
Bismillahirrokhmanirrokhim......
Selamat membaca...!🥰
❤❤❤
Malam telah menyelimuti bumi, saat seorang gadis berdiri gelisah di pinggir jalan yang sepi, di depan sebuah komplek perumahan.
Sesekali gadis itu melirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Matanya mengawasi jalanan berharap ada kendaraan yang bisa ia tumpangi hingga sampi ke rumah.
Gadis itu adalah Mentari. Ia harus pulang lebih malam karena salah satu murid privatnya menambah jam belajar. Biasanya jam sepuluh malam ia sudah istirahat di rumahnya, tapi kali ini ia masih berada di tepi jalan.
Angkot yang ia tunggu tak kunjung datang. Gadis yang tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya meninggal, makin gelisah.Ada rasa takut yang menyergap perasaannya. Kalau saja ponsel tidak kehabisan batre, ia akan memesan taksi atau ojek online.
Gadis itu teringat neneknya, yang pasti tengah khawatir menunggunya. Sudah lebih dari sepuluh menit, gadis itu berdiri di tempat itu, mambuatnya makin gelisah dan takut.
__ADS_1
Tak jauh dari tempat Mentari berdiri, melaju pelan sebuah mobil sedan. Wajah Mentari tersorot lampu depan mobil sedan yang di kendarai oleh seorang direktur muda, sehingga wajah gadis itu jelas terlihat oleh netra pria yang biasa dipanggil Ray.
Sesaat setelah melintas di depan Mentari,tiba-tiba mobil itu berhenti. Mentari bergeming dari tempatnya agak menjauh, ketika ia melihat seorang pria yang keluar dari mobil sedan mewah itu.
Pengendara mobil terdiam sesaat,mencoba memperjelas penglihatannya.Sejurus kemudian pria itu turun dan berjalan sempoyongan mendekati gadis yang ia anggap sebagai kekasihnya. Dia berteriak dengan suara khas orang mabuk.
" Nania sedang apa kamu disini...!!."
Mentari menoleh mencari orang yang di panggil oleh Ray. Tapi ia tak menemukan siapa-siapa.
Aroma alkohol begitu menyengat tercium di indra penciuman Mentari, sehingga gadis itu memundurkan tubuhnya untuk menjauh. Baru beberapa langkah, pria mabuk itu berhasil menarik tubuhnya dan mendekap dengan kuat.
Sontak Mentari berusaha melepas pelukan pria itu dengan meronta sekuatnya.
"Kamu mau kemana Nania?.Jangan pergi. Aku sangat mencintaimu." Ucap pria yang makin kuat mencengkram tubuh Mentari yang terus berontak.
__ADS_1
"Lepas....lepas....saya bukan Nania...lepas... hik....hik... !!." Ketakutan yang sangat tak mampu lagi menahan gadis itu untuk tidak menangis.
"Ha....ha....becandamu nggal lucu Nania." Ucap Ray, atau Rayyan Arga.Seorang pengusaha muda yang tengah bergelimang kesuksesan dalam bisnisnya. Menghasilkan banyak pundi-pundi kekayaan.
"Saya sedang tidak bercanda. Saya bukan Nania. Tolong lepaskan saya tuan...hik...hik...." Teriak Mentari memohon dengan tangis ketakutan. "Tolong....tolong...." Merasa tak berdaya, gadis itu berteriak meminta tolong, berharap ada yang mendengar. Sampai suaranya berada di nada tertinggi, tak ada tanda-tanda orang mendekat untuk membantunya.
"Sejak kapan, kamu menolak pelukanku. Sampai minta tolong seperti itu. Lucu...lucu....ha....ha.....dan lihat kamu tambah lucu pakai pakaian seperti ini ha...ha...ha..." Rayyan berusaha melepas hijab yang dipakai Mentari. Tapi gadis itu berhasil mempertahankannya.
Energi Mentari sudah hampir habis,tapi ia tak kunjung bisa melepaskan diri dari cengkraman Rayyan. Gadis itu tambah panik, ketika pria berusia dua puluh tujuh tahun itu berusaha membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ayo kita bersenang senang malam ini..." Ucap Ray sembari mendorong tubuh Mentari yang masih berusaha melepaskan diri.
Mentari terus berontak, namun Ray berhasil memsukkan tubuh Mentari ke dalam mobil meski akhirnya Mentari berhasil turun keluar dan mendorong tubuh Ray hingga tubuh pria itu terjelembab.
Situasi itu Mentari manfaatkan untuk kabur, tapi tangan Ray berhasil memegang salah satu kakinya. Mentari mengibas-ngibas kakinya dengan keras agar tangan Ray terlepas. Usahanya tak berhasil,karena Ray kemudian memegang kakinya dengan dua tangan.
__ADS_1
Rayyan menarik kaki gadis itu sampai gadis itu jatuh terduduk. Direktur muda itu bangkit dan mengangkat tubuh Mentari dengan kasar. Mentari yang kehabisan energi masih terus berusaha untuk bisa terlepas, namun sebuah tamparan keras melayang ke pipinya. Tubuh gadis yatim piatu itu limbung terkapar di trotoar tak sadarkan diri.