
Mentari terlihat bingung,mendapati dirinya berada di rumah sakit.
“Kamu sudah siuman Tari?.” Ucap Sandra yang baru saja masuk.
“Ssstttt......”Mentari memegangi kepala dan mendesis ketika merasakan denyut dikepalanya.
“Minum dulu ya....”
Setelah meminum air mineral yang disodorkan Sandra,Mentari kembali merebahkan tubuhnya yang masih lemah.
“San...siapa yang membawa aku kesini?.”
“Ehmmm......Rayyan. Dia menggendongmu sampai kesini” Jawab Sandra tampak ragu.
“Kenapa kamu biarkan dia menggendongku!.” Tari yang terkejut merasa kecewa pada sahabatnya.
“Aku kan ngga tau kamu pingsan. Tau-tau Rayyan sudah menggendongmu, membawa kamu keluar dari privat room dan langsung kesini !.”
“Isshhh.....kamu kan bisa minta dia menurunkan aku!.”
“Enggak kepikiran, aku panik.....Lagian kamu, ngapain sih pake acara pingsan-pingsan segala ketemu cowok ganteng kaya gitu.”
Mentari langsung mengubah posisi tubuhnya dengan membelakangi Sandra.
“Ya maaf.....tapi beneran aku panik. Yang ada di otakku hanya ingin kamu cepat dapat pertolongan dari dokter.”
Terdengar Mentari menghembuskan nafas panjangnya. Dan kembali mengubah posisi tubuhnya seperti semula.
“Sekarang orangnya tidak disini kan?.”
“Dia sudah pergi dari tadi.”
__ADS_1
“Syukurlah....” Jawab Mentari lega. “Aku ingin pulang San,aku sudah merasa lebih baik sekarang.”
“Ya nanti nunggu cairan infusnya habis.”
“Kenapa harus nunggu?.”
“Biar tubuhmu istirahat dulu. Sekarang saja kamu masih kelihatan lemas kok.”
“Baiklah.....Tolong biaya rumah sakitnya kamu bayarin dulu ya...”
“Iya tenang, nggak usah kamu pikirin dan nggak usah kamu ganti. Biayanya cuma dikit kok...” Jawab Sandra berbohong. Saat ia ke bagian administrasi, ternyata Rayyan sudah melunasi semua biaya. Sandra terpaksa berbohong, agar sahabatnya tidak menyalahkannya lagi.
“Beneran...?.”
Sandra mengangguk.
“San...Rasanya aku nggak bisa ketemu pria itu lagi!.”
“Aku rasa kamu tau alasannya.”
“Ya, tapi dia kan mau bertanggung jawab dengan perbuatannya. Mau tidak mau kamu harus ketemu dia.”
“Tapi aku enggak bisa!.”
“Kamu harus berusaha Tari.....Demi kebaikan kamu!.”
Mentari menggeleng. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Rayyan, jika melihatnya saja ia selalu merasa ketakutan.Rayyan bagai mimpi buruk baginya.
Sepertinya Sandra tak bisa memaksa Tari untuk bisa bertemu Ray sementara ini. Sahabatnya itu memang sedang terguncang. Membawanya ke psikolog sepertinya memang harus ia lakukan.
“Ya sudah, kalau kamu tidak mau bertemu Rayyan lagi tidak apa-apa. Sekarang kamu istirahat, Aku mau keluar beli makanan.” Demi sehabatnya tenang, Sandra mengiyakan saja kemauan Mentari.
__ADS_1
Dilema, itu yang tengah dirasakan Mentari. Disatu sisi ia merasa tak sanggup jika harus bertemu dengan Rayyan, apa lagi harus hidup bersama pria yang telah mlecehkan dan menghinanya itu. Sementara disisi lain ia butuh Rayyan demi masa depannya. Kalau bukan Rayyan apakah ada pria lain yang mau menikahinya, pikir mentari yang sadar jika dirinya sekarang adalah gadis yang tak perawan lagi.
Indra penciuman Mentari terusik oleh bau parfum dengan aroma maskulin. Hidungnya mencari-cari sumber bau yang ternyata berasal dari lengan kanan bajunya.
“Jelas ini bukan bau parfumku.Lalu parfum siapa?. Tapi tunggu....seperti aku pernah mencium bau parfum ini, tapi dimana?.” pikir Mentari. Sejenak ia mengingat-ingat dan ia hendak melepas bajunya saat ingat dimana ia pernah mencium aroma itu. Bau parfum itu berasal dari tubuh Rayyan. Parfum Rayyan tertinggal di pakaian Mentari saat ia menggendong tubuh gadis itu, dan bau parfum itu juga yang Mentari cium saat Rayyan mengambil paksa miliknya.
Saat tersisa satu kancing yang belum terlepas, Mentari tersadar jika dia tak punya baju untuk menggantinya.Dan tak mungkin ia tak memakai bajau sementara kepalanya tertutup hijab. Mau tidak mau, Mentari mengancingkan kembali kancing baju yang telah terlepas.
Tangan mentari mengusap-usap lengan bajunya, agar bau itu hilang. Mungkin karena parfum mahal, jadi bau itu tak kunjung hilang hanya dengan di usap-usap. Mentari turun dari brankar menuju kamar mandi untuk membasahi dan mengucek lengan bajunya. Namun usahanya gagal lagi. Mentari kesal. Dia tak tau harus bagaimana lagi menghilangkan bau parfum milik pria yang sangat dia benci.
“Ada apa Tari?.” Sandra terkejut melihat Tari tengah terlihat kesal dan mengusap-usap kasar lengan bajunya yang basah.
“Kamu bawa parfum San?.”Parfum Sandra harapan satu-satunya bagi Mentari. Namun ia harus kecewa saat Sandra menggeleng.
“Buat apa si?.” Sandra di buat penasaran.
“Pria itu tidak ada disini, tapi bau parfumnya di ada di tubuhku.” Mentari masih berusaha menghilangkan bau parfum Rayyan. Karena penasaran, Sandra mendekatkan hidungnya ke tubuh Mentari. Setelah menggerak-gerakan hidungnya beberapa saat, Sandra menemukan aroma yang tengah di benci Mentari.
“Udah nggak papa, cuma bau parfum inih....” Ucap Sandra agar Mentari tak soalkan bau parfum itu lagi.
“Aku enggak suka...!.”
“Yah gimana lagi....Tapi kalau kamu mau melepasnya ya silahkan, kalau kamu enggak malu.”
Perutnya yang sudah lapar memaksa Sandra membuka bungkusan makanan yang baru ia beli di kantin. Dabn membiarkan Mentari sibuk dengan bajunya.
“Udah biarin aja, nanti juga hilang. Nih makan dulu.” Sandra menyodorkan kotak berisi nasi dengan ayam bakar dan pelengkapnya.
Rasa kesal masih tampak di wajah Mentari, sementara ia mengunyah makanan tampak tak bernafsu. Mentari membenci Rayyan dan semua yang berhubungan dengan pria itu.
🧚♂️🧚♂️🧚♂️🧚♂️
__ADS_1
Makasih buat yang sudah berkenan mampir ke karya kedua ku ini..jangan lupa tinggalin jejak ya guys...🥰🥰🥰