Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Jalan-jalan Malam


__ADS_3

Ada rasa sakit di hati Mentari setelah mendengar ucapan Rayyan. Dia bukan wanita yang bisa membunuh. Membunuh semutpun ia tak tega,apalagi ini janin yang telah menjadi bagian dari dirinya. Meski kehadiran calon anaknya itu tak ia harapkan sebelumnya.


Mentari mengakui jika ia memang salah. Sudah tau jika kehamilannya kerap di selingi nyidam hal-hal yang berkaitan dengan Rayyan, tapi dia tetap mementingkan egonya karena rasa benci. Ia memilih mengabaikan, ketika ia menginginkan sesuatu dari Rayyan.


Air mata yang tadi mengalir di pipi telah dihapus sebelum Mentari beranjak keluar kamar. Nenek tampak sedang makan makanan yang Rayyan masak di ruang makan, ketika Mentari hendak kedapur. Mentari tidak jadi menaruh piring yang di bawanya ke tempat cuci piring, Ia tertarik untuk mengisinya kembali dengan makanan yang tampaknya masih tersisa banyak di meja makan.


Nenek makan tak seberapa, tapi mentari makan dengan porsi yang sama banyak dengan porsi sebelumnya. Ia ingin manghabiskan makanan yang ada, tapi ia ingat Rayyan yang mungkin belum makan. Jadi ia menyisakan sedikit makanan untuk makan malam suaminya.


Benar saja, beberapa menit kemudian Rayyan keluar kamar menghampiri meja makan. Dan sepertinya ia ingin makan setelah berhasil meredakan amarahnya, meski belum hilang sepenuhnya.


Tanpa sepatah kata meski ada Mentari masih duduk di sana, Rayyan menyantap makanan yang masih tersisa. Mentari merasa begitu rakus malam itu, sehingga membuat suaminya berhenti makan sebelum kenyang. Ia ingin minta maaf karena hal itu, tapi ia urung melakukannya. Lagi-lagi karena ego yang lebih dulu bicara.


Rayyan membereskan semua piring kotor yang ada di meja makan termasuk piring yang habis dipakai Mentari, lagi lagi tanpa sepatah kata. Membuat Mentari duduk mematung, membiarkan Rayyan melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaannya sebagai seorang istri.


Jiwa pemimpin yang tidak suka keinginannya ditentang terlihat jelas dari sikapnya.Ia benar-benar di buat marah oleh Mentari.Sampai selesai mencuci piring Rayyan masih malas berbicara dengan istrinya. Ia memilih duduk di ruang tamu di temani ponsel pintarnya.


Mentari masih beruntung , ia tak menerima umpatan kasar yang biasa keluar dari mulut Rayyan saat pria itu marah. Rayyan menahan amarahnya dalam diam tapi masih memberi perhatian.


Sang direktur masih tak habis pikir dengan istrinya yang dianggap begitu egois. Hanya karena benci dengan dirinya Mentari mengabaikan kesehatannya yang jelas akan berpengaruh pada perkembangan calon anaknya.


Sampai larut malam Rayyan masih bertahan di ruang tamu. Pria itu kini masih sibuk dengan beberapa laporan yang tersimpan dalam leptopnya.Sebelum akhirnya Mentari datang menghampiri.


“Apa masih banyak pekerjaanya?.” Rayyan menautkan alisnya melihat Mentari telah memakai jaket.

__ADS_1


“Mau kemana?.” Tanya Rayyan heran.


“Aku ingin jalan-jalan keluar.” Mentari tak bisa tidur, dan tiba-tiba ia ingin sekali jalan-jalan  keluar rumah. Karena sudah malam dan pasti udara diluar sangat dingin Mentari mengabaikan keinginannya. Tapi keinginannya makin menjadi. Akhirnya ia memberanikan diri untuk meminta Rayyan menemaninya.


“Jalan-jalan?. Ini sudah malam Tari?!.” Rayyan melihat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukan angka dua belas lebih.


“Iya aku tau, tapi aku ingin sekali jalan-jalan keluar.”


“Memang mau jalan kemana?.”


“Kemana aja, yang penting keluar.”


“Ya sudah tunggu sebentar.” Rayyan menutup leptopnya ,dan segera mengambil kunci mobil. “Apa ini masih soal nyidam? ”Pikir Rayyan heran.


“Apa kamu ingin beli sesuatu?.” Tanya Rayyan ketika sudah masuk kejalan Rayyan.


“Tidak...”


“Terus ini mau jalan kemana?.”Kembali Rayyan menanyakan tujuan perjalanan mereka.


“Kemana aja terserah...”


Suami Mentari itu dibuat bingung dengan keinginan istrinya. Mengendarai mobil tanpa tujuan yang jelas. Tapi demi memenuhi keinginan istrinya  Rayyan terus melajukan kendaraannya pelan-pelan menyusuri jalanan yang sudah sepi, hanya beberapa kendaraan yang tampak melintas.

__ADS_1


Tak ada percakapan antara keduanya. Karena di perjalanan mereka yang baru sepuluh menit,Mentari sudah terbang ke alam mimpi. Rayyan menggerak-gerakan telapak tangan di depan mata istrinya, untuk memastikan jika istrinya itu benar-benar tidur.


Rayyan tersenyum , merasa seperti seorang ayah yang sedang berusaha agar anaknya tidur dengan mengajaknya jalan-jalan. Pria itu menggeleng heran, tapi juga merasa lucu.


Yang meminta jalan-jalan telah tertidur, jadi Rayyan tak berniat melajukan mobilnya lebih jauh lagi karena ia juga mulai merasakan kantuk. Rayyan memutuskan untuk putar balik kembali ke rumah.


Tubuh mentari yang kurus begitu terasa  ringan ketika di angkat oleh tangan Rayyan yang kekar. Setelah sebelumnya Ia membuka pintu rumah, Rayyan membawa masuk istrinya dan langsung membaringkan tubuh istrinya di ranjang. Tapi saat hendak ingin menarik tubuhnya, Tangan Mentari malah menarik dan memeluknya seperti memeluk bantal guling.


Kedua tangan Mentari melingkar di leher Rayyan, sementara satu kakinya naik ke punggung Rayyan yang memang posisinya sedang membungkuk diatas tubuhnya.


Gerakan Mentari  membuat dada Rayyan menempel di tubuhnya. Termasuk bibir Rayyan yang menempel sempurna di bibir wanita yang benar-benar tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.


Jantung Rayyan berdebar di balik keterkejutannya. Namun ia tak bergegas menarik bibirnya. Untuk beberapa saat pria itu terdiam dalam posisinya, merasakan debaran jantungnya yang makin cepat.


Setelah mampu menguasai perasannya, Rayyan pelan-pelan melepas tangan Mentari dari lehernya dengan bibir yang masih bersentuhan. Rayyan tak melepas bibir istrinya begitu saja, ia mengecup dan menyesap pelan bibir bawah Mentari tanpa ragu. Setelah tangan Mentari benar-benar terlepas, Rayyan menarik tubuhnya dengan sebuah hembusan nafas panjang. Karena sebelumnya ia merasa nafasnya seperti berhenti.


Jantung Rayyan masih terasa berdebar, dan rasa bibir Mentari masih kental terasa di bibirnya. Sehingga tak sadar ia menyentuh bibirnya. Ada rasa lain yang muncul setelah ciuman yang tak disengaja itu. Ciuman dengan rasa baru, rasa yang tak pernah ia rasakan saat mencium Nania dulu.


Masih tersemat senyum di wajah Rayyan, ketika ia membetulkan posisi tidur istrinya dan menyelimutinya.  Rona bahagia tergambar jelas di wajah pria itu. Bahagia seperti seorang pria yang baru pertama berciuman dengan kekasihnya. Terdengar aneh memang, karena mencium bibir sudah biasa Rayyan lakukan ketika menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Niat mengunci pintu depan di kalahkan oleh gejolak yang pelan-pelan memanasi tubuh Rayyan. Pria itu tertarik melihat kembail bibir istrinya, sehingga ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang, tepat di samping tubuh Mentari.Mata pria itu terus  tertuju pada bibir Mentari. Tangannyapun sudah menggenggam tangan istrinya itu. Ada dorongan untuk mengulang ciuman tadi, tapi ketika ia mulai mendekatkan wajahnya, mentari bergerak mengubah posisi tidurnya dan membelakangi Rayyan.


Rayyan harus puas hanya dengan mencium tangan istrinya.Dan segera bangkit untuk ke kamar mandi ketika tak kuasa lagi menahan gejolak yang makin menjadi dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2