
Sekilas Dave melihat wajah Tere dan pada akhirnya mama Anita langsung menutupnya.
"Sayang!" Beo Dave terkejut karena mama Anita berhubungan dengan Tere.
Tapi buru buru mama Anita mematikan panggilan video call itu. Daev mendengkus kesal kenapa mamanya tidak memberitahu keberadaan Tere padahal ia tahu itu.
"Ma!" Dave agak meninggikan suaranya karena memang ia kesal lantaran mamanya bersikap tidak kooperatif menurutnya.
"Apa sih Dave. Kamu mau apa?" Mama Anita malah menantang balik Dave. Ia tidak akan mudah memberitahu soal keberadaan menantunya.
"Mama tadi video call dengan istriku. Kenapa mama hanya diam saat aku mencarinya secara susah payah? Mama tidak kasian denganku?" Dave melirihkan suaranya. Ia nampak frustasi tetapi ditahan. Merasa dirinya saat ini tidak berguna.
Mama Anita menatap Dave dengan tatapan tajam. "Istri kamu bilang Dave? Apa mama tidak salah dengar? Jika memang itu istrimu kenapa kamu malah menyakitinya! Dave, mama tahu kamu memang putra mama. Tapi tindakan kamu membuat mama malu. Bagaimana mungkin kamu menyia-nyiakan perjuangan Tere."
Mama Anita berlinang air mata, dirinya juga merasa bersalah dengan Tere, menantunya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Memberitahu keberadaan Tere hanya akan memperkeruh suasana saja.
Terlebih lagi Tere meminta cerai dari Dave itu sudah membuat mama Anita syok berat. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Di sisi lain ia ingin Dave bersama Tere tapi di sisi lain dia ingin Tere bahagia dengan keputusannya itu. Entah! Mama Anita bingung memikirkannya.
"Ma, aku minta maaf atas semua kelakuanku itu. Aku sangat sadar aku salah Ma. Tapi tolong, jangan sembunyikan keberadaan Tere Ma. Aku mohon, aku sudah berubah demi dia. Aku ingin rumah tangga ku utuh kembali seperti dulu."
Dave menggengam tangan mama Anita dan menciumi punggung tangannya. Mama Anita menatap lekat Dave. Tidak ada kebohongan di raut wajahnya saat ini. Mama Anita bisa lihat itu.
"Dave, putraku. Penyesalanmu sungguh terlambat. Kamu sampai membuat Tere pergi jauh sekali dari kehidupan kita. Jika kamu mau mencarinya carilah dengan usahamu. Maaf bukannya mama tidak mau membantumu. Tapi Tere sudah berpesan pada Mama agar tidak memberitahukan keberadaannya saat ini. Dia ingin ketenangan."
Mama Anita mengelus pucuk kepala Dave. Dave pun hanya menunduk. Seumur umur baru kali ini Dave menitikkan air matanya. Ia begitu lemah saat ini.
"Oke, aku hargai keputusan Mama dan Tere. Aku akan mencarinya bersama Ares. Doakan aku Ma supaya aku bisa menemukan istriku."
Keduanya saling berpelukan hangat. Masing masing air mata di antara keduanya juga tumpah begitu saja. Sangat sedih rasanya melihat situasi seperti ini.
__ADS_1
Dave jadi teringat kala mama Anita mengucapkan kata 'cerai'. Apa yang dimaksud Tere itu minta cerai dari Dave? Tapi memang demikian?
"Ma" Dave melonggarkan pelukan dengan mama Anita. Dave menatap lekat sang mama.
"Ada apa Sayang?" Mama Anita menatap putranya dengan tatapan sendu.
"Mama tadi bicara soal cerai. Apa istriku meminta cerai dariku?" Dave memelankan suaranya. Ia terlihat rapuh saat mengucapkan kata 'cerai' itu.
Mama Anita mengangguk. "Iya Sayang. Tadi Tere video call Mama. Dia tanya soal kesehatan Mama dan mama juga tidak tahu kok dia bisa tahu kalau mama sedang dirawat di rumah sakit."
Dave mengerjab, "Mama sudah lama merahasiakan hal ini?"
"Hal apa? Kontak dengan Tere maksudnya?" Mama Anita mencari klarifikasi atas pertanyaan Dave. Dave mengangguk.
"Iya Sayang, mama sudah lama kontak dengan Tere sejak ia meninggalkan rumah. Mama terpaksa pura-pura tidak tahu tapi rasanya mustahil. Pikiran mama terlalu berat jadi mama sampai di rawat di rumah sakit ini. Terlebih lagi dokter Athur juga lagi ke Beijing. Jadi mama tidak bisa kontrol rutin untuk beberapa bulan ke depan."
"Ma, jadi istriku ingin bercerai dariku?" Dave menanyakan itu kembali. Mama Anita memperbaiki posisi duduknya dan menghela nafas panjang.
"Iya Sayang. Istrimu meminta cerai darimu. Tapi mama belum kasih jawaban apapun karena keburu kamu datang tadi. Dan sebenarnya mama juga tidak rela kehilangan menantu sebaik istrimu itu."
Dave tercekat. Rasanya dunia saat ini terguncang. Hatinya bagaikan teriris sembilu mendengar Tere menggaungkan kata cerai dengannya.
"Ma! Aku tidak mau cerai dari Tere! Dia adalah istriku. Selamanya juga akan menjadi istriku satu satunya. Aku mencintainya Ma." Dave mengusap wajahnya kasar.
"Tenang kan dirimu, Sayang. Kamu harus mencari keberadaannya secepat mungkin. Jangan lelah untuk mencarinya. Dah satu hal lagi. Perempuan itu kalau sedang marah maunya diperjuangkan. Perjuangkan walaupun Tere menolak. Mama yakin masih ada cinta di hati menantu mama itu."
"Iya Ma, Dave akan mengusahakan apapun demi Tere. Karena Tere adalah belahan jiwa Dave."
*****
__ADS_1
"Aduh, Dave melihatku tadi. Jangan sampai dia melacak keberadanku saat ini." Tere menjadi gelisah karena Dave melihatnya tadi.
Tere juga melihat Dave. Dari sorot mata Dave menyiratkan kekhawatiran yang begitu dalam padanya. Tapi untuk apa? Bukankah Tere hanya akan disakiti saja?
"Dave, maaf. Aku terlalu membencimu. Aku harus membuat keputusan nekat seperti ini. Soal Clara, aku sudah muak dengan pelakor itu. Membiarkan pelakor menjalar dalam rumah tangga itu juga karenamu, Dave!"
Tere tidak lagi menangis. Dan panggilan untuk suaminya itu menjadi berubah.
Dulu Tere memanggil Dave dengan sebutan 'Mas'. Tapi sekarang? Tere tidak mau memanggilnya dengan sebutan itu. Sebutan 'Mas' hanya mengingatkannya betapa lemahnya dia dulu. Sekarang ia tidak akan tertipu lagi.
Daripada makin suntuk, Tere menemui Oma Li Xie Cu. Ia berada di taman belakang rumah.
"Oma" Tere menghampiri Li Xie Cu yang sedang duduk di bangku taman.
"Halo Sayang, kemarilah!" Li Xie Cu bersantai sambil berselancar di media sosial. Ia juga mencari tahu siapa Dave itu.
"Iya Oma." Tere duduk di samping Omanya. Li Xie Cu meyodorkan Tere dengan sebuah berita tentang kebobolan data perusahaan dan juga kerugian yang dialami oleh Dave.
"Lihatlah berita ini, bukan lah D'Crop itu perusahaan suamimu?"
Tere membaca sekilas dan memang benar! Perusahaan Dave beberapa minggu lalu mengalami kerugian cukup besar sampai membuat perusahaan itu hampir bangkrut.
"Kok bisa Oma?" Tere juga kaget atas pemberitaan itu. Li Xie Cu mencari berita itu pun dari Indonesia.
"Ya! Ada yang meretas data perusahaan. Mungkin rivalnya, itu hanya kemungkinan." Li Xie Cu paham akan hal hal seperti itu. Ia menduga yang melakukan rivalnya.
"Apa ini berkaitan dengan selingkuhan Clara?"
"Clara? Siapa dia?" Li Xie Cu mengernyit.
__ADS_1