
“Astaghfirulloh hal’adzim kakakkkk......!!” Pekik Intan yang baru saja masuk ke ruang tamu, mendapati bibir kakak dan tamunya hampir saja bersentuhan.
Bian yang terkejut seketika memundurkan tubuhnya. Wajahnya memerah menahan malu pada remaja yang berdiri membelakangi. Begitu juga Arbi,pria itu dibuat salah tingkah bingung mau berucap apa.
“Tau nggak sih....kalian berdua itu sudah mencemari penglihatanku...!” Intan membalikan badan, dengan bibir manyun.
“Salah kamu sendiri masuk rumah tanpa ketuk pintu dulu.” Sahut Arbi menambah kekesalan Intan.
“Sejak kapan pemilik rumah mengetuk pintu dulu saat hendak masuk kerumahnya sendiri?.Kakak saja yang tidak tau tempat dan batas. Siang-siang nyosor anak orang, kalau nanti kak Bianka hamil kakak mau tanggung jawab!.”
“Ngomong apa si kamu....Dah sana masuk!. Masih kecil sok tau...”
“Dasar mesum.....!”
“Heh....Intan.....!” Mata Arbi melotot ke arah Intan tapi remaja itu telah lebih dulu berlari masuk kedalam rumah.
“Kamu si....ngapain pake mau cium-cium segala.” Ucap Bianka.“Upsss.....” Bian menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut, setelah ia ingat jika ucapan Intan dan dirinya pasti masuk ketelinga Rayyan lewat alat sadap yang ada di saku kemejanya. Kini malunya bukan hanya dengan Intan tapi juga dengan Rayyan.
Kesalahpahaman antara Bianka dan Arbi telah terselesaikan dengan saling memaafkan dan berjanji untuk selalu saling mencintai dan saling percaya.
Setelah Arbi berhasil menjual rumah dan menata kehidupannya kembali setelah kepergian ibunya, ia berjanji untuk datang ke keluarga Bianka untuk melamar dan menikahi wanitanya itu. Meskipun Bianka telah menggugurkan kandungannya.
Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya,sehingga tak sadar pelukan mereka berujung pada sebuah ciuman yang gagal.
“Kenapa?.” Tanya Arbi setelah melihat ekspresi wajah Bianka
“Tidak apa-apa...he...” Jawab Bianka dengan hati yang mulai gelisah.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian Rayyan menelfon Bianka menyuruhnya untuk segera keluar dari rumah Arbi.
“Siapa Bi?.”
“Ehm...kakak sepupuku.”Bian berbohong.”Dia sedang dijalan mau jemput aku.”
“Kamu punya saudara di daerah sini?.”
__ADS_1
“Tidak.Tadi aku kesini bersama dia. Dia ada urusan bisnis di sekitar daerah sini.”
“Ehmmm...itu artiya kamu kesini bukan karena tidak sengaja, tapi karena kamu sudah tau sebelumnya alamat rumahku ini? betulkan?.Kalau iya, kamu tau dari siapa?”
“Dari teman kamu lah...” Kembali Bian berbohong.
“Temen aku? Siapa namanya?.”
“Aku tidak tau, lupa nggak tanya namanya. Sudahlah,nggak penting juga kan kamu tau kenapa aku sampai kesini?.Dah aku mau pulang, sebentar lagi yang jemput aku datang.”Bianka mengambil tasnya “Aku pulang dulu ya, aku harap kamu bisa pegang janjimu.”
“Iya. Jika aku sudah berjanji, pasti akan aku tepati. Kamu jangan khawatir dan berpikiran macem-macem.”
“Iya...” Balas Bian yang tak jadi melangkah karena tangannya ditahan oleh Arbi yang sepertinya berat berpisah seperti dirinya.
“Hati-hati ya...” Baru saja bertemu tapi mereka harus berpisah, membuat Arbi ingin menahannya. Tapi itu tak mungkin. Terpaksa ia harus rela berpisah dengan kekasihnya.
“Intan mana ya Bi....aku ingin pamitan sama dia.”
“Di belakang mungkin.Sebentar aku panggilkan dulu.” Arbi mencari Intan yang ternyata sedang bersiap makan di meja makan.
Setelah tau jika dirinya dicari Bian, Intan langsung menemui kekasih dari kakaknya itu.
“Iya kak tidak apa-apa. Itu bukan salah kakak kok, tapi salah kak Arbi.” Ujar Intan dengan mata melirik ke arah kakaknya yang tengah menatapnya.
Bianka melakukan hal yang sama seraya tersenyum melihat ekspresi wajah Arbi.Dan kemudian membisikkan sesuatu di telinga Intan.
Intan langsung mendorong tubuh Arbi yang berusaha mendekatinya. Saat Bian masih berbisik di telinganya.Intan tampak manggut-manggut dengan seksama mendengarkan bisikan Bian.
“Oh....oke....oke....siap...siap......Tenang saja. Intan akan langsung bertindak jika ada yang tidak beres.”
“Bagus....dan ini buat kamu sebagai imbalannya.” Uang merah sepuluh lembar Bian ambil dari dalam tas kecilnya. Dan langsung meletakanannya di telapak tangan Intan yang terkejut.
“Wooowww....ini beneran kak buat Intan?.” Intan girang dengan senyum dan mata melebar.
Bianka mengangguk “Iya buat kamu. Jika kerjamu bagus, kakak akan kasih bonus.”
__ADS_1
Intan makin girang, tapi Arbi tampak tidak senang.
“Uang apa ini?.” Arbi hendak mengambil uang yang ada di tangan adiknya, tapi Intan dengan gerak cepat meneyelamatkan uang dalam genggamannya.
“Yang pasti ini uang halal.” Jawab Bianka.
“Iya, tapi jelaskan padaku kenapa kamu memberikan uang sebanyak itu pada Intan?.” Arbi hanya takut Bianka memberikan uang itu karena rasa belas kasihan.
“Ini uang imbalan, karena Intan mau bekerjasama denganku.”
“Kerjasama apa?.”
“Ini rahasia kita berdua, kakak tidak boleh tau. Betulkan kak Bian?.” Sahut Intan.
Bianka mengangguk dan tersenyum. Sementara Arbi dibuat penasaran oleh dua wanita itu.
“Apapun alasannya, kamu tidak boleh memberikan uang sebanyak itu pada Intan Bi...”
“Tidak apa-apa Bi, sekali-kali kan tidak apa-apa,lagian itu tidak aku berikan dengan cuma-cuma.Ya udah...aku pamit ....Intan lakukan tugasmu dengan baik ya.”
“Siap bos...!!” Balas Intan yang langsung berdiri seperti seorang prajurit memberi hormat pada komandannya.
Bianka tertawa. Mengacungkan ibu jarinya dan mengacak puncak kepala Intan, gemas. Membiarkan Arbi dengan rasa penasarannya.
“Sebenarnya apa yang kamu katakan pada Intan tadi?.” Tanya Arbi saat mengantar Bianka menuju tepi jalan depan rumahnya.
“Kenapa sih masih tanya? Udah di bilangin ini rahasia!.” Bian membuang muka untuk menyembunyikan tawanya setelah berucap dengan suara bernada kesal. Sementara Arbi tampak kecewa.
Tak berapa lama sebuah motor datang menghampiri,dengan Reno duduk di atasnya.Setelah berbasa basi sejenak, Bianka akhirnya pergi berboncengan dengan Reno. Mobil Rayyan sudah tidak ditempatnya, tapi sudah berpindah agak jauh sehingga tidak terlihat saat Arbi keluar.
“Ren, terus awasi Arbi. Cari informasi sebanyak banyaknya tentang pria itu.Jangan sampai dia menipu adikku.” Perintah Rayyan pada Reno setelah Bianka masuk ke dalam mobil.
“Baik bos. Akan saya laporkan setiap ada informasi baru yang saya dapatkan.”
“Bagus. Uangnya sudah aku transfer.”
__ADS_1
“Terima kasih bos.”
Rayyan masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya untuk segera kembali ke Jakarta dengan perasaan sedikit lega. Berharap apa yang ia dengar tadi, semoga benar adanya. Namun ia merasa masih perlu mengawasi Arbi dan melakukan sesuatu untuk pria itu.