
“Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Aku tidak meminta kamu membalas perasaanku, cukup kamu tau saja tentang perasaanku.Jika kamu masih membenciku, bencilah sepuasmu. Aku sadar kesalahan yang telah aku perbuat.” Ucap Rayyan kembali menatap mata Mentari setelah ia berhasil menahan kedua pipi istrinya hingga wajahnya terangkat.
“Tapi aku yakin aku bisa mengubah rasa bencimu menjadi cinta suatu saat nanti” Batin Rayyan dengan senyum di bibirnya.
Rayyan begitu yakin dengan ucapannya. Karena tatapan mata Mentari padanya sudah berbeda dari sebelumnya. Meski masih terlihat kebencian di sana. Kebencian yang dulu berkobar bak api yang membakar, sekarang lebih seperti bara api. Jika sering di siram dengan perhatian dan cinta kasih, Rayyan yakin kebencian yang seperti bara api itu akan padam.
“Sekarang kamu istirahat.Setelah sarapan kita kedokter.”
“Tidak perlu kedokter. Aku sudah lebih baik sekarang.”Mentari bangun dari ranjang. Dia memang merasa lebih baik setelah dipeluk suaminya.
“Kamu mau kemana?.” Rayyan menahan tangan istrinya yang hendak melangkah keluar kamar.
“Aku mau masak.” Jawab Mentari yang tetap melangkah meski tangan Rayyan masih menahannya.
“Tak perlu masak. Aku sudah pesan makanan. Kamu istirahat.Nanti kita kedokter kandungan. “ Rayyan meraih kedua bahu Mentari dan membimbingnya kembali ke ranjang. Dan dengan lembut Rayyan mendorong tubuh istrinya agar berbaring.
“Aku sudah priksa kandungan seminggu yang lalu, jadi tidak perlu kesana. “
“Hah......kenapa nggak ngajak aku?” Lagi, Rayyan di buat kecewa.” Ya sudahlah...Tapi kita tetap ke dokter. Aku ingin melihat kondisi anak kita.” Dengan wajah kecewa Rayyan melangkah keluar kamar. Ia ingin meredakan rasa kecewanya dengan keluar rumah dan duduk di dalam mobil menghubungi seseorang.
“Bagaimana, sudah ada informasi tentang Arbi?.”
“ Sudah tuan. Banyak informasi yang harus saya sampaikan jadi sebaiknya kita bertemu.” Jawab pria di ujung sambungan.Pria itu orang kepercayaan yang di perintahkan Rayyan untuk mencari keberadaan Arbi, pria yang menghamili adiknya,Bianka.
“Baik, nanti siang kita ketemu d tempat biasa.”
David baru saja sampai saat Rayyan mematikan ponselnya. Keluar dari mobil Rayyan langsung meminta David menyiapkan makanan yang di bawanya di meja makan.
Kedua pria itu masuk kedalam rumah. Sementara David menyiapkan makanan, Rayyan masuk kekamar untuk mengajak istrinya makan.
__ADS_1
“Segera bersiaplah...kita kedokter sekarang.”Pinta Rayyan pada istrinya yang kelihatannya malas pergi kedokter.” Dan kamu David temenin nenek sampai kami pulang.” Pinta Rayyan lebih ke perintah yang di balas anggukan oleh David. Dengan senang hati David menerima perintah itu, karena ia jadi punya kesempatan untuk mengajak nenek ziarah ke makam ayahnya.
Setelah siap dan berpamitan pada nenek, Mentari dan suaminya bergegas pergi kedokter kandungan. Sebelumnya Rayyan telah membuat janji dengan dokter kandungan yang juga teman kuliahnya dulu. Begitu sampai ia tak harus menunggu lama.
“Hai Ray....apa kabar?.” Sapa dokter Rika begitu Rayyan melepas masker dan kaca mata hitamnya. Wanita itu tampak terkejut melihat pria yang sebenarnya masih menjadi pemilik hatinya datang menggandeng seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Nania. Meski begitu wanita itu tetap menyambut Mentari dengan senyuman hangat dan langsung berbalas.
“Kabarku baik Rik. Kamu juga gimana kabarnya?” Jawab Rayyan sembari menarik kursi untuk duduk istrinya.
“Seperti yang kau lihat....aku sehat walafiat.” Ucap Rika masih dengan tatapan penasaran ke arah Mentari.” Ada apa Ray, apa yang bisa aku bantu?.”
“Aku ingin memeriksakan kandungan istriku.” Ucap Rayyan
“Istri?.” Sangat terkejut Rika mendengar ucapan Rayyan. Setelah mendengar Nania meninggal ia berharap bisa dekat dengan Rayyan. Tapi harapan itu kini harus menguap. Rayyan telah beristri. Bahkan ia tidak tau kapan pria itu menikah.
“Iya....ini istriku, Mentari.” Rayyan merangkul bahu Mentari yang duduk di sebelahnya dan sedikit menarik kearahnya dengan mesra” Sayang, ini dokter Rika. Teman kuliahku dulu.Satu kampus beda fakultas.”
Mentari menyambut uluran tangan Rika dengan senyuman ramah.
“Kami menikah hampir tiga bulan ini, dengan sederhana. Hanya beberapa orang yang tau.” Ucap Rayyan berbohong, ia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Otak Rika langsung bekerja, ia teringat Nania juga meninggal hampir tiga bulan yang lalu.”Apa hubungan mereka sudah selesai sebelum Nania meninggal?.Tapi aku tidakpernah mendengar mereka putus?!.”Batin Rika.
Semenjak menjadi kekasih Nania yang seorang artis, kehidupan Rayyan memang sering jadi sorotan media masa. Hubungan Rayyan dan Nania menjadi konsumsi publik. Apa yang terjadi dengan hubungan mereka pasti semua orang akan tau. Termasuk jika hubungan mereka berakhir. Tapi berita putusnya hubungan Rayyan dan Nania tidak pernah terdengar. Itu yang kini menjadi sebab kebingungan Rika. Sementara Mentari sebelumnya tak pernah Rika lihat dalm kehidupan Rayyan.
Rayyan menyadarkan Rika yang terdiam dengan berbagai tanya di otaknya.
“Rik...Rika....ini gimana ceritanya, dokter malah bengong di depan pasiennya?!.” Rayyan mengambil bolpoin yang tergeletak di meja dan langsung mengetuk dahi Rika dengan benda itu.
“Eh...eh...maaf. Aku enggak bengong. Cuma lagi kaget aja lihat kamu sudah menikah. Dan wajah istrimu ini mirip sekali dengan seseorang.” Rika gugup dengan pilu di hatinya.
__ADS_1
Rayyan tau siapa yang di maksud seseorang oleh Rika. Tapi ia tidak mau membahasnya.
“Mari nyonya Rayyan.” Ajak Rika, menunjuk sebuah bed yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasiennya.
Rika mulai melakukan tugasnya sebagai dokter kandungan. Sesekali dokter mangajak Mentari berbicara seputar kehamilannya.
Rayyan begitu antusias memperhatikan layar monitor, yang menampilkan keadaan di dalam perut istrinya.
“Tolong tunjukkan mana calon anakku Rik!.” Rayyan seperti sangat penasaran dengan wujud calon anaknya yang baru berusia sepuluh minggu.
“Ini.....calon anakmu masih sangat kecil. Dan calon anakmu ada dua Ray..” Rika menunjukan dengan menggunakan telunjuknya, bagian dimana di sana terlihat dua bulatan kecil sebesar buah kelengkeng.
Mata Rayyan terus terfokus pada layar monitor, terutama di bagian yang di tunjukkan oleh Rika. Dan dia begitu terkejut sekaligus bahagia setelah tau jika dirinya akan menjadi seorang ayah dari sepasang anak kembar. Mentaripun bahagia, meski ia sudah tau lebih dulu jika anaknya kembar. Dia tau dari dokter yang memeriksanya satu minggu yang lalu, hanya saja ia tidak memberitahukannya pada Rayyan.
“Sayang...anak kita kembar...?!.” Ucap Rayyan pada Mentari yang menunjukkan rasa bahagianya dengan mengecup berkalikali tangan Mentari yang sejak tadi ia genggam.
Mentari mengangguk pelan. Dan menarik tangannya dengan mata membulat. Ia kesal suaminya membuat dirinya malu di depan dokter Rika.
“Kondisi janin bagus. Berkembang dengan baik. Usianya kandungannya menginjak sebelas minggu. Jangan capek capek nyonya, banyak istirahat, makan makanan bernutrisi setiap hari.” jelas Rika yang kemudian kembali ke tempat duduk dan menulis resep disana.”Silahkan nyonya ini resepnya. diminum rutin ya vitaminya” Ucap Rika dengan senyum ramah .
“Baik dok...” Balas Mentari.
Rayyan yang baru saja duduk langsung mengambil kertas yang di sodorkan Rika. Setelah berbasa-basi sejenak pasangan suami istri berpamitan.
“Apa kamu juga sudah tau jika anak kita kembar?.” Tanya Rayyan pada istrinya begitu keduanya sudah berada dimobil setelah sebelumnya menebus resep di apotik.
Mentari mengangguk.
“Sudah aku duga. Huh.. Tari....Tari..... segitu bencinya kamu sama aku, sampai-sampai hal sepenting itu kamupun tidak mau memberitahuku. Padahal aku sumimu dan juga ayah dari anak yang ada dalam kandunganmu .” Ucap Rayyan dengan raut wajah dan nada bicara yang menunjukkan rasa kecewa.
__ADS_1
“Aku hanya belum sempat mengatakannya.” Balas Mentari, dengan menatap keluar jendela mobil.
Sepasang suami istri itu saling diam. Sibuk dengan perasaan mereka masing-masing. Rayyan berusaha menekan rasa kecewanya, agar tak berubah jadi amarah. Sementara Mentari dengan rasa bersalahnya tak berusaha untuk minta maaf meski ada dorongan untuk melakukannya.