
Mata mentari berkali-kali melirik kearah suaminya yang tengah duduk membuang pandangannya kejalanan yang mereka lalui.Sejak masuk danduduk berdampingan didalam mobil, tak ada satu katapun keluar dari mulut pria itu. Suasana menjadi canggung. David yang ingin tau kemana ia harus membawa bosnya itupun tak berani bertanya. Apalagi setelah ia melihat raut wajah bosnya yang terlihat tengah menahan amarah. Hingga akhirnya David memutuskan akan membawa bos dan istrinya ke kantor.
Keberadaan David menjadi alasan Mentari untuk tetap diam,meski sebenarnya ia ingin sekali menjelaskan pada suaminya kenapa dirinya berada restoran itu bersama Dika.
Merasa tidak tahan dengan sikap Rayyan,akhirnya Mentari memutuskan untuk turun dari mobil ketika ia menyadari jalanan yang ia lalui tidak mengarah kerumahnya.
“Vid, didepan berhenti ya...!”
“Iya nyonya...”
David meminggirkan kendaraannya dan langsung turun membukakan pintu untuk Mentari.
“Mas...aku turun disini ya?!.” Mentari akhirnya turun meski pria yang telah ia panggil dengan sebutan mas itu tak merespon ucapannya. Dengan mata yang mulai berair karena sikap suaminya, Mentari berdiri ditepi jalan sembari menatap mobil Rayyan yang bergerak meninggalkannya.
Ketika mobil Rayyan tak terlihat lagi,Mentari melangkah menuju sebuah bangku panjang yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Airmata makin banyak menggenang di sudut mata wanita itu. Sebelum mengalir Mentari buru-buru menyapunya menggunakan tisu dengan menahan rasa sesak didadanya.
Wanita itu resah karena rasa bersalahnya. Seharusnya ia tak bicara apapun pada Dika tentang dirinya dan Rayyan. Karena kebodohannya itu kini dia di diamkan oleh suaminya.
Hampir lima menit Mentari duduk di pinggir jalan, belum ada tanda-tanda ingin beranjak pergi. Itu karena ia masih belum bisa menentukan pilihan mau pulang atau menyusul sang suami untuk menjelaskan dan meminta maaf.
Kegelisahan wanita itu terbaca oleh Rayyan yang berada tidak jauh darinya. Rayyan meminta David memutar balik kendaraannya. Ia tak tega meninggalkan wanita yang tengah mengandung calon anaknya sendirian di pinggir jalan,meski ia merasa kecewa pada istrinya itu. Ia juga khawatir sikapnya tadi akan melukai perasaan Mentari, yang beberapa hari belakangan begitu perhatian padanya.
Rayyan ingat saat itu ia pulang kerja larut malam. Mentari menunggunya pulang sampai tertidur di sofa ruang tamu.
Flasback On
“Hem...Tari, kenapa dia tidur disini?.” Rayyan yang baru saja pulang dari luar kota, terkejut ketika membuka pintu melihat istrinya tertidur di sofa dengan menggenggam ponsel. Setelah meletakkan jasnya, Rayyan bergegas mengangkat istrinya. Tapi ia kemudian tersenyum begitu melihat layar ponsel istrinya yang masih menyala menunjukkan foto-foto dirinya yang sepertinya di ambil oleh Mentari tanpa sepengetahuannya. Membuatnya gemas, dan langsung menghujami wajah istrinya dengan ciuman.
“ Ternyata kamu nakal juga ya....” Ucap Rayyan dengan tawa kecilnya dan kembali menciumi istrinya yang akhirnya terbangun karena terusik.
“Emmmm....Mm...Mas....” Setelah sadar orang yang ditunggunya sudah kembali, Mentari langsung memberi kejutan dengan memanggil Rayyan dengan sebutan mas. Tentu itu membuat Rayyan terkejut tapi juga bahagia. Karena untuk pertama kalinya ia mendengar sang istri memanggilnya. Selama ini istrinya tak pernah menyebut namanya apalagi pakai sebutan saat mereka berbicara.
__ADS_1
“Kamu nggak lagi mimpi kan panggil aku mas?.” Rayyan duduk di samping Mentari yang langsung duduk ketika terbangun.
“Enggak....”Balas Mentari yang kemudian tertunduk karena malu sembari tersenyum tipis.
“Aku pengen denger lagi,boleh?.”
“Tentu boleh Mas Rayyannnn...” Ucap Mentari dengan penekanan saat menyebut nama suaminya . Menimbulkan senyuman dibibir Rayyan dan akhirnya dengan gemas mencium bibir wanita yang telah berhasil menghilangkan rasa lelahya setelah bekerja.
Setelah berhasil mendorong tubuh Rayyan,hingga ciuman pria itu terlepas Mentari langsung bangkit dan melangkah cepat masuk kedalam. Rayyan dengan cepat menyusulnya dan mendapati istrinya hendak menghangatkan makanan dimeja makan yang sudah dingin.
“Makanannya sudah dingin, jadi aku hangatkan dulu ya.” Rayyan mengangguk seraya tersenyum karena wajah istrinya masih memerah.
Sebenarnya ia sudah kenyang, tapi Rayyan tidak mau mengecewakan istrinya, dan dia yakin istrinya belum makan. Karena beberapa hari terakhir Mentari selalu menunggunya untuk makan malam bersama.
Selagi Mentari menghangatkan makanan, Rayyan pergi mandi dan berganti pakaian yang ternyata sudah disiapkan istrinya di atas ranjang.
Selesai makan, Rayyan mengajak istrinya untuk segera tidur. Tanpa malu ataupun canggung Mentari tidur di dalam pelukannya bahkan tanpa ia menyuruhnya.Rayyan tentu menyambutnya dengan bahagia. Usahanya untuk menaklukan hati Mentari,sepertinya membuahkan hasil.
Akhirnya istri Rayyan itu sadar jika dirinya sedang dikerjai oleh suaminya. Mentari menyusupkan jemarinya di ketiak Rayyan, dan menggelitiknya. Karena rasa geli Rayyan akhirnya membuka mata dan tertawa, mencoba menyingkirkan jari istrinya yang terus bergerak-gerak di ketiaknya.
“Geli sayang....udah...udah.....ha....ha....” Rayyan akhirnya berhasil menarik tangan Mentari, dan berbalik membuat istrinya geli dengan bulu-bulu halus di dagu yang belum sempat ia cukur. Ia mengusap-usapkan dagunya di pipi Mentari. Tapi tak berapa lama tawa Mentari berubah menjadi lengkuhan, ketika sang suami mulai memberi sentuhan lembut di bagian sensitifnya.
Terjadilah serangan fajar yang di lakukan oleh Rayyan. Dan serangan baru selesai ketika terdengar adzan subuh bersamaan dengan pelepasan di keduanya.
Kegiatan itu hampir terulang ketika Mentari memasangkan dasi di leher suaminya.
“Mas...!!.” Mentari terpaksa mecubit pinggang suaminya yang terus saja mencium dan me*** bibirnya.”Nih pasang sendiri dasinya...!” ucap Mentari kesal dan langsung turun dari nakas yang didudukinya.
“Iya..iya...nih aku diem.” Rayyan menahan istrinya untuk tetap duduk di nakas.Agar Mentari percaya dengan ucapannya, Rayyan menyembunyikan kedua tangannya di balik pinggang.
Masih dengan wajah kesal, Mentari kembali memasangkan dasi di leher Rayyan. Dengan sigap Mentari menahan bibir Rayyan yang mengarah kebibirnya. Rayyan memang tidak mampu menahan hasratnya jika berada di jarak yang begitu dekat dengan Mentari. Jika tidak ingat hari itu ada rapat penting, mungkin ia memilih untuk tetap dirumah, menghabiskan hari bersama istri yang kini bukan hanya raganya yang ia miliki, tetapi juga telah berhasil memiliki hatinya.
__ADS_1
“Masyaa Alloh gantengnya suamiku...” Ucap Mentari memuji ketika baru selesai memakaikan jas ke tubuh suaminya. Pujian Mentari untuk Rayyan bukan hanya ucapan, karena mata wanita itu juga menyiratkan kekaguman.
Untuk pertama kalinya sang istri memujinya. Memberi rasa berbeda di hati Ryyan. Pria itu tersenyum dan kemudian menarik tubuh istrinya kedalam pelukan.
“I love You.” Ucap Rayyan dengan rasa haru di hatinya.
“I love you too.” Hanya beberapa kata, tapi mampu membuat Rayyan kehilangan kata-kata sehingga ia hanya mampu mengeratkan pelukan dan seolah enggan melepasnya.
“Makasih sayang....sudah hadir dalam hidupku, dan menjadi milikku.” Rayyan semakin terharu. Perjuangannya selama ini terbayar sudah.
“Iya....” Balas Mentari mengurai pelukan Rayyan sembari tersenyum.” Berangkatlah, nanti kamu terlambat.”
“Sepertinya akau harus menunda meetengnya.” Rayyan mengendurkan dasi dan hendak melepas jasnya.
“Kenapa?.” tanya Mentari heran.
“Aku ingin bersama istriku saja di rumah.” Mendengar ucapan Rayyan, Mentari langsung membetulkan dasi dan jas yang di kenakan suaminya.
“Kamu harus kerja, ada istri yang harus kamu nafkahi bukan?.”
“Sehari atau seminggu tidak bekerja, tidak akan membuat istriku ini kehilangan haknya. “
“Tidak...tidak....cepat berangkat sekarang!.” Mentari menarik tangan suaminya keluar kamar sampai di depan pintu mobil.”Hati-hati di jalan.” Pesan Mentari, yang kemudian mencium tangan suaminya dan dibalas ciuman dikening oleh suaminya.
Hati Rayyan bergetar menerima sentuhan di tangannya. Untuk pertama kalinya Mentari mencium tangannya. Sebagai seorang pria, ia merasa menjadi suami yang paling bahagia dan paling beruntung saat itu.
“Ya udah, aku berangkat ya. Kamu hati-hati juga di rumah. Jaga anak kita.”
Mentari mengangguk dengan senyum manis di bibirnya. Dan kemudian melambaikan tangan begitu suaminya melajukan kendaraannya.
Senyum Mentari tak kunjung sirna dari wajahnya. Bukan lagi senyum untuk Rayyan , tapi untuk apa yang telah ia lewati dari malam hingga pagi bersama Rayyan. Akhirnya dia berhasil membunuh egonya, dan mengakui jika dirinya bukan lagi membenci Rayyan tetapi telah mencintainya.
__ADS_1
Flashback OFF