Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Berusaha Kuat


__ADS_3

Mentari memilih pulang kerumah sahabatnya yang letaknya tidak jauh.Ia tak ingin pulang ke rumah dengan kondisinya yang masih di balut luka dan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.Apalagi pakaiannya yang robek, pasti akan membuat neneknya bertanya.


Sampai di rumah sahabatnya, yang memang tinggal sendiri karena orang tuanya tinggal diluar kota,Mentari melangkah ke arah pintu dan mengetuknya. Berharap sahabatnya yang bernama Sandra telah bangun dari tidurnya.


“Tok...tok....tok....” Mentari mengetuk pintu kuat-kuat agar Sandra segera membuka pintu. Mentari mengulang


ketukannya karena Sandra belum merespon. Tapi sesaat kemudian pintu terbuka.Sandra yang benar-benar baru bangun tidur, kaget melihat kedatangan Sahabatnya yang datang di pagi buta.


“Tari...”ucap Sandra kaget.”Pagi buta kamu kesini, pakaianmu?ada apa? Kenapa...?.” Belum selesai bicara Tari


begitu sandra memanggilnya, menghambur kepelukannya dan menangis sampai bahunya bergetar.


“Ada apa Tar, apa yang terjadi sama kamu sehingga kamu menangis begini?” Mentari terus menangis, tak kunjung


menjawab rasa penasaran Sandra.


Sandra mengajak sahabatnya untuk duduk di sofa di ruang tv dan mengambilkannya segelas air putih. Setelah


melihat Mentari tenang, Sandra mencoba bertanya lagi tentang apa yang terjadi pada gadis yang telah bersahabat dengannya sejak di bangku SMA. Dengan terbata dan sesekali menangis, Mentari menceritakan apa yang telah menimpanya, tanpa ada yang terlewat.

__ADS_1


“Kurang ajar...bren***....”Umpat Sandra yang merasa emosinya naik mendengar apa yang dilakukan oleh Rayan pada sahabatnya.


“Sekarang aku tidak tau harus bagaimana menjalani hidupku. Aku sudah kotor, aku hina.hik....hik...” Ucap


Mentari merasa rendah.


“Hussttt....jangan bicara seperti itu Tari....Jangan rendahkan dirimu, karena kamu masih Tari yang kemarin.”


Sandra tau bagaimana hancurnya hati Tari, namun ia tak bisa membiarkan sahabatnya menganggap dirinya rendah.


”Sebagai seorang gadis aku sudah tak punya apa-apa lagi yang bisa aku banggakan. Aku tak punya masa depan lagi.Semuanya sudah hancur....hik..hik.....Aku tak sanggup San...” Rasa putus asa tersirat jelas di wajah Mentari. Membuat Sandra khawatir.


“Tari....Kamu masih tetap punya masa depan, meski ada yang hilang dari dirimu. Kamu tak boleh putus asa dan kamu tak boleh kehilangan harapan. Kamu harus kuat, dan aku yakin kamu bisa.”


“Istighfar Tari....istighfar....ingat masih ada nenek yang sekarang menjadi tanggung jawabmu. Kamu lupa, amanat dari ayahmu?.”


Bayangan wajah sang nenek kembali menyadarkan Mentari. Ucapan Sandra juga menyadarkan dirinya jika ia punya tanggung jawab yang merupakan amanat dari sang ayah yang telah tiada.Sebelum nafas terakhir sang ayah berhembus, sang ayah sempat berpesan agar Mentari menjaga dan merawat neneknya, karena ia tak bisa lagi melakukannya. Mentaripun menyanggupinya, dan berjanji akan selalu ada buat neneknya.


“Astaghfirullohal’adzim......”Berkali kali Mentari mengucap kalimat itu. Meredakan emosi dijiwanya. Mencoba

__ADS_1


mencerna semua dengan pikiran dingin. Melapangkan hatinya. Mengingatkan dirinya tentang keberadaan sang nenek yang selama ini menjadi tempatnya pulang.


“Yakinlah Tari....semua masalah ada jalan keluarnya. Jangan turuti pikiran yang menyesatkanmu. Pikirkan semuanya dengan pikiran jernih.”


Mentari menatap nanar wajah sahabatnya. Yang selama ini selalu bersamanya dalam suka maupun duka.


“Makasih Sandra....sudah menyadarkan aku.Tolong bantu aku agar aku bisa menerima semua ini.” Ucap Mentari dalam pelukan sahabatnya.


“Aku akan selalu ada bersamamu Tari...Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Apa yang terjadi denganmu tidak akan merubah apapun. Kamu tetap Mentari sahabatku. Mentari yang kuat, Mentari yang hebat, Mentari yang hangat....Aku mohon setelah ini kamu jangan mencoba berbuat sesuatu yang membuatku khawatir. Kamu janji ya Tari..!?.”


Sandra tetep memilki rasa khawatir pada Mentari, ia takut sewaktu-waktu Mentari berbuat sesuatu yang bodoh saat


rasa putus asa mengusiknya kembali. Sementara dirinya tak bisa selalu berada disamping sahabatnya itu.


“Aku akan berusaha untuk kuat menerima cobaan ini San....”


“Iya memang seharusnya kamu seperti itu...”


“Tapi bagaimana dengan mas Dika...tentu ia akan sangat kecewa.”

__ADS_1


“Tari....untuk saat ini, fokuslah dulu dengan dirimu sendiri. Masalah Dika, kita pikirkan nanti. Oke...!”


Sandra tau banyak tentang hubungan Mentari dan Dika. Bahkan dia juga tau jika orang tua Dika tak merestui hubungan keduanya.


__ADS_2