
Anita : Apa Clara si j*l*ng itu?!
Tere : Iya ma, aku minta tolong ke mama ya, tolong rahasiakan keberadaanku. Hanya mama yang aku percaya saat ini.
Anita : Iya Sayang, kamu jaga diri ya di sana. Semoga hubunganmu dengan Dave segera membaik, mama tidak akan memaksa apapun darimu, Sayang
Tere : Terimakasih ma, sudah dulu ya ma. Mama juga jaga kesehatan. Assalamu'alaikum
Anita : Walaikumsalam Sayang
Setelah mematikan panggilan telepon itu, mama Anita tampaknya makin membenci Clara.
Bagaimana tidak, Clara sudah menyakiti Dave waktu dulu. Bahkan H-7 sebelum tunangan, ia sudah berselingkuh dengan rivalnya Dave.
Tidak sampai itu, Clara adalah orang yang matrealistis. Ia sengaja menjadikan Dave sebagai kekasihnya hanya sebagai batu loncatan dia sebagai model ini internasional dan pastinya mau menguras harta Dave.
"Kurang ajar sekali Clara, berani beraninya dia mengganggu rumah tangga putraku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memberi pelajaran untuknya."
Mama Anita duduk di kursi memandang view dari atas. Ia memikirkan cara untuk menguliti kesalahan Clara.
Dulu ia biarkan karena masih ada rasa kemanusiaan, tapi rasanya jika sekarang Clara sudah bertindak jauh. Dia akan memastikan sendiri bahwa dia lah yang akan menuntut Clara.
Mama Clara mengambil foto pernikahan Tere dan Dave. Ia mengusap foto itu. Tidak terasa buliran bening meluncur di permukaan pipi mama Anita
Dia sangat merindukan Tere. Tere adalah anak yang baik sekaligus menantu paling pengertian dan perhatian. Dahulu Mama Anita berteman baik dengan Lin Zhi, jadi mereka sepakat untuk menjodohkan Tere dan Dave kelak.
****
Di Beijing
"Sayang, kenapa kamu melamun?" Li Xie Cu menepuk pundak Tere. Ia melihat cucunya hanya melamun di taman bunga itu.
"Oma, maafkan aku." Tere tersadar dari melamunnya dan sekilas tersenyum manis pada omanya.
"Kamu masih kepikiran suamimu?" Li Xie Cu agaknya tahu apa yang dipikirkan oleh Tere.
Tere pun mengangguk. "Aku masih tidak habis pikir, kenapa dia begitu tega denganku, Oma. Padahal aku sudah memberikan banyak kesempatan baginya. Tapi..."
Belum selesai berbicara, Tere sudah menangis di pelukan Li Xie Cu.
"Jangan menangisi orang yang tidak memprioritaskan dirimu. Cukup balas dengan meningkat value mu di hadapan dia. Itu cukup."
__ADS_1
Perkataan Li Xie Cu benar! Seharusnya Tere tidak harus menangisi Dave lagi. Bukankah ini adalah keputusan mantap yang ia pilih.
"Iya Oma, aku akan usahakan."
"Apa kamu akan ke salon sore ini? Oma sudah pesankan untukmu. Sementara ini ubahlah penampilanmu. Jangan biarkan Tere yang dulu masih menguasai dirimu."
"Baik Oma."
****
"Tolong ubah penampilan cucu cantikku ini dengan style yang berbeda. Aku mau karakternya menjadi wanita kuat dan mandiri."
Li Xie Cu menyuruh owner itu yang langsung menangani Tere.
"Siap, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Lihat saja, nanti dia akan bertransformasi."
Owner itu juga ramah, ia kenalan oma Li Xie Cu. Jadi tidak heran jika kedekatannya segitu erat. Owner itu bernama Ryuki.
"Aku baru tahu bahwa Li Xie Cu punya cucu secantik kamu. Siapa namamu?" Ryuki segera mengeksekusi rambut Tere sambil mengobrol dengannya.
"Nama saya Tere. Saya memang baru pertama kali ke sini. Sebelumnya saya tinggal di Indonesia." Tere mengembangkan senyum manisnya.
"Wah begitu ya, tapi kamu benar benar cantik sekali. Cantik natural gitu jadi hanya butuh tindakan sedikit maka kamu akan berubah menjadi jauh lebih cantik."
****
"Nah, gimana? Cantik kan?" Owner itu memberikan gaya model rambut yang berbeda. Ia juga mewarnai rambut Tere menjadi coklat gelap yang sangat elegan.
"Wah, cucuku makin cantik saja. Terimakasih Ryu." Li Xie Cu menepuk pundak owner itu dan Ryuki membungkukkan badannya.
Setelah selesai dari salon mereka pun pulang. Hari sudah petang, Li Xie Cu dan Tere tidak mampir kemana mana takut Xiao Bao mencarinya.
"Hei, darimana saja kalian. Aku mencari kalian tidak ada. Aduh aku pikir kalian kabur ke Indonesia."
Benar saja, Xiao Bao sudah mengomel ria hahaha. Ia khawatir karena Li Xie Cu tidak mengabarinya terlebih dahulu.
Li Xie Cu pun menggaruk tengguknya yang tidak gatal. "Maafkan aku, aku mengajak cucu kesayangan kita ini ke salon tanpa berpamitan ke kamu. Lihatlah cucumu ini, cantik sekali bukan? Penampilannya jauh lebih baik daripada sebelumnya."
Xiao Bao langsung menelisik Tere, ia mengembangkan senyumnya. "Memang kecantikan cucuku ini tidak jauh dari Lin Zhi."
Setelah ngomel ria, akhirnya mereka makan malam. Suasana begitu khidmat. Jika makan malam, mereka akan fokus dengan makanan yang ada tanpa bercakap cakap.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka bercengkrama di ruang keluarga.
"Sayang, oma mau tanya boleh?" Li Xie Cu harus izin dulu takutnya Tere tidak ingin menanggapi pertanyaannya.
"Tentu boleh oma, bahkan opa juga boleh. Kenapa harus tanya hehehe." Tere mengulas senyum tipis.
"Nama lengkap suami Dave siapa?" Li Xie Cu yakin bahwa cucunya tidak menikah dengan orang sembaranhan.
"Dave Dharmendra." Tere mengucap nama itu, tapi hatinya begitu sakit, ia mencoba menahannya.
"Dharmendra?" Beo Xiao Bao ia tidak asing dengan nama marga itu.
"Sayang, bukan kah itu nama pengusaha konglomerat yang pernah aku ajak kerjasama dulu pas waktu muda?"
Xiao Bao memberitahu istrinya soal itu. Ia memang pernah bekerja sama dengan Endric Dharmendra-kakek dari Dave tapi sudah meninggal.
"Aku ingat, dia adalah klien kita dari Indonesia dahulu. Kita pernah berkerjasama dengannya. Tapi dia begitu baik, namun kenapa cucunya seperti itu tingkahnya."
Li Xie Cu terus tidak terima bahwa Dave menyakiti hati Tere.
Tere pun tertegun. "Oma Opa kenal dengan kakek dari mas Dave?"
Li Xie Cu dan Xiao Bao mengangguk pelan. Tere menghela nafas panjangnya. Melihat wajah sendu cucunya, mereka pun enggan membahas ini lagi.
"Sudah jangan dibahas lagi, maafkan kami Sayang." Li Xie Cu memeluk Tere.
"Tidak apa apa Oma, Opa. Aku paham kok, aku ke kamar dulu ya." Tere izin ke kamar, hatinya merasa tersayat karena ternyata dunia terlalu sempit. Mereka saling mengenal, membuat Tere semakin sulit melupakan Dave.
"Tolong ajari aku mas, bagaimana cara melupakanmu?" Tere bermonolog sambil berbaring di ranjangnya. Dan tidak lama dari itu, Tere pun tertidur
****
Keesokan harinya, Tere bersiap untuk ke kantor Xia Bao. Hari ini adalah pengangkatan Tere sebagai CEO disana.
Penampilan Tere saat ini berubah 180 derajat, dandannya juga tidak senatural dulu, lebih tajam layaknya wanita karir yang tidak membutuhkan laki laki.
"Aku akan menjemput nasibku di Beijing." Tere pun menaiki mobil mewah itu bersama Xiao Bao dan supir pribadinya. Posisi duduk Xiao Bao dan Tere di belakang.
Tapi nahas, karena supirnya terlalu kencang dan...
BRAK
__ADS_1
Mobil itu terhantam oleh truk dari samping tempat Tere duduk. Dan saat itu Tere sudah tidak bisa membuka matanya. Semua gelap...