
Tok...tok...tok.
Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar.
“Tari....Rayyan.....” Panggil nenek untuk membangunkan kedua cucunya. Waktu sudah berada di pukul setengah enam, tapi perempuan tua itu belum melihat kedua cucunya keluar kamar untuk mengambil air wudlu.
“Akhhh.......!!!.” Rayyan menjatuhkan tubuhnya di samping Mentari dengan rasa kecewa. Berbeda dengan Mentari yang seperti baru tersadar dari alam bawah sadarnya.
Mentari langsung duduk ketika mendengar neneknya memanggil. Merasa ada angin yang menyentuh bagian dadanya,wanita itu menunduk untuk melihat bagian tubuhnya itu.Matanya seketika membulat, begitu melihat pakaian di bagian dadanya telah terbuka, dan dua aset miliknya terlihat jelas lengkap dengan beberapa tanda merah di sana. Hijabnya pun entah dimana.
Mentari segera sadar siapa pelakunya. Matanya langsung tertuju pada pria yang tengah terbaring dengan nafas yang tak beraturan. Tanpa pikir panjang dia memukul-mukul dada Rayyan.
“Aw..aw.....kenapa mukul?, Aku salah apa?” Ucap Rayyan lirih. Tangannya berhasil menangkap tangan Mentari dan menahannya.
“Pura pura lupa?....kamu sudah melakukan hal tak senonoh lagi kan sama aku?.” Balas Mentari dengan nada kesal sembari berusaha terus memukul.
“Hal tak senonoh apa?Enggak..aku enggak melakukannya.” Rayyan berkelit ,merasa tak bersalah.
“Masih enggak mau ngaku ya....ini buktinya!.” Mentari menunjuk ke arah dadanya yang masih terbuka. Namun ia kemudian ingin menutupnya karena Rayyan mengikuti arah telunjuknya. Tapi ia tak bisa karena Rayyan masih menahan tangannya.
Wajah Mentari langsung memerah menahan malu. Ia terus berusaha melepas tangannya.
“Lepasin...!”
Rayyan hanya tertawa tanpa ingin melepas tangan Mentari, sementara matanya terus tertuju pada dada Mentari.
“Merem...jangan liatin!!.”
“Enggak bisa merem sayang....”
Lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum.Pria tampan itu mendorong tubuh Mentari hingga terbaring tanpa melepaskan tangannya. Dan kembali berada di atas tubuh perempuan itu.
“Ini bukan bukti dari hal yang tidak senonoh, tapi bukti jika suamimu ingin melakukan kewajibannya.”
“Tapi aku tidak suka kamu melakukannya.”
“Kamu tidak suka?. Terus tadi kenapa diam saja dan menikmatinya?.”
Wajah Mentari makin memerah , apa yang di katakan Rayyan benar adanya. Kali ini ia tak bisa membantah.
__ADS_1
“A...aku....aku.....” Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Mentari.
Rayyan di buat gemas, tak tahan ia kembali mengecup bibir istrinya, ketika ingin memperdalam Mentari menghindar bersamaan dengan suara nenek yang kembali memanggil.
Terpaksa Rayyan melepaskan istrinya, tapi sebelumnya ia mengecup kening dan meremas dua gundukan yang menantang di depan matanya. Dan dia langsung mendapatkan protes dari pemiliknya.
“Aww.....jangan kurang ajar ya. Kamu anggap ini squishy!” Ucap Mentari kesal dengan menahan rasa nyeri di daerah dadanya. Ia bergegas memasang kembali kancing bajunya dan berlari keluar kamar.
Sikap Mentari membuat Rayyan tersenyum.
“Heh...Tari...Tari...”Rayyan nampak menggelaeng.”Kalau begini caranya, aku tidak bisa fokus kerja.“ Gumam Rayyan. Hasrat yang ia pendam sejak semalam terpaksa harus ia pendam kembali. Kecewa?Pasti. Tapi bagaimana lagi, hasratnya muncul disaat yang tidak tepat.
Setelah berhasil menenangkan sang junior, Rayyan bergegas menyusul istrinya ke kamar mandi.
“Tari, pakai jilbabmu biar lehermu tertutup.” Nenek yang melihat leher cucunya banyak tanda merah, lantas memintanya memakai jilbab.
“Oh iya ....tadi kelupaan!” Tangan mentari meraba kepalanya, dia benar-benar lupa karena terburu-buru. Tapi ia heran dengan tatapan nenek yang terus tertuju pada lehernya.
Rayyan menahan tawanya sembari terus melangkah ke kamar mandi melewati Mentari dan neneknya,setelah sempat mendengar percakapan keduanya.
Karena penasaran Mentari masuk kekamar dan langsung berdiri di depan cermin.
“Ya Alloh.....apa ini?.” Mentari menemukan tanda yang sama di lehernya dengan tanda yang ada di dadanya. Dan sudah bisa di pastikan kalau pelakunya juga sama.Wanita itu geram, ia ingin sekali memukul si pelaku yang tak kunjung kembali kekamar.
“Bug....” Bantal melayang ke wajah Rayyan.
“Hei...hei....ini kenapa aku di lempari bantal?!.” Rayyan yang baru saja masuk di buat terkejut menerima lemparan bantal yang bukan hanya sekali.
“Ini hukuman buat kamu yang keterlaluan.”
“Hem...keterlaluan? Aku keterlaluan bagaimana?.” Ucap Rayyan membela. Tangannya berhasil menahan tangan istrinya yang sudah siap melempar guling.
“Kamu jahat....” Kali ini suara Mentari terdengar bergetar di barengi mata yang berkaca-kaca.
“Coba jelaskan, kesalahan apa yang sudah aku perbuat sama kamu.Sungguh aku tidak tau.”
“Jangan pura-pura pikun!.”
Memang benar Rayyan pura-pura pikun. Ia tau arah pembicaraan Mentari. Ia memilih melakukan itu sekedar ingin menyadarkan istrinya bahwa ia berhak melakukan apaun terhadapnya, termasuk meminta haknya sebagai suami.
__ADS_1
“Sungguh...aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun.” Ucap Rayyan serius “ Coba jelaskan...!” Rayyan berhasil mengajak istrinya duduk.
“Kamu sudah bikin aku malu di depan nenek.”
Dalam hati Rayyan tertawa.Karena Mentari baru menyadari apa yang sudah ia buat di leher perempuan itu.
“Malu kenapa?.” Rayyan berpura-pura tak mengerti.
“Kamu sudah tau jawabannya, Jangan pura-pura tidak tau.!” Jawab Mentari kesal.
“Beneran.... aku tidak tau..?!” Rayyan masih bertahan dengan pura-puranya. Hanya ingin melihat istrinya menunjukkan lehernya.
“Ckk.....apa yang kamu buat di leherku?.” Yang di nanti Rayyan akhirnya terjadi. Mentari menunjukkan lehernya.”Kamu keterlaluan....kamu sengaja kan mau bikin aku malu..?!.”
“Tidak...aku tidak bermaksud seperti itu.Aku hanya lupa memberitahumu. Tapi kenapa harus malu, yang melakukannya kan suami kamu sendiri. Aku rasa nenek maklum.”
Mentari kembali mengambil guling dan memukulinya.
“Benar-benar keterlaluan kamu....”
Bug...bug....bug
Rayyan membiarkan Mentari memukulinya. Bukannya mengaduh, pria itu malah tertawa membuat Mentari makin kesal.
“Makannya jangan suka bangunin macan tidur, jadi gini kan akibatnya..he...he....”
“Siapa yang bangunin macan tidur, nggak ada!.”
“Terus semalam siap yang cium bibir aku ?.”
“Mana aku tau!...yang pasti bukan aku!.” Jawab Mentari yakin, meski hatinya ragu.
Mentari teringat mimpinya semalam. “Jadi itu bukan mimpi, aku beneran berciuman dengan Rayyan?.” Batin Mentari tanpa sadar menutup bibirnya dengan telapak tangan.
“Oh.....kalau bukan kamu, terus siapa?.Apa jangan-jangan....mbak kunti yang di pohon mangga itu ya?.Masuk ke kamar, terus mencium aku ??” Wajah Rayyan di buat seperti sedang berpikir. Mengetuk-etukkan jari telunjuknnya di dagu, dan mengeryitkan dahinya. Kemudian melirik ke Mentari yang masih menutup mulutnya dengan mata melebar menatap ke arahnya.
“Kenapa ekspresinya begitu? Terus mulutnya kenapa ditutupi ?.” Rayyan yakin ekspersi Mentari itu karena ia merasa jika dirinya yang menjadi tertuduh.
“Enggak...enggak apa-apa.!”
__ADS_1
Mentari memilih bangkit dan melangkah keluar kamar dengan wajah merona merah karena malu.
Kembali Rayyan tertawa melihat wajah Mentari. Kejadian semalam kembali melintas di ingatannya. Berawal dari kejadian semalam, dia jadi ingin memberikan nafkah batin pada istrinya. Pagi ini ia gagal memberikannya. Tapi masih ada siang,sore dan malam untuknya mengulang apa yang tertunda di pagi ini. Karena hari ini ia memutuskan untuk tidak ngantor. Ia ingin mengganti satu bulan yang telah ia lewati tanpa Mentari. Tentunya juga untuk menuntaskan sesuatu di benaknya yang masih bergejolak.