
“Sini aku bantu potong sayurnya.” Rayyan menawarkan bantuan pada istrinya yang sedang meracik masakan.Kedatangannya yang tiba-tiba, mengejutkan Mentari. Apalagi tangannya melingkar erat dipinggang perempuan itu.
Mentari menggeser tubuhnya dengan tatapan tidak suka.
“Tidak usah!, aku bisa lakukan sendiri!.” Ucap Mentari ketus. Ia juga masih kesal dengan perbuatan suaminya waktu di kamar.
“Ya udah...kalau enggak mau dibantu.” Rayyan berbalik melangkah pelan, baru selangkah ia memundurkan tubuhnya.” Cup....” Rayyan mengecup pipi istrinya yang tengah memotong bawang.
“Ishhh.......” Mentari terkejut mendapat serangan tak terduga. Matanya melebar menatap tajam ke arah suaminya dan reflek mengacungkan pisaunya. Rayyan hanya tersenyum dan melangkah santai meninggalkan Mentari. Tak hanya itu, ia juga mengerucutkan bibirnya seperti gerakan mencium. Mentari bertambah kesal. Kekesalannya ia lampiaskan dengan melempar wadah plastik kosong ke arah Rayyan yang telah menjauh.
Kekesalan Mentari hanya bertahan sebentar. Berganti senyuman dengan wajah merona merah. Jelas terlihat wanita itu menyukai apa yang baru saja di lakukan Rayyan padanya, meski ia tak mau jujur mengakui pada dirinya sendiri.
Acara potong memotong sayur selesai. Mentari tinggal menumisnya. Aroma gurih bawang yang di goreng menyatu dengan udara di dapur. Masuk ke rongga hidung penggorengnya dan menimbulkan rasa mual dibarengi pusing di kepala.
Terpaksa Mentari mematikan kompor dan lari kekamar mandi. Memuntahkan isi perutnya yang baru terisi air putih. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit dengan rasa pusing yang belum hilang. dengan berpegangan pada dinding, mencoba melangkah ke kursi dan duduk di sana.
Beberapa kali wanita itu terdengar beristighfar. Sementara tangannya sibuk memijit di bagian pelipis agar pusingnya berkurang.
Kadang Mentari mengeluh dengan apa yang ia alami selama kehamilannya.Ia merasa tersiksa setiap hari harus merasakan mual dan muntah. Ditambah ia selalu menginginkan sesuatu yang aneh-aneh yang berhubungan dengan Rayyan. Pria yang ia benci tapi kini mulai menempati sedikit ruang di hatinya. Karena sisanya masih di tempati oleh Dika, pria yang harus ia relakan menjadi milik wanita lain.
Menyembunyikan kehamilannya dari sang nenek menambah berat hari-harinya di masa nyidam. Pikirnya, belum saatnya nenek tau akan kehamilannya karena pernikahannya baru berjalan satu bulanan.Mungkin satu atau dua minggu lagi Mentari akan membiarkan nenek tau tentang kehamilannya.
Rayyan yang hendak mandi menghentikan langkahnya. Sang istri tengah duduk dengan kepala bertumpu kedua tangan di atas meja mengundang Rayyan untuk mendekat.
“Perasaan tadi lagi masak kenapa sekarang malah tertidur di sini?.” gumam Rayyan yang melihat sayuran masih utuh belum di masak. Sementara istrinya tampak memejamkan mata.
“Ehhhh....mau ngapain?!.” Mentari tiba-tiba terbangun ketika merasakan seseorang menyentuh tubuhnya. Begitu tau orang itu adalah Rayyan ia segera menyingkirkan tangan pria itu.
__ADS_1
“Aku hanya ingin memindahkanmu ke kamar. Biar kamu bisa istirahat.” Balas Rayyan merasa iba melihat istrinya yang tampak pucat dan seperti menahan sakit di kepalanya.”Kamu pusing?.”
Mentari mengangguk. Ia pasrah ketka Rayyan mengangkat tubuhnya, karena pusing di kepalanya belum juga hilang. Yang ia butuhkan sekarang adalah bisa berbaring di kamar.
“Tari kenapa?.” Tanya nenek cemas yang melihat Tari dalam gendongan suaminya dengan wajah pucat.
“Tari pusing nek, jadi mau istirahat di kamar.” Sahut Rayyan berhenti sejenak di depan nenek.
Nenek Winarsih mengikuti Rayyan masuk ke kamar. Ia ingin mengetahui kondisi cucunya secara pasti. Setelah kemarin ia melihat Mentari muntah-muntah dan ia kembali melihat cucunya dengan wajah pucat timbul rasa khawatir, meski sempat juga ia menduga jika cucunya sedang hamil.
“Apa yang kamu rasakan tari?, kenapa wajah kamu sangat pucat?.” Tanya nenek dengan rasa khawatirnya mengusap keringat di wajah cucunya.
“Pusing sekali nek.” Sahut Tari dengan mata terpejam.
“Lebih baik kamu kedokter. Nenek khawatir dengan kesehatan kamu. Kemarin kamu juga muntah-muntah.”
“Iya...segeralah kedokter.Agar cepat diobati. ” Ucapan nenek segera di balas anggukan oleh Rayyan.
Setelah nenek keluar kamar, Rayyan segera menghubungi David untuk datang kerumah membawakan makanan untuk sarapan dan juga untuk menemani nenek selama ia pergi dangan Mentari.
Mentari tetap berbaring meski pusingnya telah hilang. Ia masih merasakan tubuhnya yang lemas. Sementara suaminya baru saja masuk kamar setelah selesai mandi. Mentari tak bisa mengalihkan pandangannya pada dada suaminya yang bidang lengkap dengan roti sobeknya. Ditambah rambut Rayyan yang basah, membuat Rayyan begitu tampan dan seksi. Perempuan itu diam-diam memuji maha karya tuhan itu. Menghadirkan senyuman di bibirnya.
Semula Rayyan tak menyadari, tapi akhirnya ia sadar tengah menjadi sesuatu yang membuat istrinya tersenyum. Ia tak ingin mengusiknya. Rayyan meletakan kembali pakaiannya ia memilih tetap bertelanjang dada, karena sepertinya Mentari menyukai bagian tubuhnya itu.
Rayyan duduk di kursi depan meja rias dengan posisi duduk menghadap Mentari dan berpura-pura bermain ponsel. Sesekali ia melihat kearah Mentari yang ternyata masih memandanginya.
Beberapa kali aman, tapi kemudian tatapan keduanya bertemu. Membuat Mentari menutupi wajahnya dengan selimut. Sementara Rayyan tertawa gemas, segera mendekati istrinya dan menarik selimut yang menutupi wajah istrinya itu.
__ADS_1
“Aku suka kok kamu pandangi aku seperti itu. Enggak usah malu.” Selimut di wajah Mentari berhasil Rayyan ambil. Dan tampak jelas wajah istrinya yang memerah tersipu dengan senyuman di sana. Senyuman pertama untuknya.
“Biar lebih puas sini peluk aku.” Kedua tangan Rayyan terbuka namun Mentari tak mau memeluknya karena malu. Jadilah Rayyan menarik tubuh istrinya dan langsung memeluknya dengan erat. Kali ini Mentari tak berontak. Ia seperti menikmati kenyamanan di sana. Dengan debaran jantung yang tak terkendali. Bersaing dengan detak jantung Rayyan yang terdengar ditelinganya..
Rasa bahagia menyelimuti hati Rayyan. Hatinya telah yakin jika bukan lagi Nania yang ada di hatinya tapi Mentari.
“I love you sayang.”Ucap Rayyan terdengar tulus, cukup menggetarkan hati Mentari. Yang kemudian meraba hatinya. Mencoba mencari rasa yang sama untuk suaminya. Ada rasa yang berbeda memang ketika tengah bersama Rayyan, tapi wanita itu tak berani mengartikannya sebagai cinta. Karena ia yakin, cintanya masih untuk Dika.
Mentari pada akhirnya ingat, Rayyan menyebut nama Nania ketika ingin memeluknya waktu itu. Bukan tidak mungkin ungkapan Rayyan barusan bukan untuknya tapi untuk Nania.
“Aku bukan Nania.” Mentari menarik tubuhnya. Menyesal telah terlena dalam pelukan pria yang menganggapnya orang lain.
“Kamu Mentari, istriku. Bukan Nania. Nania adalah masa laluku.Kamu masa depanku.”
Mentari terdiam menerima tatapan cinta dari suaminya. Ia tak mampu membalas. Wanita itu memilih menunduk.
Tidak tau harus beucap apa.
“Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Aku tak menuntut kamu membalas perasaanku, cukup kamu tau saja tentang perasaanku. Jika kamu masih membenciku, bencilah sepuasmu. Aku sadar kesalahan yang telah aku perbuat.” Ucap Rayyan kembali menatap mata Mentari setelah ia berhasil menahan kedua pipi istrinya hingga wajahnya terangkat.
“Tapi aku yakin aku bisa mengubah rasa bencimu menjadi cinta suatu saat nanti” Batin Rayyan dengan senyum di bibirnya.
🥰🥰🥰
Alkhamdulillah akhirnya bisa up lagi. Pekerjaan di dunia nyata cukup menguras tenaga jadi tidak sempat menulis. Terima kasih yang masih setia menunggu...😘🙏
Maaf tidak bisa up lebih dari 1 bab. Karena kererbatasan waktu🙏🙏🙏.
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tinggalin jejak dan masukin novel ini ke daftar novel vaforitmu. 🥰🥰