
Dua bulan kemudian....
HPL Tere jatuh pada hari Minggu, artinya 2 hari lagi, Tere akan melahirkan. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dave yang menghampiri Tere. Tere yang melamun di taman pun langsung ter distraksi.
"Dave, aku takut. Katanya melahirkan sakit," ucap Tere resah. Dave pun ikut duduk di samping Tere. Ia mengusap surai rambut Tere. "Kenapa takut? Itu sudah kodrat wanita Sayang. Kita harusnya bersyukur karena masih di amanahi seorang anak." Dave menasehati Tere dengan lembut.
Tere pun mengangguk. "Iya Dave, semoga nanti waktu persalinan lancar ya," ucap Tere sembari mengelus perut buncitnya. "Aamiin, Sayang. Oh iya nanti jam 9 pagi kita harus menghadiri pesta pernikahan Mei dan Athur lho. Kamu siap-siap sana. Biasanya kan cewek lama dandannya," ledek Dave.
Tere pun tergelak tawa. "Dih, sekarang mainnya ngeledek mulu. Ya sudah aku mau siap-siap. Toh ini juga sudah jam 8." Tere bangkit dari tempat duduknya dan mulai menuju ke kamar.
Sementara Dave masih bersantai sembari mengecek pekerjaannya yang belum terselesaikan.
******
"Sudah siap, Sayang?" tanya Dave yang sudah bersiap. Ia sudah siap untuk berangkat. Tapi Tere masih riweh dengan pilihan lipcreamnya.
"Iya, sebentar!" seru Tere agak berteriak agar Dave yang berada di luar kamar terdengar. Dave menggelengkan kepala. "Padahal tadi aku suruh jam 8 siap-siap. Ini hampir jam 9 dan dia belum selesei dandan," ucap Dave sembari menepuk jidatnya.
Setelah menunggu 10 menit, akhirnya Tere keluar dengan dandanannya yang flawless. "Cantik banget sih istriku," puji Dave sembari menghampiri istrinya. Tere pun tersipu malu. "Ih malu tahu dipuji. Ayo segera berangkat aja, keburu telat nanti."
Akhirnya Dave dan Tere berangkat ke pesta pernikahan Mei dan Athur. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke gedung resepsi itu. Setelah sampai, mereka pun langsung turun.
Acara akad nikah pun dimulai, Athur mengucapkan ijab qabul dengan lantang dan mantap. Sedangkan Mei terlihat menunduk kentara kalau gugup. Setelah sah, akhirnya mereka telah menjadi suami istri.
Tere senang karena mereka akhirnya bisa bersatu. Mengenai agama Mei, ia masuk Islam sudah sejak 5 bulan yang lalu. Ia banyak belajar dari Tere.
__ADS_1
"Aduh, gak nyangka banget sih udah nikah aja. Selamat ya Mei dan Athur. Semoga kalian bahagia selalu dan segera diberi momongan," doa Tere pada kedua mempelai. Mei yang mendengarkan pun ikut terharu.
"Makasih ya, Re. Kamu juga lancar persalinannya," doa balik Mei. Tere dan Dave mengucapkan selamat bagi kedua mempelai.
Setelah acara selesai, Tere dan Dave langsung pulang karena memang Tere merasakan tidak enak pada perutnya. Di perjalanan pulang pun, Tere sudah mengeluh.
"Dave, perutku sakit!" seru Tere sembari memegangi perutnya. "Jangan-jangan kamu mau melahirkan, Sayang?" tanya Dave panik. Tere sudah merasakan ini sejak tadi berangkat ke resepsi Mei dan Athur.
"Aku sudah merasakan dari kita berangkat ke acara nikahan tadi. Dan ini puncaknya, Dave. Aw sakit Dave!" seru Tere. Tanpa pikir panjang, Dave langsung menuju ke rumah sakit.
"Kamu yang tenang, Sayang. Tarik nafas hembuskan tarik nafas hembuskan. Ini aku agak percepat menuju rumah sakit," ucap Dave panik. Dave langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan agak kencang.
Setelah 10 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. "Dokter suster! Tolong istri saya mau melahirkan!" seru Dave pada petugas di rumah sakit.
Dengan sigap petugas langsung menangani Tere. Dave juga ikut masuk untuk memberikan semangat dan dukungan pada Tere. "Dave, sakit!" seru Tere sembari menjambak rambut Dave. Dave pun sebenarnya kesakitan. Tapi ia tidak mengeluh.
Tepat di pembukaan 10, akhirnya Tere disuruh untuk mengejan. "Ayo sedikit lagi, Nyonya!" seru dokter itu. Tere pun terus mengejan dan akhirnya.....
Oe oe oe oe
Bayi yang masih merah pun sudah keluar. Tangisnya begitu kencang. Dave pun menangis haru, ia langsung mengecup kening Tere yang sudah lemah dan lemas tapi ia matanya masih terbuka.
Di berikan nya bayi itu dicium oleh Tere. Dave yang melihat hal itu hanya menangis haru serta bahagia. Rasanya tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.
"Selamat ya, Tuan Nyonya. Bayinya berjenis kelamin perempuan," ucap dokter yang membawa bayi itu. Tidak berselang lama, Tere pun pingsan.
__ADS_1
"Dok, ini istri saya gimana!" seru Dave panik. Ia takut Tere kenapa-napa. "Tenang Tuan, pasien kelelahan dan butuh di transfusi darah 2 kantong. Golongan darah A disini masih banyak. Jadi, Tuan yang tenang ya," ucap dokter itu.
Dave pun langsung keluar dari ruangan itu karena perintah dari dokter juga. Ia tidak lupa mengadzani bayinya. Rasanya sangat bahagia.
Sementara itu, Li Xie Cu, Xiao Bao, Mama Anita, dan Papa Surya pun juga ada di rumah sakit karena dikabari oleh Dave. "Gimana keadaan Tere dan cucuku, Dave?" tanya mama Anita khawatir.
"Tere dan baby baik-baik saja, kan?" tanya Li Xie Cu. Duo Oma itu sangat khawatir dengan kondisi Tere dan bayinya. Begitu pula dengan Xiao Bao dan papa Surya juga khawatir.
"Tenang ya, Mama, Oma, Opa, Papa. Keadaan Tere tadi sudah membaik tinggal pemulihan. Begitu juga dengan babynya juga sehat. Ayo kita jenguk sama-sama saja," ucap Dave mendahului masuk ke ruang Tere.
Tere yang sudah terbuka matanya pun langsung menanyakan bayinya. "Bayiku mana, Dave?" ucap Tere khawatir. Ia takut kalau baby nya kenapa-napa.
Belum lama Tere tanya itu, suster pun langsung membawa box berisi baby dari Tere dan Dave.
Baby itu sangat mungil dan cantik. "Ya ampun, miripi dengan Dave!" seru Mama Anita dan Li Xie Cu. Tere pun mengerucutkan bibirnya.
"Tuh, kan capek ngandung, ngelahirin eh malah mirip Daddynya," keluh Tere. Dave dan lainnya pun tergelak tawa. "Hahaha gapapa dong Sayang. Ini baby kita lho. Oh iya belum kita kasih nama ya?" tanya Dave.
"Iya belum, siapa ya? Kamu sudah menyediakan nama Dave?" tanya Tere. Dave pun mengangguk. "Sudah Sayang. Kalau kita namai Grace Putri Dharmendra bagaimana?" tanya Dave pada semua orang di dalam ruang itu.
"Nama yang bagus," ucap Xiao Bao dan Papa Surya. Tere pun mendekap bayi mungil itu. "Halo, Grace. Ini Mommy Sayang. Selamat datang di dunia ini ya, Mommy, Daddy, Oma, dan Opa sangat menyayangi Grace," ucap Tere sembari mengecup kening bayinya.
Grace pun menangis karena kehausan. "Susuin dulu, Sayang." Tere pun langsung menyusui. Mereka senang karena dengan kehadiran Grace akan membuat Dave sekeluarga menjadi lebih bahagia.
...---END---...
__ADS_1
Hai readers! Thanks udah mengikuti alur cerita 'Meluluhkan Hati Suamiku'. Jangan lupa mampir ke cerita author lainnya ya. Salam hangat dari author.