
Baru selangkah Rayyan keluar kamar, ia mendapati nenek Winarsih tergeletak di depan pintu kamarnya.
“Nenek....!!.” Teriak Rayyan yang langsung menghampiri tubuh perempuan tua itu. Disusul Mentari yang tampak kaget melihat kondisi neneknya.
“Nenek....nenek kenapa...bangun nek..hik...hik...” Teriak Mentari panik ditengah tangisnya.
Rayyan segera mengangkat tubuh nenek Winarsih dan membaringkannya di kamar. Keduanya mencoba membangunkan perempuan itu tapi tak kunjung ada respon.
“Sebaiknya kita segera bawa nenek kerumah sakit.” Ucap Rayyan. Setelah melihat Mentari mengangguk, Rayyan menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan ambulan.
“Sudah jangan menangis, nenek akan baik-baik saja.” Rayyan mencoba menenangkan Mentari yang terus menangis khawatir, dengan mengusap punggungnya.
“Nenek punya penyakit darah tinggi, aku takut nenek ....”
“Husttt...jangan berpikiran negatif, yakinlah nenek akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kamu siapkan apa yang perlu di bawa ke rumah sakit. Pastinya nenek akan di rawat inap disana.”
Mentari mengusap airmatanya, kemudian menyiapkan beberapa barang yang nanti dibutuhkan selama di rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian ambulan datang, dan segera membawa nenek Winarsih ke rumah sakit.
“Tenangkan dirimu. Ingat kamu sedang hamil.” Rayyan kembali mencoba menenangkan istrinya, yang terus meneteskan airmata, meski tak terdengar isak tangisnya.
Keduanya telah berada di rumah sakit dan tengah menunggu hasil pemeriksaan dokter dengan perasaan cemas di depan ruang IGD.
“Apa nenek sering seperti ini?.”
“Tidak, ini baru pertama kali nenek tidak sadar seperti ini.”
“oh....Semoga tidak terjadi hal yang buruk sama nenek.”
Menit demi menit terus berlalu. Waktu terasa begitu lama bagi Rayyan dan Mentari.
Yang di nanti keduanya akhirnya datang juga. Dokter keluar dari ruang IGD dan memberitahukan jika nenek Winarsih akan di pindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang buruk.
__ADS_1
“Lakukan yang terbaik untuk nenek kami dok...” Ucap Rayyan.
“Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien.Tapi semua kembali pada kehendak yang kuasa. Berdoalah agar pasien bisa segera sadar.Saya permisi.”
Mentari kembali menangis, gadis itu makin khawatir.
Tubuh nenek Winarsih telah di pindahkan di ruang ICU. Peralatan medis satu persatu di pasang ketubuh renta itu. Rasa khawatir makin menguasai perasaan Mentari. Ia hanya bisa melihat tubuh neneknya dari jendela kaca.
“Duduklah jangan berdiri terus di situ.”Perintah Rayyan karena mentari terus berdiri di depan jendela kamar ICU.
Mentari tak bergeming, ia tetap berdiri di tempatnya. Rayyan terpaksa mendekati Mentari. Tanpa bicara apapun ia memegang bahu istrinya bermaksud untuk membimbingnya duduk di kursi tunggu. Tetapi mentari tampak menolak dengan menyingkirkan tangan Rayyan dari bahunya.
“Aku masih ingin disini.”Ucap Mentari dengan tatapan mengarah ke dalam ruang ICU.
“Kamu pikir dengan kamu berdiri terus disini nenek akan bangun?.Ingat, bukan hanya nenek yang harus kamu jaga, tapi janin yang ada dalam kandungan kamu, juga harus kamu jaga. Nenek sudah di tangani oleh dokter dan dijaga dengan baik oleh mereka. Sementara kandunganmu hanya kamu yang bisa menjaganya secara langsung. Jadi turutilah perintahku.Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.” Rayyan menarik tangan Mentari dan mendudukannya di kursi tanpa penolakan.
Setelah Mentari duduk Rayyan meninggalkan gadis itu sendirian. Kepergian Rayyan yang tanpa mengucapkan apapun, menimbulkan tanya dalam hati Mentari. Namun kemudian ia tak memikirkannya lagi, maski ia sebenarnya butuh seseorang untuk bersamanya saat itu.
“Baguslah kalau dia pergi dan tidak balik lagi kesini.”Pikir Mentari meski sebenarnya ada sedikit rasa kesal pada Rayyan,karena pria itu pergi tanpa pamit.
Karena ia terus menatap ke atas sembari berjingjit, ia tak menyadari jika Rayyan ada dibelakangnya.Tiba-tiba mentari merasa tubuhnya terangkat, dan ketika melihat kebawah ternyata Rayyanlah yang tengah mengangkat tubuhnya.
“Cepat ambil buahnya, aku tidak bisa lama-lama mengangkat tubuh kamu. Tubuh kamu sangat berat “ Ujar Rayyan karena Mentari malah menatap dirinya, tak kunjung memetik buah yang ia inginkan.
Mentari langsung memetik buah mangga yang tampak masih muda.Dan segera meminta Rayyan untuk segera menurunkan tubuhnya.
Keduanya kembali ke kursi tunggu. Mentari tampak ingin segera memakan buah mangga yang baru saja ia petik, tapi tak ada apapun yang bisa ia gunakan untuk mengupas buah itu.
“Disini tidak ada alat untuk mengupas mangga ini. Sekarang kamu ikut aku,kita cari tempat agar kamu bisa makan buah itu. Seakarang kamu minum ini dulu. ” Ucap Rayyan yang tau masalah Mentari sembari menyerahkan susu kotak khusus untuk ibu hamil, yang tadi ia beli di mini market. Meski agak aneh melihat Mentari yang sepertinya sangat ingin makan mangga muda di dini hari, Rayyan merasa tak tega jika Mentari harus menahan keinginannya makan mangga muda hanya karena tidak ada alat untuk mengupasnya.
“Kita mau kemana?.”
“Ikuti aku saja.”
__ADS_1
“Aku tidak mungkin meninggalkan nenek.”
“Nenek sudah ada yang menjaga. Jika ada apa-apa mereka pasti akan mengabari kita. Jadi kamu tidak usah khawatir. Kita butuh istirahat.Ayo buruan.....” Rayyan segera menggandeng tangan Mentari, agar bisa segera pergi dari tempat itu.
“Iya....tapi tidak usah pegang tangan aku. Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Mentari sembari menarik tangannya.
Rayyan melepas genggaman tangannya, dan melangkah dengan mensejajari Mentari .Tak sampai sepuluh menit keduanya sudah sampai di sebuah lobi hotel yang berada di sebelah rumah sakit.
“Kenapa kita kehotel?.” Mentari menghentikan langkahnya dan hendak berbalik.Tapi tangan Rayyan langsung menahannya.
“Kita kesini bukan untuk bulan madu, tapi untuk istirahat. Jadi kamu tidak usah berpikiran macam-macam. Ayo cepat masuk, atau kamu ingin aku gendong biar cepat masuk kedalam.?”
“Tidak perlu!.” Mentari akhirnya melangkah masuk kedalam hotel mendahului Rayyan.
“Tuan ini kunci kamarnya.” Ucap seorang pria yang datang menghampiri Rayyan dan langsung menyerahkan kunci kamar.
“Iya terima kasih. Nanti tolong antar pisau dan piring ke kamar. Istriku ingin makan mangga.”
“Baik tuan, nanti saya akan menyuruh pegawai untuk mengantarkan pesanan tuan. Kalau begitu saya permisi .”
Rayyan Mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Sementara mentari melangkah mengikuti Rayyan dengan berbagai pertanyaan setelah melihat interaksi Rayyan dan petugas hotel. Ia butuh jawaban, tapi ia
malas menanyakan pada Rayyan.
Keduanya akhirnya sampai di sebuah kamar yang tampak sangat mewah.
Waktu hampir menunjukkan jam tiga pagi. Mentari masih melahap mangga muda yang sudah tersaji diatas piring dengan potongan kecil-kecil. Sementara Rayyan mulai terlelap di atas sofa setelah mengupas dan memotong mangga untuk Mentari. Dia harus rela tidur di sofa, kerena Mentari pasti akan menolak untuk tidur bersamanya di atas ranjang.
Sebenarnya ia bisa saja meminta satu kamar lagi untukknya, karena hotel itu adalah miliknya. Tapi ia tak melakukan itu,demi menjaga Mentari yang tengah mengandung anaknya.
Sewaktu ia pergi meninggalkan Mentari sendirian di depan ruang ICU, ternyata selain mencari minuman untuk Mentari, ia juga pergi ke hotelnya. Meminta pada pegawai hotel untuk menyiapkan kamar untuknya. Jadi ketika ia datang bersama Mentari, pegawai hotel telah menyiapkan kamar dan langsung memberinya kunci kamar.
“Kalau sudah habis, segeralah tidur di ranjang itu.Kamu harus istirahat.” Pesan Rayyan sebelum ia benar-benar terlelap.
__ADS_1
Meski di dalam hati,Mentari mengiyakan ucapan Rayyan. Dan benar, setelah menghabiskan mangga dan menggosok gigi , Mentari langsung pergi tidur.
Akhirnya pengantin baru itu tidur dengan nyenyak. Melewatkan malam pengantin mereka tanpa ada ritual pengantin baru.