Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Niat Baik


__ADS_3

Kendaraan Sandra terus melaju, sementara dirinya terus berkutat dengan pikirannya.Memikirkan nasib gadis yang duduk disebelahnya,yang setelah melihat Rayyan Arga wajahnya memucat.


“Akhhhh.....” Mentari tiba-tiba berteriak ketakutan, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Sandra yang terkejut langsung menghentikan kendaraannya di tepi jalan.


“Tari....Kenapa.....Tari...!!.” Sandra panik melihat sahabatnya ketakutan dengan wajah pucat dan berkeringat.


“Jangan sentuh aku....!!”Teriak Mentari lagi ketika Sandra memegang bahunya.


“Tari....ini aku Sandra...!.” Sandra meraih wajah Mentari  agar melihat kearahnya. Dengan tatapan kosong dan bibir bergetar Mentari melihat kearah Sandra.


“Jangan....jangan......tolong.....jangan.....!.” Lagi,Mentari berbicara seperti orang yang berada di bawah alam sadar.


“Astaghfirullohhal’adzim.....Tari...!.” Sandra menarik tubuh Mentari kedalam pelukan, sesaat setelah ia menyadari apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya. Mentari mengalami trauma dan saat ini jiwanya tengah terguncang setelah melihat Rayyan.


“Jangan takut Tari....aku ada disini untuk melindungimu.Tenanglah.....” Ucap Sandra. Mencoba menenangkan Mentari. Diusapnya punggung sang sahabat, yang berangsur tenang dan diam. Diam karena gadis itu pingsan.


“Tari....hai Tari....!!.” Sandra menepuk-nepuk pipi Mentari tapi tak ada respon. Berusaha tetap tenang, Sandra yang telah di menyandarkan tubuh Mentari dikursi nya, segera menghubungi Dinda.


“Aku dirumah, bawa saja dia kesini.” Balas Dinda. Dan sandra langsung melajukan kendaraannya . Begitu sampai, Dinda telah menunggu dan segera membatu Sandra menurunkan tubuh Mentari yang terkulai lemah.


Tubuh mentari yang ramping, memudahkan dua sahabat itu membaringkan tubuh Mentari di atas ranjang pasien yang ada diruang praktek Diana.


Sembari mendengarkan penjelasan Dinda tentang apa yang terjadi dengan mentari, Dinda memeriksa kondisi gadis malang itu.


“Sepertinya ia mengalami trauma.” Diana menyimpulkan.


“Dugaanku juga seperti itu.” Ucap Sandra yang tampak khawatir dengan kondisi Mentari.


“Kita harus bawa di ke.....” Dinda menghentikan ucapannya ketika ponsel Sandra yang tergeletak di atas meja berdering. Sebuah nomor tanpa nama muncul di layar ponsel Sandra. Sejenak ia ragu untuk mengangkat, tapi


akhirnya ia mengangkat panggilan itu, terdorong oleh rasa penasaran.


 “Selamat siang nona Sandra.”


“Selamat siang, Maaf dengan siapa ya?.”


“Saya Rayyan Arga”


Sandra sejenak berbisik ke arah Diana. Memberi tahu siapa yang tengah menghubunginya. Diana mengangguk tanda mengerti dan tampak penasaran ingin mendengarkan percakapan Sandra dengan Rayyan. Sandra mengerti,


dan langsung menambah volume ponselnya.


“Oh....tuan Rayyan Arga. Saya kira anda tidak akan menghubungi saya.”


“Saya bukan pria yang tidak bisa menepati janjinya.”


“Baguslah.....Terus bagaimana keputusan anda?.”


“Saya ingin bicara langsung  dengan teman anda.”

__ADS_1


“Teman saya yang mana?.”


“Isshhh....teman anda yang harus aku nikahi.Namanya siapa? maaf saya lupa.”


“Lupa atau tidak tau?.”


“Ck.....saya lupa.” Jawab Rayyan asal karena ia sendiri tidak tau, dia lupa atau tidak tau sama sekali nama gadis yang harus ia nikahi itu. Sandra dan Diana tersenyum, berhasil membuat Rayyan Arga kesal.


“Teman saya untuk saat ini tidak bisa di ganggu. Dia sedang istirahat, karena sakit.”


“Sakit? Anda mau membohongi saya. Bebarapa menit yang lalu saya melihatnya. Dan dia dalam keadaan baik-baik saja.”


“Iya,memang dia baik-baik saja, tapi sebelum dia melihat anda. Seakarang dia pingsan, setelah ketakutan melihat wajah anda tuan Arga!.”


“Jangan bercanda nona.”


“Huh....kalau anda tidak percaya, akan aku kirimi vidionya nanti.”


Mode panggilan langsung Rayyan rubah menjadi panggilan Video. Pria itu ingin membktikan ucapan Sandra. Segera Sandra mengarahkan kamera ponselnya ke arah gadis yang masih terpejam di ranjang pasien.


“Sekarang anda percaya tuan...?.”


“Nania...!?.” kembali Rayyan memanggil nama kekasihnya ketika menatap wajah mentari. Namun langsung di protes oleh Diana.


“Jangan asal panggil nama orang ya. Dia sahabatku, bukan pacarmu. Namanya Mentari bukan Nania....!.”


“Jangan....Saya tidak mau dia pingsan lagi. Dia belum siap bertemu dengan anda saat ini. Lebih baik anda katakan saja pada kami. Anda siap menikahi Mentari atau tidak !!.” Sandra melarang karena ia tak mau kejadian tadi terjadi lagi.


“Saya akan menikahinya.” Jawab Rayyan tanpa ada keraguan. Apa yang terjadi dengan ibunya, menjadi sebuah alasan kenapa ia tidak ragu menikahi Mentari, tak peduli lagi dengan status sosialnya.


“Anda sungguh-sungguh dengan ucapan anda!.” Sandra memastikan pendengarannya tidak salah.


“Saya sungguh-sungguh.”


“Baik....besok saya akan mengajak mentari menemui anda untuk membicarakan soal pernikahan kalian.”


“Oke saya tunggu besok. Nanti akan saya beritahu dimana kita bisa bertemu.”


Rayyan mengakhiri panggilannya. Sesaat kemudian ia mengirim alamat sebuah restoran .


Sandra dan Diana terlihat lega, karena Rayyan menepati janjinya.


“Tapi tunggu.....Jika besok bertemu Rayyan, apa Tari tidak akan seperti ini lagi?.” Sandra khawatir


“Entahlah...tapi tidak ada salahnya kita coba. Bagaimanapun Tari harus terbiasa dengan keberadaan Rayyan, karena mereka akan menjadi suami istri nantinya.”


“Kita bicarakan dulu saja hal ini ke Mentari. “


“Hem...iya , kau benar.”

__ADS_1


“Apa yang ingin kalian bicarakan padaku?.” Mentari membuat kedua sahabatnya terkejut , ketika melihatnya tengah berdiri di ambang pintu dan tampak masih lemah.


“Tari....” Teriak keduanya, dan segera mendekati sahabatnya.


“Jangan bangun dulu Tari, kamu harus istirahat. Kamu masih lemah.” Ucap Sandra yang menyesal karena seharusnya dia ada ketika Mentari siuman. Sehingga ia bisa mencegah sahabatnya turun dari ranjang.


“Aku tidak apa-apa.” Pengakuan Mentari yang  tak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir.Dengan di papah Dinda, gadis itu melangkah menuju sofa dan duduk bersandar disana. Menghabiskan segelas teh hangat manis dan beberapa biskuit untuk memulihkan energinya.


“Sekarang katakan, apa yang ingin kalian bicarakan denganku!.” Ucap Mentari masih diliputi rasa penasaran.


Dinda dan Sandra saling pandang, bingung harus bagaimana.Mengingat kondisi Mentari yang belum pulih. Takut jika mereka membicarakan soal Rayyan akan menambah buruk kondisi gadis itu.


“Kita bicarakan nanti setelah kamu pulih.” Ucap Dinda berharap Mentari tak terus menuntutnya.


“Aku tidak apa-apa,Aku sehat.Ayolah...katakan. Jangan buat aku makin penasaran!.”


Dinda dan Sandra makin bingung, harus mulai darimana ia menjelaskan soal Rayyan yang ingin menikahinya.


“Sebelum aku mengatakan, aku ingin dengar dulu. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu tadi. Sampai kamu pingsan.” Ucap Dinda yang sebenarnya sudah tau.


Mentari terdiam dan menunduk. Mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang pertama kali muncul di benaknya adalah wajah Rayyan. Mata gadis itu langsung terpejam agar bayangan wajah itu hilang. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, wajah Rayyan tergambar jelas di pelupuk matanya.Dan ia tak bisa mengelak.


“Tari kau tidak apa-apa?.” Tanya Sandra cemas karena Mentari tak kunjung berbicara.


“Aku tidak apa-apa.Kalian jangan terlalu mengkhawatirkan aku.” Jawab Tari dengan senyum yang dipaksakan.”Aku tadi melihat pria itu.Aku merasa dia mendekatiku dan ingin melakukan perbuatan itu lagi padaku. Aku sangat takut. Ketakutan itu persis seperti yang aku rasakan pada malam itu. Setelahnya aku tak tau lagi apa yang terjadi. Tau-tau aku sudah disini bersama kalian.”Tari menatap kedua sahabatnya yang tengah menatapnya dengan tatapan cemas.


“Aku sudah cerita, sekarang tinggal kalian yang bicara.”Lanjut Tari.


“Sandra...”Panggil Dinda menganggukan kepala, dengan maksud  agar Sandra yang bicara.


“Begini Tari, Rayyan Arga ingin bertemu dengan kamu besok!.”


Wajah Mentari seketika berubah ekspresi.


“Aku tidak mau.....aku tidak mau mengalami hal buruk itu lagi.”


“Hemmmm.......Tenang Tari. Dia ingin bertemu kamu bukan karena ingin berbuat buruk lagi sama kamu. Dia hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya.”


“Aku tidak percaya manusia itu akan bertanggung jawab. Dia tak punya hati, sombong, dia pria terjahat yang pernah aku temui.Jangan percaya dengan omongan pria itu Sandra!.”


“Tari....bisa atau tidak bisa, bukankah pria itu tetep harus bertanggung jawab.Dan kamu ingin dia melakukan itu kan?.Pria itu baru saja berbicara dengan kita, jika ia akan menikahi kamu secepatnya. Besok dia ingin bertemu denganmu untuk membicarakan hal itu.Kamu bisa kan menemui Rayyan besok?. ” Ucap Dinda. Membuat Mentari terdiam.


“Aku akan menemanimu besok.” Sambung Sandra.


“Aku belum bisa menjawab. Aku butuh waktu untuk berpikir.”


“Baiklah....tidak apa. Besok Rayyan akan menemui kamu jam dua siang. Aku harap kamu bisa datang. Karena dalam hal ini kamu pihak yang paling dirugikan jadi kamu jangan menolak niat baik Rayyan.” Ucap Dinda, meski sebenarnya ia ragu Rayyan akan bersikap baik pada Mentari setelah mereka menikah, mengingat bagaimana


Rayyan memperlakukan ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2