Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 66


__ADS_3

"Tuan Dave?"


"K-kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Dave keheranan kenapa dia bisa bertemu Athur disini.


"Saya ada urusan di Beijing dalam satu minggu ini, Tuan Dave. Tuan Dave sendiri?" tanya Athur sebagai basa basi. Tidak mungkin ia hanya diam saja.


"A-ku pindah kesini mengikuti istriku, Tere..." ucap Dave lirih.


Athur manggut manggut saja, sebenarnya ia juga tahu bahwa Tere ada di sini, tapi Athur memilih diam saja. Ia tidak mau mengurus campuri masalah rumah tangga Dave dan Tere.


Terlebih lagi Athur juga harus mengubur dalam dalam perasaannya ke Tere. Tidak mungkin jika ia terus terusan mengetahui tentang kondisi Tere.


"Oh begitu ya? Baiklah Tuan Dave. Kalau begitu saya permisi." Athur langsung berlalu dari hadapan Dave.


"Iya," jawab Dave sambil berlalu juga menarik kopernya.


******


Rumah yang akan ia tinggali juga tidak kaleng kaleng. Bisa dibilang mewah malahan. Berbagai fasilitas ada di rumah itu. Dave menghembuskan nafasnya


Ia memandang rumahnya dan memejamkan mata sejenak menikmati semua rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.


"Lembaran baru, semoga aku dan kamu bisa bersatu lagi, Sayang." Dave bermonolog sambil masuk ke rumah mewah itu.


Bukan hanya rumah, sekarang perusahaan yang ia rintis di Indonesia juga dipindahkan ke Beijing. Semua demi siapa? Ya demi Tere istrinya.


Dave istirahat sejenak di kamarnya. Ia menyewa ART juga daripada kerepotan sendiri. Ia memutuskan untuk merebahkan diri ke ranjang.


Perjalanan dia dari Indonesia ke Beijing juga cukup melelahkan. Jadi alangkah lebih baiknya ia istirahat.


Dave membuka tabletnya. Ia langsung mengecek perkembangan perusahaan yang ia pindah alihkan ke negara ini.


"Oke semua beres. Dan nanti ada kerjasama dengan perusahaan di China. Good job, aku senang. Aku akan bangkit dan merebut hati istriku lagi."


Dave tersenyum sambil mengalihkan membuka galeri dan memandang wajahnya dan Tere.


Foto waktu honeymoon di Swiss. Tere memotret dengan sengaja secara diam-diam waktu Dave dan Tere tidur.


Terlihat sangat lucu ekspresi Dave saat tidur. Ingin rasanya mengulang kejadian itu, Dave berandai-andai saja untuk saat ini.

__ADS_1


*****


Satu minggu kemudian


Pemindahan perusahaan sudah dilakukan dan akhirnya Dave bisa bekerja normal di perusahaan yang ada di Beijing.


Ia menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan yang ada di China. Termasuk milik Xiao Bao.


Senyum manis pun terbit dari bibir Dave. Ia tahu bahwa perusahaan ini adalah perusahaan milik Xiao Bao dan CEO nya adalah istrinya sendiri.


"Sangat mengesankan, jadi tidak sabar bertemu denganmu, Sayang."


Perusahaan milik Dave pun juga merekrut karyawan baru dan sekretaris baru pastinya. Dave lebih memilih sekretaris barunya yang cowok saja.


Ia memberi kualifikasi yang bisa mendaftar jadi sekretaris hanya laki laki saja. Untuk posisi sekretaris memang diperlukan seleksi yang ketat. Jadi Dave juga ikut menyeleksi.


Terpilih lah Aaron sebagai sekretaris Dave sekaligus asisten pribadi Dave.


Saat perekrutan sekretaris baru ini, Aaron langsung memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan saya Aaron Wijaya. Berasal dari Indonesia dan menetep di Beijing. Saya sangat senang karena perusahaan N'Crop sudah mau menerima saya sebagai sekretaris. Saya akan berdedikasi penuh dalam kemajuan perusahaan."


Dave juga tidak terkejut karena Aaron sendiri juga berasal dari Indonesia. Kemampuannya sangat mumpuni, jadi tidak ada yang salah jika merekrut Aaron.


*****


Tok


Tok


Tok


"Masuk," Dave mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.


Ternyata itu Aaron dengan membawa berkas dan laporan yang diminta oleh Dave.


"Gimana? Sudah?" Dave bertanya sambil menerima uluran berkas itu.


"Sudah Tuan, silakan dicek. Dan saya mau mengkonfirmasi bahwa nanti jam satu siang ada meeting dengan perusahaan milik Tuan Xiao Bao di perusahaannya."


Dave semangat kala itu, "Oke, nanti kabari saya kalau mau berangkat. Dan jangan lupa untuk menyiapkan berkas apa saja yang dibutuhkan."

__ADS_1


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Aaron menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya. Dan Dave mengangguk.


Begitu Aaron pergi, Dave langsung melanjutkan pekerjaannya lagi.


Vakum selama tujuh hari membuat Dave kelimpungan sendiri karena memang berkas yang harus ia tandatangani.


Saking sibuknya, Dave sampai melewatkan makan siangnya. Dan saat ini Aaron mengabari kalau meeting dengan perusahaan milik Tuan Xiao Bao akan dilaksanakan.


"Maaf Tuan, saya sudah mempersiapkan berkas yang harus dibawa. Waktunya masih ada setengah jam kita berangkat sekarang saja Tuan karena CEO perusahaan Tuan Xiao Bao terkenal disiplin. Beliau tidak akan mentolerir keterlambatan walaupun hanya sedetik."


Aaron menjelaskan hal itu dan Dave malah tersenyum tipis. "Oke, kita berangkat." Dave bangkit dari tempat duduknya dan langsung menuju ke perusahaan Tere.


*****


"Oh ini perusahaannya?" Dave menelisik bangunan perusahaan megah itu. Tentu ini bukan perusahaan yang bisa dipandang sebalah mata. Ini adalah perusahaan yang miliki pengaruh besar di Beijing.


"Iya Tuan, perusahaan milik Tuan Xiao Bao adalah perusahaan ternama dan paling berpengaruh se Asia." Aaron menjelaskannya pada Dave. Dave hanya manggut-manggut.


Mereka langsung menuju ke ruang meeting. Mereka disambut oleh Mei, sekretaris Tere.


"Mari silakan masuk, Tuan. Mohon ditunggu sebentar, Nona Tere akan segera masuk ke ruangan ini," ucap Mei sambil mengulas senyum ramah.


"Baiklah" Dave dan Aaron duduk di ruang meeting dan tidak berlangsung lama, Tere hadir di ruangan itu.


Seketika atmosfer ruangan itu menjadi tegang. Aura yang dibawakan oleh Tere benar benar berbeda dari Tere yang ia kenal dulu sebagai istrinya.


Begitu tegas, sorot mata yang tajam, muka datar, dan pastinya sangat cantik dengan penampilannya yang elegan.


Dave dan Aaron berdiri menyambut Tere. Tere sebenarnya agak terkejut ternyata ini perusahaan Dave. Tapi ia memilih profesional karena masih dalam ranah urusan pekerjaan.


"Selamat Siang Nona Tere," Dave mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tere. Tere pun mengulas senyum tipis.


"Siang juga Tuan Dave, silakan duduk. Maaf harus menunggu tadi. Jadi bisa kita mulai meetingnya?"


Dave mengangguk, ia juga sangat profesionalitas dalam bekerja. Ia tidak mau merusak citra perusahaannya.


*****


Begitu meeting selesai dan semua sudah bubar, Dave memilih menemui Tere dulu. "Sayang, dengarkan aku. Aku sekarang sudah menetap di Beijing. Aku mengikutimu kemana pun kamu tinggal."


Tere menatap Dave dengan tajam, "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengikutiku. Aku hanya menyuruhmu untuk menandatangani berkas perceraian kita. Sudah itu saja, kenapa sulit sekali!" Bentak Tere pada Dave. Hanya Tere dan Dave yang ada di ruang itu.

__ADS_1


"Sampai kapan pun, aku tidak akan mengabulkan permintaan darimu, Sayang... " ucap Dave lirih


__ADS_2