
Seorang dokter baru saja keluar dari ruang ICU. Saat melihatnya,Mentari bergegas menemui dokter itu.
“Maaf dokter, saya cucunya nenek Winarsih. Kalau boleh tau, bagaimana kondisi nenek saya sekarang?.”
“Bedasarkan pemeriksaan, kondisi nenek anda sekarang lebih baik dari pada semalam. Tekanan darahnya sudah turun meski masih diatas batas normal. Jantungnya juga sudah mulai bekerja dengan baik. Semoga beliau segera
sadar. “
“Apa saya boleh menjenguknya dok?”
“Boleh...silahkan. Tapi sebentar saja. Pasien harus banyak istirahat.”
“Iya dok, terima kasih dok.”
Setelah mendapat ijin dari dokter dan menggunakan pakaian steril, Mentari bergegas masuk kedalam ruang ICU untuk melihat kondisi neneknya. Mata Mentari tak mampu untuk tidak berair meski hanya menggenang, ketika
melihat tubuh renta neneknya terbaring di ranjang pasien dengan beberapa alat medis yang masih menempel.
Mentari duduk di samping ranjang. Sementara tangannya meraih tangan sang nenek dan beberapa kali menciumnya.
“Nek....maafkan Tari, Tari tidak bisa menjaga nenek dengan baik, sehingga nenek menjadi seperti ini. “ ucap Mentari dengan nada penyesalan.”Tolong maafkan Tari. Tari janji setelah ini Tari akan menjaga nenek dengan baik.”
Airmata yang semula menggenang, akhirnya tumpah tak tertahan. Kesedihan mendalam dirasakan Mentari. Nenek Winarsih adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Wajarlah jika ia sekarang dilanda ketakutan akan kehilangan neneknya.
Hampir sepuluh menit Mentari menemani neneknya, sebelum akhirnya perawat memintanya untuk segeram keluar. Dengan berat hati, Mentari akhirnya keluar dari ruang ICU dan mendapati dua sahabatnya telah berada di depan ruang itu.
Ketiganya berpelukan, sebelum akhirnya ketiga wanita itu duduk di kursi tunggu.
“Bagaimana keadaan nenek sekarang?” Tanya Sandra.
“Kata dokter kondisi nenek mulai membaik, tinggal menunggu nenek sadar.”
“Oh syukurlah. Semoga tidak lama lagi nenek bangun” Ucap Dinda.
Ketiganya lalu berbincang, dengan suara yang dipelankan. Hingga akhirnya Sandra menyadari sesuatu.
“Heh...kalian sadar nggak sih, dari tadi pria itu melihat kearah kita.” ucap Sandra dengan mata melirik kearah orang suruhan Rayyan. Diikut Dinda dan Mentari.
__ADS_1
“Pria itu, orang suruhan Rayyan.”
“Orang suruhan Rayyan?. Maksudnya?.” Tanya Sandra yang sedikit terkejut .
“Pria itu bilang jika ia disuruh Rayyan untuk menjagaku.”
“Wuih....kaya ratu aja, pakai dijaga he...he....” Ucap Dinda.
“Beneran Tar, Rayyan sampai segitunya?!.”
“Iya...aku juga heran. Aku nggak nyaman banget. Aku merasa tidak bebas.”
“Kenapa kamu tidak menolak?!.” Tanya Dinda yang masih tak menyangka jika Rayyan sampai meminta seseorang untuk menjaga Mentari.
“Aku sudah berusaha menelfonnya, tapi ia malah menonaktifkan ponselnya. Dan orang suruhannya itu tidak mau pergi, jika bukan Rayyan yang meminta.”
“Ya udah.... kamu nikmati aja. Resiko jadi istri orang kaya ya kaya gitu ha...ha.....” Ledek Sandra. Menimbulkan raut tak suka di wajah Mentari
“Begitu perhatiannya Rayyan sama kamu Tar...Jangan-jangan dia sudah jatuh cinta sama kamu.” Dinda menimpali.
“Hati-hati Tar....jangan terlalu membencinya, karena bisa jadi suatu saat kebencian kamu akan berubah menjadi cinta. Benci sama cinta itu beda tipis lho....” Dinda mengingatkan sahabatnnya, karena di mata Mentari kobar kebencian untuk Rayyan terlihat jelas.
“Iya Tar.....Apa yang di bilang Dinda itu benar lho. Karena dulu aku pernah juga mengalaminya.” Ingatan Sandra kembali kejaman cinta monyetnya, yang juga pernah ia ceritakan pada Dinda dan Mentari.
“Itu tidak akan terjadi padaku. ”
“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Tar.... Sudahlah Tari, nikmati saja hidup kamu yang sekarang sebagai istrinya Rayyan,dan calon ibu dari anaknya Rayyan. Siapa tau Rayyan memang jodoh yang dipilihkan tuhan untukmu. Meski tuhan mempertemukan kalian dengan cara yang menyakitkan ”Ucap Dinda bijak.
“Perbuatan pria itu masih lekat dalam ingatanku. Dan masih meninggalkan rasa sakit dan kebencian. Tak mudah untukku menerimanya, meski aku mau menjadi istrinya”.
Dinda dan Sandra akhirnya memilih diam dan berhenti membicarakan soal Rayyan dan Mentari, ketika raut wajah Mentari tampak menunjukkan kesedihan, dan membuatnya teringat pada peristiwa yang sempat membuat Mentari berada di titik terendah.
Obrolan ketiganya terus berlanjut, dan ketiganya sudah tak berada di depan ruang ICU melainkan di kantin rumah sakit.
Semangkok baso telah terhidang di depan Mentari. Tapi makanan itu hanya di aduk-aduk tak kunjung masuk kedalam perutnya.
“Kenapa tidak di makan basonya Tar?. Tadi kamu bilang ingin sekali makan baso.” Ucap Dinda yang berhenti dari makannya, karena melihat kelakuan Mentari .
__ADS_1
“Aku memang ingin baso, tapi bukan baso yang ini. Aku pingin makan baso mercon.” Balas Mentari
“Kenapa tadi tidak bilang.” Sahut Sandra.
“Kepenginnya baru sekarang.”
“Huh dasar bumil....Ya udah, kita habisin dulu basonya, nanti kita baru nyari baso mercon.Nggak diturutin bisa-bisa anak kamu nanti ileran.” Ujar Sandra
“Tapi aku maunya sekarang.” Kali ini Mentari tampak seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
“Ya tunggu sebentar. Ini aku basonya masih banyak. Sayang kalau tidak di habiskan. “ Dinda ingin segera menghabiskan basonya, agar bisa segera menuruti keingianan Mentari.Tapi yang terjadi, dokter itu malah tersedak.
“Uhuk...uhuk....” Dinda terbatuk- batuk dan merasakan perih di kerongkongannya dengan mata yang memerah berair.
“Makannya nggak usah buru-buru...kesedak kan jadinya.”Ujar Sandra sembari memberikan sebotol air mineral miliknya, karena minuman Dinda sudah habis tak bersisa.
“Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi kesedak begitu.” Mentari merasa kasihan dan juga merasa bersalah.
Sementara Dinda masih berusaha meredakan batuknya yang mulai berkurang ,hasrat ingin makan baso mercon dirasakan makin menjadi oleh Mentari.
Melihat sahabatnya gelisah, yang mungkin disebabkan oleh keinginannya yang belum terpenuhi, akhirnya Sandra menyudahi makannya.
“Ya sudah yuk kita cari baso mercon.”
Sandra meletakan alat makannya dan hendak bangun dari duduknya diikuti oleh Dinda yang sesekali masih tampak batuk.
“Eee.....habisin dulu basonya masih banyak itu. Mubadir kalau tidak di habiskan. Ini punyaku sekalian kamu habiskan San...”Ujar Mentari yang kemudian mendorong mangkok baso ke arah Sandra.
“Udah nggak papa...nantikan mau makan baso lagi.” Jawab Dinda yang sudah selesai dengan urusan kerongkongannya yang sempat perih karena tersedak.
“Iya yuk Tar...aku jadi ikutan pingin makan baso mercon.” Sahut Sandra yang telah siap beranjak pergi, sementara Mentari masih duduk seperti enggan pergi dari tempat itu.
“Lho ayo cepetan....” Ajak Dinda dan menarik tangan Mentari. Tapi gadis itu tidak bergeming dari duduknya
“Lebih baik kalian duduk lagi dan habiskan basonya.Aku memang ingin makan baso mercon, tapi....”Mentari tampak ragu untuk mengatakan keinganannya, membuat dua sahabatnya penasaran dan menunggu ia melanjutkan
ucapannya.
__ADS_1