
Tere dibuat terkejut. "Mas, kamu membela dia?" Tere tidak habis pikir dengan pikiran Dave. Ia memandang Dave dengan tatapan sayu.
"Sayang, ini bukan waktunya untuk berdebat. Aku dan Clara tidak ada hubungan apa apa lagi." Dave menggenggam erat tangan Tere, tapi buru buru Tere tepiskan.
"Lepaskan aku mas!" Tere langsung berlari meninggalkan ruangan Dave. Dave pun mengejar tapi sudah ditahan oleh Clara.
"Dave, sudahlah. Mungkin istrimu butuh adaptasi dengan keadaan kita. Biarkan saja dia, beri dia waktu sendiri." Clara malah memeluk Dave dengan sombongnya. Dan bodohnya Dave mau
****
Di rumah sakit
Hari ini pasien Athur tidak terlalu banyak jadi ia lebih santai daripada biasanya. Tiba-tiba ia terpikirkan nasib Tere yang menangis di taman waktu itu.
Ia sandarkan bobotnya ke kursi tempat prakteknya. "Gimana ya kabar Tere? Aku khawatir dengannya. Tapi aku takut salah paham jika nanti menghubungi dia."
Athur sedang dilema dengan pilihannya sendiri. Bukankah ini kesempatan emas untuk mendekati Tere? Tapi bukan menurut Athur! Ia tidak mau masuk ke hati Tere hanya untuk pelampiasan saja.
"Apa sebaiknya aku hubungi saja ya. Toh nanti jika salah paham aku akan jelaskan sejelas jelasnya ke Tuan Dave."
Athur pun mengambil ponselnya dan mendial nomor Tere, tapi ternyata tidak aktif. Apa mungkin Tere mematikan data selulernya karena kejadian tadi?!
****
Tere langsung memacu mobilnya dengan kencang. Tidak peduli dengan keselamatannya lagi. Ia sudah terlanjur kecewa dengan suaminya. Bahkan Dave tidak mengejarnya sama sekali. Itu membuktikan bahwa ia bukan lagi prioritas Dave.
"Percuma aku disini! Rasanya sakit saja. Tapi jika aku pergi bagaimana dengan mama Anita dan mama Salma? Pasti mereka akan dilanda kecemasan.
" Aku harus apa ya Allah?" Buliran bening dari pelupuk matanya pun mengalir deras ke pipi Tere yang mulus. Ia tidak tahu harus bersikap apa lagi.
Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah taman yang ada di kota. Suasananya di taman itu menyejukkan pikirannya. Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke taman kota.
Kebetulan taman kota itu sangat dekat dengan area rumah sakit dimana Athur bekerja. Dan tidak sengaja Tere melihat Athur di seberang jalan.
Terlihat bahwa mobil melaju kencang dari arah selatan. Dan sepertinya Athur tidak fokus untuk menyebrang.
__ADS_1
Buru buru Tere berlari ke arah Athur saat itu juga. "Kak, awas!" Tere menarik tangan Athur dan beruntungnya mereka tidak tertabrak. Tere hanya luka sedikit di lututnya karena menyelamatkan Athur.
"Ya Allah, Tere! Ayo aku bawa ke rumah sakit." Athur segera menggendong Tere dengan mudahnya dan menuju ke rumah sakit.
Di sana Tere mendapatkan penanganan pertama. Athur mempercayakan pada dokter disana. Walaupun ia juga seorang dokter, tapi jobdesk nya berbeda.
****
"Tere, maaf aku membuatmu seperti ini." Athur merasa sangat bersalah pada Tere karena membiarkannya terluka terkena goresan aspal.
"Jangan khawatir kak, aku sudah tidak apa apa. Kakak kenapa menyebrang tapi kaya tidak fokus?" Tere menatap Athur yang masih memasang raut wajah sedih.
"Memikirkanmu Re, aku khawatir kondisi kemarin" Athur yang semula menunduk kian menunjukkan mukanya kembali. Ia menatap Tere dalam dalam. Seseorang yang ia cintai tetapi tidak bisa ia miliki lagi.
"A-aku bertengkar lagi kak sama mas Dave. Dia lebih memihak mantannya." Ingin Tere pendam sendiri tapi rasanya tidak sekuat itu hatinya.
Matanya pun sudah sembab karena menangisi kelakuan Dave dan Clara yang keterlaluan. Athur menatap iba. Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Tere.
"Re, aku bisa menjadi tempat keluh kesahnya jika kamu butuh. Anggap aku adalah kakakmu. Aku tidak mau kamu merasakan pahitnya hubungan itu sendiri."
Tere memeluk Athur dari samping. Lagi lagi Athur membeku dibuatnya. Ia bingung mau merespon, tapi seiring waktu ia membalasnya dengan mengusap bahu Tere.
"Iya Re. Apa kamu sudah mendingan? Bagaimana jika kita mengobrol saja?" Athur melepaskan pelukan itu dan menatap Tere dengan wajah sumringah.
"Oke kak, ini juga sudah tidak sakit lagi. Apa kita di taman saja kak?" Tere memberikan sebuah penawaran dengan Athur. Tapi Athur pun tidak setuju karena alasan kondisi Tere.
"Jangan taman kota, cukup di taman rumah sakit?Apa kamu keberatan?"
"Sama sekali tidak kak. Oke ke taman sekarang." Tere dan Athur ke taman rumah sakit yang tidak kalah rindang dan sejuk. Ia duduk di kursi taman itu.
Mereka mengobrol tentang kejadian tadi yang menimpa Tere.
"Jadi mantan Tuan Dave terus menganggu rumah tangga kalian?"
"Iya kak, sungguh. Aku pun sampai dibuat bingung. Seharusnya jika si nenek lampir Clara itu datang dan mas Dave bersikap apatis padanya, mungkin dia akan kesulitan masuk di rumah tangga kami. Tapi mas Dave mengizinkan jadi Clara makin besar kepala."
__ADS_1
Athur pun manggut manggut. "Maaf jika aku mencampuri urusan rumah tanggamu Re. Tapi alangkah baiknya jika kamu juga melakukan tarik ulur dalam hubungan. Tidak semua kebutuhan Dave kamu siapkan. Buat dia tidak tergantung padamu. Jika dia bisa berarti dia sudah tidak butuh kamu. Tapi sebaliknya jika dia tidak bisa, berarti dia masih butuh kamu."
"Tapi kak, aku takut jika aku tarik ulur hubungan malah membuat hubunganku dengan mas Dave semakin renggang." Tere dilanda kebingungan saat ini.
"Terserah padamu saja, Re. Aku hanya memberi saran. Itu hakmu." Athur mencintai Tere tapi ia ingin bersaing secara sehat saja. Tapi untuk sekarang bukan waktu yang tepat karena Tere masih bersuami.
"Iya kak, akan ku coba. Terima kasih sarannya. Oiya kak, kakak pintar banget soal asmara. Kakak sudah punya pacar emang?"
Pertanyaan polos itu muncul di benak Tere membuat Athur tersenyum kecut. Rasanya ia ingin menyampaikan jika ia mencintai Tere, tapi tidak mungkin ia mengungkapkan sekarang.
"Hahaha tidak punya Re. Aku masih jomblo saja sejak dulu." Athur menarik sudut bibirnya sedikit.
"Tidak punya? Padahal kakak ini kalau kata para mama mertua adalah menantu idaman. Kakak seorang dokter, baik, mapan, penyabar, dan juga tam-tampan."
"Bisa saja kamu Re. Gimana kalau ternyata aku sukanya sama kamu hahaha." Athur sungguh tidak sadar bilang seperti itu. Dan reaksi Tere pun agak syok.
"Ha?"
"Tidak tidak, lupakan"
*****
Hari sudah malam hari dan Dave baru pulang dari kantornya. Ia mendapati Tere yang meringkuk di ranjangnya. Bahkan saat ditengok di meja makan, tidak tersedia makanan apapun.
"Tumben dia tidak menyiapkan?" Dengan polosnya Dave berbicara seperti itu. Aneh!
Ia kembali ke kamar lagi. "Sayang, kenapa kamu tidak masak untukku hari ini?"
Tere langsung bangkit dari ringkukannya. "Suruh saja Clara buat nyiapin. Dia kan yang kamu cinta!"
Dave menghela nafas panjang. "Re, jangan membahas dia lagi!" Tanpa sadar ia membentak Tere.
"Mas? Kamu membentakku? Kamu sadar tidak? Yang kamu bela itu mantanmu!" Tere menangis terisak di hadapan Dave!
"Sekarang mas pilih aku atau Clara?! Jawab mas!"
__ADS_1
...Follow IG cemaraseribu_author untuk melihat visual tokoh...