Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Nasehat Nenek


__ADS_3

“Brakk....!!”Pintu kamar ditutup Mentari dengan keras, menimbulkan suara yang mengagetkan. Ia sengaja melakukan  sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya terhadap Rayyan. Wajah gadis itu memerah menahan amarah. Menganggap Rayyan tak menepati kesepakatan mereka.


Mentari masuk kekamar ayahnya dan menumpahkan kekesalannya disana. Sesekali ia mengusap kedua pipinya, dimana ada bekas cubitan Rayyan.


“Benar-benar pria breng*k.” Umpat Mentari. Mukena yang masih membungkus tubuhnya di lepas dengan kasar.  Dan dengan kasar pula ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


“Pria breng**k itu tidak boleh lama-lama berada di rumah ini. Tak perlu menunggu minggu depan!!.” Gumam Mentari masih dengan luapan emosi. Tangannya *******-***** bantal  bahkan sampai memukulinya.


“Uh...uh....uh.....bereng**k...breng**k.....!!!”  Bantal yang tak berdosa terus menjadi sasaran kekesalan Mentari. Sedetik kemudian bental itu dilempar ketika tampak wajah Rayyan yang tengah tersenyum muncul di permukaan benda itu.


“Ya Alloh...kenapa aku harus hidup dengan pria macam dia....hik...hik...hik....” Tangis mentari pecah, ketika dadanya terasa makin sesak dengan bermacam rasa.


Jika tak ingat di rumah ada nenek, gadis itu ingin menangis kencang dan berteriak untuk melegakan dadanya. Bahkan ia ingin sekali memukul pria yang telah dengan seenaknya memeluk tubuhnya bahkan menyentuh kedua pipinya.


“Uhuk...uhuk....uhuk....” Terdengar suara batuk sang nenek yang tengah melintas di depan kamar. Mentari dengan cepat menghapus air matanya. Takut wanita yang selama ini menjadi orang tua satu-satunya masuk da melihat keadannya yang sedang kacau.


Merasa telah mampu mengkondisikan dirinya, Mentari beranjak keluar untuk memastikan kondisi neneknya.


“Nenek tidak apa-apa?.” Tanya Mentari khawatir, karena neneknya masih batuk-batuk  dengan nafas tersengal. Mentari segera mengambil segelas air putih hangat dan menyerahkannya


pada nenek Winarsih.


“Nenek tidak apa-apa,hanya tersedak waktu minum di kamar tadi.” Ucap nenek Winarsih meyakinkan cucunya yang tampak mencemaskannya.


“Benar nenek tidak apa-apa? Atau kita kedokter aja nek.”


“Tidak usah. Nanti juga sembuh. Kamu tidak usah khawatir.”


“Syukurlah, kalau nenek tidak apa-apa.”


“Dimana suamimu?.”


“Suami?.” Mentari seperti lupa jika dirinya kini sudah bersuami.


“Iya, suami kamu mana?.”

__ADS_1


“Oh...iya...ya suami. Suami Tari dikamar nek. Sedang istirahat.” ucap Mentari gugup. Setelah ia ingat jika hari itu ia sudah menikah.


“Layani suamimu dengan baik. Karena melayani suami adalah tugas seorang istri. Jangan pernah membantah. Hormati dan hargai suamimu ya nak.”


Nasehat Nenek Winarsih sembari mengusap lengan sang cucu yang berdiri di depannya. Ingatannya melayang ke sosok putranya yang telah tiada. Ia ingat


bagaimana sang putra sebagi seorang suami di perlakukan buruk oleh istrinya. Ia


tak ingin Mentari meniru prilaku ibunya itu.


Mentari mencerna nasehat neneknya.


“Ah....seandainya aku menikah dengan pria yang aku cintai.Aku tidak akan keberatan menuruti nasehat nenek. Sayangnya, saat ini aku telah menikah


dengan pria yang telah berbuat buruk padaku. Apa yang telah ia lakukan,


membuatku berat melaksanakan tugasku sebagai istri. Huh... Memang pernikahan ini seharusnya tidak terjadi." Bukannya menanggapi nasehat nenek, Mentari malah terlihat larut dalam lamunan. Hingga ia tersadar saat neneknya menepuk pipinya.


“Tari....apa yang kamu pikirkan. Nenek sedang bicara denganmu.”


“Nasehat nenek bukan hanya untuk kamu dengar. Tapi juga kamu lakukan. Aku tidak ingin kamu meniru sikap ibumu.”


Mentari kembali diam. Nasehat nenek bertentangan dengan isi batinnya. Ia memang tidak akan meniru sikap ibunya, tapi ia juga tak yakin bisa bersikap manis pada Rayyan.


“Iya nek....” Jawab Mentari Meski terasa berat mengucapkannya.


“Ya sudah. Pergilah kedapur. Siapkan makan malam untuk suamimu. Nenek kekamar dulu.”


Mentari tak langsung melakukan apa perintah neneknya. Ia memilih duduk. Kembali merenungi nasehat neneknya. Berkali-kali ia mengusap wajahnya, dengan beberapa nafas panjang yang ia hembuskan. Hingga akhirnya kepala gadis itu berada di atas meja makan bertumpu kedua lengan dan terlelap.


Rayyan yang hendak ke kamar mandi melewatinya begitu saja. Tapi ketika kembali melewatinya, langkahnya terhenti. Sebuah senyuman tergambar di bibirnya. Perlahan ia mendekati istrinya dan berdiri di belakangnya. Kedua tangannya memegang kedua bahu Mentari sementara bibirnya ia dekatkan ketelinga perempuan itu.


“Sayaanggg......bangun yuk....” Begitu dekat bibir Rayyan ke telinga Mentari, sehingga suaranya masuk sempurna ke gendang telinga dan langsung membuat Mentari terjaga. Begitu sadar wajah siapa yang terpampang di depan wajahnya, Mentari langsung mendorong tubuh Rayyan dan bangun dari duduknya dan segera berdiri menjauh.


Meski tubuhnya didorong dengan kasar, Rayyan tetap menunjukkan senyumannya.

__ADS_1


“Tidak usah kaget begitu, aku hanya ingin membangunkan kamu.”


“Kamu pikir aku percaya!. Kamu mau mengambil kesempatan kan!.”


“Jangan suka berprasangka buruk sayangg....apalagi sama suamimu


sendiri. Hemm....” Rayyan lagi-lagi menunjukkan senyumannya.”Coba kamu lihat jam dinding itu. Dari situ kamu akan tau kenapa aku membangunkanmu.”


Meski kesal, Mentari mengarahkan matanya ke jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore. Matanya


membulat sempurna.


“Ya Alloh kenapa aku bisa ketiduran.” Gumam Mentari, dengan mata melirik kearah Rayyan yang melenggang pergi meninggalkannya.


“Buatkan aku kopi. Anggap itu sebagai imbalan karena aku telah membangunkanmu.” Ucap Rayyan dengan terus melangkah menuju kamar.


Kali ini ia tak bisa menolak, jika Rayyan sudah melakukan hal yang benar padanya. Ia memang harus bangun, karena ia harus menyiapkan makan malam untuk neneknya dan juga untuk suaminya.


Kopi pertama yang ia buat untuk suaminya telah siap. Ia meletaknnya di meja ruang tamu.


“Kopinya ada di meja depan. Keluarlah, aku mau solat.” Mentari masuk ke dalam kamar dan bersiap mengenakan mukena.


“Apa kamu tidak ingin solat dengan suamimu ini?.”


“Kamarnya sempit jika untuk solat berjamaah.”


Rayyan bangkit dari duduknya. Dengan cekatan ia menyingkirkan beberapa barang hingga ruang kamar itu cukup untuk solat bersama istrinya.


Jadilah sepasang pengantin baru itu solat berjamaah. Meski sudah lama Rayyan meninggalkan solat, tapi pria itu masih hafal dengan semua doa solat.


“Ternyata bisa solat juga ini orang.” Batin Mentari, yang sempat menyangka jika pria ini tidak bisa solat.


Saat asik dengan hatinya, ia dikejutkan oleh Rayyan yang mengulurkan tangannya mengajak bersalaman ketika selesai solat. Meski dengan terpaksa, Mentari akhirnya menyambut tangan suaminya dan menempelkannya di dahi.


Setelah berdoa sejenak, Rayyan keluar menuju ruang tamu. Secangkir kopi sudah menunggunya disana. Sementara Mentari menuju ke dapur untuk membuat makan malam.

__ADS_1


__ADS_2