Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Tegar Demi Nenek


__ADS_3

Mentari telah ditinggalkan ibunya karena kecelakaan. Setengah tahun yang lalu ayahnya juga meninggal setelah


mengalami sakit yang menahun semenjak usahanya bangkrut. Bebarapa aset yang tersisa habis terjual untuk mencukupi biaya pengobatan sang ayah. Sejak ayahnya jatuh sakit, Mentari memutuskan untuk mencari pekerjaan agar bisa membantu perekonomian keluarga dan untuk biaya kuliah yang waktu itu tinggal dua semester.Dari Sandra, Mentari mendapatkan pekerjaan sebagi guru privat sampai sekarang.


Selain dari honor sebagai guru privat, Mentari juga memperoleh panghasilan dari berjualan kue brownis. Mentari


baru beberapa bulan merintis usaha kue, jadi ia belum memiliki banyak pelanggan.Tapi ia merasa puas karena pelanggannya selama ini selalu memuji kue buatannya.


Kini ia hidup bersama neneknya yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.


Wajah keriput nenek Winarsih tak bisa menutupi rasa khawatirnya, karena cucu satu-satunya dari semalam belum


pulang. Ada perasaan tak enak di hati wanita renta itu. Feelingnya mengatakan jika cucunya sedang tidak baik-baik saja. Sejak semalam tak terhitung berapa kali nenek Winarsih berjalan keluar masuk rumah, menunggu cucunya hingga pagi menjelang.


Nenek Winarsih segera beranjak dari duduknya, saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah sederhananya. Perempuan itu tampak bahagia, melihat cucu yang ditunggunya turun dari mobil bersama Sandra.

__ADS_1


“Asalamu’alaikum nek....” Sapa Sandra sembari mencium punggung tangan wanita yang selama ini ia anggap seperti neneknya sendiri.Disusul Mentari yang langsung memeluk tubuh renta nenek Winarsih. Pelukan sejenak, karena Mentari seperti ingin menangis ketika dalam pelukan neneknya itu. Dan itu tak boleh terjadi. Ia tak boleh menangis didepan neneknya.Neneknya tak boleh tau apa yang sudah terjadi pada dirinya. Mentari menyimpan tangisnya dalam hati.


“Wa’alaikumsalam....Sandra,Mentari.” Balas sang nenek yang  merasakan pelukan cucunya tak seperti biasa.


“Semalam dari mana nak,kenapa tidak pulang?.”


Pertanyaan yang di takutkan mentari terlontar juga dari mulut neneknya.


“A..aku.....semalam...”


“Semalam Tari menginap di rumahku nek. Menenemani aku, karena semalam aku masuk angin. Maaf ya nek sudah bikin nenek khawatir. Mau ngabarin nenek tapi kami ketiduran.” Ucap sandra menyambung perkataan Mentari yang tampak gugup.


“Iya nek...” Jawab Tari dan Sandra bersamaan.


“Ya sudah, nenek istirahat dulu. Semalam nenek tidak bisa tidur. Jadi agak pusing.” Ucapan Nenek Winarsih

__ADS_1


menimbulkan iba dan rasa khawatir di hati Sandra dan Mentari. Mata mentari berkaca-kaca, dan gadis itu melangkah cepat ke arah kamarnya, menumpahkan tangisnya di atas bantal.


“Semua gara-gara pria breng***k itu....”


“Tari..kendalikan dirimu. Jangan sampai nenek mendengar tangisanmu. Karena itu bisa membuatnya curiga. Dan kamu tak bisa lgi menyembunyikan semuanya.”


Seketika Tari menghentikan tangisannya, membenarkan ucapan Sandra.


“Berusahalah untuk tegar Tari....demi nenek. Satu hal yang hilang dari hidupmu, jangan sampai membuat hal berharga lainnya menjadi hilang juga. Dan berhentilah menyesali apa yang sudah terjadi, karena itu takkan bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.”


Ucapan sang sahabat menjernihkan pikiran mentari. Dia memang harus tegar dan harus bisa melanjutkan hidupnya. Masa depannya masih ada, dan masih banyak kesempatan untuknya bahagia.Ucapan Sandra terus berputar di otak Mentari. Gadis itu terdiam. dan sesaat kemudian ia membuka mulutnya.


“Terim kasih San...kamu sudah mengingatkanku.Aku memang masih belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi mulai saat ini aku akan berusaha ikhlas menerima ujian ini.”


“Aku yakin kamu bisa melewati semua ini, karena aku tau kamu wanita yang kuat.Sekarang kamu istirahat, tenangkan pikiran kamu, jangan mikir yang macam-macam.Aku pulang dulu. besok aku kesini lagi.”

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan sebelum berpisah.


Setelah sahabatnya pergi, Mentari keluar kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang rutin ia lakukan tiap hari.Demi neneknya, Tari menyembunyikan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan airmata yang hendak keluar ia tahan semampunya saat ia teringat kejadian itu. Pasti neneknya akan shok dan penyakit darah tinggi akan mengancam nyawanya, jika ia tau apa yang terjadi dengan cucunya.


__ADS_2