
Mentari hendak melangkah masuk kedalam kamar untuk memberikan catatan yang diminta Rayyan.Tapi langkahnya terhenti, ketika melihat Rayyan sedang solat Magrib. Mentari berbalik dan meletakkan kertas berisi catatan daftar sayur dan kebutuhan dapur itu di atas meja makan.
Ia melangkah kedapur untuk membuatkan nenek makanan.Tapi ia bingung harus masak apa untuk sang nenek, karena ia hanya punya telur dan mi instan yang ia beli tadi.
Catatan yang ia letakkan di meja sudah tidak ada, karena sudah diambil oleh Rayyan. Tapi karena Mentari tidak tau pasti kapan barang yang ada dalam catatan itu akan Rayyan beli, Mentari memutuskan untuk tetap pergi mencari sayur demi neneknya.
Mentari pergi menemui neneknya untuk berpamitan pergi membeli sayur ke mini market yang letaknya cukup jauh dan mungkin akan lama meninggalkan sang nenek.
“Mau kemana lagi?.”Tanya Rayyan begitu melihat Mentari masuk ke kadalam kamar dan kembali memakai jaket.
“Membeli sayur untuk nenek.”
“Tidak perlu, aku sudah memesannya. Kita tunggu saja, tidak sampai satu jam pesanan akan datang. Lebih baik kamu sekarang istirahat. Berbaringlah disini, biar aku memijitmu.”
Mentari langsung melangkah mundur menjauhi Rayyan.
“Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku hanya ingin memijit kakimu. Tidak akan berbuat macam-macam. Aku tau kamu capek.”
Meski sempat ragu , akhirnya Mentari membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Membiarkan Rayyan memijit kakinya yang telah ia tutup dengan selimut. Keduanya saling diam, tanpa percakapan. Sentuhan tangan Rayyan tak mampu menahan Mentari untuk tetap terjaga. Wanita itu tanpa sadar terlelap, dan Rayyan membiarkannya.
Rayyan menatap wajah Mentari yang tengah tertidur.Setiap inci dari wajah Mentari tak luput dari pandangannya.
“Nania...” Nama kekasihnya keluar begitu saja dari mulut Rayyan. Wajah Mentari mengingatknnya pada wajah kekasihnya yang telah tiada.”Tuhan telah memberiku penggantimu Nania.” Ucap Rayyan lirih.”Pengganti yang lebih baik darimu.” Tambahnya.
Ketukan di pintu depan menghentikan tatapannya. Rayyan bergegas keluar kamar. Setelah a sempatkan membetulkan selimut di tubuh istrinya.
“Bawa barang-barang itu langsung kedapur Vid.”
Ternyata David yang datang, dengan membawa banyak bungkusan yang berisi sayuran dan bahan makanan lainnya, sesuai dengan yang Mentari tulis. Dan ditambah barang lain diluar catatan.
“Baik tuan...”
David bergegas masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke dapur. Saking banyaknya barang David tampak kerepotan membawanya. Dan mengharuskan ia bolak balik dari teras ke dapur. Untung Rayyan mau membantunya
menurunkan barang-barang itu dari bagasi mobil.
“Nenek dan nyonya dimana tuan?.”Tanya David setelah selesai menyimpan barang-barang di dapur. Ia sedari tadi memang tengah mencari-cari dua perempuan itu, karena sejak ia masuk rumah ia tak melihat keduanya.
“Mereka sedang istirahat di kamar.”
“Oh...pantas sepi.” Mendudukan tubuhnya di kursi depan Rayyan
__ADS_1
“Iya...tapi mereka belum makan malam. Bagaimana kalau kamu masak buat mereka? buat kita juga.Aku yakin mereka akan menyukai masakanmu,seperti aku.”
“Baik tuan, dengan senang hati.” David tersenyum dan kembali berdiri bergegas ke dapur tanpa rasa keberatan.
David memang pintar memasak, keahliannya itu ia warisi dari ibunya yang berjualan makanan.
Tidak sampai satu jam makanan sudah siap. Dan nenek Winarsih sudah berada di meja makan. Wanita itu sempat terkejut ketika hendak ke kamar mandi ia melihat David ada didapur. Namun akhirnya ia mengerti setelah mendengar alasan mengapa David berada di tempat itu.
Mentari harus menyudahi tidurnya, karena Rayyan membangunkannya untuk makan malam. Ia menyalahkan Rayyan yang tak membangunkannya dan menyuruh David memasak.
“Tidak apa-apa mbak, aku sudah biasa masak kok....” Ujar David nampak tersenyum, meyakinkan Mentari bahwa ia tidak keberatan telah memasak untuk makan malam mereka.
“Makasih ya Vid.” Mentari melempar senyum pada David karena merasa dibantu oleh pemuda itu.
“Iya mbak..sama-sama.” Balas David yang dengan cekatan mengambilkan makanan untuk perempuan tua yang duduk disebelahnya.
Perhatian kembali David tunjukkan untuk nenek Winarsih, dengan alasan yang tidak diketahui oleh orang yang tengah bersamanya.Hanya David dan Aothor yang tau.
Acara makanpun selesai. Sebuah sanjungan keluar dari mulut nenek Winarsih.
“Kamu anak laki-laki tapi kamu pinter sekali masak. Rasa masakanmu sangat enak. Masakan Mentari saja tidak seenak ini...ha..ha....”
“Ihhh...nenek tega banget si.....Tetep enak masakan Tarilah,buktinya tiap hari nenek makan masakan Tari....” Ucap Mentari yang disambut tawa nenek dan yang lainnya.
“Tapi bagiku lebih enak masakan Tari nek .....” Sahut Rayyan seraya tersenyum dan melirik Mentari yang duduk disampingnya. Tapi Mentari tak menanggapi, karena ia langsung bangkit dari duduknya, mengangkat piring kotor
dan membawanya kedapur.
Nenek Winarsih kembali tersenyum.
“Tinggal masakan kamu yang nenek belum tau rasanya.Kapan-kapan kamu harus masak buat nenek...” Ucap Nenek pada Rayyan.
“He....he....iya nek.Tapi Rayyan kursus masak dulu sama David.”
Obrolan hangat terus berlanjut di meja makan, tapi akhirnya hanya tinggal David dan nenek ditempat itu. Mentari sibuk dengan kegiatannya di dapur. Membereskan barang yang baru di beli Rayyan. Sambil sesekali menggerutu, karena Rayyan terlalu banyak dalam belanja.Sementara Rayyan sibuk dengan beberapa laporan yang harus ia periksa di dalam kamar.
“Nak...boleh nenek tanya sesuatu?.” Tanya nenek Winarsih setelah memastikan tak ada yang mendengar ucapannya selain David.
“Iya nek boleh. Nenek mau tanya apa?.” David menjawab dengan suara pelan, karena ia mengerti jika nenek tidak ingin percakapan mereka di dengar orang lain.
“Kita baru dua kali bertemu. Tapi kamu begitu perhatian dengan nenek.Sikap kamu seolah-olah kamu telah begitu mengenalku. Apa kamu bisa menjelaskan alasannya?”
__ADS_1
Mata nenek Winarsih terus tertuju pada David yang tampak kaget dan bingung setelah mendengar ucapan perempuan itu. Sementara nenek Winarsih semakin ingin untuk segera menuntaskan rasa penasarannya, tentang pemuda yang ia anggap sangat mirip dengan putranya. Batinnya selalu mengatakan jika ada kaitan antara David dan putranya.
“David belum bisa menjawabnya nek....” David tak bisa menjawabnya, karena ia takut dirinya dianggap mengada ada,dan saat itu ia tak membawa apapun untuk bisa memperkuat jawabannya.
“Kenapa?. Apa sangat sulit untukmu menjawabnya.”
“David hanya takut nenek tidak percaya dengan jawaban David.”
Nenek Winarsih menghela nafas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sesak. Saat rasa penasaran makin menghimpit perasaannya.
“Baiklah jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku. Tapi nenek masih punya pertanyaan lain, Nenek harap kamu bisa menjawabnya. Tapi sebelumnya nenek ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Nenek Mentari melangkah ke dalam kamar putranya, meminta David untuk mengikutinya.
Perempuan itu mengambil selembar foto yang terselip di bawah kasur.
“Kamu tau, siapa yang ada dalam foto ini?.”
Mata David seketika melebar, seiring rasa kaget yang ia tunjukkan. Jelas terpampang di foto itu dirinya dan kedua orang tuanya. Foto yang di ambil saat ia berusia dua belas tahun.
Pemuda itu terdiam,menunduk tak kuasa menatap wajah wanita tua di depannya. Namun sesaat kemudian ia mengangguk.
“Sebelum kamu memberitahuku, terlebih dahulu aku akan memberi tahumu. Pria dewasa yang ada dalam foto ini adalah putra semata wayangku yang sudah tiada. Jika kamu benar tau tentang foto ini, tolong beri tahu nenek siapa anak laki-laki dan perempuan yang bersama putra kandungku ini.”Nenek Winarsih sebenarnya tau jika dua orang yang ada dalam foto itu adalah cucu dan menantunya. Ia hanya ingin memastikan jika anak dalam foto itu adalah David. Karena kemiripan wajah keduanya.
Bibir David bergetar, seiring butiran bening yang keluar dari sudut matanya.
“Me..mereka cucu dan menantu nenek. Aku dan ibuku.David Putra Anggara dan Widyasari. Anak dan istri Restu Anggara anak nenek.”
Raut wajah Nenek Winarsih langsung berubah. Butiran kristal bening terjun bebas dari matanya yang tak lagi jernih. Wanita itu menangis tanpa suara.Matanya terus menatap pemuda yang kini duduk bersimpuh di hadapannya dengan mata yang basah. Perlahan tangan keriput perempuan tua itu membelai wajah pria yang ternyata cucu kandungnya.
Tanpa suara, nenek Winarsih terus mengusap wajah dan kepala David. Hanya airmata keduanya yang berbicara,mengungkap rasa yang ada dalam benak mereka.
David menjatuhkan kepalanya dipangkuan sang nenek dengan Isak tangis yang terdengar lirih, dan langsung disambut kecupan bertubi-tubi di kepalanya. Keduanya larut dalam keharuan.
🥰🥰🥰🥰
Makasih buat yang udah setia baca novelku ini,yang masih jauh dari kata sempurna 😊
Jangan lupa tinggalin jejak ya guys....biar aothornya tambah semangat 💪💪🥰🙏
Jangan lupa juga mampir ke novel perdanaku " Cinta Keinara ". Sudah Tamat.
__ADS_1