Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Pengakuan Bianka


__ADS_3

“Sayang...lagi ngapain?.”


Lima menit kemudian.


“Nggak lagi ngapa-ngapain.”


“Maaf ya, terpaksa aku ninggalin kamu.Untuk sementara kok.”


Tujuh menit kemudian.


“Nggak apa-apa, lama juga nggak apa-apa kok.”


“Kok gitu....kalau kangen gimana.?.”


“Nggak bakalan kangen....”


“Yakin??.”


Tak ada balasan sampai berjam-jam.


Sudah tiga hari Rayyan meninggalkan Mentari.Setiap hari Rayyan sempatkan untuk menanyakan kabar istrinya melalui pesan singkat. Meski selalu mendapatkan balasan yang tidak sesuai harapannya, Rayyan tak pernah mempermasalahkan, yang penting dia tau kabar istrinya. Sudah mau membalas pesannya saja sudah untung, pikir Rayyan.


Rayyan memang harus bisa membagi perhatiannya untuk istri,adik dan pekerjaannya. Ketiganya penting tapi untuk saat sekarang adiknya menjadi prioritas.


Rasa lelah tak Rayyan rasakan meski harus bolak-balik kantor dan rumah sakit. Selesai dengan pekerjannya Rayyan akan langsung ke rumah sakit untuk menamani adiknya. Begitu juga saat jam makan siang, ia memilih makan bersama adiknya di rumah sakit. Saat ia bekerja, Rayyan memeprcayakan salah satu ARTnya untuk menemani dan melayani kebutuhan Bianka.


Kondisi Bianka semakin hari semakin membaik.Selain karena obat-obatan yang mendukung kesembuhannya, perhatian dan kasih sayang kakaknya menjadi salah satu kekuatannya untuk segera pulih dan bangkit dari keterpurukan. Tentu Rayyan sangat senang melihat hal itu.


Setelah seminggu di rumah sakit akhirnya Bianka pulang ke rumah dengan kondisi yang lebih baik, meski masih harus banyak istirahat.


“Boleh kakak masuk?.” Rayyan yang baru saja selesai mandi sepulang dari kantor, langsung menemui adiknya. Melihat kondisi adiknya yang tampak jauh lebih baik, Rayyan memutuskan untuk berbicara dengan Bianka di kamarnya.


“Masuklah kak.” Bianca meletakkan ponsel yang ia pegang, begitu mendengar suara kakaknya yang sudah berdiri di ambang pintu.


Rayyan menarik kursi dan duduk di depan adiknya yang tengah duduk bersandar di ranjang, dengan sebagian tubuh tertutup selimut.

__ADS_1


“Bian, tolong ceritakan sama kakak apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, sampai kamu melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu?.”


Bianca langsung menunduk, saat Rayyan menatapnya.Gadis itu terdiam dengan rasa takut.


“Bian....tolong jawab kakak.” Rayyan berusaha melembutkan suaranya agar adiknya tak merasa tertekan.


Tapi itu tak membuat Bian mengangkat wajahnya. Saat tangan sang kakak mengangkatnya, mata Bian telah berair.


“Jika kamu memang belum siap menceritakan semuanya sama kakak sekarang, tidak apa-apa.Bisa lain waktu jika kamu sudah siap.”


Rayyan bangkit dari duduknya. Melihat air mata di mata Bianka, Rayyan tak tega untuk memaksa adiknya itu menjawab rasa penasarannya.Jadi ia memutuskan untuk meninggalkan adiknya.


“Kak...” Rayyan hampir mencapai pintu, ketika Bian meamnggilnya. Rayyan berbalik dan kembali duduk.


“Sudah jangan menangis. Kakak paling tidak bisa melihat gadis cantik menangis .” Tangan Rayyan mengusap airmata yang telah mengalir di pipi adiknya dan memberikan senyuman untuk menguatkan.


“Maafin Bian kak. Bian sudah bikin kakak kecewa dan malu.”


Rayyan memeluk Bian yang kembali mengeluarkan airmata.


“Kak, Bian terpaksa menggugurkan kandungan Bian, karena Bian malu, Bian bingung. Bian juga takut kakak akan marah jika kakak tau Bian hamil. Sungguh kak, Bian terpaksa karena laki-laki yang menghamili Bian tidak mau bertanggung jawab.”


 “Siapa yang menghamilimu?” Tanya Rayyan menyela dengan nada yang meninggi. Mendengar laki-laki yang menghamili Bian tidak mau bertanggung jawab, darah Rayyan bergejolak.


“ Arbi kak, pacar Bian.”


“Arbi?.” Nama yang baru pertama kali Rayyan dengar dan untuk pertama kalinya juga ia tau jika adiknya punya pacar. Itu karena selama ini Rayyan tidak pernah memperhatikan adiknya.”Apa dia satu kampus denganmu?.”


Bianka menggeleng.”Dia tidak kuliah tapi bekerja sebagai barista di coffe shop tempat Bian dan teman-teman sering ngumpul.Bian sudah memberitahunya tentang kehamilan Bian, tapi dia menolak ketika Bian minta dia menikahi Bian. Dia beralasan jika dia belum siap berumah tangga, karena ia belum mapan. Setelah hari itu, Arbi menghilang. Bian sudah mencarinya di tempat kerja, di kontrakannya dan di tempat-tempat dia biasa berkumpul dengan temannya. Tak ada satupun temannya yang tau keberadaanya. Bahkan alamat orangtuanyapun tak ada yang tau. Bian bingung waktu itu, tak lagi bisa berpikir jernih. Setelah satu bulan tak ada kabar tentang keberadaan Arbi, Bian memutuskan untuk menggugurkan kandungan Bian. Bian berharap bukan hanya janin yang hilang dari perut Bian, tapi juga nyawa Bian. Karena Bian tak sanggup menanggungnya sendiri.”


“Kenapa kamu tidak menceritakannya sama kakak dari awal.?”


“Bian tidak berani. Takut kakak marah dan membenci Bian.”


“Seharusnya kamu kasih tau kakak, agar kakak bisa membantumu. Jika kakak tau dari awal kejadiannya tidak akan seperti ini.”

__ADS_1


“Maaf kak....” Bian kembali menunduk, tak berani menatap wajah kakaknya yang terlihat berubah, tak seteduh tadi. Rasa kecewa dan amarah terlihat di wajah pria itu dengan tangan mengepal.


Meski Rayyan kecewa dan marah,keadaan tidak akan berubah. Bianka tak akan kembali menjadi gadis yang sempurna, kerena kehormatannya telah hilang. Hilang di renggut oleh kekasihnya sendiri.


“Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?.”


“Hampir enam bulan kak.”


“Apa dia benar-benar mencintaimu?.”


“Setau Bian, Arbi sangat mencintai Bian. Dia sangat sabar menghadapi Bian. Dia selalu baik sama Bian.”


“Jika dia laki-laki baik, dia tidak akan menghamilimu dan pergi begitu saja.”


Bianka terdiam membenarkan ucapan kakaknya, tapi apa yang ia katakan tentang Arbi juga benar, karena ia lebih mengenal Arbi daripada kakaknya.


“Apa kalian sering melakukan perbuatan yang tak seharusnya kalian lakukan?.”


Bianka mengangguk berat karena malu.


“Apa kamu melakukannya hanya dengan Arbi?.”


“Iya kak....hanya dengan Arbi.”


Terdengar Rayyan membuang nafas. Lalu berdiri dan keluar dari kamar adiknya tanpa bicara. Meninggalkan keresahan di hati Bianka.


Keluar dari kamar Bianka, Rayyan melangkah menuju halaman belakang rumah yang luas dengan kolam renang dan pepohonan rindang. Berharap akan mendapatkan udara segar disana, untuk melegakan rongga dadanya yang terasa sesak setelah mendengar pengakuan Bianka.


Ia menyesalkan dengan apa yang terjadi dengan adiknya. Kenapa adiknya meniru kelakuannya, yang juga sering melakukan hubungan badan dengan Nania saat mereka masih pacaran dulu, meski Rayyan bukan yang pertama bagi Nania. Bedanya, ia tak pernah menebarkan benihnya di dalam rahim Nania.


Beberapa kali terlihat, Rayyan mengusap wajah dan mengacak rambutnya. Menunjukkan kegusaran hatinya.


Cobaan seperti datang silih berganti tanpa jeda. Kehilangan Nania, Kehilangan ibu kandung, menggagahi Mentari, sekarang adiknya hampir terenggut nyawanya karena aborsi.Semua terjadi tanpa di duga. Cukup membuat Rayyan jatuh dalam kesedihan yang dalam.


“Mungkin karena terlalu banyak dosa yang aku perbuat, sehingga tuhan menghukumku seperti ini” Rayyan menyimpulkan setelah ia mengingat perjalanan hidupnya selama ini. Selama ini hidupnya bergelimang harta, tapi juga bergelimang dosa.

__ADS_1


Menyesali, meratapi apa yang telah terjadi dirasa percuma, tidak akan merubah apapun. Rayyan mencoba menenangkan batinnya agar bisa berpikir jernih. Ia harus melakukan sesuatu untuk bisa membantu adiknya dari keterpurukannya dan memulai untuk menata kembali kehidupannya.


__ADS_2