
Taksi yang di tumpangi Rayyan telah melaju meninggalkan Mentari yang tengah merasakan rasa berat ditinggalkan. Harusnya Mentari senang Rayyan pergi dan tidak pulang. Karena dari awal pernikahan memang Mentari tidak ingin hidup bersama dengan Rayyan meski mereka pasangan suami istri yang sah.
Mentari menepis rasa di hatinya, ia meyakinkan dirinya tak ada masalah. Dia baik-baik saja. Dia bahagia Rayyan pergi.Tak kembalipun tidak apa-apa, pikir Mentari. Meski akhirnya ia merasa ada yang hilang ketika ia sampai dirumah. Rumahnya terasa sepi dan hampa.
Kembali Mentari menolak perasaan itu, Tapi sesaat kemudian ia kembali memikirkan Rayyan. Ia masih diliputi rasa penasaran tentang alasan kepergian Rayyan yang terkesan mendadak dan terburu-buru.
Rayyan di dalam taksi juga merasa berat meninggalkan istrinya. Tapi ia harus pergi. Ada sebuah tanggung jawab yang harus ia lakukan.
Bianka adik perempuannya di temukan tak sadarkan diri di kamar mandi dengan bersimbah darah oleh ART dengan sebab yang belum jelas..
Rayyan Arga langsung menuju rumah sakit dimana adiknya tengah di tangani. Ia langsung di sambut oleh ART dan satpam rumah yang membawa Bianka begitu sampai di depan ruang UGD. Tubuh pria itu terasa lemas mendengar penjelasan mereka tentang kondisi adiknya saat di temukan.
“Keluarga dari nona Bianka?!.” Ucap seorang perawat dari pintu UGD yang langsung di sambut oleh Rayyan dengan wajah cemas.
“Silahkan masuk pak,dokter ingin bertemu.”
Perawat mengantar Rayyan ke sebuah ruangan, dimana di sana sudah menunggu seorang dokter wanita yang ternyata Diana, sahabat Mentari.
Wajah terkejut di tunjukkan oleh keduanya, namun cepat di netralisir oleh mereka.
“Pak Rayyan....silahkan duduk.”Ucap Dinda yang baru selesai mencuci tangan.”Kalau boleh saya tau apa hubungan anda dengan nona Bianka?!.”
__ADS_1
“Dia adik kandung saya. Apa yang terjadi dengan adik saya, dan bagaimana kondisinya sekarang.?.” Rayyan tak ingin basa-basi, ia ingin segera tau tentang apa yang terjadi dengan adiknya.
“Dia menggugurkan kandungannya dengan minum obat.”
“Menggugurkan kandungan?.” Rayyan tak percaya dengan apa yang didengarnya.”Tidak mungkin. Dokter jangan mengada-ada.!” Ucap Rayyan dengan nada tinggi.Bianka belum menikah, tidak mungkin adiknya hamil, pikir Rayyan.
“Usia kandungannya masuk tiga bulan.Untungnya pasien cepat di bawa kemari, sehingga cepat mendapatkan pertolongan.Dia mengalami pendarahan hebat.” Ucap Dinda,tetap tenang meski wajah Rayyan menunjukan amarah.
“Bagaimana kondisinya?.” Masih dengan raut tak percaya, dengan nada berubah pelan karena sedih.
“Dia belum sadar. Tapi anda tak perlu khawatir. Semua sudah bisa kami atasi. Kita hanya menunggu pasien sadar.”
Sedikit ada perasaan lega meski Rayyan masih belum bisa menerima kenyataan itu. Kenyataan yang seolah telah menampar wajahnya berkali-kali.Adik semata wayangnya, hamil entah dengan siapa, dan entah kenapa Bianca menggugurkannya,Rayyan tidak tau.
Pada akhirnya Rayyan menyesali pemikirannya, karena kenyataannya, kemewahan dan limpahan harta justru telah mencipta kepahitan dalam hidupnya.Penyesalannya datang setelah apa yang ia punya tak mampu mengembalikan ibu kandungnya yang berpulang.Dan penyesalan itu kini datang kembali, karena sebagai kakak ia tak bisa menjaga adik semata wayangnya dengan baik.Sehingga adiknya mengalami hal yang menyedihkan tetapi juga memalukan.
Seoang Rayyan Arga, pria tampan dengan sejuta pesona, memiliki kekayaan yang berlimpah dengan segudang prestasi dalam mengembangkan kerajaan bisnisnya kini dibuat seperti manusia tak berarti. Karena ia tak mampu berbuat apa-apa,saat adiknya terkapar dengan penderitaanya. Mungkin uangnya bisa menyembuhkan Bianca tetapi uangnya tidak bisa mengembalikan keadaan adiknya seperti semula.
Rayyan sadar jika penyesalannya tak ada artinya lagi. Semua sudah terjadi tanpa bisa ditolak. Karena semuanya kehendak dari tuhan yang mungkin sedang menegurnya.Tuhan yang selama ini juga ia abaikan. Sejak tuhan memberinya gelimang kesuksesan,Rayyan hampir tak pernah bersujud di hadapan tuhannya, apa lagi bersyukur dengan pemberianNya.Ia mengaku punya tuhan, tapi hanya ia sematkan dalam kartu identitasnya tidak ia tunjukkan dalam kehidupannya sehari-hari
“Ya Alloh....ampunilah aku yang telah terlena oleh harta dan kekuasaan. Sehingga aku lupa ada yang lebih berarti dari harta benda. Apa yang aku punya adalah milikMU.Jika kau ingin mengambilnya,ambilah tapi ijinkan aku untuk tetap bersama adikku untuk menebus kesalahanku padanya........” Rayyan tengah duduk bersimpuh di lantai masjid rumah sakit. Tampak khusuk berdoa dengan dua tangan menengadah.
__ADS_1
Cairan bening menetes perlahan dari dua sudut matanya. Tak nampak aura penguasa dari wajahnya,yang ada hanya wajah hamba tuhan yang tengah berpasrah dan menyesal dengan duka mendalam.
Cukup lama ia duduk di masjid, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali menemui adiknya yang masih di ruang UGD.
Adiknya telah membuka mata, saat ia sampai. Dan seketika menangis begitu melihat wajahnya. Dibalik selimut yang ia tarik untuk menutupi wajahnya, Bian menangis. Tangis yang menyayat hati.
“Jangan membuat kakak makin sedih Bi....” Rayyan menarik selimut dari wajah adiknya. Menatap wajah Bianka yang tengah di banjiri airmata.Tak tahan dengan pemandangan itu,Rayyan menyembunyikan wajah adiknya ke dalam dekapannya. Dan di dalam dekap kakaknya, Bianka kembali menangis.
“Kak...maafkan Bian. Sudah membuat kakak malu.” Ucap gadis yang telah siap mendapat amarah dari kakanya.
Rayyan hanya terdiam dengan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa dan marah. Namun ia tak bisa meluapkannya.Ia tak ingin melihat adiknya tambah hancur. Karena ia merasa dirinya ikut andil dengan apa yang terjadi dengan Bianca.
Tangan kekar Rayyan mengusap punggung adiknya, untuk menenangkan.
“Bian menyesal kak...”
“Iya....tapi untuk sekarang kesehatanmu yang terpenting.Lupakan sejenak apa yag tertaji, fokus dengan kesembuhanmu Kita akan bicara nanti setelah kamu sembuh dan kamu siap untuk menceritakan apa yang terjadi.Sekarang istirahatlah....kakak akan menemanimu.” Dengan pelan Rayyan membantu adiknya berbaring kembali.Mengeringkan air mata di pipi Bianca dengan jemarinya.
Belum sempat Bianka tertidur, dua perawat datang untuk memindahkannya ke kamar perawatan. Kurang dari sepuluh menit, Bianca sudah berada di kamar perawatan.
“Kamu tidurlah, kakak duduk disana.” Rayyan menunjuk sebuah sofa. Dia tidak melakukan kerja berat, tapi ia merasakan dirinya sangat lelah saat itu. Sehingga ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa. Hanya berbaring, matanya tak bisa terpejam karena pikirannya tak bisa berhenti memikirkan adiknya.
__ADS_1
Rayyan belum bisa melakukan apapun untuk membantu masalah adiknya.Tidak ada sedikitpun informasi yang ia punya,tentang siapa laki-laki yang telah menghamili adiknya. Mungkin hanyalah dari adiknya itu ia akan tau semuanya. Tapi ia harus bersabar menunggu sampai adiknya pulih.
“Akhh...seandainya aku bisa menjaga Bianca dengan baik dari dulu, mungkin hal ini tidak terjadi padanya.Kakak macam apa aku ini....” Kembali Rayyan menyalahkan dirinya."Aku telah menghamili seorang wanita dengan paksa, sekarang adikku mengalami hal yang sama. Apa ini karma?" Gumam Rayyan.