
“Marahlah Bi....marahlah padaku....aku memang brengsek....aku jahat.....pukul aku...tampar aku...!” Arbi menarik tangan Bianka agar menamparnya, tapi Bianka menahan tangannya. Tak kuasa Bian menampar lelaki yang masih ia cintai itu, apalagi mata lelaki itu telah sedikit berair dengan tatapan bersalah.
Tatapan Arbi melemahkan rasa kecewa dan amarah Bianka yang sempat memuncak. Yang kemudian Rasa itu berubah menjadi rasa iba.
“Jika dengan menamparmu dapat mengembalikan apa yang telah hilang dariku, pasti aku akan melakukannya. Sekarang aku hanya ingin tau kenapa kau begitu tega meninggalkan aku di saat aku butuh kamu dan tanggung jawabmu.” Ucap Bianka pelan dan kembali duduk dikursinya. Matanya tak mampu lagi memandang sosok pria dengan wajah yang tak seceria dulu. Raut wajah Arbi menyiratkan kesedihan yang dalam dengan banyak beban di sana.
“Jika aku mengatakannya, apa kamu mau percaya padaku dan memaafkan aku?.”
“Jika memang pantas ,tentu kamu akan mendapatkan keduanya.”
Pemuda yang nampak banyak berubah di mata Bianka, menggeser kursi sehingga kini duduk tepat didepan wanita yang tengah tak sabar mendengar penjelasannya.
Percaya atau tidak, dimaafkan atau tidak, Arbi merasa harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengannya selama ini.Sehingga ia terpaksa harus meninggalkan kekasihnya yang saat itu tengah hamil. Mungkin dengan begitu, beban di hatinya dapat sedikit berkurang. Karena selama ini ia menanggung beban dihatinya sendirian, tak ada tempat baginya untuk berbagi.
“Bi.....jangan kamu pikir aku bahagia setelah meninggalkan kamu. Hari-hariku juga terasa berat, seperti yang kamu rasakan. Masalahku bukan hanya tentang kamu, tapi ada masalah lain yang harus aku hadapi. Dan aku menghadapinya sendiri. Tak ada satupun yang bisa membantuku, bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesahku.”Sejenak Arbi terdiam, merasakan sesak didadanya dan kembali berucap setelah menghembuskan nafas panjang.
“Selama ini aku harus menghidupi ibu dan adikku dari gaji yang pas-pasan sebagai barista. Karena itulah aku menolak menikahimu karena aku merasa tidak mampu menafkahimu. Tapi setelah itu aku menyesal. Aku ingin bertanggung jawab dengan menikahimu, tapi belum sempat aku utarakan niatku, aku diminta pulang karena ibuku kritis dan tak tertolong. Ibuku meninggal begitu aku sampai di rumah sakit. Aku sangat terpukul dengan kepergian ibu, meski sebelumnya aku sudah tau penyakit kangker stadium empat yang ibu derita akan merenggut nyawanya cepat atau lambat. Bukan hanya kesdihan tapi juga rasa penyesalan yang aku rasakan,karena selama ini aku tak bisa memberikan pengobatan yang layak untuk ibu.”Genangan air di mata Arbi berubah menjadi lelehan bening dipipinya.Mengundang iba di hati Bianca dan membuat ia teringat pada mendiang ibunya.Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap wajah kekasihnya yang tertunduk, sambil sesekali melenyapkan air mata disudut matanya.
“Setelah kepergian ibu, aku menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi adik perempuanku. Dia menjadi alasanku untuk tetap tinggal. Meski sebenarnya aku juga ingin menemuimu. Tapi apa daya aku tak bisa melakukannya. Aku tidak berdaya, karena kondisi ekonomiku.”
“Kamu tak harus menemuiku, kau bisa menelfonku kan?.”
“Biaya rumah sakit ibu cukup besar, jadi aku menjual ponselku. Meski hanya bisa menutup sebagian biaya. Itulah kenapa aku tidak menghubungimu. Jadi aku bukan sengaja menghilang darimu tapi karena sekarang aku tak memilki ponsel lagi.”
“Kamu bisa meminjam ponsel adikmu atau saudaramu?.”
“Adikku juga sudah tak memiliki ponsel lagi, ponselnya ia jual untuk membayar uang sekolahnya yang menunggak beberapa bulan. Aku tidak berani meminjam ponsel saudaraku, karena untuk mendekati merekapun aku enggan. Selama ini mereka tak menganggap keluargaku ada semenjak ibuku tak bisa membayar hutang ayah.”
__ADS_1
“Dimana ayahmu?.”
“Ayahku telah lama tiada. Aku dan adikku sekarang yatim piatu Bi...”
“Oh....maaf.”
“Tidak apa-apa Bi, paling tidak kamu sudah tau sebagian tentang alasanku pergi meninggalkan kamu.”
“Sebagian?.”
“Iya..itu baru sebagian....karena ada masalah lain yang harus aku hadapi sekarang.”
“Masalah apa lagi?.”
“Saudaraku lebih tepatnya kakak dari ayahku menagih hutang ayah kepadaku dan juga hutangku yang aku pinjam untuk pengobatan ibu selama ini. Jika aku tidak bisa membayar hutang itu maka aku harus memberikan rumah ini atau aku harus mau menikahi anak dari temannya yang catat karena kecelakaan. Pilihan itu tak ada yang bisa aku pilih. Rumah ini adalah satu-satunya peninggalan orangtuaku, juga satu-satunya tempat aku berteduh.Tidak mungkin aku melepasnya. Tapi untuk menikahi anak teman pamanku, aku juga tidak bisa melakukannya. karena aku masih berharap bisa menikahi kamu yang sedang mengandung anakku.Selain itu, aku juga memikirkan bagaimana adikku jika aku menikah, siapa yang akan menjaganya, belum tentu keluarga teman pamanku mau menerima adikku.Aku bingung Bi....aku tidak tau harus bagaimana. Pamanku memberiku waktu hanya satu minggu. Dan batas waktu itu tinggal tiga hari lagi.Aku harus bagimana Bi...?.”
“Iya Bi....Tapi sekarang aku merasa sedikit lega, karena aku akhirnya bisa menceritakan ini semua padamu. Aku harap kamu percaya padaku dan memaafkanku. Dan tidak menganggapku lari dari tanggung jawab. Aku akan segera menikahimu begitu masalah ini selesai. Dan sepertinya aku menjatuhkan pilihan untuk menjual rumah ini. Tapi apakah kamu mau menerima adikku, jika ia nanti tinggal bersama kita?.”
“Tentu....kenapa tidak. Dia akan menjadi tanggung jawabku juga jika aku menjadi istrimu nanti.”
“Terim kasih Bi...tapi maaf, mungkin nanti aku tidak bisa membahagiakanmu dengan harta atau kemewahan. Karena aku tidak punya apa-apa.”
“Harta bisa kita cari bersama-sama Bi....Yang penting kamu tidak meninggalkan aku lagi.”
“Aku janji Bi...aku akan selalu bersamamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”
“Tapi Bi......ada satu hal yang belum aku beritahukan sama kamu.”
__ADS_1
“Apa Bi..?.”
“Tapi aku takut...kamu tidak jadi menikahiku setelah tau hal ini.”
Arbi mengeryitkan dahinya. Sangat penasaran dengan ucapan Bianka.
“Katakan Bi...”
“Emm...aku...aku......”
“Iya apa Bi....katakan saja.”
“Aku sudah mengugurkan kandunganku...”
“Apa...!.” Arbi berteriak karena saking terkejutnya, tidak menyangka Bianka bisa melakukan hal itu.
“Maaf Bi...aku terpaksa melakukannya, karena saat itu aku tidak bisa berpikir lagi setelah kamu mengatakan jika kamu tidak siap menikahiku dan aku tidak bisa menemukanmu. Aku juga takut bikin malu keluargaku. Sebenarnya bukan hanya janin yang ingin kau lenyapkan, tapi juga nyawaku. Aku tak mampu menghadapi masalahku sendirian jadi aku ambil jalan pintas itu. Tapi ternyata tuhan hanya mengambil janinku, sementara aku masih di beri kesempatan kedua untuk hidup.”
Rasa terkejut dan berujung kecewa akhirnya berubah menjadi rasa bersalah. Apa yang dilakukan oleh Bianka murni karena kesalahannya. Jika waktu itu ia berjanji akan menikahi Bianka, tentu kekasihnya itu masih memepertahankan janinnya. Dan tidak berfikir untuk bunuh diri. Arbi meruntuki kesalahan yag telah ia buat.
Selain merasa menjadi manusia yang paling menderita, kini Arbi juga merasa menjadi manusia paling bersalah dan paling bodoh di dunia. Sebagai laki-laki ia merasa sangat lemah.
Arbi kembali memeluk Bianka. Diiringi airmata penyesalan yang membendung di sudut matanya.
“Maafkan aku Bi...semua karena kesalahanku. Jika aku ada disisimu kamu pasti tidak akan melakukan itu.Maafkan aku Bi...maafkan aku.....” Arbi makin erat memeluk tubuh Bianka, seiring rasa bersalah yang kian membuncah.
“Setelah kamu tau janinku sudah tidak ada, apakah kamu masih mau menikahiku?.” Ucap Bianka yang kemudian mengurai pelukan Arbi.
__ADS_1