
" Siapa Clara mas?". Tere memandang suaminya saat ini. Atensinya menatap wajah Dave. Ia penasaran siapa wanita itu
" I-itu di-dia mantan aku ". Percuma Dave akan bohong, mending dia jujur mulai sekarang supaya tidak ada kesalahan pahaman lagi.
" Mantan?". Tere mengernyitkan dahinya. Ia curiga bahwa Dave masih ada rasa.
"Iya sayang". Dave berusaha menormalkan ekslresinya. Tidak berselang lama, ternyata check-in sudah selesai dan mereka bisa terbang ke Jeju, Korea.
****
" Mas, capek banget ya. Kamu capek nggak mas?". Tere merebahkan tubuhnya ke ranjang di hotel. Sekarang mereka sudah sampai Jeju.
Bahkan hotel yang mereka tempati langsung menghadap ke pantai. Benar benar pemandangan yang sangat indah. Tetapi rasanya ada yang mengganjal. Bagaimana tidak sedari tadi Dave tidak fokus saat Tere memanggil.
"Mas, ditanya kok malah bengong. Mikir apa sih?". Tere yang tidak kunjung mendapat jawaban malah kian penasaran dengan keadaan Dave.
Suara lengkingan Tere yang keras membuat Dave tersadar dari lamunannya. Ia segera menepis bayangan Clara di pikirannya.
" Move on Dave, move on". Dave menyemangati dirinya sendiri. Ia langsung menarik atensi penuh ke arah istrinya yang frustasi karena merasa dicueki.
"Maafin aku sayang. Aku tidak fokus saat kamu panggil". Dave mendekatkan dirinya ke arah Tere dan memeluknya dari samping. Ia mencium Tere bertubi tubi.
" Mikirin Clara?". Nyatanya ciuman bertubi tubi itu bukan solusi yang mempan untuk mengalihkan pembicaraan. Tere seakan tahun isi pikiran Dave.
"Tidak sayangku. Buat apa aku mikirin Clara kalau disini ada bidadari yang sungguh memikat hatiku". Pandai sekali Dave menggombal. Ia mencolek hidung Tere sambil tersenyum.
Tere yang mendengar gombalan Dave seketika wajahnya bersemu merah. " Mas bisa saja deh. By the way, mas capek nggak?". Tere memandang suaminya dengan lekat. Manik coklat mereka kembali tertaut
"Iya nih, capek banget. Mungkin dari kemarin belum istirahat cukup". Tidak bisa dipungkiri memang aktivitas Dave kemarin sangatlah padat.
" Sini aku pijat. Apalagi tuh punggung kamu pasti rasanya remuk". Tere bak paranormal saja. Ia tahu keadaan Dave memang butuh pijatan.
Dengan senang hati Dave telungkup dan membiarkan Tere memijat punggungnya. "Enak banget sayang, ya ampun. Terus sayang". Dave malah ketagihan dipijat istrinya. Ia berjanji dalam hatinya bahwa ia akan mencintai Tere sepenuh hatinya dan membuang perasaannya ke Clara.
" Enak banget ya. Syukur deh kalau suka". Tere terkekeh pelan sambil terus memijat punggung Dave.
__ADS_1
Setelah 20 menit, pijatan itu berakhir karena Tere sudah kehabisan tenaga hahahaha. "Makasih ya sayang. Enak banget sih pijatannya. Lain kali jangan pijat kaya gini lagi ya".
Pernyataan Dave sukses membuat Tere penasaran. Suka tapi tidak perlu diulangi. Maksudnya?!
" Maksudnya gimana mas?". Tere mencoba menemukan jawaban dari pernyataan Dave agar lebih jelas.
Dave terkekeh saat ini. "Maksudnya kalau mau pijat aku pijat aja yang layanan plus plus gitu. Aku bakalan mau". Seperti manusia kutub utara ini sudah meleleh akan pesona Tere.
" Ih mas apaan sih. Omes banget deh. Tolong ya omesnya dikondisikan. Masa pijat plus plus". Tere memukul lengan Dave dengan pelan saja.
Dave pura pura mengaduh kesakitan. "Aduh, aduh sakit sayang. Awas saja kamu, nanti bakal ku terkam". Dave memeluk erat Tere dan mencoba menggelitik Tere.
" Aaa iya mas ampun. Geli mas". Tere yang digelitik hanya tertawa lepas sambil memohon ampun. Suasana hati mereka sekarang sudah membaik.
****
Setelah melepas penat, akhirnya mereka pun menuju ke pantai. Mereka ke pantai pada saat sore hari sambil menunggu sunset.
"Indah banget sih mas. Makasih ya mas sudah mengabulkan keinginanku ini buat pergi ke Pulau Jeju, Korea. Apalagi pemandangan disini emang sebagus itu".
Tempo minggu lalu saja mereka masih dalam huru hara besar, tetapi saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya.
Dave sendiri pun juga mulai mencintai Tere. Apalagi cinta Tere pada Dave sudah tidak diragukan lagi.
"Sunset nya bagus mas, ayo kita foto. Ini kelewat bagus soalnya. Sini mas, spot yang bagus agak geser ke kanan". Tere yang sudah memegang ponsel dan menekan tombol kamera pun segera menyuruh Dave untuk menempati spot terbaik pilihannya.
" Iya sayang". Dave mengembangkan senyumnya dan segera mendekat ke arah Tere. Mereka berfoto foto ria. Tidak lupa Dave juga memotret Tere secara diam diam alias candid .
Dasarnya Tere memang cantik jadi walaupun foto candid tetap cantik. Bahkan Dave tidak berhenti untuk memandang Tere.
"Jangan dilihatin terus dong mas, malu tahu". Tangan Tere memalingkan wajah Dave dari hadapannya. Ia sangat malu jika Dave harus memandangnya lekat lekat.
" Habisnya cantikmu overdosis banget sayang". Gombal! Sejak kapan manusia kutub utara ini pandai menggombal?!
"Ih gombal terus sih mas Dave. Sudah ayo pulang. Aku juga mau mandi mas, lengket rasanya".
__ADS_1
Ajakan Tere dibalas anggukan oleh Dave. Kali ini mereka kembali ke hotel. Mereka hanya jalan kaki karena memang jarak hotel dan pantai tidaklah jauh.
Sesampainya di kamar hotel, Tere mandi dulu. Ia tidak berendam kali ini untuk mempersingkat waktu. Karena sebentar lagi juga akan makan malam.
Setelah 20 menit, Tere selesai mandi. Ia menggunakan bathrobe. Kemudian disusul Dave yang juga akan mandi.
****
Setelah selesai urusan permandian, akhirnya mereka makan malam di hotel. Tidak lama makannya dan akhirnya mereka kembali ke kamar hotel untuk istirahat.
Cukup penat juga jalan jalan ke pantai tadi. Dave maupun Tere sekarang berada di ranjang yang sama. Mereka menyandarkan punggung mereka ke headboard.
Dave mengambil tabnya juga untuk memgecek apakah ada laporan dari Baron, sekretarisnya.
Tetapi setelah dilihat hanyalah laporan biasa. Jadi Dave hanya melihat sekilas. Tetapi sekarang matanya tertuju pada email yang dikirim oleh keluarga Frederick.
"Pak Tom Frederick?". Dave penasaran apa isi dari email itu. Tere yang di sampingnya juga menatap Dave.
" Siapa mas pak Tom itu?". Jiwa kepo Tere juga bergejolak. Dia harus tahu sekarang aktivitas suaminya. Hahaha sungguh prosesif.
"Rekan bisnis sayang. Padahal kita lagi tidak ada kerjasama saat ini. Mereka pernah kerja sama dengan perusahaanku tempo 4 bulan yang lalu. Tetapi sekarang sudah tidak.
Daripada penasaran Dave langsung membuka. " Wah, undangan untuk menghadiri pesta anniversary?".
Ternyata undangan yang Tom Frederick kirimkan. Itu artinya Dave harus datang ke pesta itu bersama Tere.
"Jadi kita hadir mas?".
Dave mengangguk. "Iya dong sayang. Kita harus hadir acara itu. Pak Tom adalah rekan bisnis yang baik". Tere pun mengangguk.
Acaranya sekitar sembilan hari lagi.
Dan bayangan tentang nama belakang Pak Tom menjadi pikiran Dave saat ini. " Frederick? Kok sama seperti si.....Ah sudahlah. Ngapain mikirin dia". Dave menepis pikirannya itu.
...Jangan lupa follow ig cemaraseribu_author ya untuk melihat visual tokoh. Terimakasih, big hug. Jangan lupa ulasan bintang 5 ya readers ...
__ADS_1