
Dave sudah masuk ke pesawat. "Sayang, aku datang menjemputmu." Dave menyandarkan dirinya sejenak. Ia memejamkan matanya menikmati detik tiap detik penerbangan itu.
Perasaannya saat ini cukup senang karena menemukan Tere di Beijing. Butuh waktu berjam jam agar sampai di Beijing.
Setelah berjam jam akhirnya mereka sampai. Dave juga sudah memesan hotel untuk dirinya dan Ares serta istri Ares.
"Res, antar bini lu istirahat dulu deh. Kasian kayanya capek banget. Ntar kalau sudah kita cari Tere bareng."
Dave menepuk bahu Ares. Ares pun mengangguk. Ia langsung menemani Kirani untuk ke kamarnya.
Bumil satu ini juga mengeluh perutnya agak kram sehingga Ares harus mengatasi istri dulu.
Setelah hampir satu jam akhirnya Ares menemui Dave. Dave sudah mendengkus kesal.
"Gila lu! Lama banget di kamarnya? Nangkap kobra dulu lu?" Dave ngedumel sambil mengunci pintu kamar hotelnya.
"Sorry Bro, bini gue tadi perutnya kram dikit. Jadi gue harus ngatasi dulu. Kita jadi nih cari bini lu?"
Ares sebenarnya sudah tahu dimana Tere tapi ia pura-pura tidak tahu saja daripada Tere marah padanya.
"Ya iyalah! Ngapain kita ke Beijing kalau tidak cari bini gue. Gue tahunya dari pelacakan panggilan video call nyokap. Menurut tempatnya sih masih agak jauh dari sini."
Prediksi Dave memang benar. Ares pun manggut manggut saja. Memang diperlukan kendaraan umum untuk mencapai rumah Tere yang berjarak kurang lebih 20 km dari hotel itu. Entahlah kenapa Dave mencari hotel yang begitu jauh.
"Ya sudah gue nurut saja sama lu. Kita naik kendaraan umum atau taksi saja. Lu tidak ngawur kan? 20 km itu juga jauh loh. Ntar nyasar rumah orang lagi."
"Emang ya lu mulutnya minta dicabein. Tidak bakal lah, gue juga sudah cari informasi kalau Tere itu sekarang memimpin perusahaan milik Tuan Xiao Bao."
Dave menjelaskan begitu gamblang seolah mengetahui semua. Ares pun dibuat terperanjat.
Melihat ekspresi Ares yang kaget seperti itu, Dave mengernyitkan dahinya. "Kenapa lu? Kaget banget kayanya? Kaget kalau bini gue jadi CEO? Hmmm awalnya gue juga kaget sih, tapi gue mau mastiin."
Ares berusaha menetralisir ekspresinya. "Ya gimana gak kaget. Kok lu bisa tahu detail gitu?"
Ares pun jadi bertanya tanya, apakah Dave juga menyewa detektif juga? Atau bagaimana?
"Ya tahu lah. Mata mata gue banyak kok. Ya sudah, ayo kita ke rumah Tere dulu saja. Ini sudah jam sore pastinya ia sudah balik sekarang."
__ADS_1
*****
"Lu yakin ini rumahnya?" Ares agak ragu karena memang sebesar itu. Lebih besar dari mansion punya mama Anita. Dave pun mengangguk.
"100% sih. Sudah ayo kita langsung buktikan saja."
Di depan gerbang pun juga sudah ada satpam yang berjaga. "Maaf apakah benar ini mansion milik Tuan Xiao Bao?" Dave menanyakan hal itu pada satpam itu dalam bahasa Mandarin.
"Iya benar, maaf cari siapa ya Tuan?" Satpam itu bertanya secara baik baik pula.
"Saya mau cari Nona Tere ada?"
"Ada Tuan. Sebentar, ini atas nama siapa ya?"
Ares dan Dave saling berpandangan. Bagaimana bisa mereka menggunakan nama asli? Nanti jika Tere menolak bagaimana? Ditambah lagi di mansion juga ada Tuan Xiao Bao.
"Sang Guan" Dave menyamar namanya jadi itu persis dengan Ares yang juga memalsukan namanya demi bisa bertemu dengan Tere.
Satpam itu mengangguk dan menyuruh mereka menunggu dulu apakah ia boleh masuk.
"Mau ketemu dengan Nona Tere? Silakan duduk terlebih dahulu."
Ares dan Dave langsung mendaratkan bobotnya ke sofa. Butuh 15 menit untuk menunggu hadirnya Tere.
"Halo Tuan. Ada apa ya cari saya?" Tere belum tahu soal Dave dan Ares karena masih membelakangi mereka.
Begitu Dave dan Ares menoleh, ada guratan wajah kecewa yang terlihat dari wajah Tere.
"Ngapain kamu kesini!" Tatapan sinis sudah pasti nangkring di wajah Tere saat ini.
Dave langsung bangkit dari sofanya disusul dengan Ares. Tere masih menahan amarahnya. Ia belum mengusir mereka berdua.
"Sayang, aku... " Belum selesai bicara dan Dave sudah dipotong begitu saja pembicaraannya oleh Tere
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, saudara Dave Dharmendra." Tere berbicara dengan penuh penegasan dan meninggikan suaranya.
"Oh aku tahu kenapa kamu bisa ada di sini? Pasti karena dia kan?" Tere langsung menunjuk Ares. Ares yang sejak tadi diam dan menunduk langsung mendogakkan kepalanya.
__ADS_1
Dave juga bingung, Ares tahu semuanya tapi dia tidak bilang? Apa maksudnya? Supaya bikin Dave terus sengsara?
"Lu tahu Res? Lu diam saja Res selama ini? Kenapa?" Dave langsung memusatkan atensinya ke Ares.
"Gue gak mau membocorkan privasi Tere. Dia sudah bilang sejak awal gak mau ketemu lu."
Ares juga terpojok saat ini dan lebih baik mengatakan yang sejujurnya.
Tere malah bertepuk tangan melihat drama kedua sahabat itu. "Bagus banget ya aktingnya. Lanjutkan Dave Dharmendra dan Ares Pradipta, kalian cocok jadi pemeran utama film."
Tere tersenyum miring dan Dave langsung menjelaskan yang sebenarnya.
"Aku kesini pun itu bukan karena bantuan Ares. Aku hanya mengajaknya saja. Perihal tahu keberadaanmu itu dari mata mataku saja. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ares. Dan aku kesini untuk menjemput... "
"Diam! Dave Dharmendra terhormat! Aku bukan Tere yang dulu kamu nikahi. Aku Tere versi sekarang yang tidak mau ditindas oleh siapapun. Dan ingat! Aku sudah melayangkan gugatan cerai ku padamu. Jadi aku mohon, tandatangani saja supaya proses lebih cepat!"
"Tidak akan! Tidak akan aku menandatangani itu Sayang! Aku mencintaimu, sangat. Aku juga sudah tidak lagi berhubungan dengan Clara, aku... "
"Stop! Belum puas kamu menyakitiku?! Hah!" Mata Tere seperti menahan buliran bening di pelupuk matanya. Tanpa peduli apa apa, Dave langsung menghamburkan pelukan ke Tere.
Tere berusaha memberontak tapi nyatanya tidak bisa. Pelukan itu terlalu erat.
"Lepaskan aku, Dave!" Tere meninggikan suaranya dan alhasil Xiao Bao dan Li Xie Cu ke sumber suara itu.
Ia tahu bahwa cucunya sedang dipeluk oleh Dave, suaminya.
Xiao Bao yang sudah marah besar langsung melepaskan pelukan itu dan memukul Dave. "Dasar baj*ng*n, berani sekali kamu menampakkan kakimu kesini? Hah! Belum puas kamu menyakiti cucu saya! "
Dave menyeka mulutnya yang sudah berdarah itu. Tere dan Li Xie Cu langsung menenangkan Xiao Bao sementara Ares menenangkan Dave.
"Maaf Tuan Xiao Bao, tapi Tere juga masih istri sah saya. Saya berhak atas Tere." Dave malah berdebat dengan Opa Xiao Bao.
Kali ini Tere yang maju, "Istri kamu bilang Dave ? Istri? Aku tidak salah dengar? Kamu sebagai suami kemana saja waktu aku keguguran hah?! Kamu ada di sampingmu emang?!"
Tere benar benar marah padam dengan Dave. Bisa bisanya Dave mengklaim Tere sebagai istri sah tapi dirinya tidak tahu menahu tentang Tere.
"Ja-jadi kamu sempat hamil? Beo Dave
__ADS_1