Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Rayyan Bikin Kesal


__ADS_3

Suara ketukan di pintu membangunkan Rayyan yang telah tertidur selama satu jam.


Dua perawat  yang berdiri di depan pintu akhirnya masuk, setelah Rayyan mempersilahkan dua perawat itu masuk untuk memeriksa kondisi nenek .


Bukan hanya Rayyan yang terbangun, nenek Winarsih dan cucunya juga terbangun. Tak sampai sepuluh menit, dua perawat itu telah selesai dengan tugasnya dan langsung beranjak pergi.


“Bagaimana nek merasa lebih baik sekarang?.” Tanya Rayyan yang mendekat ke nenek Winarsih.


“Alkamdulillah sudah lebih baik nak...” Jawab nenek Winarsih dengan suara lirih.


“Syukurlah.....kami sempat khawatir waktu melihat nenek pingsan.”


“Maaf ya nak....baru sehari jadi mantu, tapi nenek sudah merepotkan kamu.”


“Tidak nek, sama sekali tidak merepotkan.”


“Nenek tak yakin jika nenek tak merepotkan kamu. Kamar ini pasti mahal dan kamu pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk membayarnya.Belum lagi biaya yang lain. Nak...apa tidak sebaiknya nenek pindah ke kamar


yang lebih murah saja. ”


“Nek....semua ini bukan Rayyan yang membayarnya kok, tapi kantor tempat Rayyan bekerja. Ini fasilitas kesehatan yang di berikan oleh kantor untuk karyawan dan keluarganya. Jadi nenek tidak usah khawatir.”


“Benar begitu?.”


Rayyan mengangguk. Tapi wanita yang tengah duduk diatas bed dan dari tadi hanya jadi pendengar, tak percaya dengan ucapan Rayyan. Ia ingin sekali membongkar kebohongan Rayyan pada nenek tapi itu tak mungkin. Karena itu sama artinya ia membongkar identitas Rayyan. Dan juga membongkar kebohongannya selama ini yang mengatakan jika Rayyan hanyalah seorang karyawan bukan seorang direktur.


Akhirnya Mentari memilih diam, dan nanti pada saatnya ia akan membicarakan dengan Rayyan soal biaya rumah sakit.


“Nenek istirahat saja, jangan memikirkan apapun, biar nenek cempat sembuh.”


“Iya, nenek akan segera sembuh biar cepat pulang, dan kalian bisa pergi bulan madu. Nenek sudah tidak sabar ingin gendong cicit...” Ucap nenek Winarsih tampak menunjukan senyumannya dan dibalas senyuman oleh Rayyan.


“Doakan saja nek, semoga bulan depan nenek bisa mendengar cicit nenek ada dirahim Mentari.”


“Pasti.....nenek akan mendoakan itu. Karena nenek ingin menggendong cicit nenek, sebelum tuhan memanggil.”

__ADS_1


“Bukan hanya menggendong nek, tapi juga menemani cicit nenek main sepeda...he...he....betul kan yang?.” Ucap Rayyan yang kemudian meneyentuh tangan Mentari yang duduk di sebelahnya, agar wanita itu mengiyakan ucapannya.


“Iya nek....nenek harus selalu sehat dan berumur panjang, biar bisa main dengan anak Tari sepuasnyaaa.....” Ucap Mentari mengiyakan ucapan Rayyan. Karena ia memang berharap neneknya bisa menemaninya merawat anaknya kelak.


“Bukan hanya anak kamu, tapi anakku juga, anak kita yang...” Protes Rayyan, tak terima. Seraya tangannya kembali menyentuh tangan istrinya, bahkan menarik dan menciumnya.


“Jangan kurang ajar....!”Bisik mentari di dekat telingga Rayyan dengan nada kesal. Rayyan hanya tersenyum.


“Itu hukuman.” Balas Rayyan disela senyumannya dengan suara berbisik.


Nenek Winarsih tersenyum melihat wajah Mentari yang merona merah.


“Kenapa kesal seperti itu Tari, Rayyan kan suami kamu!.” Ucap nenek yang secara tidak langsung membela Rayyan. Hati Mentari bertambah kesal, melihat Rayyan kembali tersenyum seolah merasa menang.


“He...he...tidak kesal kok nek.” Ucap mentari berbohong.”Nenek mau makan buah...?.” Ucapnya lagi, untuk mengalihkan pembicaraan.


“Iya boleh.”


“Kalau begitu saya duduk di luar ya nek.” Pamit Rayyan, dan diiyakan oleh nenek Winarsih.


“Nanti kalau dia ingin makan apel pasti dia akan ambil sendiri.” Jawab Mentari yang dalam hatinya menolak mentah-mentah perintah neneknya.


“Sebagai istri kamu harus bisa melayani suami dengan baik, sekalipun suamimu tidak meminta untuk dilayani.Apa nenek perlu mengajarimu bagaimana menjadi istri yang baik? Tidak kan...?.”


Mentari terdiam. Dilema,antara kehendak neneknya dengan kehendak hatinya.


“Kupas satu lagi apelnya, antarkan kesuamimu.” Perintah sang nenek, setelah mentari selesai mengupas dan memotong apel untuknya.


Kali ini Mentari mengiyakan perintah neneknya, meski dengan rasa terpaksa.


Sementara neneknya memakan buah apel, Mentari keluar untuk mengantarkan potongan buah apel  untuk Rayyan.


Tak nampak ada Rayyan di luar kamar. Mentari meletakkan piring berisi potongan apel ke atas meja kecil yang ada ditempat itu. Ia mencari-cari keberadaan Rayyan. Ternyata Rayyan tengah menelfon seseorang. Pria itu berdiri agak jauh dari kamar.


Mentari mendekati Rayyan, ia menganggap itu waktu dan tempat yang tepat untuk berbicara dengan sang suami tentang segala unek-unek di hatinya.

__ADS_1


Mentari sengaja berdiri didepan Rayyan. Berharap pria itu berhenti menelfon ketika melihat keberadannya. Tapi nyatanya Rayyan terus berbicara sembari menatap wajah Mentari , tak ada tanda-tanda mengakhiri pembicaraannya.


“Aku ingin bicara.” Ucap Mentari  setelah lama menunggu.


“Sebentar.” Jawab Rayyan menjauhkan ponselnya sebentar dan kembali menggunakannya.


Kembali mentari menunggu Rayyan selesai dengan urusan bisnisnya yang sebenarya sudah selesai dari tadi ketika mentari sedang melangkah kearahnya. Pria itu kini sedang berpura-pura menelfon, untuk mengerjai istrinya itu.


Rayyan terus berbicara, dan pelan-pelan ia melangkah ke arah kamar perawatan nenek Winarsih. Tapi Mentari mengejarnya dan langsung meraih telapak tangan Rayya, lalu menariknya agar kembali ketempat semula. Jadilah


dari kejauhan tampak mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan, Karena Tangan Rayyan membalas genggaman tangan Mentari dan mnegikuti kemana Mentari membawanya sambil terus berbicara. Mata Rayyan juga tak lepas dari wajah istrinya yang tampak kesal. Namun kemudian ia tersadar, ada janin dalam perut Mentari yang juga harus ia jaga.


Akhirnya ia menyimpan ponselnya, Karena Mentari tampak sudah sangat kesal dan itu tak baik bagi wanita hamil.


“Kamu ingin bicara apa?.” Tanya Rayyan yang sudah tau apa yang ingin wanita itu bicarakan.


“Sepertinya kamu senang membuat aku kesal.” Ucap Mentari tanpa kata “anda” dan “saya” lagi. Kekesalannya telah membuat ia merubah dua kata itu.


“Aku tak bermaksud demikian.” Balas Rayyan terkesan santai.


“Huh.....terserah, yang pasti aku sangat kesal dengan apa yang sudah kamu lakukan. Dari masalah perawatan nenek sampai sikap kamu tadi.”


“Kenapa kamu kesal?. Yang aku lakukan tidak ada yang salah.”


“Menurut kamu...!” Jawab Mentari dengan nada kesal.


“Terus menurut kamu apa yang salah?!.” Ujar Rayyan dengan wajah yang ia dekatkan ke wajah Mentari yang menatap ke sisi lain. Sepontan Mentari memundurkan wajah dan tubuhnya dari Rayyan.


“Pertama, kamu tidak bicara denganku dulu tentang perawatan nenek. Kamu seenaknya menentukan semuanya sendiri. Seharusnya aku, aku yang lebih berhak menentukan semuanya, karena aku cucu nenek bukan kamu. Aku yang seharusnya bertanggung jawab atas semua biaya perawatan nenek bukan kamu. Meski aku tak punya banyak uang, tapi aku pasti akan berusaha mencarinya.Kedua,semalam akau sudah bilang, bersikaplah sewajarnya di depan nenek tidak usah berlebihan. Tapi apa kamu tadi bersikap seperti itu, aku tidak suka................”


Mentari terus berbicara tanpa jeda, penuh emosi dengan mata berkaca-kaca. Rayyan hanya diam tak ingin menyela. Dia membiarkan wanitanya meluapkan kekesalannya, hingga akhirnya ia menarik tubuh istrinya dalam pelukan ketika wanita itu mulai menitikan air mata bermaksud untuk menenangkan.


Mentari meronta, untuk bisa lepas dari pelukan Rayyan. Tapi aroma tubuh suaminya seolah menghipnotis, sehingga ia berhenti meronta dan menumpahkan tangisnya dalam pelukan pria itu,bersama kenyamanan yang ia rasakan.


💥💥💥💥

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak ya gaessss.....biar autornya tambah semangat up-nya......😘😘


__ADS_2