Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 70


__ADS_3

"Aku tidak jadi mengajukan itu, aku mau kita kembali bersama lagi." ucapnya mantap. Tere benar-benar yakin akan pilihannya. Semoga keputusannya adalah keputusan terbaik.


Dave dibuat terkejut saat itu juga. Bagaimana tidak, Dave tidak menyangka bahwa Tere yang tadinya kekeh mengajukan perceraian tiba-tiba saja mencabut laporan itu. Dave pun mematung sejenak.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Dave sungguh-sungguh. Ia menatap manik hitam Tere. Tangganya menggengam tangan istrinya. Tere pun mengangguk.


"Iya Dave. Aku memutuskan untuk mencabut laporan tentang gugatan cerai itu. Aku akan memberikan kamu kesempatan sekali lagi. Ini memang diluar dugaanku juga, tapi entah kenapa diriku menjadi berpikir seperti itu. Semoga ini keputusan terbaik," ucap Tere serius.


Dave mengangguk cepat. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Sayang. Aku akan menggunakan dengan baik. Aku memang tidak mau janji lagi, tapi aku akan mengusahakan apapun yang masih bisa jadi milikku." Dave pun mencium punggung tangan Tere sambil memandang Tere yang tengah tersenyum tipis.


"Terimakasih Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ujar Dave. Tere yang terharu akan pengakuan Dave pun langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Dave. Ia rindu akan pelukan itu.


Dave dengan senang hati merentangkan tangannya. Sampai kelupaan bahwa tangan kirinya sedang patah. "Aw sakit, Sayang!" seru Dave mengaduh kesakitan.


Tere langsung mengurai pelukan dari Dave. Ia melihat kondisi tangan kiri Dave yang patah. Tere nyengir lebar. Ia juga melupakan soal tangan Dave yang patah itu.


"Maaf Dave," cicit Tere sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal. Bahkan Tere sekarang mengubah panggilan suaminya yang semulanya 'Mas' menjadi nama suaminya sendiri, Dave. Dave sebenarnya agak janggal dengan panggilan Tere padanya.


*****


Pagi telah menyingsing. Matahari sudah menampakkan dirinya. Kondisi Dave sudah berangsur membaik dan Tere juga sudah menyuapi Dave tadi.


Panggilan Tere ke Dave sangatlah janggal di dengar oleh Dave. Ia penasaran kenapa Tere tidak memanggilnya dengan sebutan 'Mas' seperti dulu. Akhirnya, ia memberanikan untuk bertanya.


"Sayang, kamu sekarang memanggil dengan namaku? Tidak seperti dulu?" tanya Dave saking penasarannya. Tere menghela nafas panjang. Bahkan untuk mengingat-ingat dahulu rasanya sudah tidak mampu.

__ADS_1


"Aku tidak mau berkutat pada masa lalu, Dave. Aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan yang biasa dulu aku katakan," ucap Tere memalingkan muka. Bahkan untuk menyebut kata 'Mas Dave' Tere pun sudah tidak sanggup.


Dave langsung mengerti situasi ini. Dave merasa bersalah karena ia harus bertanya seperti itu tadi. "Maafkan aku, Sayang. Aku salah. Aku yang bersalah atas semua ini. Bahkan jika ditebus pun rasanya tidak cukup untuk mengobati apa yang kamu rasakan dulu," ungkap Dave lirih.


Tere menggeleng pelan. "Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kita harus berkutat pada masa depan. Jangan berkutat pada yang lalu. Kitab harus memulainya dengan lembaran baru." Tere menggengam tangan Dave dengan erat. Ia meletakkan genggaman itu ke pipi sebelah kanan. Dave pun tersenyum.


"Terimakasih, Sayang. Aku harus memberi tahu kabar bahagia ini ke Mama dan Papa. Pasti mereka akan senang mendengarnya. Sekalian juga aku video call saja."


"Boleh, nih ponselnya." Tere mengambilkan ponsel Dave yang berada di nakas dan mereka langsung video call dengan Mama Anita.


Tidak berselang lama, panggilan video call itu diangkat oleh mama Anita. "Assalamu'alaikum Ma." Dave memberikan salam pada mamanya. Tentunya ia belum menampakkan Tere. Tere akan ditampakkan nanti sebagai kejutan.


"Waalaikumsalam, Sayang. Lho kamu dimana itu? Kamu sakit? Kok seperti di rumah sakit itu?" tanya mama Anita beruntun. Ia begitu jeli melihat kondisi putranya.


"Kok bisa, Sayang? Luka apa saja kamu, Nak? Ya Allah, kamu disitu dengan siapa? Siapa yang merawatmu. Mama akan ke Beijing sekarang juga!" seru mama Anita panik. Dave langsung menggeleng pelan.


"Ma, Mama tenang dulu dong. Aku hanya patah di bagian tangan kiriku. Tapi itu pun sudah ditangani tinggal--"


"Hanya katamu. Jelas itu sangat sakit. Jangan membantah, Mama dan Papa akan ke Beijing sekarang," ucap mama Anita cepat. Dan tidak menunggu respon Dave, mama Anita langsung mematikan telepon itu. Dave pun jadi khawatir. Ia langsung memandang Tere.


"Gimana ini, Sayang? Aku takut Mama kenapa-napa," ucap Dave begitu khawatir. Wajahnya berubah menjadi pias. Tetapi Tere langsung menenangkan Dave. "Kamu yang tenang, Dave. Mama pasti baik-baik saja. Kan Mama ke Beijing pasti dengan Papa. Papa pasti jagain Mama."


Mendengar penjelasan dari Tere sedikit melegakan hati Dave. Ia hanya takut kalau penyakit mamanya tiba-tiba kambuh. Itu saja yang ditakutkan.


*****

__ADS_1


Di Indonesia


Mama Anita sangat panik mendengar kabar itu. Ia langsung menghubungi Papa Surya untuk segera pulang dari kantor dan langsung terbang ke Beijing.


Akhirnya setelah beberapa jam persiapan, mama Anita dan Papa Surya terbang ke Beijing. "Ma, jangan panik gini. Aku tahu kita semua panik akan kondisi Dave. Tapi kamu harus ingat kondisi kamu juga. Jangan sampai kondisimu nanti drop dan membebani Dave, " ungkap papa Surya memeluk mama Anita dari samping.


Mama Anita pun mengangguk. Ia mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa jam penerbangan. Akhirnya mereka sampai.


"Kamu sudah tahu emang rumah sakitnya dimana?" tanya papa Surya memastikan. Mereka mampir dulu ke rumah Dave. Kebetulan mereka mempunyai kunci cadangannya jadi langsung bisa masuk.


"Belum, Pa. Coba deh aku tanya sama Dave." Mama Anita langsung menelepon putranya itu. Dan tidak berselang lama langsung diangkat oleh Dave.


"Dave, kamu di rumah sakit mana, Nak?" tanya mama Anita dalam telepon. "Di Xiaotangshan Hospital Ma. Ruangnya di VVIP C ya, nanti langsung masuk saja," ujar Dave.


*****


Papa Surya dan mama Anita langsung menuju ke Xiaotangshan Hospital. Dari rumah Dave harus menempuh waktu sekitar Wo menit. Setelah sampai, mereka langsung ke VVIP C.


Tapi sebelum menemukan kamar Dave pun, papa Surya dan mama Anita harus bertanya berkali-kali pada petugas disana. Xiaotangshan Hospital sangatlah luas, jika hanya bertanya sekali saja mana bisa ketemu.


Setelah 10 menit mencari, akhirnya mereka menemukan. Mereka langsung membuka pintu itu dan alangkah indah pemandangan di dalamnya.


Tere! Ya, menantu tercintanya telah menunggu Dave. Langsung saja mama Anita memeluk Tere dengan eratnya. Ia sampai melupakan Dave yang terbaring. Dave harus berdehem supaya eksistensi diketahui mama dan papanya.


"Yang sakit sini Ma," protes Dave. Mama Anita menguraikan pelukannya dengan Tere. "Maaf Nak, Mama masih terlalu bahagia bisa memeluk menantu kesayangan Mama ini."

__ADS_1


__ADS_2