Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Menjual Rumah


__ADS_3

Drtt....drttt.....


Bianka yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk tidur siang selepas pulang kuliah,terpaksa harus kembali bangun untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Sebuah nomor baru tertera di layar ponsel. Sempat ragu namun akhirnya Bianka menekan tombol biru.


“Hallo kak Bian...” suara seorang gadis terdengar di ujung sambungan.


“Ya....ini siapa ya?.” Bian merasa tak kenal dengan suara gadis yang menyapanya.


“Ini Intan kak...adiknya kak Arbi.”


“Oh....Intan...!.Maaf.....maaf......kakak nggak hafal suara kamu.Maaf....”


“Iya nggak apa-apa kak....Ehmmm...aku cuma ingin ngucapain makasih kak, udah beliin aku ponsel.”


“Oh.....iya sama-sama. Sengaja kakak kirimin kamu ponsel biar kakak bisa tau keadaan kamu.”


“Keadaan aku atau kak Arbiii.......???.”


“He...he....kamu sama kak Arbi juga. Gimana kamu dan kakakmu baik-baik saja kan?.”


“Alkhamdulillah baik kak.”


“Syukurlah.....Kak Bian senang dengarnya.”


Sengaja Bian mengirimkan sebuah ponsel pada Intan, dengan tujuan agar dia bisa berkomunikasi dengan kekasihnya. Jika ponsel itu diberikan pada Arbi, Bian yakin kekasihnya itu akan menolak pemeberiannya.


“Kak Arbi sudah tau?.”


“Belum tau. Kak Arbi belum pulang.”


“Memangnya kak Arbi sedang pergi kemana?.”


“Sedang kerja di kebun teh.”


“Kerja apa?.”


“Ngangkutin teh, dari kebun ke penampungan.”


Seketika rasa iba muncul dalam benak Bianka. Kini ia tahu kenapa kekasihnya itu tampak berubah saat mereka bertemu. Telapak tangannya terasa kasar, kulitnya menghitam, kurus dan wajahnya terlihat kusam tak terawat.


“Eh..mbak ayu....!.” Suara Intan memenaggil seseorang menyadarkan Bianka dari lamunannya.


“Siapa ntan?.” Tanya Bian merasa harus tau siapa wanita yang datang kerumah kekasihnya.


“Mba Ayu kak, temannya kak Arbi.”


“Oh.....” Bian hanya ber oh, kemudian memilih menjadi pendengar.


“Hpnya baru ntan?.” Tanya Ayu melihat Intan memegang ponsel yang masih tampak baru. Kemudian meletakan rantang makanan di atas meja.


“He..iya mbak.” Jawab Intan masih menepelkan ponselnya di telinga.”Sebentar ya kak...” Ucap Intan pada Bian agar pacar kakaknya itu tidak menutup ponselnya.


“Hp mahal tuh.”.


“He...he....kurang tau mbak. Ini di beliin sama kak Bian.”

__ADS_1


“Kak Bian? Siapa?.”


“Pacarnya kak Arbi.” Jawab Intan polos. Menimbulkan desir kesakitan di hati Ayu setelah gadis itu terkejut. Tetapi menghadirkan senyum diwajah Bianka.


Wajah Ayu berubah sendu.


“Oh....pacarnya Arbi?!.” Terdengar nada sedih di ucapan Ayu. Menimbulkan tanya dalam benak Bianka meski suara ayu terdengar kecil.


“Iya kak, dari Jakarta. Kemarin aja dari sini. Aku kenalin ya mbak sama kak Bian.”


“Lain waktu saja Tan, Aku sedang buru-buru jadi harus segera pulang. Ini aku bawakan makanan, di makan ya sama Arbi. Arbi kan sangat suka masakanku”. Kali ini ucapan Ayu sedikit membuat hati Bianka memanas dan itu sepertinya di sengaja oleh Ayu.


“Oh...ya mbak. Makasih ya....”


“Tan...eh ada Ayu....” Tiba-tiba terdengar suara Arbi. Dan Ayupun menghentikan langkahnya ketika hendak keluar sembari tersenyum dengan wajah girang.


“Ada apa kak?.”


“Bikinin minuman, didepan ada tamu.”


“Oh iya kak..... Kak Bian aku bikin mium dulu. Kak Bian ngobrol dulu sama kak Arbi ya. Nih kak...” Intan menyodorkan ponsel barunya. Meski terkejut adiknya memegang ponsel baru, Arbi langsung menyapa kekasihnya.


“Halo Bi....”


“Ya Bi, kamu baru pulang kerja?.”


“Iya nih....kamu apa kabar?.”


“Baik, kangeennn nih.......” Ucap Bian terdengar manja.


“Sama aku juga kangen banget sama kamu. Tapi sayang aku belum bisa datang ke Jakarta. ”


“Ah malu dong akunya, masa aku yang diapelin he...he...”


“Nggak apa-apa dong.”


“Ya udah. Aku lagi ada tamu didepan. Nanti kita bicara lagi. Bicara soal ponsel ini juga.”


“Hem.....iya. Ya udah, aku tutup telfonnya ya. Nanti aku telfon lagi. Awas..jangan coba-coba tebar pesona di depan cewek yang namanya Ayu itu.”


“Hah...ha...ha...ha....iya...iya.....kamu ini ada-ada aja. Ya udah aku tutup ya telfonnya. Kasian tamunya ditinggal kelamaan.”


“Iya....” Bianka akhirnya menutup telfonnya. Dengan hati yang terusik olah gadis yang bernama Ayu.


“Dimana Ayu?.” Batin Arbi yang baru saja meletakkan ponsel di atas meja. Ayu sudah pergi, ketika merasa hatinya tidak nyaman berada satu ruang dengan pria yang sedang mengungkapkan kerinduan pada kekasihnya.


Arbi bergegas keluar menemui tamunya, yang merupakan seorang pria yang tampak asing baginya. Sepertinya bukan penduduk sekitar.


Satu jam kemudian.


“Intan....!!.” Panggil Arbi setelah mengantar tamunya yang berpamitan pulang sampai teras rumah.


Intan yang berada di kamar langsung menemui kakaknya.


“Tan duduk. Kakak ingin bicara serius sama kamu.”Setelah adiknya duduk dengan tatapan penuh tanya Arbi meneruskan ucapannya.”Rumah ini mau kakak jual.”


“Kak....kenapa harus di jual?.” Intan terkejut,dan langsung memasang wajah sedih.

__ADS_1


“Untuk membayar hutang kita pada paman. Paman sudah menagih berkali-kali. Karena kakak tidak punya uang, jadi terpaksa kakak harus jual rumah ini.”


“Hutangnya banyak ya kak?.”


“Iya, hutangnya sangat banyak.”


“Apa tidak ada cara lain kak, misalnya pinjam ke teman kakak atau ke kak Bianka.”


“Tidak, kakak tidak mau merepotkan siapapun.”


“Kalau rumah ini di jual, kita mau tinggal dimana?.”


“Kita akan pindah ke Jakarta. Uang sisa penjualan rumah akan kakak gunakan untuk modal usaha di sana dan juga untuk mengontrak rumah serta biaya sekolah kamu.”


“Terus sekolahku gimana?.”


“Sekolah kamu juga pindah. Nanti akan kakak urus perpindahannya.”


“Sebenarnya aku sedih kak. Ini rumah peninggalan satu satunya dari ayah ibu. Tapi jika memang harus dijual untuk bayar hutang sepertinya aku harus rela.”


“Maafkan kakak Tan, kakak benar-benar tidak punya jalan lain. Ada sih, cuma kakak berat melakukanya.”


“Jalan lain apa kak? “ Intan melepas pelukan kakaknya merasa penasaran dengan ucapan kakaknya.


“Paman menawarkan kakak untuk menikah dengan anak dari temannya yang lumpuh karena kecelakaan. Jika kakak mau, maka hutang kita dianggap lunas.Tapi kakak tidak mau, karena mereka minta aku untuk tinggal


dengan keluarga itu, tanpa membawa kamu. “ Arbi membelai kepala adiknya. Dia tidak bisa membayangkan jika ia harus meninggalkan adiknya seorang diri mengurus hidupnya. Lebih baik ia kehilangan rumah daripada mentelantarkan adik kandungnya sendiri.


“Kalau begitu...Intan setuju rumah ini di jual dan pindah ke Jakarta. Disini kita juga tidak punya siapa-siapa. Paman tidak mengakui kita selama ini.”


“Terima kasih Intan sudah mau mengerti. Maaf kan Kakak sudah membuat kamu sedih.”


“Tidak apa-apa kak. Intan tidak akan sedih lagi kok.”


Dua bersaudara itu kemudian berpelukan. Dengan rasa haru dan lega, setelah sekian lama dihantui kebingungan membayar hutang.


“Siapa yang akan membeli rumah ini kaka?.”


“Pria tadi yang datang kerumah.”Sebenarnya Arbi merasa terkejut tetapi juga bersyukur. Tiba-tiba ada pria yang datang kerumahnya hendak membeli rumahnya dengan harga yang sangat tinggi, padahal dia belum menawarkan kepada siapapun. Bukan hanya itu saja, ia juga diisinkan tetap tinggal di rumah itu, sebelum mendapatkan tempat tinggal baru.


“Oh...syukurlah. Jadi kita bisa segera bayar hutang.”


Arbi mengangguk dengan tatapan penuh kesedihan menatap adiknya. Diusianya yang masih belia, dia dipaksa dewasa oleh keadaan.


“ Oh ya....dari mana kamu dapat ponsel itu?.” Arbi teringat pada ponsel baru milik adiknya. Dia merasa heran karena ia tidak merasa membelikan adiknya ponsel.


“Dari kak Bian.”


“Dari Bian? Kamu yang minta?.”


“Tidak. Tau-tau tadi ada kurir datang mengantarkan ponsel itu.”


“Kamu kembalikan ponsel itu Tan.!!” Arbi merasa tidak enak pada Bian, setelah kemarin adiknya di beri uang sekarang di belikan ponsel. Sebagai laki-laki dan seorang kakak ia merasa malu.


“Enggak mau....!!. Kak Bian bilang, itu ponsel buat aku, biar dia tidak susah lagi menghubungi kakak. Dan biar aku bisa langsung laporain jika kakak berbuat macam-macam.”


“Oh jadi ini kerjasama kalian, kamu disuruh mengawasi aku gitu?.”

__ADS_1


Intan tertawa dan langsung berlari ke dalam kamarnya kemudian mengunci pintu saat tau sang kakak mengikutinya.


__ADS_2