Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Putus Asa


__ADS_3

Mentari terus berjalan menembus sepinya gedung megah sembilan lantai, menuju lantai satu menggunakan lift.


Sudut matanya masih menyembulkan cairan bening.Melangkah terburu agar cepat pergi dari tempat yang menjadi saksi kehancuran hidupnya. Melangkah dan terus melangkah menyusuri jalanan yang dingin berkabut.


Sepanjang jalan Mentari meruntuki nasibnya. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, kini ia harus kehilangan


satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya. Sebuah kehormatan sebagai seorang wanita.Tak ada lagi yang bisa ia banggakan. Tak ada lagi yang ia bisa berikan jika suatu saat ada pria yang ingin memperistrinya. Dan bagaimana ia akan menjalani hari-harinya jika benih pria itu tumbuh dalam rahimnya. Bagiamana dengan neneknya? Bagaimana dengan kekasihnya?. Masihkan mereka menerimanya?.


Rasa putus asa menguasai hati dan pikiran Mentari. Jika wajah keriput sang nenek tak muncul di pelupuk mata, ia


igin mengakhiri hidupnya saat itu juga. Diatas jembatan dimana ia tengah berdiri dengan sungai besar mengalir di bawahnya.


Tubuh gadis itu sudah berada di atas pembatas jembatan. Jika terpelest sedikit saja, tubuh gadis itu bisa di pastikan jatuh dan hanyut tertelan aliran sungai. Air mata terus mengalir di sudut mata yang tengah memandang aliran sungai dibawah jembatan. Terjadi pertentangan dalam batinnya yang membuatnya masih bertahan berdiri, dan ragu


untuk menjatuhkan tubuhnya ke bawah sana.


“Astaghfirullohal’adzim..”Ucap Mentari seketika saat teringat ia masih punya nenek dan Tuhan.


Ia menurunkan tubuhnya dari pembatas jalan. Berkali kali ia beristighfar dengan tubuh yang meluruh ke bumi. Penyesalan yang ia rasakan sekarang. Hampir saja ia melakukan sebuah dosa.  Mentari menangis sejadi-jadinya dalam sepinya pagi.


Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan melangkahkan kakinya untuk pulang. Langkah yang begitu pelan. Pikirannya melayang pada peristiwa menyakitkan yang telah menimpanya. Wajah pria yang tak ia kenal, tapi telah merenggut kesuciannya,jelas tergambar dalam ingatannya. Rasa benci dan marah untuk pria itu muncul seperti tak berbatas. Jika ia mampu, ia ingin membalas perbuatan pria itu. Paling tidak pria itu juga harus merasakan apa yang sekarang ia rasakan. Tapi ia hanya wanita lemah dan bukan tipe wanita pendendam. Ia hanya mampu membenci.


Wajah sang kekasih kembali muncul dalam benaknya. Apa yang harus ia lakukan sekarang.Apakah ia harus jujur mengatakan jika dirinya sekarang tak suci lagi. Atau merahasiakannya.Tapi sampai kapan?.

__ADS_1


Kisah cinta Mentari dengan Dika sudah berjalan sejak mereka di bangku SMA. Hubungan yang di tentang oleh kedua orang tua Dika karena mereka sekarang berbeda kasta. Cinta yang begitu kuat dantara keduanya, Membuat Dika terus berusaha meluluhkan hati orang tuanya untuk menerima Mentari menjadi pendamping hidupnya. Tapi


sampai saat ini restu orang tua tak kunjung Dika peroleh.


“Tin....tin.....tin....” Suara klakson motor mengagetkan Mentari yang tengah berjalan hampir ketengah jalan.


Belum sempat ia menggeser posisinya ketepi, motor dibelakang sudah menyerempet tubuhnya.


“Cittttt....bruk.....”  Tubuh Mentari terhuyung ke tepi jalan. Dengan lutut dan telapak bertumpu pada aspal jalan,menopang berat tubuhnya .


“Allohu akbar..”Teriak pemilik motor yang motornya oleng tapi tak sampai roboh. Setelah berhasil menghentikan


motornya, pemilik motor menghampiri Mentari yang tengah mengusap lutut dan telapak tangannya.


“Tidak pak, saya tidak apa-apa , hanya lecet sedikit di lutut dan telapak tangan.” Jawab Mentari. Pria tua itu


memeriksa lutut dan telapak tangan Mentari, yang memang tidak ada luka serius.


“Maafkan saya nak, saya tidak lihat ada orang tadi. Kita periksa kedokter ya nak?.”


“Tidak usah pak, saya benar tidak apa-apa. Saya juga minta maaf pak, saya teledor karena jalan terlalu ketengah.”


“Kamu yakin nak tidak apa-apa, jika tidak ke dokter?.”

__ADS_1


“Benar pak, saya tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bapak bisa melanjutkan perjalanan,silahkan.”


“Ya sudah kalau begitu. Mungkin kita memang sama-sama sedang apes. Oh ya, kamu mau kemana sebenarnya pagi-pagi begini, sendirian lagi.  Terus baju kamu kok robek begini dan kamu seperti habis menangis.”


“Saya habis kerja lembur pak, ini mau pulang. Tapi belum nemu angkot. Dan baju saya ini sobek karena


kecerobohanku waktu di tempat kerja tadi.” Jawab Mentari tanpa menjelaskan tentang sebab air mata dipipinya.


“Ohhh.....ya sudah, kalau begitu saya akan mengantar kamu sampai rumah. Tidak baik kamu berjalan sendirian di


pagi buta begini”


“Oh iya pak,tapi apa tidak merepotkan bapak?.”


“Tentu saja tidak. Anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawab saya, karena telah membuat kamu jatuh. Ya udah


yuk.....naik...”


“I..iya pak, sebelumnya terima kasih”.


Sepanjang perjalanan keduanya terlibat perbincangan, hanya sebatas perbincangan ringan hingga sampai di tujuan.Mentari tak menunjukan kesedihannya, ia menutupinya dengan rapi. Meski orang yang mengantarkannya tau jika gadis yang bersamanya dalam masalah.


Mentari bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongnya, meski harus di dahului dengan sebuah insiden.

__ADS_1


__ADS_2