
“Lebih baik kalian duduk lagi dan habiskan basonya.Aku memang ingin makan baso mercon, tapi....”Mentari tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia takut kedua sahabatnya nanti malah mengoloknya jika ia mengatakan keinginan sebenarnya.
“Tapi apa?.” Tanya Sandra diliputi rasa penasaran.
“Tapi.....ah...sudahlah.....sekarang habiskan saja baso kalian.”
Sandra yang masih diliputi rasa penasaran, akhirnya memilih duduk kembali dan memakan lagi baso miliknya yang masih setengah mangkok. Begitu juga dengan Dinda, yang masih merasakan lapar.
“Jadi gimana, baso merconnya. Jadi nggak?.” Ucap dinda yang telah selesai dengan basonya.
“Ehmmmmm.....” Lagi-lagi Mentari tampak ragu ketika hendak mengatakan sesuatu.
“Sebenernya kamu mau ngomong apa si. Dinda cuma tanya jadi nggak makan baso merconnya.Tinggal jawab iya apa enggak , susah amat sih....”Protes Sandra sedikit kesal.
“Ee...ennggak jadi dech....”
“Bener.....enggak jadi?. Udah enggak kepengin baso mercon lagi?.” Tanya Dinda untuk memastikan.
Mentari mengangguk pelan, meski sebenarnya ia tak yakin.Karena keinginannya makan baso mercon masih ada dalam benaknya. Tetapi ia terpaksa harus berbohong pada sahabatnya, ia khawatir jika ia mengatakan yang sebenarnya, dua sahabatnya itu akan mentertawakannya.Ia bukan hanya ingin makan baso mercon, tapi ia juga ingin Rayyan yang membelikannya.Terdengar aneh memang,tapi itulah yang sedang ia inginkan sekarang. Dan keinganannya itu begitu kuat, bahkan ia sampai menelan ludah ketika ia membayangkannya. Meski Rayyan adalah suaminya, tapi rasa benci pada pria itu memberinya pilihan untuk menahan keinginannya. Dan ia yakin keinginannya itu akan hilang dengan sendirinya.
Ponsel Mentari berdering, dan nama Rayyan tertera di layar.
“Nenek sudah sadar. Sebaiknya kamu segera menemuinya. Mungkin sebentar lagi mau di pindah ke ruang perawatan.” Ucap Rayyan begitu ia mendengar suara Mentari menyambutnya panggilannya. Rayyan lebih dulu tau kondisi nenek Winarsih, karena ia meminta pihak rumah sakit untuk selalu memberitahunya tentang perkembangan kondisi perempuan itu.
“Alkhamdulillah.....iya saya segera kesana. “
“Aku masih ada meting jadi belum bisa ke rumah sakit.”
“Ya....”
“Jika kamu butuh sesuatu, bilang saja sama Miko.”
“Miko??.”
__ADS_1
“Pria yang yang aku suruh menemani kamu itu namanya Miko.”
Sejak pagi pria itu bersamanya, tapi Mentari baru tau jika pria suruhan Rayyan itu bernama Miko.
“Sebaiknya anda minta Miko untuk tidak mengikutiku lagi. Karena aku bisa menjaga diriku sendiri dan........”
“Tut....tut...tut.....” Mentari kesal, karena Rayyan menutup teleponnya sebelum dirinya selesai bicara. Namun karena ia teringat sang nenek, Mentari mengabaikan kekesalannya dan bergegas menuju ruang ICU bersama dua sahabatnya, diikuti oleh Miko yang berjalan tidak jauh di belakang mereka.
Setengah berlari Mentari bergegas ke ruang ICU. Saking gembiranya ia tak sadar jika ia sedang hamil muda.
“Tari....pelan-pelan saja, ingat kandunganmu !.” Dinda segera mengejar Mentari dan menahan tangannya, agar gadis itu memelankan langkahnya.
“Oh iya aku lupa......” Mentari akhirnya memelankan langkahnya,merasa hampir saja ia akan lalai menjaga kandungannya. "Aku hanya tidak sabar ingin segera melihat nenek Din.“
“Sama aku juga....Tapi ya nggak usah pakai lari juga kali....kasihan si orok.” Sahut Sandra.
“Iya...iya....makasih ya , kalian udah ngingetin aku.” Ucap Sandra seraya tersenyum merasa bersyukur memliki sahabat yang sangat peduli dan perhatian dengannya.
Dua sahabatnya kompak mengacungkan ibu jari mereka dan tersenyum.
“Nenek...” Panggil Mentari dengan rasa haru dan bahagia. Wanita yang menjadi orang tua tunggalnya telah kembali dengan senyumnya.
Mentari memeluk neneknya dengan pelukan hangat ungkapan rasa bahagia. Sementara senyum terus menghiasi bibirnya.
“Tari kenapa nenek bisa ada disini?.” Meski telah sadar lebih dari sepuluh menit yang lalu, perempuan tua itu masih bingung dengan keberadaannya.
“Nenek pingsan di depan pintu kamar. Jadi Tari bawa nenek kesini. Nenek tidak sadar sejak semalam, membuat Tari sangat khawatir. Alkhamdulillah akhirnya nenek bangun....Makasih ya nek.” Tari mencium tangan neneknya, ia ingin menunjukkan jika ia sangat bahagia dan begitu berartinya sang nenek baginya.
Tangan keriput nenek Winarsih membelai pipi cucunya yang tengah basah oleh air mata haru.
“Maafkan nenek sudah membuat kamu khawatir. Nenek baik-baik saja. Semalam nenek ingin kebelakang.Tapi tiba-tiba kepala nenek pusing sekali dan setelah itu nenek tidak tau lagi apa yang terjadi dengan nenek. Tau-tau sudah di sini.” Nenek Winarsih akhirnya ingat apa yang terjadi dengan dirinya sebelum di temukan pingsan.
“Apa sekarang nenek masih pusing?.”
__ADS_1
“Masih, tapi tidak sepusing semalam.”
“Kata dokter tekanan darah nenek naik. Itu yang membuat nenek pingsan. Apa nenek melupakan obat yang seharusnya nenek minum setiap hari?.”
“Nenek tidak lupa, tapi nenek sengaja tidak meminumnya.Sejak Rayyan melamarmu, sejak itu juga nenek tidak minum obat. Karena nenek sangat bahagia, nenek tidak merasakan pusing. Malah nenek merasa tubuh nenek terasa bugar.Tapi entah kenapa semalam pusing itu datang lagi.”
Hati Mentari tergetar mendengar ungkapan yang keluar dari mulut neneknya. Begitu bahagianya sang nenek dengan pernikahannya dengan Rayyan. Padahal pernikahannya dengan Rayyan hanyalah pernikahan yang ia jalani dengan rasa terpaksa. Bagi sang nenek pernikahannya begitu berarti tapi bagi dirinya malah sebaliknya.
“Dimana suamimu?.”
Pertanyaan nenek Winarsih menyadarkan Mentari dari lamunannya. Membuatnya gugup dan membuatnya teringat dengan baso mercon.
“Di...dia....sedang pergi menemui Bosnya. Ada pekerjaan mendadak yang harus segera diselesaikan.”Jawab Mentari sembari menelan ludahnya saat bayangan baso mercon muncul dalam benaknya.
“Bukannya dia sedang cuti?.”
“Ia seharusnya nek...tapi bosnya memintanya untuk datang ke kantor.”
“Maaf nek...terpaksa tari berbohong.” Batin Mentari.Kebohongan kembali ia buat untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Apakah Mentari meyesal? Tentu, Mentari sangat menyesal karena sebelumnya ia tak pernah berbohong pada neneknya.
“Maaf mbak, pasien akan kami pindahkan ke kamar perawatan. Jadi silahkan mbak menunggu diluar.” Ucap salah satu perawat dari tiga perawat yang datang keruangan itu.
Mentari keluar dari ruang ICU.Bersama kedua sahabatny,ia menunggu neneknya keluar dari ruang ICU dan di antar keruang perawatan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nenek Winarsih keluar dan langsung di bawa kekamar kelas VVIP. Mentari yang mendmpingi di buat bingung. Karena kamar yang di pakai nenek adalah kelas termahal di rumah sakit itu. Kebingungan Mentari terbaca oleh Dinda.
“Siapa yang mengurus administrasinya.”Tanya Dinda.
“Rayyan....” Mentari tersadar. Pasti ini ulah Rayyan yang telah memilih kamar itu karena semalam ia yang mengurus administrasinya, pikir Mentari.
“Pantas...” Sahut Sandra.
“Pasti dia juga yang telah memilih kamar ini.” Dinda menyimpulkan. Dan memang kesimpulannya itu benar. Rayyan yang telah memilih kamar itu untuk merawat nenek dari istrinya, bahkan ia telah mendpositkan uangnya dirumah sakit itu untuk biaya selama nenek Winarsih dirawat sampai sembuh.
__ADS_1
“Sudah...jangan bingung begitu. Pasti semua biaya sudah di tanggung oleh Rayyan. Sekarang lebih baik kita masuk. Nenek pasti ingin di temani.” Ucap Sandra sembari menggandeng tangan Mentari yang masih memikirkan biaya kamar VVIP yang dipakai neneknya.