
Alkhamdulillah bisa up juga.😊
Maaf, baru bisa up. Akhir-akhir ini aku harus fokus pada pekerjaan di dunia nyata. Dan mungkin untuk beberapa hari kedepan aku tidak bisa up tiap hari.Maaf yaa.....tapi nanti setelah pekerjaan selesai, aku usahain bisa up tiap hari. Makasih yang sudah setia menunggu🥰
🧚♂️🧚♂️🧚♂️🧚♂️
“Kita mampir ke hotel itu sebentar.” Rayyan menunjuk sebuah hotel yang berdiri megah di tepi jalan yang hendak ia lalui. Karena melewatinya jadi Rayyan memutuskan untuk mengunjungi hotel miliknya,yang sudah hampir dua bulan tidak ia datangi.
“Enggak mau...!.” Balas Mentari cepat dengan tatapan curiga,bebarengan dengan tubuhnya yang miring ke kiri.
“Kenapa?.” Jawab Rayyan santai. Sudah bisa ia tebak jika istrinya pasti akan menolak.
“Jangan macam-macam ya!.” Tubuh mentari makin merapat ke pintu mobil.Ia berpikir suaminya masih berusaha untuk mendapatkan haknya yang belum berhasil ia dapatkan tadi pagi.
“Macem-macem gimana? Aku cuma mau menemui seseorang.Kamu pikir kita mau apa kesana?.” Rayyan tersenyum. Dugaannya benar lagi. Istrinya sudah khawatir jika ia akan melanjutkan apa yang tadi pagi belum selesai.” Kamu nggemesin banget kalau lagi malu gitu.” tangan Rayyan meraih dagu Mentari dan mencubitnya gemas. Dan baru terlepas setelah pemilik dagu menarik tangannya.
“Ishh.....” Wajah Mentari merona. Tak ada pilihan selain menutupi wajah malunya dengan ujung jilbab. Membuat Rayyan makin gemas. Memancing hasratnya muncul kembali. Tapi ia harus menahannya karena waktu dan suasananya yang kurang mendukung.
“Yuk turun.” Rayyan mengulurkan tangannya setelah membukakan pintu begitu sampai di lobi hotel.
“Aku tunggu di sini saja.” Mentari kembali tak yakin jika suaminya tidak akan macam-macam padanya, jadi ia memilih untuk tetap di mobil.
“Disini panas. Ayolah turun....”
“Enggak mau!.”
Tak ingin berdebat, Rayyan langsung ingin membopong tubuh istrinya.
“Iya...iya aku turun. Awas kalau macem-macem.” Daripada malu di lihat orang Mentari akhirnya turun.
“Iya sayang...janji...”
__ADS_1
Mentari masih saja ragu untuk masuk ke dalam hotel, ia tetap belum percaya meski suaminya telah berjanji.
Rayyan meraih tangan Mentari yang melangkah pelan di belakangnya agar berjalan sejajar dengannya. Tak bisa melepas tangannya yang di genggam kuat oleh suaminya, Mentari akhirnya memilih diam dengan jantung yang berdebar. Rasa gerogi terlihat jelas ketika kedatangannya di sambut oleh beberapa karyawan hotel.
Kedatangan Rayyan yang tiba-tiba mengejutkan para karyawannya. Apalagi kedatangannya disertai dengan wanita yang mirip Nania, jelas menambah rasa terkejut para karyawan.Bukan hanya terkejut, rasa penasaran tentang siapa wanita yang bersama bos mereka menjangkiti benak para karyawan. Jadilah Mentari sebagai topik perbincangan diantara para karyawan.
Dengan santai dan tidak peduli dengan tatapan orang-orang, Rayyan berjalan menggandeng istrinya masuk kedalam hotel.
Rayyan hanya mengangguk ketika para karyawannya menyapa. Tak ada senyum keramahan di wajahnya. Wajahnya tampak dingin dan tegas. Berbeda dengan Mentari yang berusaha tersenyum ramah mesti banyak tanya di benaknya.
Menejer hotel yang tau bosnya akan datang lima menit sebelumnya, langsung menyambut kedatangan Rayyan begitu ia melihatnya masuk kedalam hotel.
“Selamat siang tuan Rayyan.” Sapa menejer sopan. Tak beda dengan karyawan yang lain, ia juga terkejut setelah melihat Mentari. Tapi ia tidak berani menanyakan pada bosnya siapa wanita yang bersama bosnya itu.
“Aku mau langsung keruangan saya. Siapkan laporan keuangan bulan ini dan antarkan kesana.”
“Baik tuan!.” Sang menejer undur diri untuk menyiapkan laporan yang diminta Rayyan.
Rayyan kembali melangkah menuju lift untuk keruangannya di lantai dua. Tangannya terus menggenggam tangan istrinya, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya. Iapun tak peduli dengan istrinya yang baru saja sadar kalau dirinya sedang berada dihotel milik suaminya sendiri. Rayyan memang sengaja tidak memberitahunya, karena ia yakin istrinya pasti akan tau dengan sendirinya.
Dengan terpaksa Mentari tak menolak pelukan Rayyan, karena ia memang ingin mendapatkan aroma tubuh suaminya itu. Ia menyingkirkan rasa malunya, dari pada ia harus muntah di dalam lift.
Kemesraan mereka menarik perhatian orang-orang yang ada didalm lift, yang memang sudah memperhatikan mereka sejak masuk ke dalam lift.Tapi Rayyan tak peduli. Ia tetap memeluk istrinya sampai pintu lift terbuka. Meninggalkan orang-orang yang diliputi kebingungan, karena mereka seperti melihat Nania yang hidup kembali dengan penampilan baru.
Sebuah ruangan yang luas lengkap dengan fasilitas yang mewah, terlihat saat Rayyan membuka pintu. Bukan hanya meja dan kursi kerja, ruang kerja Rayyan juga dilengkapi dengan ranjang king size, kamar mandi dan satu set sofa serta lemari pakaian. Bukan hanya untuk bekerja, ruangan itu juga biasa di gunakan Rayyan untuk memadu kasih bersama Nania.
Dengan sebuah remot kontrol yang Rayyan tekan, tirai besar yang menutupi dinding kaca terbuka,sehingga nampak jelas pemandangan di luar hotel. Mentari yang telah duduk di sofa, begitu tertarik untuk melihatnya. Akhirnya dia bangkit dan melangkah menuju dinding kaca. Dari tempatnya berdiri, Mata Mentari di manjakan dengan pemandangan kota. Kolam renang luas, dengan air yang tampak biru berada tepat di bawah tempatnya berdiri,menjadi spot yang menarik perhatian Mentari.
Benak wanita itu dipenuhi keinginan untuk pergi ke tempat itu. Ingin dia mandi dan berenang di sana, tapi ia tidak bisa berenang dan juga tidak membawa pakaian ganti, jadi ia memutuskan untuk tidak ke sana dan harus puas hanya dengan memandanginya dengan hati yang masih tak percaya jika hotel itu milik suaminya.
Waktu nenek dirawat di rumah sakit, ia juga sempat menginap di hotel milik Rayyan, dan itu hotel yang berbeda. Itu artinya apa yang pernah dikatakan Sandra bahwa Rayyan adalah pengusaha kaya yang memilki banyak usaha adalah benar adanya.Tapi Mentari merasa tak peduli, baginya Rayyan tetap pria yang ia benci karena perbuatan buruk yang pernah di lakukan padanya. Meski sebenarnya tanpa disadari hatinya sekarang mulai luluh dengan sikap manis suaminya selama ini.
__ADS_1
Tak berselang lama, Mentari memutuskan untuk tetap pergi kekolam renang. Meski tidak untuk berenang, paling tidak ia bisa duduk di tepiannya dan lebih penting lagi ia tidak perlu khawatir Rayyan akan berbuat macam-macam padanya.
“Aku ingin turun kebawah. “ Ucap Mentari sembari melangkah ke arah pintu.
“Nanti saja nunggu aku selesai.” Pinta Rayyan yang sempat menoleh ke arah Mentari dan kemudian kembali fokus pada data yang sedang ia pegang.
“Aku hanya ingin ke kolam renang yang di bawah itu.”
“Heh... kolam renang? Kamu mau berenang?.” Mata Rayyan beralih menatap istrinya.Menunda pekerjaannya sejenak.
“Tidak...aku hanya ingin duduk disana sambil menunggu kamu selesai.”
“Sebentar lagi aku selesai kok, nanti kita turun bareng.” Terpaksa berbohong, karena Rayyan ingin Mentari tetap bersamanya di ruangan itu.
“Aku tidak bisa menunggu lagi.”
“Sebentar lagi sayang....Aku hanya khawatir terjadi sesuatu sama kamu nanti.”
“Aku bukan anak kecil. Aku bisa menjaga diri!.” Tanpa menunggu ijin suaminya, Mentari melangkah keluar. Keinginannya untuk ke kolam renang tak terbendung lagi.
“Ya sudah tunggu sebentar.”
Mentari yang sudah berada di depan pintu menghentikan langkahnya dan berbalik.
Tampak Rayyan menghubungi menejernya, agar menyuruh karyawati hotel untuk menemani istrinya.
“Tunggu sebentar, aku sudah menyuruh seseorang untuk menemani kamu.” Rayyan meninggalkan kursinya dan berjalan mendekati Mentari.
“Tidak usah aku bisa sendiri...!” Mentari kesal.
“Tetap disini atau di temani?.” Mentari terdiam mendengar suaminya memberi pilihan dengan suara tegas dan menahan pinggangnya sehingga tubuh keduanya saling menempel.
__ADS_1
🧚♂️🧚♂️🧚♂️🧚♂️
Biar jarang up...tolong tetap berikan like dan vote kalian yaaaa.....🥰🥰