
Hembusan nafas kelegaan mengiringi langkah Mentari begitu keluar dari private room. Selain karena ia mampu mengatasi ketakutannya ketika berhadapan dengan Rayyan, ia juga akhirnya mampu mengambil keputusan untuk menikah dengan pria itu setelah sempat didera rasa ragu. Menikah dengan Rayyan adalah suatu keputusan yang berat, mengingat bagaimana prilaku Rayyan di malam
itu yang merenggut kesuciannya secara paksa dan juga menghinanya. Namun demi janin yang ada dalam kandungannya Mentari harus bisa menerima Rayyan sebagai suaminya, paling tidak sampai janin itu lahir. Syarat yang ia ajukan di anggap bisa membantunya menjalani pernikahan. Pernikahan yang hanya bertujuan untuk memperoleh sebuah status untuk diri dan anaknya.
“Sepertinya ada yang lagi bahagia habis ketemu dengan calon suaminya..wkwkwk.” Mentari mendengus kesal setelah membaca pesan dari Sandra.Ingin rasanya ia menjewer kuping gadis itu. Kekesalan gadis itu makin menjadi saat tau Sandra tengah duduk manis bersama Dinda tidak jauh dari tempatnya.
“Aw...aw....Tari....sakiiiitttt.......!!!” Teriak Sandra ketika tangan Mentari mendarat di telinganya. Dengan sedikit menarik dan menekannyaberhasil membuat Sandra meringis kesakitan.
“Satunya lagi Tar, kasian kalau kepalanya jadi miring ha...ha...” Dinda memprovokasi dengan tertawa senang.
Setelah puas, Mentari mengambil tempat duduk diantara kedua sahabatnya dengan wajah masam.Tak peduli dengan telinga Sandra yang memerah.
“Kok kalian bisa ada disini?...hem....pasti kalian mau mata-matain aku....iya kan?...ngaku!!”.
“Idih....pede banget. Siapa juga mau mata-matain kamu.” Protes Sandra yang masih sibuk mengusap daun telinganya.
“Terus....kenapa kalian ada disini?.”
“Mau nonton film......!! Jelas-jelas ini di restoran,pastinya mau makan lah...”Sahut Dinda yang tengah kelaparan setelah melewatkan jam makan siang karena banyaknya pasien yang harus dia tangani.
“Bener??...tidak ada alasan lain?.” Mentari belum bisa percaya dengan pengakuan Dinda yang sudah bicara jujur.
“Kapan kami pernah bohong sama kamu hah.....!.” sandra tampak kesal membuat Mentari menghentikan prasangkanya.
“Sandra mau syukuran nih ceritanya Tar...jadi mau traktir kita makan.” Jelas Dinda.
“Syukuran?...syukuran apa?.” Tari kini yang di buat penasaran lagi.
“Syukuran untuk usaha butiknya yang bulan ini dapat banyak untung.” Tambah Dinda.
“Wah.....alkhamdulillah....ikut senang dengernya.” Ucap mentari sembari memeluk lengan Sandra.
Sandra yang tampak masih kesal dengan Mentari,hanya menirukan ucapan Mentari dengan bibir yang di buat manyun dan di sambut gelak tawa dari dua sahabatnya.
Mentari langsung menutup hidungnya dengan kain jilbab, begitu asap makanan yang baru di sajikan oleh pelayan restoran masuk ke rongga hidungnya dan membuat perutnya tidak nyaman. Rasa mual tak mampu lagi Mentari bendung. Isi dalam perutnya terus mendesak untuk keluar.
Tanpa pamit dengan dua sahabatnya yang tengah sibuk dengan hidangan mereka, Mentari setengah berlari pergi menuju toilet. Belum sampai ketoilet, tubuhnya menabrak tubuh seseorang. Dia akan terjatuh jika seseorang itu tidak menahan tubuhnya.
Rasa mual yang sebelumnya mendera, seakan hilang setelah indra penciumnya menangkap aroma tubuh pria yang ini tengah memeluknya. Sejenak ia terdiam nyaman dalam posisi itu. Rasa nyaman itu juga dirasakan oleh sang pria.
“Maaf, saya tidak sengaja menabrak anda.” Ucap Mentari yang kemudian memundurkan tubuhnya tanpa menatap wajah orang yang telah menolongnya.
“Mentari....?!.” Pria itu ternyata Rayyan Arga, yang baru saja keluar dari toilet.
__ADS_1
Mentari tampak terkejut dengan raut wajah yang berubah.Netranya menatap wajah Rayyan, dengan tatapan tak percaya jika Rayyanlah yang telah memberinya kenyamanan sampai rasa mual di perutnya tak lagi ia rasakan.
Tatapan keduanya mengunci untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Mentari tersadar dan berlalu meninggalkan Rayyan yang belum mampu melepas tatapannya.
“Cantik....”. Ungkapan kekaguman meluncur dari bibirnya dengan sebuah senyuman tipis.
Sebuah desir aneh menguasai batin Rayyan dan ia tak mampu memaknainya.
Rayyan melangkah setelah tubuh Mentari tak terlihat lagi dalam pandangannya. Ia keluar restoran untuk segera kembali ke rumah, untuk menemani sang adik yang tengah menunggunya.
Sementara Mentari kembali bergabung dengan dua sahabatnya yang tengah lahap menikmati hidangan mereka,setelah mampu menguasai jantungnya yang sempat berdetak tak beraturan.
“Kamu kenapa? pergi gitu aja.” Tanya Sandra yang masih diliputi rasa penasaran karena ia sempat melihat Mentari menutupi mulutnya dan pergi tergesa-gesa.
“Aku ketoilet. Perutku tidak nyaman.”
“Tidak nyaman kenapa? Tadi kamu habis makan apa waktu sama Rayyan?.”
“Aku tidak makan apa-apa.”
“Asam lambung kamu naik mungkin.” Dinda menyimpulkan.
“Asam lambungku selama ini baik. Aroma makanan ini yang bikin aku mual.”
“Aroma makanan ini bikin kamu mual?.Kamu tidak biasanya seperti ini” Ucap Dinda yang seketika berhenti mengunyah. Fokusnya tertuju pada
“Seminggu sebelum kejadian itu.” Jawab mentari seraya tertunduk.
“Kamu sudah periksa kedokter?.” Tanya Dinda yang mulai menduga-duga tentang apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya.
“Kamu sudah coba tes dengan tespack?”. Dinda kembali bertanya setelah mentari menggelang.
“Sudah...” Jawab Mentari yang merasa jika dua sahabatnya memang harus tau tentang kondisinya sekarang.
“Gimana hasilnya?.”
“Positif....”
“Ka...kamu hamil?.” Sandra nampak begitu terkejut sehingga suaranya terdengar cukup keras membuat Mentari panik takut ada yang mendengar ucapan Sandra.
“Hussttt.....Sandra!.” Dinda memperingatkan.
“Maaf...maaf...abis aku kaget, ini benar-benar mengejutkan.”
__ADS_1
“Iya...aku juga tidak menyangka jika aku hamil.” Ada semburat kesedihan di wajah Mentari membuat suaranya terdengar parau.
“Apa Rayyan sudah tau tentang kehamilan kamu?.” Tanya Dinda.
“Dia harus bertanggung jawab Tari.” Sambung Sandra.
“Dia sudah tau dan kami akan menikah mingggu depan.” Mentari menceritakan apa yang sudah ia bicarakan dengan Rayyan tanpa ada yang terlewat.
“Tari, Kenapa kamu mengajukan syarat seperti itu. Pernikahan adalah suatu hal yang sakral. Semua orang menginginkan pernikahan terjadi hanya sekali seumur hidupnya. Kenapa kamu malah telah merencanakan perceraian sebelum
pernikahan terjadi.” Dinda merasa tidak sejalan dengan pemikiran Mentari.
“Pernikahan ini terjadi karena terpaksa Din, aku juga tidak mencintainya.”
“Aku tau alasan kenapa kamu menikah dengan Rayyan. Tapi alangkah baiknya jika kamu menerima pernikahan ini dan menjalaninya sebagai pernikahan yang sesungguhnya. Rasa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”
“Aku tidak bisa...aku tidak bisa hidup dengan pria sombong dan bregsek seperti dia. Aku sangat membencinya.”
“Pikirkan lagi keputusanmu Tari...” Ucap Sandra.
Mentari menggeleng tanda bahwa ia sudah bulat dengan keinginannya, pernikahannya dengan Rayyan hanyalah bersifat sementara bukan untuk selamanya.
Sandra dan Dinda menghela nafas panjang, tak bisa memaksa Mentari.
“Kami sebagai sahabat kamu, menginginkan yang terbaik buat
kamu, tapi jika kamu merasa keputusan kamu itu yang terbaik yah kami bisa apa...” Ucap Sandra lagi. Berharap Tuhan yang maha membolak balikan hati menyentuh hati Mentari.
Mentari terdiam, kali ini ia tak bisa menuruti keinginan dua sahabatnya.
“Setelah ini kamu ikut aku ke butik untuk viting baju.” Ucap Sandra, mengalihkan pembicaraan.
“Buat ap?Tak perlu lah San.....” Jawab Mentari dengan nada keberatan.
“Kali ini aku memaksamu untuk menuruti keingianku. Karena bagaimanapun, pernikahanmu adalah sebuah acara penting dan kamu harus tampil
beda dari biasanya.” Jawab Sandra yang tak menerima penolakan dari Mentari.
“San....” Mentari tak melanjutkan ucapannya, karena Sandra langsung menghentikannya dengan menggelengkan kepala. Menandakan jika tidak mau
mendengar kata menolak dari Mentari.
“Baiklah....aku turuti keinginanmu.” Meski kecewa tapi Mentari akhirnya menerima apa yang menjadi keinginan Sandra.
__ADS_1
Sandra mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum bersamaan dengan Dinda.
Ketiganya terdiam fokus dengan makanan mereka dan langsung menuju ke butik Sandra begitu acara makan mereka selesai.