Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Rayyan Sang Pawang


__ADS_3

“Pantas saja dia tidak mau pergi cari baso mercon waktu di kantin tadi, ternyata .......he...he.....ada-ada saja bumil yang satu ini.”Ujar Sandra, yang akhirnya tertawa bersamaan dengan Dinda.


“Husttt.....Mentari malu, ketahuan benci tapi rindu....ha...ha.....” Sambung Dinda, dan kembali tertawa.


Dengan menahan malu, Mentari keluar kamar kembali menemui sahabatnya yang baru saja selesai menghabiskan basonya.Dinda dan Sandra tak kuasa menahan tawanya begitu melihat Mentari.


“Kalian belum puas ngetawain aku !!.”  Mentari dengan wajah kesal bercampur malu.


“Enggak.....siapa yang ngetawaain kamu ha...ha....ha...”Jawab Sandra.


Sandra kembali tertawa, begitu bunyi perut Mentari yang berbunyi tanda lapar.


“Ada yang kelaparan rupanya....” Sindir Sandra.


“Dah makan aja basonya, dari pada cacing dalam perut kamu kelaparan.” Saran Dinda.


Mentari akhirnya memakan baso yang di beli Miko meski tak berselera.


“Hoek.....hoek.....”Mentari menutup mulutnya, dan berlari kekamar mandi. Perutnya tak bisa dibohongi. Perutnya tak mau menerima makanan yang baru saja masuk sehingga mendorongnya keluar.


Mentari dibuat tak berdaya oleh rasa mual yang menekan perutnya,sampai isi perut terkuras habis. Setelah rasa mual mereda,istri Rayyan itu bukan kembali menemui  dua sahabatnya. Melainkan merebahkan tubuhnya di atas bed kecil di sebelah ranjang neneknya. Ia merasa tubuhnya lemas setelah muntah-muntah. Wajahnya pucat,  dengan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.


Sandra dan Dinda akhirnya masuk ke dalam kamar, karena Merasa khawatir Mentari yang tak kunjung kembali bersama mereka setelah terlihat mual sehabis makan baso.


Keduanya terkejut melihat mentari tengah terbaring dengan wajah pucat.


“Tari....kamu pucat sekali.” Ucap Dinda dengan suara setengah berbisik agar nenek Winarsih tidak terbangun.


“Aku tidak apa-apa.” sahut Mentari lemah.


Dinda yang seorang dokter, segera memeriksa kondisi Mentari.


“Gimana Din, dia nggak apa-apa kan.” Tanya Sandra yang terihat khawatir.


“Tidak apa-apa, dia hanya lemas saja setelah muntah. Nanti setelah makan dia pasti akan pulih.”


Sandra keluar untuk menemui Miko dan meyakini bila baso mercon yang di beli Rayyan bisa memulihkan kondisi Mentari.


 “Mas Miko sudah menghubungi Pak Rayyan?.”


“Sudah nona, tapi sekarang masih rapat jadi belum bisa kesini.”


“Hadeh.....apa tidak bisa menyempatkan kesini dulu, istrinya kelaparan nungguin baso merconnya.”


Gumam Sandra yang kemudian berinisiatif menghubungi pria itu. Setelah terhubung, Sandra langsung menceritakan kondisi Mentari.


Di ruang Meeting Rayyan terpaksa mengakhiri rapat, setelah mengetahui kondisi Mentari.

__ADS_1


“David, cari warung baso yang menjual baso mercon.” Pinta Rayyan ketika sudah berada di dalam mobil.


“Baik tuan.” David segera membawa tuannya ke warong baso langganannya.


“Saya yang turun untuk membelinya. Kamu tunggu di mobil saja.”


“Tapi tuan.....” Rayyan sudah turun ketika David belum menyelesaikan ucapannya. Asisten itu di buat penasaran. Setau dia bosnya itu tidak suka baso dan tidak suka pedas. “Terus untuk siapa tuan Rayyan membeli makanan itu, apa untuk istrinya” Pikir David.


Setelah menunggu sepuluh menit, Rayyan kembali dengan menenteng sebuah bungkusan berisi baso mercon dan jus.


“Kerumah sakit, sebelah hotel “ Perintah Rayyan begitu ia masuk kedalam mobil.


“Rumah sakit Tuan? siapa yang sakit?.” Tanya David akhirnya.Yang terus didesak rasa penasaran.


“Neneknya Mentari sakit, semalam pingsan.”


David tampak terkejut. Raut mukanya seketika berubah. Namun kemudian dia berusaha menutupinya.


“Terus baso mercon itu, kalau boleh saya tau untuk siapa. Bukankah tuan tidak suka baso apalagi pedas.”


“Ini untuk istriku.Dia ingin makan baso mercon tapi harus aku yang membelinya.Katanya tadi sudah makan baso mercon, tapi malah bikin dia muntah-muntah. Mungkin karena bukan aku yang membelinya.”


“Seperti orang sedang hamil yang lagi nyidam tuan....”


“Iya...Mentari memang sedang hamil. Baru jalan beberapa minggu.”


“Tidak usah terkejut kenapa Mentari sudah hamil. Aku tak bisa menceritakan kenapa bisa begitu.Yang pasti dia hamil anakkku”


“I..iya tuan...” Balas David yang kemudian memilih diam,tapi otaknya terus bekerja dengan banyak pertanyaan.


Rayyan bergegas menuju kamar dimana nenek Winarsih di rawat dan istrinya tengah menunggu dirinya. Sementara David melangkah di belakangnya.


Begitu sampai, pria itu di sambut oleh Miko yang langsung membukakan pintu kamar.


Mata Rayyan langsung tertuju pada dua sosok wanita yang tengah terbaring di temani dua wanita yang tak lain Diana dan Sandra.


Diana memberi kode agar Rayyan mendekat pada Mentari yang tengah terpejam dengan wajah yang masih pucat.


Diana dan Sandra melangkah keluar, membiarkan pasangan suami istri bersama. Begitu juga David. Setelah meletakkan  bungkusan milik tuannya keatas meja , dan sejenak menatap tubuh renta yang tengah terbaring dengan tatapan penuh arti, David memilih keluar.


Rayyan menyentuh tangah Mentari yang terasa dingin dan membuat istrinya itu membuka mata.


“Tanganmu sangat dingin. Kamu sakit?.”


“Tidak, aku hanya habis muntah-muntah.” Jawab Mentari sembari menarik tangannya yang masih dalam genggaman Rayyan. Ia kemudian duduk dengan sisa tenaganya.


“Itu makanan yang kamu minta. Aku sendiri yang membelinya.”Ucap Rayyan menunjukkan bungkusan yang terdapat di atas meja.

__ADS_1


“Iya makasih.”


“Kamu tampak sangat lemah.Ayo segera makan basonya.”


“Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri.” Mentari terkejut dan langsung berusaha untuk turun ketika Rayyan membopong tubuhnya dan membawanya ke arah sofa. Rayyan tak menggubris ucapan Mentari. Pria itu terus saja membawa tubuh Mentari dan mendudukannya di atas sofa.


“Sekarang makanlah...Aku suapin ya...” Ucap Rayyan begitu selesai menyiapkan makanan yang di belinya.


“Aku bisa makan sendiri..”


Wajah Mentari seketika terlihat gembira, begitu melihat tampilan baso mercon lengkap dengan asap yang masih mengepul. Meski sempat ragu, takut muntah lagi, tapi akhirnya ia mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makanan itu. Bahkan ia tak perduli dengan tatapan Rayyan yang menatapnya dengan perasaan senang. Pria itu merasa menjadi suami yang sangat dibutuhkan istrinya. Dia tersanjung, karena Mentari hanya mau makan makanan darinya.


Suap demi suap makanan itu masuk kedalam perut Mentari tanpa penolakan. Masuk begitu saja, dengan rasa yang begitu nikmat.


“Aneh...” Batin Mentari.”Kenapa bisa seperti ini.Padahal baso mercon dimana-mana bentuknya sama dan rasanya juga sama. Tapi kenapa baso yang Rayyan beli terasa berbeda dan nggak bikin mual.”


Setelah puas menatap istrinya, Rayyan bangkit dari duduknya, untuk melihat kondisi nenek yang masih terlelap. Dan setelahnya ia keluar untuk menemui empat orang yang sedang menunggu diluar.


“Terima kasih sudah menemani istri saya nona-nona.” Ucap Rayyan pada Dinda dan Sandra yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam kamar untuk berpamitan pada Mentari.


“Panggil nama saja, jangan panggil nona tuan Arga.”Ujar Dinda yang merasa risih di panggil nona.” Bagaimana kondisi Mentari, apa dia bisa makan basonya?.”Ucap Dinda lagi


“Jangan juga panggil aku tuan,panggil saja Rayyan.Iya....Mentari sedang makan baso. Silahkan masuk saja jika ingin melihatnya.”


Dua sahabat Mentari itu kembali masuk kedalam kamar.Dinda dan Sandra dibuat heran, begitu melihat Mentari makan baso dengan lahap.


“Syukurlah...akhirnya kamu bisa makan baso mercon juga.” Ucap Dinda.


“Kan udah ketemu sama pawangnya...he...he....” Sahut Sandra meledek.


Mentari memasang wajah cemberut, mendengar ucapan Sandra.


“Ya udah, kita pamit pulang dulu ya....” Pamit Sandra yang kemudian mengajak Dinda pulang.


Mentari tak bisa menahan keduanya untuk tetap tinggal, meski sebenarnya  ia masih ingin ditemani oleh dua sahabatnya itu.


Setelah Dinda dan Sandra pergi, Rayyan kembali masuk kedalam kamar. Ia juga telah menyuruh dua bawahannya untuk kembali ke kantor.Iamemutuskan untuk tinggal menemani dua wanita yang sekarang manjadi tanggung


 jawabnya selain adiknya, Bianca..


“Aku ingin bicara.” Ucap Mentari begitu Rayyan duduk di sofa.


“Nanti saja, aku capek dan ingin tidur.” Rayan membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Dia memang benar-benar lelah. Jadi dia menolak bicara dengan Mentari.


“Hanya bicara sebentar.”


“Nanti saja. Sebaiknya kamu istirahat, mumpung nenek sedang tidur.” Jawab Rayyan, yang tak lagi menyahut ketika Mentari mengajaknya bicara.Mentari kesal, namun akhirnya iapun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2