Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Makanan Sisa Terenak


__ADS_3

David tersenyum senang. Sementara David mengambil makanan untuknya, mata Nenek Winarsih terus menatap tubuh pemuda itu. Wajah David mengingatkannya pada almarhum anaknya. Wajah David sangat mirip dengan anaknya waktu muda. Postur tubuh dan cara bicara sama persis.


Entah apa yang ada dalam benak nenek Winarsih ketika tatapannya terus melekat ke David, dengan mata yang kemudian berkaca-kaca. Namun nenek itu tak membiarkan air dimatanya jatuh, maka ia cepat-cepat mengeringkannya dengan ujung selimut, bersamaan dengan


David yang datang dengan sepiring makanan.


“Nenek kenapa?.” Tanya David yang melihat nenek Winarsih mengusap matanya. Rayyan dan mentari yang mendengar langsung mengarahkan pandangannya ke perempuan tua itu.


“Nenek tidak apa-apa nak, mata nenek terasa sedikit perih. Mungkin karena nenek tidak pakai kaca mata.”


“Oh.....Ya sudah, sekarang nenek makan ya. Biar David suapin." Kembali ucapan David mengundang Rayyan dan Mentari menoleh. Merasa aneh dengan sikap David. David baru dua kali bertemu dengan nenek Winarsih,tapi David begitu perhatian pada nenek Mentari itu. Dan seolah sudah kenal dekat.


“Tidak nak...nenek bisa makan sendiri. Sekarang kamu ambil makanan, bawa kesini temani nenek makan.”


“Iya nek, tapi David ingin menyuapi nenek dulu. Bolehkan?.”


Merasa tak kuasa menolak, akhirnya nenek winarsih mengangguk. David menyambutnya dengan gembira. Tatapan nenek winarsih kembali melekat pada wajah David. Ada rasa yang aneh, ketika ia menatap mata David. Seolah ia tengah bertemu dengan anaknya yang meninggal hampir setahun yang lalu.


Bukannya tidak menyadari, tapi David memilih berpura-pura tidak mengetahuinya. Diam-diam bathinnya menangis, karena tatapan nenek Winarsih menghujam hatinya.


Tak ingin berlarut-larut, nenek Winarsih segera mengambil piring makanannya dari tangan David.


“Sekarang kamu makan nak, biar nenek makan sendiri. Dan duduklah disana bersama mereka.”


“Tapi nek...”


“Sudah....sana makan....nenek masih kuat ngangkat sendok kok....he...he...he..” ujar nenek Winarsih. Ia memilih makan sendirian, karena David makin mengingatkannya pada sang putra, Restu Anggara.


“He....he..iya nek....David kesana dulu ya .” Pamit David yang dengan berat hati meninggalkan nenek winarsih makan sendiri.


“Siapa sebenarnya kamu nak. Kenapa aku merasa begitu mengenalmu padahal kita baru bertemu.” Batin nenek Winarsih sambil menatap punggung David.

__ADS_1


David akhirnya bergabung dengan Rayyan yang tengah merayu Mentari untuk makan. Karena istrinya tampak seperti tak berselera dengan makanan yang ia siapkan, malah menunjukkan jika dirinya sedang menginginkan sesuatu.


“Kenapa kamu diam saja, ayo makan!.” Ucap Rayyan yang terpaksa menghentikan makannya karena sang istri hanya duduk diam setelah mengambilkan makanan untuknya.”Apa tidak ada satupun dari makanan ini yang menarik buat kamu.” Lanjut Rayyan.


Mentari menggelang pelan.


“Tapi kamu harus makan, ingat kamu sedang .....” Rayyan menghentikan ucapannya,hampir saja ia keceplosan mengatakan jika Mentari sedang hamil. Mata Mentaripun sudah membulat menatap kearahnya.”lapar.....”Lanjut


Rayyan pelan sembari memasukan makanan kedalam mulutnya.


David di buat bingung dengan apa yang di lihatnya. Tapi ia menduga, jika Rayyan dan Mentari tengah menutupi kehamilan Mentari dari nenek. Satu pertanyaan lagi muncul di otak David.Namun akhirnya ia menyimpulkan, jika nenek tidak boleh tau kalau Mentari telah hamil sebelum menikah.


Yang masih menjadi misteri di benak David. Sejak kapan Mentari dan Rayyan saling kenal dan punya hubungan. Karena ia tau, Rayyan belum lama di tinggal oleh kekeasihnya. Dan Pria itu sempat terpuruk karena kepergian kekasihnya itu.


Dengan hamilnya Mentari, menandakan hubungan keduanya sudah sangat dekat. Sehingga mereka melampaui batas dalam menjalin hubungan.Tapi sejak kapan hubungan keduanya mulai terjalin. Apa mungkin Rayyan selingkuh dengan mentari. Pikir David yang makin larut dengan pikirannya. Tak sadar matanya menatap wajah Mentari dan terkunci beberapa saat sebelum akhirnya Rayyan menepuk bahunya.


“David....kau lihat apa. Dia istriku...istri bosmu....”Ucap Rayyan setengah berbisik.


Mentaripun merasa aneh dengan tatapan David padanya. Tatapan itu bukan tatapan ketertarikan seorang pria pada wanita, tapi tatapan itu bermakna lain.Yang Tari sendiri tidak memahaminya.


Mentari akhirnya mengabaikan pikirannya, karena ia sekarang lebih tertarik pada makanan yang tengah di makan oleh Rayyan.


Wanita hamil itu, segera mengambil piring dan mengambil makanan yang sama dengan Rayyan. Tapi setelah makanan itu masuk kedalam mulut, mulutnya seolah enggan mengunyah dan menelannya. Makanan itu berhenti di dalam mulutnya. Namun ia ingat, jika ia harus makan. Ada janin yang harus tumbuh dengan sehat. Dengan pelan Mentari mengunyah makanan dalam mulutnya serta menelannya meski dengan susah payah.


Mentari meletakkan sendoknya, tak bernafsu lagi untuk melanjutkan makannya. Tapi ia masih tertarik untuk makan makanan yang  sedang Rayyan makan. Meski makanan itu sama dengan makanan miliknya.


“Kenapa berhenti, ayo makan....keburu dingin makannannya.”Kembali Rayyan mengingatkan istrinya untuk makan. Tapi Mentari tak bergeming. Membuat Rayyan khawatir dengan calon anaknya. Ia ingat siang tadi mentari hanya makan baso, dan sekarang baru makan satu suap. Itupun seperti terpaksa.


“Kalau seperti ini terus, bisa-bisa calon anakku kekurangan nutrisi dan tidak bisa berkembang dengan baik.”Pikir Rayyan yang tak ingin kehilangan calon anaknya.


“Kamu ingin makan apa? nanti aku belikan.” Ucap Rayyan lagi, karena Mentari tampak menginginkan sesuatu. ”Katakan saja...!.” Rayyan menduga mentari tak berani atau malu mengatakan keinginannya seperti saat ia

__ADS_1


menginginkan baso mercon.


Mentari menggelang lagi. Tapi kali ini tanpa malu Mentari menggeser duduknya lebih dekat dengan Rayyan. Dan langsung mengambil piring Rayyan lengkap dengan sendok yang sedang Rayyan pegang. Tanpa basa-basi ia melahap makanan yang tengah di makan Rayyan menggunakan sendok bekas Rayyan juga. Rayan di buat terkejut melihat Mentari makan dengan lahapnya, begitu juga David. Sampai-sampai pria itu berhenti makan.


Nenek Winarsih yang tengah makan, juga di buat kaget dengan yang dilakukan cucunya. Tapi ia berpikir itu bentuk sikap manja Mentari pada suaminya.


“Apa kamu tidak jijik,itu sendok bekas mulutku loh...” Tanya Rayyan karena Mentari tampak biasa saja menggunakan sendok yang telah ia pakai.


Mentari menggeleng dengan terus mengunyah makanannya.


“Ya sudahlah.....tapi aku masih lapar. Makananmu biar aku habiskan. Bawa sini piringnya...” Ucap Rayyan meminta Mentari mengambil piring yang berisi makanan miliknya. Jadilah keduanya bertukar piring dengan posisi duduk yang begitu dekat.


“Meski mama benci sama papa, tapi mama juga manja sama papa. Apa ini karena kamu nak? Masih diperut saja kamu sudah pintar....he..he...teruslah


seperti ini, biar mama nggak benci lagi sama papa.”Gumam Rayyan dalam hatinya, seolah sedang berbicara dengan anaknya.


Mentari telah menghabiskan makanannya. Sementara Rayyan belum selesai, masih tersisa beberapa sendok.Tapi lagi-lagi Tari mengambilnya,beserta sendok yang masih Rayyan pegang.


“Aku masih lapar...”Ucap Mentari lirih sembari menoleh ke arah nenek, memastikan jika sang nenek tidak melihat apa yang ia lakukan.


Rayyan sepertinya harus mengalah lagi.


“Ya sudah habiskan....” Ucap Rayyan sembari mengusap kepala Mentari. Merasa aneh, tapi Rayyan sadar mungkin ini yang dinamakan nyidam pada


perempuan yang tengah hamil muda. "Kalau masih kurang, itu makanan David masih banyak.” Ucap Rayyan bercanda.


“Enggak mau, aku hanya ingin makan sisa makananmu.” Ucap Mentari jujur dengan wajah datar, tapi tetap bisa membuat Rayyan terbang.


“Andai setiap hari seperti, akupun tak keberatan.” Gumam Rayyan dengan sebuah senyum tipis di bibirnya.


🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Jangan lupa abis baca tinggalin jejak ya reader.....biar autornya tambah semangat😘. Dan jangan lupa masukin novel ini kedaftar novel favoritmu.....thanks. I love you all.....🥰🥰


__ADS_2