen, akhirnya Dave istirahat sebentar. Ia butuh jeda sekitar 20-30 menit untuk merelaksasi pikirannya.
"Aduh, capek juga. Padahal kerja tidak pakai tenaga, cuma pakai otak sih hehehe." Dave pun menyandarkan dirinya ke kursi itu.
Tok
Tok
Tok
Bunyi ketukan pintu berasal dari luar ruangan Dave. "Masuk." Dave pun mempersilakan orang itu masuk.
"Mas, aku masuk ya?" Tere begitu sopan, ia bahkan izin masuk padahal itu di ruangan suaminya sendiri.
"Masuklah Sayang, kenapa harus izin sih, sini!" Dave melambaikan tangannya dan menepuk pahanya untuk tempat duduk Tere. Emang agak lain ya Bun, si Dave ini! Sedikit sedikit plin plan, sedikit sedikit bucin. Siapa nih yang mau nampol? Waktu dan tempat dipersilakan.
"Apaan sih mas, masa pangku hahaha. Oiya ini bekal mas. Aku tadi masak lagi menu tambahan. Semoga suka ya, maaf jika nanti rasanya agak lain." Tere menaruh kotak makan itu di atas meja kerja Dave.
Dave pun menghampiri Tere dan bersilaturahmi di bibir kenyal istrinya.
Dave main nyosor saja dengan istrinya. Ia lupa bahwa pintu belum ditutup. Otomatis kalau ada yang lewat, pasti tahu adegan ini.
Tere yang terkejut pun sontak memukul dada Dave. Ia menjauhkan dirinya dari Dave. "Mas, lepasin. Kamu nih main nyosor saja. Itu pintu belum aku tutup!"
Tere berhasil menghentikan aktivitas itu. Ia langsung menutup pintu ruangan itu dan Dave dengan pintar langsung menguncinya.
"I wanna you, Baby"
__ADS_1
Dave pun melanjutkan aktivitas itu dengan intens. Entah kenapa jika melihat Tere yang berdandan seperti ini ia merasa terpancing. Padahal kan Tere sudah sopan pakaiannya.
Mereka terus berciuman cukup lama. Bahkan lidahnya saling membelit dengan cukup mahir.
Bukan hanya bersilaturahmi ke bibir kenyal itu tapi Dave juga bersilaturahmi ke gunung kembar Tere. Ia memainkannya dengan lihai.
Mereka saling menikmati dan pada akhirnya...
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu selalu menganggu aktivitas memadu kasih itu. Dave berdecak kesal. Ia merapikan jasnya. Begitu juga Tere yang merapikan dandanannya.
"Masuk!" Dave berseru agak ketus tidak lupa ia juga membuka akses pintu terkunci itu menggunakan remote.
"Permisi Pak Dave, maaf menganggu waktu Bapak.. " Belum melanjutkan kata katanya, Dave sudah menyela obrolan itu.
"Ya! Memang menganggu kamu nih!" Dave memandang Baron dengan tatapan kesal.
"Kalau begitu saya mohon maaf Pak Dave. Saya mau menginfokan bahwa nanti kita ada meeting dengan klien berasal dari China sekitar pukul empat sore."
"Hah?! Empat sore! Kenapa bisa jam segitu! Reschedule saja, saya tidak berminat!" Dave keberatan dengan ajakan klien meeting jam segitu karena waktunya ia istirahat juga.
"Maaf Pak Dave, perusahaan Li Chang Wo ini sama berpengaruh dengan perusahaan Tuan Rei. Jadi jika Bapak mengatur ulang jadwal itu kemungkinan perusahaan milik Li Chang Wo akan membatalkan kerjasamanya."
Mendengar penjelasan dari Baron membuar Dave berpikir keras. Tere yang mendengar itu malah mengizinkan suaminya asal itu yang terbaik.
"Mas, apa salahnya? Aku tidak apa apa kok jika kamu pulang malam, yang penting tidak minum kan? Hanya meeting saja."
Tere memberi jalan tengah karena Dave tampaknya tidak enak dengan meninggalkan Tere sendiri di rumah larut malam.
"Sayang, tapi pasti larut malam, bahkan dini hari karena kamu tahu sendiri kalau klien luar negeri bakalan lebih lama meeting dan perayaannya."
Dave menjelaskan konsekuensi pada Tere dan Tere tidak keberatan.
__ADS_1
"Oke Ron, nanti kabari saya kalau akan meeting. Saya masih ingin menghabiskan waktu bersama istri saya. Kamu jangan ganggu lagi! Paham?!"
...Hai readers? Gimana cerita kali ini? Apa mau Thor double update? Kalau mau komen dong Nanti kalau tembus lebih dari 10 komentar. Thor bakal kasih deh, tapi mungkin sore/malam. Ingat ya, jangan spam komen! Thanks big hug ...