Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Pria Misterius


__ADS_3

Akhirnya dengan wajah kesal Mentari duduk di sofa. Rayyan di buat gemas dengan bibir Mentari yang manyun.


“Itu bibir maunya diapakan si?!.”


“Jangan mendekat...!.” Teriak Mentari menolak Rayyan yang tengah melangkah kearahnya. Tak hiraukan istrinya, Rayyan terus mendekat dan duduk di sampingnya bermaksud untuk mengerjai.


“Kepalaku tiba-tiba sakit, tolong pijitin.” Tanpa minta ijin, Rayyan meletakan kepalanya di pangkuan istrinya.


“Tidak usah pura-pura untuk mencari-cari kesempatan.” Tangan Mentari menahan kepala Rayyan dan berusaha mengangkatnya.


“Aku tidak pura-pura. Beneran sakit.” Rayyan berusaha melepas tangan Mentari, agar kepalanya bisa berada di paha istrinya itu.”Kepalaku sakit, lihat bibir kamu yang menggoda he...he...” Batin Rayyan.


Tangan Mentari akhirnya terlepas, membiarkan kepala suaminya berada di pangkuannya.


“Ayo sayang...pijitin...” Kedua tangan mentari Rayyan letakan di kepalanya. Tak berapa lama tangan Mentari bergerak memijit.


Mata Rayyan terpejam menikmati sentuhan jemari istrinya yang terasa lembut sampai menyentuh lubuk hatinya. Disaat yang bersamaan, Mentari yang semula hanya melirik, pada akhirnya tertarik untuk menatap wajah suaminya.


“Ganteng....” setiap inci wajah Rayyan tak luput dari tatapan mata Mentari. Tanpa sadar rasa kagum  kembali muncul mengikis perlahan rasa benci yang menyelimuti hati. Terpatri senyum di bibir, bersyukur memiliki suami yang rupawan. Tapi akhirnya Mentari mengingkari itu semua dan terjadilah pertentangan didalam benaknya, antara kagum dan benci.


Mentari melepas tatapan matanya dan juga berhenti memijit kepala suaminya, membuat sang suami membuka mata.


“Kenapa berhenti?.”


“Capek...!” Jawab Mentari membuang muka.


Rayyan tersenyum. Bukannya bangun, ia malah memiringkan kepalanya sehingga wajahnya tepat berada didepan perut mentari. Perlahan perut yang mulai membuncit itu diusap dengan lembut kemudian mengecupnya beberapa kali.


“Akan papa usahakan untuk bisa jenguk kalian secepatnya...” Ucap Rayyan sebelum bangkit dan melangkah menuju meja kerjanya dengan sebuah senyuman yang penuh arti.


Paham dengan maksud perkataan Rayyan, Mentari langsung bangkit dari duduknya dan keluar ruangan meninggalkan Rayyan tanpa berpamitan. Lebih baik menghindar, dari pada nanti Rayyan membuktikan ucapannya di ruangan itu,pikir Mentari dengan perasaan takut.


Setelah duduk, Rayyan baru menyadari istrinya sudah tidak ada ditempatnya. Dia hanya tersenyum. Yakin istrinya pergi ke kolam renang, Rayyan langsung menghubungi menejernya agar menyuruh seseorang untuk mengawasinya.


Akhirnya pekerjannya selesai. Semua laporan sesuai keinginannya. Rayyan merasa puas dengan kinerja pegawainya.


Teringat istrinya, Rayyan menuju dinding kaca untuk melihat istrinya dari sana. Dia tersenyum ,melihat Mentari tengah bermain air di pinggir kolam. Duduk di tepi kolam dengan kaki masuk kedalam air dan menggerak-gerakkannya, membuat cipratan air.


Tercipta ide untuk mengajak istrinya berenang. Lelaki itu lantas menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian renang untuk istrinya. Ia lupa lemari itu hanya berisi pakaian dan beberapa lengerie milik Nania. Ada juga beberapa bikini,yang jika dipakai hanya dapat menutupi area sensitif.


“Mana mungkin Mentari mau memakai pakaian seperti ini.” Pikir Rayyan yang langsung meminta karyawan hotel untuk membuang pakaian Nania dan meminta untuk segera dibelikan pakaian renang yang sesuai dengan Mentari.

__ADS_1


Rayyan segera turun menyusul istrinya, namun ia tak langsung mendekat begitu sampai di area kolam renang. Ia duduk disalah satu kursi santai, menggunakan kaca mata hitam mengamati gerak gerik istrinya sembari membaca koran.


Mata Rayyan menangkap sesosok pria yang tengah berdiri tidak jauh dari istrinya, dan tampak memperhatikan Mentari. Pria yang berpenampilan rapi dan tampan tampak tersenyum dan seperti ragu-ragu mendekati Mentari.


Sekarang perhatian Rayyan tak lagi hanya terfokus pada Istrinya, tetapi juga pada pria itu. Ia hanya takut, pria itu punya niat buruk pada Mentari.


Sebelum pria itu mendekati Mentari, Rayyan segera meninggalkan tempatnya. Mendekati mentari yang tidak sadar tengah di perhatikan.


Setelah menggulung celana dan kemejanya, Rayyan duduk di samping Mentari.


“Kamu nggak mau renang?.” Tanya Rayyan tiba-tiba dengan ekor mata mengarah pada pria yang ia curigai hendak berbuat tidak baik pada istrinya dan pria itu masih di tempatnya. Kali ini raut wajahnya tampak berubah.


“Aku enggak bisa renang.” Jawab Mentari yang kaget berkata jujur. Tapi ia tampak kecewa. Mentari memang ingin sekali berenang, tapi tak berani mencoba.


“Bagimana kalau sekarang kamu latihan renang?.” Tangan Rayyan melingkar di pinggang Mentari.


“Latihan renang?.” Mentari antusias menanggapi ucapan Rayyan.


“Iya....aku yang akan membantumu.”


“Kenapa harus kamu. Kan bisa panggil pelatih profesional!.”


“Ngapain panggil pelatih kalau aku saja bisa. Udah yuk, ganti pakaianmu dulu.”


“Udah aku siapin.Yuk....” Rayyan berdiri dan membantu istrinya berdiri dengan memegangi tangannya. Sementara pria yang sejak tadi memperhatikan mereka perlahan melangkah mundur kemudian berbalik pergi. Membuat Rayyan lega tapi masih dihantui rasa penasaran juga khawatir jika pria itu nantinya akan mengganggu istrinya.


Suami istri itu melangkah menuju kamar ganti. Dan keluar telah berganti pakaian. Mentari menggunkan pakaian renang model muslimah, sementara Rayyan hanya menggunakan kaos tipis dan celana pendek.


Mentari tampak ragu-ragu ketika hendak masuk ke kolam.


“Tidak usah takut.” Rayyan membimbing istrinya untuk masuk kedalam kolam.


“Takut...!.” Wajah Mentari tampak tegang.


“Tidak apa-apa, tenang.”


Tangan Mentari langsung melingkar di leher Rayyan.Ketika kakinya tak menemukan pijakan saat masuk kedalam kolam . Ia merasa akan tenggelam.


“Nggak jadi aja latihannya. Kembali ketepi...!.” Pinta Mentari yang semakin takut dengan kedua kaki yang telah mengait di pinggang Rayyan.


Tapi Rayyan terus membawanya ke tengah kolam.

__ADS_1


“Jangan tegang...rilek.”


“Enggak bisa...! aku takut...”


“Coba dulu.... nggak bakal tenggelam.Rileks....atur nafas.”


Setelah Tari terlihat tenang, Rayyan melepas kaki mentari yang masih melingkar di pinggangnya.


Dengan telaten Rayyan membimbing Mentari. Mentari begitu senang meski baru bisa mengambang di permukaan air. Tangannya telah berpindah ke lengan Rayyan.


“Coba sekarang lepaskan tanganmu.”


Mentari menggelang.


Rayyan melepas tangan Mentari, seketika gadis itu panik dan hampir tenggelam. Tangan Rayyan dengan cepat menarik tubuh Mentari dan memeluknya.


“Kamu ingin aku tengelam ...!!.” Ucap Mentari dengan wajah takut bercampur kesal. Tangannya kembali melingkar dileher suaminya namun kemudian segera berpindah ke lengan, dan berpegangan erat disana.


“Enggak lah....aku hanya ingin nguji kemampuan kamu. Ternyata kamu masih panikan....ya sudahlah, latihannya udahan dulu. Takutnya kamu kecapean.” Rayyan menggerakan tubuhnya hendak menuju tepi kolam.


“Sebentar lagi...” Tangan Mentari menahan lengan Rayyan.


Rayyan menarik tubuh Mentari kedalam pelukannya, dan membawanya masuk kedalam air. Membuat istrinya panik. Sesaat kemudian keduanya muncul di permukaan. Rayyan tertawa melihat Wajah istrinya yang panik dengan nafas yng tersengal.


“Tenang sayang, tidak apa-apa.Sekarang atur nafasmu. Hirup udara sebanyak-banyaknya. Kita nyelam lagi.”


Semua perintah Rayyan Mentari lakukan, sehingga Mentari tampak lebih tenang saat kembali masuk kedalam air. Wajah keduanya begitu dekat. Kesempatan itu Rayyan gunakan untuk me*** bibir Mentari dalam hitungan detik. Kemudian muncul lagi kepermukaan.


Nafas Mentari kembali tersengal, bukan hanya karena kehabisan oksigen tapi juga karena ciuman Rayyan yang tiba-tiba.


“Kamu ya....ka....” Mentari hendak protes, tapi belum selesai bicara, Rayyan telah membawanya kembali ke dalam air. Dan kembali Me*** bibirnya. Mentari tak bisa bergerak, karena tangan Rayyan telah berada di tengkuknya menekan kuat.


“I Love you sayang.” Ucap Rayyan begitu muncul di permukaan setelah mencium bibir istrinya.


“Kamu tidak bisa memegang janjimu sendiri.” Mentari ingat Rayyan telah berjanji tidak macam-macam padanya, tapi pria itu ternyata lupa.


“Maaf...sayang. Itu karena aku sangat mencintaimu.Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Setelah melihat pria misterius tadi, Rayyan merasa pria itu ingin mengambil Mentari darinya.


Mata Rayyan menatap dalam mata istrinya yang juga menatapnya. Tatapan yang semula berisi amarah, berubah teduh. Mengundang Rayyan untuk kembali mencium bibir istrinya yang sedikit terbuka. Rayyan memang seakan tak mampu lagi menahan hasratnya. Hampir satu jam berada di kolam renang, selama itu juga ia menahan hasratnya.


Bibir Rayyan telah menempel sempurna di bibir istrinya yang sepertinya telah terbuai. Tapi Rayyan harus mengakhirinya. Dia sadar dimana sekarang dia berada.

__ADS_1


“Kita lanjut di kamar yuk...” Ucap Rayyan membawa tubuh istrinya ke tepi.


“Hah....enggak. Aku mau bilas, dan kita langsung pulang.” Dengan wajah merona Mentari melangkah cepat ke arah kamar mandi, dan langsung di susul suaminya.


__ADS_2