Meluluhkan Hati Suamiku

Meluluhkan Hati Suamiku
Bab 42


__ADS_3

Sudah puas dengan ketemuan dengan dokter sok tampan itu? Hah?"


Tere hanya tersenyum smirk. " Situ juga sudah puas ketemu sama nenek lampir Clara? Hah?"


Dave tidak menimpali, ia memilih bungkam. Tere hanya tersenyum. "Kenapa? Diam?" Tere lebih memilih menatap suaminya itu.


"Jangan berkelit Sayang, kamu juga yang memancing aku buat marah karena mengupdate foto bersama dokter sok tampan itu?"


Dave rupanya tidak mau kalah dari Tere. Ia bahkan sudah melupakan niatnya untuk menetapi janji pada Tere.


Tere tertawa miris, "Bukannya mas dulu yang membuat percikan api pertengkaran itu? Tanyakan saja pada mantan terindahmu itu tentang foto yang ia post di media sosial. Apakah sudah benar? Coba mas lihat dulu."


Tere berseru kepada Dave dengan nada bergetar. Ada rasa nyeri di hatinya karena melihat foto suaminya di post wanita lain.


"Oke kita buktikan!" Seakan tidak percaya, Dave langsung mengambil ponselnya di nakas. Ia mengecek media sosial yang ia punya.


Dan ternyata benar, ia di foto secara diam-diam oleh Clara dan dipost di media sosial milik Clara. Lebih parahnya caption yang dipakai sangat tidak menyenangkan dengan menunjukkan bahwa Dave masih milik Clara.


Tidak sampai itu, bahkan foto itu menuai banyak reaksi warganet terutama mereka mendoakan Dave dan Clara segera menikah. Dave menjadi merasa sangat bersalah.


Bukan keinginannya seperti itu. Lantas menatap Tere dengan tatapan penyesalan. Tere lebih memilih memalingkan muka.


"Sayang, maafin aku. Aku sama sekali tidak tahu soal ini. Dan Clara aku juga tidak tahu jika ia akan kesini." Dave menggengam tangan Tere dan mencium punggung tangannya.


Tere sudah muak dengan permintaan maaf Dave memilih untuk menepis. "Lepaskan mas! Jangan pernah menyentuhku! Jika di dalam hatimu masih ada Clara. Mana janjimu? Mana janjimu untuk membuang Clara di hatimu? Palsu!"


Tere pun segera pergi dari hadapan Dave yang masih mematung. Rumah tangga yang diimpikan Dave bukan seperti ini. Mengapa baru saja ia merasakan cinta dan kasih sayang Tere, sekarang sudah kebalikannya.


Bukan salah Tere jika ia menjadi pribadi yang seperti itu. Karena ketidaktegasan Dave membuat Tere sudah kehilangan rasa percayanya pada Dave.


"Sayang!" Dave pun menghampiri Tere yang mengemasi barang barangnya di koper. Apakah Tere akan pergi?! Atau bagaimana?


"Sayang aku mohon, jangan pernah meninggalkan aku. Aku mohon aku mencintaimu."


Kata kata Dave 'mencintai' sudah basi di telinga Tere. Tere terus mengemasi barang barangnya. Tetapi rengekan Dave sungguh membuatnya iba.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi tapi mas harus pilih. Mas pilih aku atau Clara?." Tere kembali mengajukan pilihan pada Dave, ia harus tegas dalam hal ini


Dave yang plin plan pun menjadi diam seketika. Bayangan Clara menangis tadi masih membekas di ingantannya.


"Sayang..." Dave bukannya menjawab malah merengek tidak jelas. "Pilih aku atau Clara?!"


Karena desakan dari Tere terus membuatnya mati kutu, akhirnya Dave membuat keputusan final.


"Aku memilihmu, Sayang. Sungguh aku tidak bisa jauh darimu saat ini." Dave merengek bagaikan anak SD yang meminta mainan pada ibunya.


"Apa kata katamu bisa dipegang? Atau mas akan mengingkarinya seperti pagi tadi?" Tere tidak langsung percaya. Saat ini kepercayaannya pada Dave sudah hampir pudar.


"Aku berjanji, Sayang! Aku akan menempati janjiku. Aku akan buktikan itu!" Agaknya Dave serius dengan komitmen yang ia bangun saat ini.


"Oke, aku setuju. Tapi akan ada konsekuensi jika mas melanggar itu!" Tere memberi ultimatum pada suaminya itu. Ia capek hanya diberi harapan palsu saja.


"Iya Sayang. Aku akan buktikan itu. Aku berkali kali jatuh cinta padamu saat ini." Dave lantas memeluk Tere dengan erat. Rasanya begitu lega jika Tere tidak jadi pergi.


Dave takut kehilangan Tere bukan karena takut mama Anita penyakitnya akan kambuh. Tapi ia saat ini sudah mencintai Tere sepenuhnya. Ia akan mencoba itu.


Mereka saling memeluk dengan penuh kehangatan. Sesekali mereka melonggarkan pelukan itu dan kemudian bibir kenyalnya saling menyatu memadu kasih.


Lemah! Tere memang lemah jika Dave merengek. Entah! Apa mungkin benar jika cinta itu buta?! Walaupun disakiti akan tetap menerima?


*****


Dua hari kemudian...


Dave sudah masuk kerja lagi. Ia saat ini sudah bersiap. Tere merapikan dasi Dave dan mereka saling mengecup singkat. Tidak lupa dia juga sarapan dahulu sebelum berangkat.


Suasana rumah tangganya kian membaik karena segala permasalahan bisa terselesaikan hanya dengan rambut basah. Tahu lah ya?!


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Dan ingat kamu jangan capek capek beres beres rumah karena sekarang ada bi Minah. Oke?" Dave mengecup kening Tere dengan lembut. Tere pun memejamkan matanya.


"Oke mas. Oh ya aku mau tanya. Kalau urusan postingan Clara tempo hari lalu gimana?Sudah clear kah?" Tere pasti khawatir karena jika sampai diketahui oleh mama Anita, bisa bisa penyakitnya kambuh

__ADS_1


"Sudah Sayangku. Kamu tenang saja. Jangan sampai jadi pikiran lagi ya." Dave mengacak pelan rambut Tere dan berangkat ke kantor.


****


Di kantor Dave


Para karyawan sibuk bergosip dengan adanya postingan itu. Terlihat karena mereka saling berkumpul di satu titik.


Mereka menyayangkan hal itu. Bagaimana bisa pelakor itu masuk dalam kehidupan bosnya walaupun dulu ia adalah mantan Dave.


"Aku kalau jadi mbak Tere mah tidak sudi sama pak Dave. Masa masukin mbak Clara di rumah? Kan aneh!" Kata karyawan itu sudah melancarkan aksi gosipnya itu.


Tiba-tiba saja Dave datang dan menegur. "Sudah gosipnya?!" Bagaikan debu yang sudah kalang kabut, para karyawan langsung berhamburan ke tempat kerja masing-masing.


"Kalian disini digaji untuk kerja bukan gosip. Dan mengenai postingan itu, jangan pernah dibahas lagi. Kalau masih ada yang membahas, saya akan pecat kalian secara tidak hormat."


Dave memberi ultimatum pada karyawannya yang sudah bermulut ember itu. Mereka pun mengangguk tanda paham.


Dave langsung ke ruangannya. Baru saja sampai pikirannya sudah pening karena kejadian tempo hari lalu.


Ia belum menyadari kalau di kantornya sudah ada Ares, sahabatnya. "Astaga, ngagetin saja lu!" Dave kaget bukan main karena tiba-tiba Ares duduk di sofa.


"Hahaha emang lu megang kepala mulu. Lu pasti pening kan mikir kejadian tempo hari lalu. Sama Dave! Gue juga."


Ares pun menunjukkan rasa simpati pada Dave. Ia sangat menyayangkan hal itu.


"B*ngs*t lu! Jadi lu juga sudah ngerti?!" Dave dengan polosnya bicara seperti itu.


"Ya lu pikir sendiri. Gila apa si Clara tuh. Masa suami orang diembat juga. Gue lebih kasian Tere sih. Gila saja lu nyakiti perasaannya. Untung dia sabar, kalau tidak..."


"Kalau tidak kenapa?!" Dave sudah sewot mendengar nyinyiran Ares hahaha.


"Ya diembat lah. Lu tahu kan, posisi lu bakal kegeser sama Athur dokter tampan itu! Masih saja tidak peka! Ingat ya, Tere cantik dan Athur cinta. Gue paham gerak geriknya, jika lu sekali bikin ulah. Siap siap dah jadi duda!"


Ares malah cengar cengir me-roasting Dave.

__ADS_1


__ADS_2