Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Benteng Pembatas


__ADS_3

Tanpa suara, nenek Winarsih terus mengusap wajah dan kepala David. Hanya airmata keduanya yang berbicara, mengungkap rasa yang ada dalam benak mereka.


David menjatuhkan kepalanya dipangkuan sang nenek dengan Isak tangis yang terdengar lirih, dan langsung disambut kecupan bertubi-tubi di kepalanya. Keduanya larut dalam keharuan.


“Dulu ayahmu sebelum meninggal, pernah bercerita jika nenek punya cucu laki-laki. Tapi belum sempat ia menjelaskan semuanya tuhan keburu memanggilnya. Dia hanya memberikan foto ini, dan meminta nenek untuk memintakan maaf pada kamu dan ibumu jika nenek bertemu dengan kalian. Nenek tidak tau, kesalahan apa yang telah ia perbuat. Sehingga saat itu ia tampak merasa sangat bersalah pada kalian.” Tangan nenek Winarsih yang sebelumnya mengusap kepala David, kemudian mengangkat wajah cucu laki-lakinya itu dari pangkuannya.


“Nenek butuh penjelasan. Suatu saat ajak nenek menemui ibumu. Untuk sekarang rahasiakan ini dulu dari Mentari. Sebelum nenek mengetahui semuanya.”


“Iya nek...David tidak akan mengatakannya pada kak Mentari.Yang penting nenek sudah tau, jika David juga cucu nenek.Cucu yang selama ini mencari neneknya dan mencari ayahnya yang ternyata telah pergi untuk selamanya.”


“Apa kamu sama sekali tidak tau jika ayahmu meninggal?”


David menggeleng. Rasa iba mneyeruak dalam benak nenek Winarsih. Kembali ia mengusap kepala David.


“Tidak apa-apa nek. Mungkin memang sudah takdir, David tidak bisa memberi penghormatan terakhir pada ayah.” David tersenyum meyakinkan neneknya. Nenek itu akhirnya tersenyum.


“Apa sebelumnya kamu tau jika nenek adalah nenek kamu?.”


“Iya nek....”


“Sejak kapan kamu tau?.”


“Sejak pertama kali datang kesini. Waktu itu David kesini untuk mengambil berkas persyaratan pernikahan kak Tari. David  melihat foto ayah yang ada di ruang depan. Foto itu sama persis dengan yang ada dirumah. Dan juga foto ayah bersama nenek dan Kak Tari. David makin yakin nenek adalah nenek David, saat pernikahan kak Tari.”


Nenek Mentari kembali mengeluarkan air mata, seraya memeluk David yang juga kembali menangis. Menangis bahagia tentunya.

__ADS_1


“Sudah malam, lebih baik kamu pulang. Sebelum Tari melihat kita disini.”


Nenek Winarsih dengan berat melepas pelukannya sembari mengusap air di mata David.


“Iya nek, David akan pulang sekarang.” David juga melakukan hal yang sama, ia mengusap air mata di pipi neneknya.


Sebuah ciuman mendarat di kedua pipi David dari neneknya. Davidpun membalas dengan mencium tangan perempuan tua itu. Ada rasa lega di benak pemuda itu. Akhirnya ia bisa bertemu dengan neneknya.


David menemui Mentari yang ternyata masih sibuk di dapur untuk berpamitan. Dan juga menemui Rayyan sebelum pulang.


Pekerjaan Mentari telah selesai. Ia tampak kelelahan dan matanya mulai diserang kantuk. Semula ia ingin tidur di kamar ayahnya, tapi ia urungkan. Sang nenek telah lebih dulu tidur disana. Wanita itu bingung harus tidur dimana. Di kamar nenek ia rasa tak mungkin, karena nenek bisa sewaktu-waktu kembali ke kamarnya. Satu tempat yang masih tersisa adalah kamarnya, dan disana ada Rayyan. Jika ia tidur dikamarnya, itu artinya ia harus tidur satu ranjang dengan Rayyan.


Mentari bergidig takut. Ia takut Rayyan berbuat sesuatu padanya saat ia tengah tidur. Wanita itu terus berpikir,tak sadar jika Rayyan menghampirinya.


“Sudah malam kenapa masih duduk di dapur. Lekas tidur, ini sudah malam.”


“Matamu sudah merah, dan tadi aku lihat kamu menguap. Atau mau aku gendong untuk kekamar.”


“Tidak perlu...aku bisa jalan sendiri.” Jawab Mentari yang belum bergeming dari tempatnya duduk.


“Ya sudah cepat pergi tidur, aku ke kamar mandi dulu.”Rayyan berlalu melangkah ke kamar mandi. Ia berharap Mentari sudah beranjak dari duduknya saat ia kembali. Namun saat ia kembali istrinya masih di tempatnya, dengan duduk bersandar dan mata terpejam.


Rayyan menggeleng melihat istrinya yang memang sengaja tetap berada ditempat itu untuk menghindari tidur bersamanya. Ia kembali mendekati Mentari.


“Kenapa masih disini. Ayo tidur dikamar. Aku juga sudah sangat ngantuk, pengin tidur.Kamu tidak usah khawatir aku akan meminta hakku malam ini.Percaya lah... aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Kamu sedang hamil muda, aku tidak berani melakukannya.” Ucap Rayyan yang yakin Mentari belum tidur.Rayyan meraih tangan istrinya untuk mengajaknya masuk kamar. Namun Mentari langsung menarik tangannya.

__ADS_1


Tak ada pilihan selain tidur dikamar bersama Rayyan karena kantuknya makin menjadi. Ia hanya bisa berharap semoga Rayyan menepati ucapannya.


Rayyan tersenyum melihat Mentari meninggalkannya masuk ke kamar. Setelah mematikan beberapa lampu, Rayyan menyusul Mentari.


Rupanya Mentari masih meragukan ucapan Rayyan , sehingga ia rela tidur tanpa bantal karena bantal yang seharusnya untuk mengganjal kepalanya ia jadikan benteng pembantas termasuk bantal dan bantal guling yang seharusnya dipakai Rayyan


Rayyan membiarkannya tanpa mengucapkan apapun, dan memilih untuk segera tidur dengan berbantalkan kedua tangannya. Jadilah suami istri itu tidur bersama dengan beberapa bantal berada di tengah ranjang, membatasi keduanya.


Mentari akhirnya terlelap, begitu juga Rayyan. Keduanya tertidur dengan nyenyak. Sehingga tak sadar bantal yang jadi pembatas satu persatu bergeser berpindah tempat karena gerakan tubuh mereka saat berubah posisi.


Rayyan merasa ada yang menimpa lengannya. Terasa berat dan pegal pada lengannya. Pria itu membuka mata dan ia di buat terkejut mendapati Mentari ada didekatnya dengan Kepala berada diatas lengannya. Wajah istrinya begitu dekat, sampai ia bisa merasakan hembusan nafasnya. Sementara salah satu tangan Mentari ada diatas dadanya. Rayyan tersenyum, teringat bagaimana istrinya sebelum tidur membuat pembatas agar dirinya tak menyentuh Mentari. Tapi nyatanya Mentari kini yang menyentuhnya tanpa di minta atau dipaksa.


Rasa ingin buang air akhirnya Rayyan lupakan, karena tak ingin Mentari terbangun. Ia memilih mengambil ponsel yang ia letakan di meja dekat dengan kepalanya untuk mengabadikan moment itu menggunakan kamera ponselnya.


Dengan wajah yang begitu dekat, memudahkan Rayyan mengecup kening Mentari. Bukan hanya sekali ia melakukannya, tapi sampai beberapa kali sebelum akhinya ia menyudahi untuk tidur kembali dengan sesungging senyum di bibirnya. Senyum kemenangan karena berhasil mencium mentari setelah sebelumnya ia juga berhasil mencium pipi wanita itu. Meski dengan cara mencuri. Dan bibir Mentari menjadi target berikutnya, pikir Rayyan.


Rayyan akhirnya kembali terlelap menahan pegal di tangannya sampai ia kembali terbangun saat merasakan tubuh mentari bergerak. Ia sempat membuka mata, namun ia cepat-cepat menutupnya kembali sebelum Mentari menyadarinya.


Dengan pura-pura tidur Rayyan ingin tau reaksi Mentari, saat tau dirinya tidur sangat dekat dengannya tanpa pembatas.


Mentari terkejut saat membuka mata. Mendapati dirinya tidur berbantal lengan suaminya. Mentari langsung mengangkat kepalanya dan kembali ke sisi ranjang dimana semalam ia memulai tidurnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia alami. Muncul pertanyaan dalam otak wanita itu, siapa yang telah membongkar pembatas itu dan siapa yang telah mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Rayyan. Ia sempat menduga Rayyanlah yang telah


melakukannya. Tapi kenapa ia tak merasakan saat Rayyan menariknya?


Mentari di buat pusing dengan banyak pertanyaan di otaknya. Hingga dia hanya bisa berharap Rayyan tak menyadari apa yang telah terjadi, seandainya dirinyalah yang mendekati Rayyan saat tidur. Tapi jika sebaliknya,ia harus kembali berfikir agar tidak lagi tidur seranjang dengan Rayyan. Meski tidak jelas penyebab pastinya, Wajah Mentari tetap menunjukkan rona malu, tanpa ada yang melihatnya.

__ADS_1


Dengan pelan Mentari turun dari ranjang untuk menunaikan solat sunah di sepertiga malam. Rayyan membuka mata begitu Mentari keluar kamar. Kembali pria itu tersenyum lebar membayangkan bagaimana wajah istrinya tadi.


__ADS_2