
Nampak ragu-ragu, namun Mentari akhirnya mampu menguatkan dirinya untuk melangkah masuk kedalam restoran dimana Rayyan telah menunggu di privat room. Rasa ragu kembali menahan langkah Mentari, ketika tinggal beberapa langkah lagi sampai ke ruangan yang ia tuju.
Dan ia harus kembali meyakinkan dirinya. Bahwa menemui dan berbicara dengan Rayyan adalah pilihan yang tepat. Tak ada yang harus ia takutkan.
“Bismillah.....” Mentari mendorong pintu dengan hati yang berdebar-debar. Ada sedikit rasa gemetar dan takut namun ia mengabaikannya agar rasa itu tak terus merongrongnya.
Pintu telah terbuka lebar, dan nampak jelas seorang pria tengah duduk menunggunya.
“Silahkan masuk nona Mentari.” Rayyan menyambut Mentari dengan senyuman dan terkesan santai.”Silahkan duduk..” Ucapnya lagi setelah mentari telah berada di hadapannya. Namun tak ada satupun kata yang keluar dari
bibir tipis gadis itu.
Rayyan di buat bingung oleh sikap Mentari. Namun dari mata yang terpejam dan keringat yang muncul di wajah Mentari, Rayyan akhirnya menyadari, jika gadis yang mirip dengan mantan kekasihnya tengan mehanan sesuatu di dalam dirinya. Rayyan memilih diam dan sabar menunggu sampai gadis itu berbicara.
Perlahan mata Mentari terbuka dan langsung tertuju ke wajah Rayyan.
“Tuan Rayyan Arga...Saya ingin bertanya, benar anda akan bertanggung jawab dengan perbuatan anda pada saya?.” Dengan suara bergetar karena rasa takut yang menderanya, saat menatap wajah Rayyan. Wajah itu mengingatkannya akan peristiwa waktu itu.
“Benar nona...saya akan bertanggung jawab atas perbuatan dan sikap saya waktu itu. Saya minta maaf, malam itu saya sedang mabuk. Dan saya kira nona adalah kekasih saya, karena wajah nona yang sangat mirip dengannya.
Sekali lagi saya minta maaf.”
Berbeda,sikap Rayyan sungguh sangat berbeda dengans sikapRayyan di malam itu pikir Mentari. Meskipun begitu, tak mengurangi rasa benci Mentari pada pria itu.
“Saya tidak butuh permintaan maaf anda, karena kesalahan anda sulit untuk saya maafkan.”
Tak ada rasa takut lagi, berganti rasa benci. Mentari tampak lebih tenang dalam setiap ucapannya, meski dengan nada emosi.
“Yang saya butuhkan sekarang adalah tanggung jawab anda....Anda harus menikahi saya....demi status dari.....” Mentari menggantung ucapannya.Satu keputusan yang berat baginya menikah dengan orang yang telah menghancurkan hidupnya, dan satu-satunya orang sangat ia benci dalam hidupnya saat ini.
“Demi status dari.....??? Jangan buat saya penasaran nona.”Rayyan tak kuasa menahan rasa penasarannya, karena Mentari tak kunjung melanjutkan ucapannya. Malah memilih menunduk dengan mata mengembun. Namun
sesaat kemudian Mentari mengangkat wajahnya.
“Saya menikah dengan anda bukan untuk diri saya, tapi untuk janin yang sudah enam minggu tumbuh dalam rahim saya. Dan janin ini adalah calon anak anda tuan Rayyan Arga!.”
__ADS_1
Rayyan begitu terkejut mendengar ucapan Mentari. Dan dia tidak tau apakah harus bahagia atau sebaliknya. Gadis yang menjadi korban kebodohannya tengah mengandung benih yang ia tebar hampir dua bulan yang lalu.
“Ka...kamu hamil?.” Rayyan masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Iya....saya hamil anak anda. Kenapa? anda tidak percaya?.Anda kira saya berbohong demi bisa menikmati harta anda?.”Mentari di buat emosi dengan ucapan Rayyan yang seolah-olah tidak mempercayainya.
“Tidak...saya tidak berpikiran seperti itu nona. Saya percaya itu anak saya. Saya hanya tak menyangka jika saya akan menjadi seorang ayah. Kalau begitu saya akan segera menikahi kamu.”Ucap Rayyan tanpa ragu.
Terbersit rasa bahagia karena ia akan menjadi seorang ayah meski dengan cara yang salah.
“Ya,memang anda harus segera menikahi saya.”
“Kapan kamu siap?.”
“Satu minggu lagi.”
“Baik, saya akan menyiapkan segala keperluannya.”
“Tapi ada beberapa syarat yang saya ajukan dan anda harus setuju.”
“Pertama, setelah kita menikah kita jalani hidup kita masing-masing. Kita tidak akan hidup satu rumah.Hubungan kita hanya hubungan di atas kertas. Saya tidak akan meminta hak dan melakukan kewajiban saya sebagai
istri begitu juga sebaliknya. Kedua, setelah anak ini lahir maka kita akan bercerai dan hak asuh anak sepenuhnya ada ditangan saya.Ketiga, ketika kita menikah anda jangan tunjukan siapa anda. Tinggalkan sejenak status anda sebagai orang kaya dan terpandang.”
“Untuk point ketiga aku tidak mempermasalahkannya. Tapi poin satu dan dua saya keberatan. Bukankah pernikahan kita adalah pernikahan sungguhan dan pernikahan adalah hal yang sakral. Dan saya tidak mau anak saya menjadi korban perceraian,karena itu sangat menyakitkan.”
“Dalam hal ini saya tidak peduli dengan keberatan anda tuan.“
“Kalau begitu saya tidak akan menikahi kamu.” Rayyan tak menyangka gadis didepannya begitu berani. Satu ancaman mungkin bisa membuat gadis itu melemah.
“Tidak apa-apa, saya akan menggugurkan kandungan ini.”Ancaman Rayyan di patahkan oleh Mentari yang balik mengancam. Membuat Rayyan bergidik.
“Hai....Kamu tidak boleh melakukan itu, Janin ini tidak berdosa!.”
“Kalau begitu anda harus menikahi saya dan setuju dengan sarat yang saya ajukan.”
__ADS_1
“Baiklah....tapi tolong jelaskan alasan kenapa saya harus setuju dengan sarat poin satu dan dua itu!.” Rayyan mengalah demi calon anaknya yang tak berdosa.
“Alasannya sederhana, karena saya tidak mau hidup selamanya dengan orang yang telah menghancurkan hidup saya dan orang yang sama sekali tidak saya cintai.”
“Ya tuhan....ternyata perbuatanku begitu menyakitinya. Sehingga dia begitu membenciku. Menikah denganku juga terpaksa.Padahal diluar sana banyak gadis yang sangat bahagia jika aku nikahi. Gadis ini tolol atau bagaimana sih...tapi ya sudahlah. ” Batin Rayyan.
“Baik....jika itu yang kamu inginkan saya stuju dengan sarat yang kamu ajukan.” Ucap Rayyan akhirnya setuju. Meski sebenarnya ia tidak mau menjalani sebuah perceraian nantinya. Ia hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Pengalaman hidup membuatnya berprinsip seperti itu. Tapi sekarang ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Mentari dari pada calon anaknya menjadi korban.
“Besok sore datanglah kerumah, Saya akan mengenalkan anda sebagai pacar saya ke nenek. Dan saat itu juga anda harus melamar saya di depan nenek dan katakan ke beliau jika anda akan menikahi saya minggu depan.”
“Dimana orang tuamu?.Bukankah sebaiknya saya melamarmu di depan orang tuamu.”
“Kedua orang tuaku sudah meninggal. Dan nenek saya adalah pengganti mereka sekarang.”
Rayyan tak menyangka jika gadis di depannya sama seperti dirinya. Hidup tanpa kedua orang tua. Bedanya ia masih memiliki seorang ayah, meski ayahnya tak peduli dengannya.
“Baik saya akan datang besok.”
“Ini alamat rumah saya....” Tari menyodorkan secarik kertas yang berisi alamat rumah dan nomor ponselnya.”Saya rasa cukup, saya pamit. Saya tunggu kedatangan anda besok.”
“Tidakkah sebaiknya kamu disini sebentar lagi, agar kita bisa berbicara lebih banyak hal untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain.”
“Maaf sepertinya tidak bisa. Saya rasa tak penting untuk saya mengenal anda begitu juga sebaliknya.” Mentari bangkit dari duduknya untuk pergi.
“Benar-benar gadis ini tak melihat siapa aku...Tak sedikitpun ia menunjukkan sikap manisnya padaku. Gadis langka sepertinya dia.” Pikir Rayyan yang baru pertama kali menemui gadis yang sepertinya tak tertarik dengan dirinya yang tampan dan kaya raya. Padahal selama ini banyak gadis yang menginginkannya.
“Tolong jaga calon anak saya, jangan sampai ia kenapa-napa dan jangan berpikiran untuk menggugurkannya.” Pinta Rayyan sebelum Mentari melangkah pergi.
“Anda tidak usah khawatir, sepanjang anda bisa memegang ucapan anda dan menuruti keinginan saya maka
saya akan menjaganya dengan baik.Permisi.” Tanpa menoleh lagi Mentari berlalu pergi. Makanan yang sudah di pesan Rayyan sama sekali tak ia sentuh.
Masih tak mengerti dengan sikap Mentari,Rayyan memandangi kepergian gadis itu.
“Dasar....gadis aneh.....mau diajak hidup enak malah nggak mau...Menikahi seorang Rayyan Arga menjadi impian banyak wanita, tapi dia malah sepertinya tidak suka.” Gumam Rayyan tak sadar menggelengkan kepala.
__ADS_1