Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 77


__ADS_3

"Sayang, bangun kamu." Dave mengguncangkan bahu istrinya dengan pelan. Dia membangunkan istrinya dengan lembut.


Belum ada tanda-tanda Tere akan bangun. Dave menghela nafas panjang. "Sabar, sabar. Untung cinta," ucap Dave sembari mengelus dadanya. Ia berinisiatif untuk memasak baso aci itu. Barangkali aroma dari baso aci menguar lezat.


Dave beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke dapur. Di dapur, ia menata baso aci instan itu ke rak lemari. Banyak sekali sampai 40 pcs.


"Banyak banget ya, tapi gapapa buat stok juga. Seumur-umur juga gak pernah makan kaya gini. Emang enak?" tanya Dave pada dirinya sendiri. Ia membolak-balikan kemasan untuk mengetahui cara memasaknya.


"Wah, kayanya sih gak sulit sih," ucap Dave sembari membaca petunjuk cara memasak. Ia mulai membukakan membukakan kemasan itu lalu ia mengeluarkan semua bumbu dan aci, cuanki lidah, pilus cikur, jeruk limau, dan perintilan lainnya.


Dave memasak baso aci itu sesuai petunjuk. Dari tampilannya pun kelihatan menarik. Ia menghidu aroma gurih dari baso aci itu.


Dituangkannya baso aci itu ke mangkok dan dibawanya ke kamar. Ia ingin memancing Tere agar istrinya itu bangun. Ia benar-benar masuk kamar.


Aroma menguar itu di kamar itu. Dan ajaib! Tere menunjukkan lagat akan bangun. Ia menggeliat dan mencari sumber aroma itu. Dave tersenyum miring.


"Sudah kuduga sih," batin Dave cekikikan. Baso aci itu makin didekatkan di nakas tempat tidur Tere. Tere pun langsung melek seketika.


"Dave, kamu udah beli?" tanya Tere dengan nada habis bangun tidur. Ia mengucek matanya. Dave mengangguk. "Iya, Sayang. Aku udah beli. Jadi masih mau atau tidak bado acinya ini," pancing Dave sembari menghidu aroma lezat itu. Bibir Tere sudah monyong 5 centi. Ia langsung merebut baso aci itu dari tangan Dave.


"Ini aku lho yang ngidam. Nakal banget sih mau ngehabisin aja!" seru Tere dengan tatapan elangnya. Dave hanya menggeleng.


Mata Tere berbinar-binar melihat penampakan baso aci itu. Tidak butuh lama, Tere langsung melahap baso aci itu. Aci yang isinya jando pun begitu nikmat di lidahnya.


Tere sampai merem-merem makannya. "Enak!" pekik Tere kegirangan. Dave pun terkekeh. "Iya, habiskan."

__ADS_1


Dave mengacak pela rambut Tere ynag agak berantakan itu karena bangun tidur. Cuanki lidahnya juga sangat enak. Begitu juga dengan pilus cikur nya yang masih kriuk-kriuk.


Setelah 15 menit, baso Tere sudah habis. Dia sepertinya belum puas. Ia menyerahkan mangkok itu pada Dave. Matanya terlihat memohon.


Dave mengernyit. "Udah, kan?" tanya Dave memastikan. Ia berpikir mangkok itu harus dibawa ke dapur. Tapi nyata bukan, Tere menggeleng.


"Mau lagi, lho!" pekik Tere sembari merengek. Dave menepuk jidatnya. Porsi dari bask aci itu lumayan banyak dan Tere masih mau nambah. "Jadi mau lagi?" tanya Dave terlihat bodoh. Jelas-jelas tadi dia sudah mendengar Tere berbicara apa.


Tere mengangguk. Di sisi lain Dave tidak perlu panik, stoknya masih 39 pcs hahahaha. "Ayo ikut aku ke dapur, kita buat sama-sama. Kayanya aku juga mau bikin itu baso aci."


Dave menggeret tangan Tere. Tere pun menurut. Mereka pun menuju ke dapur. Setelah sampai di dapur, Tere tidak melihat baso aci instan apapun di dapur. "Mana basp acinya?" Tere merengek layaknya anak TK yang sudah dijanjikan sesuatu. Dave membuka lemari dapurnya.


Begitu dibuka ternyata banyak sekali baso aci instan dengan berbagai varian sudah ada di lemari dapur tersebut. Mataki mata Tere berbinar-binar melihat bakso aci instan yang terpampang di lemari dapur tersebut. Ia mengambil bakso aci instan tersebut dan memasaknya.


"Dave, ini kok banyak banget ya kamu belinya?" tanya Tere penuh keceriaan. Tere memilih varian baso aci instan itu.


"Makasih ya suamiku." Dengan refleks Tere langsung memeluk suaminya dengan erat. Ia lupa bawa ia sedang hamil. Dave pun melonggarkan pelukannya.


"Ingat, ada dede bayinya. Nanti kegencet jadi penyet," ucap Dave asal-asalan. Tere memanyunkan bibirnya. "Dih, emang tempe penyet!"


*******


Hari berlalu dengan cepat. Tere sudah memasuki tri semester ketiga. Kandungannya sudah mencapai 7 bulan. Jenis kelamin itu bisa diketahui saat usia kehamilan tersebut.


"Sayang, nanti kita USG ya." Dave mengajak Tere untuk memeriksakan kandungannya karena Dave rela-rela meliburkan diri hanya untuk menemani istrinya.

__ADS_1


"Boleh, jam berapa?" tanya Tere sembari memasak untuk sarapan. "Nanti jam 9 saja, aku ajak Mei sama Athur. Dia bakalan ikut buat mengetahui jenis kelaminnya. Nanti kita akan adakan gender reveal. Gimana?" tanya Dave antusias.


"Oke! Eh kok Athur? Kamu udah gak sentimen sama dia?" tanya Tere keheranan. Dia tahu bahwa Dave itu sempat berseteru dengan Athur karena Tere.


Dave menggeleng. "Buat apa sih berseteru. Orang dia mau tunangan satu minggu lagi, kok." Dave tahu informasi itu dari Athur sendiri. Mereka pernah tidak sengaja bertemu dan mengakrabkan diri.


Athur juga cerita pada Dave bahwa ia sudah tidak memiliki rasa ke Tere dan ia mau melamar Mei. "Kamu serius?" tanya Tere tidak percaya.


Dave mengangguk. "Benar, Mei dan Athur akan tunangan. Kamu dah ngerti kan kalau Mei jadi mualaf?" tanya Dave. Tere pun mengangguk.


Dua hari yang lalu, Mei memang cerita. Ia dan kakaknya sudah masuk Islam karena terenyuh mendengarkan orang membaca Al-Quran dengan indahnya. Hatinya tersentuh.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Ya sudah nanti kita akan ke rumah sakit. Aku masih menyelesaikan masakanku."


******


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi Tere dan Dev segera bersiap-siap untuk menuju ke rumah sakit. Dia dan suaminya menunggu Athur dan Mei langsung di rumah sakit.


"Hai, sudah lama menunggu?" tanya Dave pada Athur dan Mei. Mereka kompak menggeleng. "Belum sih," ucap Mei. Ia duduk di dekat Tere. Ia mengusap perut Tere sambil mengajak ngobrol baby.


Tidak berselang lama, akhirnya Tere, Dave, Athur dan Mei memasuki ruang itu. Tampak Dokter Li Zuang pun tersenyum.


"Wah, banyak sekali yang mengantar," ucapnya dengan ramah. "Oh iya, Dok. Sebelumnya izin karena nanti saya akan mengadakan gender reveal. Jadi jenis kelaminnya bisa Dokter bicarakan dulu dengan teman saya ini." Dave menjelaskan maksudnya.


"Baik Tuan. Silakan Nyonya Tere berbaring dan kita lihat sama-sama. Untuk jenis kelamin nanti saya akan infokan ke teman Anda." Dokter Li Zuang pun mulai mengecek. Tampak bayi yang sedang meringkuk itu kian menggemaskan bagi Tere dan Dave.

__ADS_1


Dokter Li Zuang pun tersenyum. Ia tahu jenis kelamin itu dan membisikkan pada Mei dan Athur. Keduanya yang sudah tahu pun hanya mesem-mesem saja. "Wah, menarik!" pekik Mei antusias


__ADS_2