
Tok....tok.....tok
Terdengarpintu depan rumah Mentari diketuk oleh seseorang. Mentari yang baru selesaimelaksanakan solat isya tak langsung beranjak membuka pintu. Ia memilih duduk di tepian ranjang. Ia nampak ragu untuk keluar kamar,setelah meyakini yang datang adalah Rayyan Arga. Ia yang meminta pria itu untuk datang,tapi ia merasa berat untuk menemuinya. Dia dibuat bingung sekarang.
Terdengar langkah bergegas dari dalam rumah mengarah kepintu. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara Nenek menyambut.
“Wa’alaikumsalam.”
Nenek Winarsih nampak terkejut melihat sosok pemuda yang baru ia lihat berdiri
didepan pintu. Netra perempuan tua itu menyusuri penampilan Rayyan dari kepala
sampai ke ujung kaki.
“Maaf nak,cari siapa?.”
“Saya mau bertemu dengan Mentari. Benar ini rumahnya nek?.”
“Iya betul,kamu siapa?.”
“Saya Rayyan...ehmm....temannya Mentari.”
“Oh....ya..ya....mari masuk nak.”
“Terima kasih nek.”
Mata Rayyan menyapu setiap sudut ruang. Sederhana, tak ada barang mahal di ruang tamu itu.Hanya ada satu set kursi tamu terbuat dari kayu berhias ukiran.
“Duduklah nak...saya panggilkan Mentari sebentar.”
Pria tampan yang berpenampilan beda dari biasanya, menuruti perintah tuan rumah dengan netra menatap foto-foto yang terpajang di dinding. Sementara nenek Winarsih masuk kedalam kamar Mentari yang bersebelahan dengan ruang tamu. Tak beberapa lama perempuan tua itu telah muncul kembali.
“Tunggu sebentar ya nak,Mentari baru selesai solat.” Ucap Nenek Winarsih yang kemudian duduk untuk menemani Rayyan sebelum Mentari datang.”Beginilah rumah Mentari nak Rayyan, tidak layak sama sekali.”
“Layak sekali kok nek.Nenek jangan merendah seperti itu.” Rayyan tersenyum meyakinkan agar terkesan dirinya nyaman di tempat itu.
Perbincangan keduanyapun terus berlanjut. Tak mengetahui jika di dalam kamar Mentari tengah ragu-ragu untuk menemui Rayyan. Namun akhirnya ia membuka pintu kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Sebuah sandiwara akan segera ia lakoni. Sandiwara untuk menutupi kondisinya saat ini di depan nenek.
“M..mas Rayyan....” Terpaksa, sangat terpaksa Mentari memanggil Rayyan dengan panggilan mas. Bagaimana lagi, ia harus melakukan itu sebagai bagian dari sandiwaranya.
Sebuahbsenyuman ia buat semanis mungkin ketika ia kemudian duduk di kursi tak jauh dari Rayyan.
Rayyan sendiri dibuat terkejut dengan apa yang di dengar dan dilihatnya. Tapi ia
segera menyadari jika itu hanya sebuah kepura-puraan saja. Dan iapun harus ikut
bermain di dalamnya. Dimulai dari membalas senyuman Mentari.
“Nenek masuk dulu ya nak Rayyan!.” Pamit nenek yang langsung bangkit dari duduknya.
“Iya nek.” Sahut Rayyan seraya tersenyum.
“Tari, tamunya dibikinin minum ya.” Ucap nenek Winarsih lagi, yang di balas anggukan oleh Mentari dan langsung berjalan mengikuti sang nenek untuk menuju ke dapur.
“Rayyan itu teman kuliah kamu atau .....” Tanya nenek Winarsih ketika bersama Mentari di dapur.
“Ehmmm....teman kuliah nek. Baru sebulan ini kami bertemu lagi setelah lulus kuliah.” Menyesal,itu yang harus Mentari rasakan setelah membohongi neneknya. Tapi ia tak punya pilihan.
“Oh ya sudah, segera antarkan minuman itu. Nenek mau istirahat.”
__ADS_1
“Nek.....”
Mentari menghentikan langkah nenek Winarsih yang hendak melangkah ke kamar.
“Nek....sebenarnya ada yang ingin Tari dan mas Rayyan bicarakan sama nenek.”
“Ingin bicara apa sama nenek?.”Raut keriput Nenek winarsih menunjukkan rasa terkejut, sekaligus penasaran. Apalagi melihat wajah Mentari yang tampak serius.
“Ehmm...tentang hubungan kami.”
“Oh...baiklah, nanti nenek kedepan.Nenek kekamar dulu”. Nenek tua itu akhirnya mengerti maksud dari ucapan cucunya. Mentari dan Rayyan bukan sekedar teman, tapi mereka punya hubungan yang lebih dari teman. Mungkin mereka ingin membicarakan pernikahan,pikir nenek Winarsih dengan binar bahagia. Senyum tipis menghias bibir perempuan itu. Melihat Mentari menikah adalah impiannya saat ini sebelum tuhan memanggilnya.
Mentari meletakan secangkir teh di depan Rayyan yang tengah menatapnya. Wajah calon istrinya itu mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang telah berpulang. Rasa sedih dan kecewa kembali menyeruak dalam benak Rayyan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangannya dengan Nania. Masih tak percaya jika cinta tulusnya di
balas penghianatan.
“Ekhmm....”
Suara batuk Mentari menyadarkan Rayyan yang tengah melamun tanpa melepas
pandangan dari wajah Mentari.
“Saya sudah bilang kenenek jika kita akan bicara tentang hubungan kita. Tugas anda hanya bicara kenenek jika anda melamar saya dan akan menikahi saya minggu depan. Selebihnya saya yang akan bicara, termasuk kita yang tidak akan tinggal bersama setelah menikah.”
“Tentu...Aku akan melakukan semua sesuai dengan keinginanmu.” Tak ada alasan baginya, untuk tidak melakukan keinginan Mentari. Sama sekali ia tak keberatan. Meski semula Rayyan
menghendaki pernikahannya menjadi pernikahan pertama dan terakhirnya.
Sikap Mentari yang dingin sarat kebencian serta wajahnya yang mirip dengan Nania
membuat Rayyan mengubur keinginannya. Apalagi kini hatinya seolah telah terkunci
untuk cinta yang lain. Tidak dapat di pungkiri jika ia belum bisa melupakan
“Baguslah....saya harap ucapan anda bisa saya pegang.”
“Tenang saja,aku tidak akan mengingkari ucapanku....”
Mulut keduanya seketika berhenti bicara, saat suara langkah sang nenek terdengar dari arah dalam.
“Silahkan di minum tehnya nak.” Ucap nenek Winarsih melihat teh didepan Rayyan tampak masih utuh.
“Iya nek.”
Setelah seteguk teh masuk kedalam kerongkongan, Rayyan memutuskan untuk segera melamar Mentari pada sang nenek. Lamarannya diterima dan disambut dengan sangat bahagia oleh nenek Winarsih.
“Terus kapan kalian akan menikah?.” Dengan raut berseri dan sepertinya sudah tidak sabar
melihat cucunya menikah.
“Minggu fepan nek.” Jawab Rayyan dan Mentari bersamaan.
“Minggu depan?.”
“Iya nek minggu depan. Maaf nek, mungkin terlalu mendadak, ini karena Mas Rayyan harus berangkat keluar negeri. Mas Rayyan dapat tugas dari kantornya untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi di anak cabang perusaahaan yang terdapat di luar negeri. Betul begitu kan mas?.”
“Iiya nek. Betul apa yang dikatakan Mentari.”
__ADS_1
“Dan Mas Rayyan di luar negeri mungkin agak lama, jadi kami memutuskan untuk menikah terlebih dahulu.”
Nenek Winarsih terdiam sejenak, seperti sedang berpikir. Rayyan dan Mentari menahan nafas menanti respon dari sang nenek.
“Jadi setelah menikah kalian akan terpisah?.”
“Iya nek, untuk sementara.” Kembali Mentari yang berbicara.
“Jadi kapan tepatnya nak Rayyan akan berangkat keluar negeri?.”
“Sehari setelah kita menikah nek.”Lagi-lagi Tari yang menjawab, seolah tak memberi
kesempatan Rayyan berbicara.
“Baiklah, kalau begitu dua hari lagi kalian menikah. Tak perlu menunggu minggu depan.”
Ucapan sang nenek mengejutkan Rayyan dan Mentari. Keduanya sesaat terdiam dalam kebingungan. Ucapan nenek Winarsih seperti sebuah perintah, dan itu diluar prediksi mereka.
“Tapi nek, itu terlalu cepat.” Sanggah Mentari.
“Bukankah kalian ingin cepat-cepat menikah.”
“Iya nek...tapi tidak secepat ini nek.”
“Lebih cepat lebih baik. Nak Rayyan bersedia kan menikahi Mentari dua hari lagi?.”
Rayyan tak bisa langsung menjawab. Ia menatap kearah Mentari. Seolah meminta pendapat.Tetapi Mentari sendiri masih dalam kebingungannya.
“Sa..saya terserah Tari saja nek. Kalau Mentari siap,saya juga siap.”Akhirnya Rayyan menyerahkan keputusan pada mentari.
“Mentari selama ini selalu menuruti apa yang menjadi keputusanku, jadi nenek yakin Tari juga akan setuju jika menikah dua hari lagi.”
Mentari tak mampu lagi berucap untuk membantah ucapan neneknya. Karena sang nenek seolah tak mau mendengar penolakan darinya.
“Nak Ray,persiapkan pernikahan kalian ya. Sederhana saja, tak perlu ada pesta. Yang
penting sarat dan rukun nikah terpenuhi.”
“Iya nek...”
“Baiklah...saya mau istirahat. Segala hal yang berhubungan dengan pernikahan kalian, silahkan kalian berdua urus. Nenek sudah tua, tidak mampu membantu kalian.” Nenek Winarsih pergi meninggalkan sepasang calon pengantin yang masih menunjukkan wajah terkejut dengan keputusan nenek.
“Saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan. Dan pernikahan yang dua hari lagi bukan atas keinginanku. Jika kamu ingin tetap pernikahan kita diadakan minggu depan, maka itu urusanmu dengan nenek. Silahkan kamu bicara dengan nenekmu.Saya pulang, jika kamu bisa merayu nenekmu untuk mau mengikuti rencana kita menikah minggu depan, segera kabari aku”Ucap Rayyan menegaskan, dan setelahnya ia
beranjak menuju pintu untuk pulang.
“Aku tak bisa mengubah keputusan nenek. Kita menikah dua hari lagi.” Ucap Mentari tanpa ragu. Karena ia merasa keputusan nenek tak bisa diganggu gugat.
Rayyan membalikkan badan.
“Siapkan berkas yang diperlukan. Besok asistenku akan kesini mengambilnya. Saya pamit.”
Rayyan benar-benar melangkah keluar, berjalan agak jauh karena ia meninggalkan
kendaraannya diujung gang bersama asistennya.
Mentari masih duduk diruang tamu, meski malam makin larut. Pikirannya melayang pada pernikahannya yang akan terjadi dua hari lagi. Semua rasa bercampur jadi satu.
Dua hari adalah waktu yang sangat cepat. Sementara secara mental ia belum siap.
__ADS_1
Ia belum siap jika sebagian waktunya ia habiskan bersama Rayyan. Orang yang
sangat dibencinya.