
Bianka baru saja selesai sarapan, ketika kakaknya tiba-tiba datang.
“Kak Ray.....!” Panggil Bianka yang merasa rindu dengan kakaknya setelah beberapa hari tidak bertemu. Sejenak dua bersaudara itu berpelukan.
“Kamu tidak macam-macam kan selama kakak tidak ada?.” Tanya Rayyan yang selalu merasa khawatir pada adiknya setelah kejadian aborsi itu.
“Tidak kak, Bian kan sudah pernah berjanji untuk tidak bikin kakak khawatir lagi.” Balas Bian yang masih memeluk kakaknya.
“Baguslah...dengan begitu kakak jadi tenang saat meninggalkan kamu. Karena kakak sekarang tidak bisa selalu bersama kamu.” Ucap Rayyan lega, seraya mengusap dan mencium puncak kepala adiknya.
“Bagaimana kabarnya kak Mentari?.” Bian melepas pelukannya,ketika teringat dengan kakak iparnya.
“Kabar dia baik.”
“Aku ingin sekali ketemu dengan Kak Mentari, kapan kakak ajak aku bertemu dengannya?.” Setelah Rayyan memberitahu bahwa dirinya diam-diam telah menikah,beberapa hari yang lalu, Bianka ingin sekali bertemu dengan kakak iparnya itu. Tapi Rayyan belum memperbolehkannya dengan alasan yang tidak jelas.
“Nanti kalau sudah saatnya pasti kamu akan bertemu dengannya. Tapi untuk sekarang ada seseorang yang lebih penting untuk kamu temui?.”
“Sesesorang? Siapa kak?.” Tanya Bianka penasaran.Dengan wajah serius menunggu jawaban dari kakaknya.
“Arbi.”
“Arbi?!” Bianka nampak terkejut dan tidak percaya dengan pendengarannya.
Rayyan mengangguk “Iya....kakak tau dimana dia sekarang.”
Bianka lagi-lagi dibuat terkejut .Tak percaya jika ternyata diam-diam kakaknya mencari keberadaan Arbi. Saat dia sudah pasrah dan menyerah mencari keberadaan kekasihnya itu.
“Benarkah itu kak?.Kakak tau dari mana?.”
“Tak penting kakak tau darimana. Sekarang Kakak akan ajak kamu bertemu dengan Arbi. Bicaralah dengan dia, minta dia bertangungjawab dengan perbuatannya sama kamu.Jika dia menolak, kakak yang akan bicara dengannya.Dah....Segera bersiap!. Kakak tunggu di mobil.” Rayyan meninggalkan adiknya yang berdiri termangu.
“Biannn...!!.” Panggil Rayyan ketika ia telah melangkah jauh,tetapi adiknya masih berdiri di tempatnya.
“Eh...i...iya kak....” Bianka berlari kekamarnya mengambil tas dan ponselnya. Dan segera menyusul kakaknya yang sudah menunggu di mobil.
Setelah mendapat informasi dari orang kepercayaannya tentang keberadaan Arbi,Rayyan memutuskan untuk mengajak adiknya menemui pria itu dan menyerahkan semua pekerjaan kantor pada David.
__ADS_1
“Apa kamu masih mencintainya, setelah apa yang Arbi lakukan sama kamu?.”Mata Bianka menunjukkan jika gadis itu tengah bahagia dan itu terlihat jelas oleh Rayyan.
Bian tertunduk dan diam mencoba mencari jawaban didalam hatinya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh kakaknya.
“Ia kak...Bian masih sangat mencintainya. Bian tidak bisa melupakan dia, meskipun Bian juga kecewa, marah pada Arbi.”
Tampak sekali jika Bianka masih sangat mencintai Arbi,dan itu membuat Rayyan heran. Kenapa adiknya itu masih mencintai pria yang tidak bertanggung jawab seperti Arbi. Menurut Rayyan, Arbi lebih beruntung darinya, karena masih dicintai meski telah melakukan sebuah kesalahan besar, Sementara dirinya masih saja di benci walaupun dia sudah bertanggung jawab dengan kesalahannya.
Setelah menempuh jarak berkilo-kilo meter Rayyan dan adiknya akhirnya sampai di alamat yang di tunjukkan oleh orang yang di minta Rayyan untuk mencari keberadaan Arbi. Dan orang itu sudah menunggu mereka disana. Sebuah kampung yang terletak di antara perkebunan teh.
“Ren,Mana rumahnya?.” Tanya Rayyan pada orang suruhannya.
“Itu tuan, rumah yang memiliki halaman yang luas dan ada pohon mangganya.”
Mata Rayyan dan Bian langsung tertuju pada rumah yang ditunjuk oleh Reno. Sebuah rumah agak besar dengan halaman yang luas. Tampak di sana ada seorang anak perempuan sedang duduk sambil membaca buku di bawah pohon mangga.
“Bi...pergilah kesana, kakak akan mengawasimu dari sini. Dan ini, bawa alat ini untuk jaga-jaga. Jika Arbi bersikap tidak baik sama kamu kakak akan bisa langsung membantumu.” Rayyan memberikan sebuah benda kecil yang
berfungsi menyadap pembicaraan Bian dan Arbi nanti.
“Iya kak....”
Bian mengangguk mengerti, selama ini ia memang menutupi identitasnya sebagai adik dari Rayyan Arga atas permintaan kakaknya itu. Gadis itu tidak tau kenapa seperti itu.
“Ya sudah...pergilah.”
Tanpa ragu Bianka melangkah menuju rumah Arbi. Sementara Rayyan dan Reno mengawasi dari kejauhan.
“Assalamu’alaikum....” Bianka menghampiri anak perempuan berusia remaja yang tengah fokus membaca buku.
“Wa’alaikumsalam.....” Gadis remaja yang bernama Intan itu tampak terkejut, dan merasa tak mengenal wanita yang tiba-tiba ada didepannya.” Maaf kak, mau cari siapa?.”
“Benar ini rumahnya Arbi?.”
“Iya benar kak. Kakak ini siapa ya dan dari mana?.” Tanya Intan yang masih diliputi rasa terkejut dan penasaran.
“Kenalin nama kakak Bianka, temannya Arbi waktu di Jakarta.” Dengan senyuman dan suara lembut bianka mengulurkan tangan dan langsung di sambut oleh Intan.
__ADS_1
“Namaku Intan kak, aku adiknya kak Arbi.”
“Oh...adik Arbi...?!. Kak Arbinya ada?.”
“Ada, dia sedang memasak di dapur.Sebentar kak, aku panggilin dulu.” Intan bergegas masuk kedalam rumah, semari berteriak memanggil kakaknya.
“Memasak?.Kenapa dia memasak? Apa tidak ada wanita atau pembantu dirumah ini sehingga ia memasak sendiri?.” Batin Bian heran.
“Silahkan masuk kak, kak Arbi sebentar lagi selesai. Kakak disuruh duduk dulu.” Intan mengantar Bianka sampai perempuan itu duduk di ruang tamu, setelahnya ia kembali dengan buku bacaannya.
Bianka merasa rumah itu begitu sepi, tidak tampak orang tua dari Arbi keluar menyambutnya. ”Mungkin mereka sedang bekerja.” Pikir Bianka.
Di dapur, Arbi yang baru selesai mencuci tangan terus bertanya-tanya siapa Bianka yang di maksud adiknya tadi. Tak mungkin itu Bianka kekasihnya, karena selama ini ia tidak pernah menceritakan soal keluarganya termasuk alamat rumahnya.
Dengan keyakinannya, Arbi melangkah keluar untuk menemui tamunya. Namun pria itu kemudian berhenti melangkah ketika dari kejauhan ia melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu.
Dia tampak terkejut dan tidak percaya jika tamunya adalah Bianka, kekasihnya. Ia bingung harus bagaimana menghadapi gadis itu. Ia ingat ia telah menyakiti gadis itu dengan meolak menikahinya setelah ia tau kekasih itu tengah mengandung calon anaknya.
Tapi untuk menghindar tak mungkin ia lakukan, ia tidak mau makin merasa bersalah terhadap gadis itu. Apalagi akhir-akhir ini ia sangat merindukan kekasihnya itu.
“Bian....” Arbi akhirnya melangkah mendekati Bianka yang tengah menunggunya.
“Arbi....” Bianka langsung berdiri dari duduknya.
Mata keduanya bertemu, dengan tatapan penuh kerinduan. Tapi rasa kecewa Bian dan rasa bersalah Arbi menahan keduanya untuk tetap berdiri di tempatnya. Tak ada pelukan yang biasa mereka lakukan ketika bertemu.
“Arbi...kenapa kamu menghilang, kenapa kamu tinggalkan aku!.Aku mencari kamu kemana-mana, tapi kamu seperti hilang di telan bumi. Kamu tega tinggalkan aku padahal aku sangat membutuhkan kamu.Kamu tega...kamu jahat Arbi” Ucap Bianka dengan tangis dan amarah yang ia tahan. Tapi suara yang pelan dan parau menunjukan gadis itu sangat terluka.
“Bi...maafkan aku....aku....aku....terpaksa meninggalkan kamu.”
“Aku tidak menyangka kamu tega berbuat ini padaku.Aku kira kamu sungguh-sungguh mencintaiku, tapi ternyata aku salah.”
“Bi...aku sungguh-sungguh mencintai kamu, aku sayang sama kamu. Sampai saat ini rasa cinta dan sayangku padamu tidak pernah berubah. Keadaan yang memaksaku untuk pergi darimu. Tolong maafkan aku Bi,aku tak bermaksud menyakiti kamu.”
“Jangan bersandiwara untuk menutupi kebusukan kamu Arbi. Kamu pria paling brengsek yang paling aku kenal. Dan bodohnya aku telah jatuh cinta sama kamu dan percaya jika kamu lelaki baik.”
Arbi mendekati Bian dan berdiri tepat di depan gadis itu. Berusaha menggenggam kedua tangan kekasihnya itu tapi di tolak.
__ADS_1
“Marahlah Bi....marahlah padaku....aku memang brengsek....aku jahat.....pukul aku...tampar aku...!” Arbi menarik tangan Bianka agar menamparnya, tapi Bianka menahan tangannya. Tak kuasa Bian menampar lelaki yang masih ia cintai itu, apalagi mata lelaki itu telah sedikit berair dengan tatapan bersalah.