
“Pintu tidak di kunci, tapi kok sepi“ Batin Rayyan yang baru saja sampai di rumah istrinya. Ia mengucap salam tak ada yang menjawab, membuatnya langsung masuk kedalam rumah. Baru ketika hendak masuk kamar, neneknya terlihat berjalan dari arah dapur dengan wajah basah.
Wanita itu tampak kaget melihat cucu mantunya ada di rumah,yang ia tau sedang berada diluar negri.
“Kamu sudah pulang nak? Apa pekerjaanmu yang diluar negeri sudah selesai?.” Tanya Nenek Winarsih, yang merasa heran melihat penampilan Rayyan yang tidak seperti orang baru pulang dari bepergian jauh.
“Luar negri?.” batin Rayyan heran kenapa sang nenek seolah mengatakan jika dirinya baru pulang dari luar negri.”Pasti kerjaan Tari ini”
“Iya nek...Alkahamdulillah sudah selesai.“ Terpaksa Rayyan mengiyakan.
“Mana barang-barangmu?, apa kamu tidak membawa pakaian kesana?.”
“Hem...anu...nek, pakaiannya masih di dalam mobil. Belum sempat aku turunin.” Kebetulan Rayyan memang membawa mobil jadi dia mudah membuat jawaban meski sempat tergagap dengan pertanyaan sang nenek .
“Tari dimana nek.?”
“Dia ada dikamar, sedang istirahat. Tadi habis solat magrib dia muntah-muntah. Mungkin masuk angin.”
“Muntah-muntah?.”
Nenek mengangguk.
“Oh....kalau begitu aku ke kamar dulu ya nek.”
“Ya....kalau kamu tidak capek, ajak Tari kedokter.”
“Iya nek.”
Rayyan segera beranjak kekamar. Dalam pikirannya, ia menduga Mentari muntah-muntah karena efek dari kehamilannya.
Tidur Tari tampak nyenyak, meski masih belum begitu malam. Suara pintu yang dibuka Rayyan sama sekali tak mengusiknya.
Tak ingin mengganggu, Rayyan melangkah pelan mendekati istrinya. Matanya menyelusuri setiap jengkal tubuh yang sepertinya berubah. Tubuh istrinya tampak lebih kurus dengan wajah pucat. Berbeda saat pertama ia ditinggalkan. Timbul tanya di hati pria itu. Kenapa istrianya menjadi kurus seperti itu, apa dia sakit?,pikir Rayyan.
Selama mereka berpisah Mentari selalu menolak jika Rayyan mengajaknya untuk melakukan panggilan Video bahkan melarang Rayyan pulang menjenguknya. Dengan alasan yang tak jelas.
Karena sedang fokus dengan adiknya, yang sangat membutuhkan dirinya, Rayyan menurut saja, tak mempermasalahkan. Karena ia juga tau jika Mentari masih membencinya. Mungkin dengan tidak ada dirinya Mentari merasa lebih nyaman.
Beberapa hari terakhir Rayyan ingin sekali menjenguk istrinya. Dia merasakan rindu selayaknya rindu seorang suami pada istrinya. Akhirnya Rayyan memutuskan untuk pulang kerumah Mentari, setelah sebelumnya memberitahu adiknya.
Melihat tubuh mentari yang menjadi kurus, Rayyan menjadi merasa bersalah karena telah meninggalkannya terlalu lama,dalam kondisi hamil muda. Dan menyesal karena menuruti keinginan istrinya itu. Ia khawatir, kondisi Mentari mempengaruhi pertumbuhan calon anaknya.
Mata Rayyan terhenti di kain yang tengah dipegang istrinya sampai menutupi hidung. Rayyan mengamatinya dan ia yakin itu adalah kemeja miliknya.
Rayyan tersenyum ”Ternyata kamu merindukanku, sampai-sampai bajuku kau jadikan teman tidurmu.” gumam Rayyan dengan perasaan senang di balik rasa khawatirnya.
__ADS_1
Pria itu bangkit untuk membersihkan diri. Dengan sangat hati-hati agar tak mengeluarkan suara, Rayyan mengambil pakaian ganti dari dalam lemari dan berlalu keluar kamar.
Selesai mandi Rayyan yang mulai mendekatkan diri pada tuhannya , menggelar sajadah untuk solat.
Sepasang mata milik Mentari yang telah terbuka memperhatikan setiap gerakan Rayyan yang tampak khusuk. Awalnya ia merasa kaget dan kesal karena Rayyan pulang, tapi sesaat kemudian ia merasa seperti ada sumbatan yang terbuka dalam benaknya dan seolah ia mendapatkan energi baru dalam tubuhnya yang semula tanpa daya.
Sesungging senyum muncul dari bibir Mentari tanpa dikehendaki. Namun itu tak bertahan lama, sisi kebencian muncul membuyarkan senyuman dan semua rasa yang ada. Mata Mentari menutup kembali, bersamaan dengan Rayyan yang mengakhiri solatnya.
Mata Mentari tertutup rapat seolah tengah tidur nyenyak, hingga ia tak tau jika suaminya tengah tersenyum padanya.
Selesai berdoa, Rayyan tak lantas menemani istrinya. Ia memilih keluar kamar menuju dapur. Membuka kulkas mencari minuman dingin disana dan beberapa bahan makanan. Ia pernah melihat David memasak, jadi kali ini ia akan mencoba mempraktekannya.
Hampir setengah jam Rayyan tak kembali ke kamar, membuat Mentari penasaran. Jadi ia keluar kamar sekalian pergi ke kamar mandi.Langkah Mentari sempat terhenti di dapur, melihat suaminya sibuk di depan kompor. Sempat juga ia tersenyum melihat gerakan tangan Rayyan yang kaku saat mengaduk.
Mentari kembali melangkah ke kamar mandi, sementara indra penciumannya terusik oleh aroma masakan yang tengah di masak Rayyan. Dia ingin sekali menikmatinya, setelah seharian ia hanya makan buah dan susu ibu hamil.
Ekor mata Rayyan menangkap bayangan Mentari, tapi ia hanya melirik . Pura-pura tak melihat dan pura-pura fokus dengan pekerjaannya sampai Mentari kembali ke kamar.
“Tidak begitu buruk...”Ucap Rayyan setelah mencicipi makanan yang ia masak tadi. Hanya capcai dan omlet, tapi ia cukup senang telah berhasil membuatnya, meski rasanya tak seenak buatan David.
Rayyan mengambil nasi dan beberapa sendok capcai ditambah omlet, disajikan dalam satu piring. Ia membawanya ke dalam kamar untuk ia berikan pada sang istri. Rayyan menggelangkan kepalanya, melihat Mentari kembali berpura-pura tidur.
Makanan dan minuman yang ia bawa, Rayyan letakkan di atas meja. Terdiam sejenak sebelum akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga Mentari. Merasakan hembusan nafas di pipi kemudian telinga, Mentari nampak menautkan alisnya dengan mata makin rapat terpejam.
“Mau aku cium dulu biar bangun?.”
Kepala Mentari menggeleng tapi masih dengan mata terpejam.
“Ya udah...aku gendong aja ya.....” Tangan Rayyan telah menyentuh tangan Mentari, saat wanita itu membuka mata dan seketika langsung menarik tangannya dari tangan Rayyan dan langsung Duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai menyentuh lantai.
“Kamu tidak menanyakan kapan suamimu ini pulang?.”
“Harus ya?.” balas Mentari sembari merapikan hijabnya.
“Ya...semestinya si gitu, apalagi suami yang baru pulang setelah lama tidak pulang.”
“Aku ingin tanya, tapi aku sudah lapar!.” Dengan senyum yang dipaksa, Mentari meraih piring di atas meja dan langsung melahapnya tanpa rasa malu
Rayyan tersenyum, melihat Mentari makan dengan lahap masakannya. Cara makan Mentari seperti orang yang kelaparan.
“Pelan-pelan sayang.....”
“Aku lapar sekali.”
“Apa kamu belum makan?”
__ADS_1
Mentari menggeleng sembari terus mengunyah.
“Sejak kapan?.”
“Tadi pagi. Aku hanya makan buah dan susu.”
“Kenapa? “
“Nggak bisa diisi nasi, selalu muntah kalau dipaksa."
“Apa kamu sekarang ingin muntah?.”
Mentari kembali menggelang.
“Aneh....sekarang kamu lagi makan nasi. Tapi kamu baik-baik saja!”
“Aku enggak tau kenapa.”
“Itu karena anak kita lagi kangen sama ayahnya.”
“Ah....kata siapa?!.”
“Itu dugaan ku saja, buktinya sekarang masakanku yang tidak enak itu bisa masuk kedalam perutmu dengan baik ....dan aku yakin kamu sering mengalami hal ini selama aku tidak ada,sehingga tubuh kamu jadi kurus begini.”
Mentari terdiam, mengunyah makanannya pelan.Dalam hatinya membenarkan ucapan suaminya. Namun ia malu mengucapkannya.
“Apa ucapanku benar?.”
Semula Mentari tak mau mengakuinya, tapi setelah Rayyan terus menatapnya tajam, akhirnya Mentari mengangguk pelan. Seketika merubah raut wajah Rayyan.
“Ya Alloh Tari.....kenapa kamu tidak memberitahuku. Kamu malah melarangku pulang. Kenapa Tari? Apa kamu ingin membunuh janin yang tidak berdosa itu!!!.” Kilatan kemarahan muncul di mata Rayyan,dengan nafas memburu.
“Aku..aku....bukan......aku bukan tidak mau memberitahumu tapi akau merasa itu hal yang wajar terjadi pada wanita hamil muda, suatu saat pasti akan berhenti dengan sendirinya.”
“Tapi aku tidak bisa menerima alasanmu itu!.” Rayyan benar-benar dikuasai amarah, tapi ia masih bisa menahan suaranya agar tak terdengar sampai keluar kamar.” Ketika aku pergi aku sudah berpesan agar kamu menjaga kandunganmu!. Kenapa kamu mengabaikan pesanku. Tari....aku mohon jaga kandunganmu, meski kamu tak menginginkannya. Biarkan dia tumbuh di rahimmu dengan sehat sampai ia lahir. Aku janji akan membawanya pergi setelah dia lahir dan menjauh dari hidupmu. Dia tidak berdosa, aku yang bersalah dan berdosa padamu. Bencilah aku semampumu tapi jangan kamu benci anakku juga.”
Mata Mentari mengembun mendengar semua ucapan Rayyan yang seolah menuduhnya.
“Aku tidak membencinya, aku peduli padanya. aku menyayanginya....hik..hik.... sama sekali tak terpikir olehku untuk membunuhnya.” Tangis Mentari pecah. “Apa yang aku alami diluar kuasaku, aku bukan sengaja melakukannya...... hik..hik..hik....”
Rayyan yang tengah berdiiri akhirnya duduk kembali di ranjang, di samping istrinya.
“Sudahlah jangan menangis....aku minta maaf jika ucapanku menyinggung perasaanmu. Aku hanya kecewa dengan sikapmu yang tidak mau terbuka denganku. Bagaimanapun aku ayah dari anak yang kamu kandung, aku suami kamu...!. Sudah seharusnya aku tau apa yang terjadi sama kamu. Karena kamu dan janin itu adalah tanggung jawabku." Rayyan tak habis pikir dengan sikap Mentari "Mulai sekarang aku akan menjagamu, aku akan terus tinggal bersamamu. Tak peduli kamu suka atau tidak, dan aku tak peduli meski kamu akan makin membenciku. Bagiku yang penting anakku tumbuh dengan sehat, karena dia titipan tuhan yang harus aku jaga.”
Setelah berucap, Rayyan membaringkan tubuhnya, sesekali terdengar pria itu menarik nafas panjang dan beristighfar. Sementara Mentari masih duduk terdiam, dengan piring masih di tangan dan airmata yang masih menetes.
__ADS_1